
Tuan Guntur sedikit heran dengan sikap Pak Muin, berjalan mendekat. Tuan Guntur tak menyangka jika Diandra datang begitu cepat bersama sang bibi. Tersenyum saat meligat Diandra mengintip malu-malu. "Bi, rumah Kakek Guntur besar," bisik Diandra lirih.
"Bi, ajak masuk saja," ujar Tuan Guntur.
"Non. Ayo, kita masuk, ingat pesan Ibu," jelas bibi pelan.
"Nekbi ... apa Ayah Hazal ada?" tanya Diandra pelan.
"Diandra ...." Panggil Tuan Guntur akhirnya.
Diandra yang merasa tak nyaman dengan suasana baru ini sedikit merajuk. "Nekbi, kita pulang yuk!" seru Diandra.
"Diandra ... ingat kita di sini hanya sebentar sapa dulu Kakek setelahnya kita pulang, Nekbi janji," bisik sang bibi.
Diandra mengintip lagi, berhenti untuk beberapa saat dan tak lama mengintip lagi kemudian menarik tangan nekbinya.
Memasuki ruang tamu Diandra seketika takjub saat melihat rumah yang besar dan netra Diandra langsung tertuju pada sudut ruangan tamu ini. "Selamat sore Kakek," sapa Diandra pelan.
"Cucu Kakek. Ayo, kemari Kakek akan tunjukkan sesuatu pada Diandra," sambut sang Kakek.
Diandra yang polos seakan terhipnotis dengan begitu banyak mainan yang ada, Diandra sesaat lupa akan perasaan takutnya.
"Nekbi, Nekbi coba lihat, begitu banyak mainan dan ...."Ucapan Diandra terhenti saat melihat begitu banyak foto yang berjajar di dinding. Netranya menatap satu persatu foto yang dilihatnya.
"Nekbi, kenapa foto Ibu ada di sini?" tanya Diandra heran.
"Nekbi!" seru Diandra ulang.
"Ya. Non, ada apa?"
__ADS_1
"Nekbi itu ... foto Ibu, 'kan?" tanya Diandra kritis.
Sang bibi seketika menangkup wajah kecil Diandra bersamaan dengan datangnya sang kakek. "Ada apa Bi?" tanya sang Kakek.
"Kakek, gendong. Diandra mau lihat foto Ibu dari dekat," pinta Diandra.
"Boleh sini Kakek gendong," jawab sang Kakek semangat.
Diandra dalam gendongan sang Kakek langsung menatap dengan fokus seakan mengamati satu persatu foto yang dilihatnya.
"Nekbi, Kakek ini siapa?" tanya Diandra akhirnya.
Sang Kakek sesaat terdiam, dirinya rak menyangka jika cucunya akan sekritis ini menanggapi sesuatu.
"Aduh ... Diandra turun, ya? Kenapa tiba-tiba punggung Kakek sakit," bohong sang Kakek, karena sang Kakek tak ingin Diandra mengetauhi siapa yang di tanyakannya.
"Ayo. Non, turun sama Nekbi saja," ajak sang bibi.
"Maafkan Kakek Diandra, jika sudah waktunya dan Ayahmu mengakui jika kamu darah dagingnya suatu saat kamu pasti akan mengetauhinya." Tuan Guntur menatap sendu.
"Danendra semua ini karena kebodohan kamu, menyia-nyiakan Soya yang sudah setia dan jujur," gumam Tuan Guntur.
"Rumit, tetapi saya percaya dengan Soya," putus Tuan Guntur.
Diandra seakan sudah melupakan semua pertanyaan yang di ajukannya, dirinya kini sibuk bermain dengan senangnya. Tuan Guntur dan bibi hanya mengawasi Diandra dari jauh, tetapi jelas dari wajah mereka tercetak kesedihan yang tak bisa disembuyikan, Tuan Guntur diam-diam mengikis air matanya.
Mendekati adzan magrib Diandra menghentikan permainannya.
"Kek, Dian pulang," ujarnya sembari meraih tangan sang Kakek.
__ADS_1
"Ayo, Nekbi kita pulang! Kasihan Ibu!" seru Diandra polos.
Sang bibi kini tak berani membantah ucapan Diandra langsung mengekor langkah Diandra.
"Pak Muin tolong antar Diandra dan Bibi," titah Tuan Guntur.
Pak Muin segera melaksankan titah yang diberikan. "Non. Ayo!" seru Pak Muin sembari membuka pintu mobil.
Namun, semua perkiraan Tuan Guntur dan sang bibi salah besar dalam perjalanan pulang Diandra terlihat sedikit gusar.
"Pak Muin, Nekbi." Diandra memanggil.
"Ya," jawab mereka serentak.
"Boleh ... Diandra tanya sesuatu?" Diandra sembari menatap wajah Nekbinya.
"Boleh," timpal sang bibi.
Diandra tersenyum. "Nekbi, Nekbi tahu siapa yang ada di foto dengan Ibu?" tanya Diandra yang seketika membuat sang bibi dan Pak Muin terdiam.
"Maaf, Non. Nekbi enggak tahu," jawab sang bibi.
"Em ... mungkin Diandra tanya Ibu saja," ucapnya lirih dan tak lama menguap.
Sang Bibi hanya bisa membuang napasnya dan sesaat tersenyum lega saat melihat Diandra sudah tertidur.
"Muin, kenapa foto-foto itu masih di pasang?" tanya bibi heran.
"Entahlah Bi, sepertinya foto itu baru beberapa hari terpasang," jelas Pak Muin.
__ADS_1
"Aneh," gumam bibi heran.