
Soya seakan tak percaya saat mendengar ucapan sang bibi dan perubahan sikap Tuan besar yang tiba-tiba berubah. "Oh, silhakan Bi," ujar Soya dan langsung memilih pergi dan menuju kamar sang bibi.
Di dalam kamar Soya akhirnya mengerti dan sadar meskipun Danendra menikahinya secara paksa tetapi semua bagai mimpi. Pernikahan yang masih berjalan beberapa hari seakan hanya membuat Soya tersakiti.
"Soya kamu harus siap apa pun nanti yang terjadi," ujar Soya lirih sembari menghembuskan napas dan memilih untuk keluar dari kamar dan menemui Tuan Guntur.
Hingga Soya melihat sang bibi keluar dari ruang tengah.
"Bi, kemana Tuan besar?" tanya Soya pelan.
"Gadis baik, Tuan juga sudah menunggu Non Soya di ruang kerjanya," ujar sang bibi sembari menatap Soya lekat.
"Terima kasih Bi," ujar Soya sembari melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Tuan besar.
Namun, langkah Soya terhenti saat mendengar perdebatan sengit antara Tuan besar dan Danendra. Soya yang mendengar samar-samar perdebatan mereka memilih mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu hingga perdebatan mereka sedikit mereda. "Tuan ..."Panggil Soya sembari mengetuk pintu pelan.
Hingga ketukan untuk ketiga kalinya. "Masuk Soya," ujar Tuan besar berusaha untuk meredam emosinya.
"Maaf, jika saya menganggu tetapi sesuai pesan Bibi, saya memberanikan diri untuk menemui Tuan," ujar Soya sembari menunduk.
Tuan Guntur seakan tertampar dengan kejadian ini. Tuan Guntur langsung berdiri dan memeluk Soya erat. Ada tangis tertahan yang Tuan Guntur sembunyikan. "Soya, maafkan Ayah, bukan maksud Ayah untuk berbuat begini, tetapi semua juga karena ulah Danendra," ujar Tuan Guntur lirih kemudian melepas pelukannya.
Mendengar ucaoan Tuan Guntur, Soya sesaat tersenyum ada kelegaan tersendiri di hati Soya, bahwa Tuan besar masih begitu menyayanginya. "Tuan, Soya paham akan semuanya, takdir, jodoh, maut dan rezeki sudah ada yang mengaturnya. Harapan Soya semoga keputusan Tuan besar dan Tuan muda membuat semua urusan ke depannya jadi lebih baik dan kasihan ada nyawa tak berdosa di dalan tubuh Nona Clara," ujar Soya tenang.
Tuan Guntur langsung tersenyum dan kembali memeluk Soya erat untuk beberapa saat. "Tuan, lebih baik jika Tuan muda dan Nona Clara segera di sahkan," ujar Soya pelan.
Tuan Guntur tak menyangka jika gadis penebus hutang untuk orang tuanya memiliki pemikiran dewasa, tumbuh bersama dunia keras dan waktu yang mengajarkan arti hidup.
"Maafkan Ayah. Soya," hanya itu yang keluar dari bibir Tuan Guntur ada rasa yang terpendam.
Namun, berbeda dengan Danendra. Danendra yang sedari tadi menatap Soya seakan tak terima dengan keputusan yang Soya ambil tanpa melihat ke arahnya sedikit pun.
"Tidak! Saya tidak setuju," ujar Danendra tiba-tiba tak terima.
Soya hanya melihat ke arah Danendra.
"Lalu, apa mau Tuan muda? Ada wanita yang mengandung benih Tuan dan Tuan harus bertanggung jawab apapun itu niatnya," ujar Soya kesal.
Soya hanya bisa mendengus kesal dan kembali menatap Tuan Guntur.
"Tuan, tolong lepaskan saya, Tuan besar dan Tuan muda bisa mengurus pernikahan saya dengan muda dan tanpa melibatkan saya, harapan saya Tuan besar dan Tuan muda juga bisa memberi keputusan yang tepat pula untuk pernikahan saya, urus saja surat cerai dan jujur saya tak ingin berjuang di pernikahan saya," ujar Soya pasrah begitu saja.
Danendra yang mendengar ucapan Soya seketika wajahnya memerah penuh amarah.
"Saya tak akan melepaskan kamu Soya dan camkan itu!" ujar Danendra tak terima.
Mendengar penuturan Danendra Soya langsung membuang napas kasarnya, "Tuan tolong beri keputusan yang baik, lepaskan saya dan saya tak ingin di bilang sebagai pelakor atau perusak rumah tangga orang," ujar Soya jujur.
"Soya! Kamu istri aku!" ujar Danendra marah.
Soya kini terdiam untuk beberapa saat dan berusaha untuk menetralkan suasana yang makin memanas. "Tuan, jika Tuan muda menganggap saya demikian beri waktu pada saya jika Tuan muda bersungguh-sungguh dengan satu syarat Tuan harus bertanggung jawab pada Nona Clara dan bayi yang ada di perut Nona Clara dan saya akan tetap menjadi istri Tuan muda," ujar Soya sembari memberi isyarat pada Tuan Besar.
Danendra masih tak terima mendengar ucapan Soya, ada satu hal yang Danendra sadari saat ini bahwa hatinya sudah sepenuhnya mencintai Soya. Danendra kini terdiam duduk di sofa dengan tatapan nanar menatap ke arah Soya. "Baik, saya akan bertanggung jawab dan jangan harap saya akan menikahi Clara sebelum saya yakin bahwa anak yang di kandungnya adalah benih saya," ujar Danendra pada akhirnya.
Tuan besar dan Soya sedikit lega mendengar ucapan Danendra. "Tuan selama Tuan muda membuktikan semua itu ijinkan saya pulang ke rumah yang sudah Tuan besar sita, anggap saja saya yang bertugas membersihkan rumah itu," ujar Soya pelan.
Danendra kini hanya bisa menatap Soya tajam dan penuh amarah. "Ingat Tuan muda, Tuan harus benar-benar menepati janji Tuan muda, selama saya tinggal di sana Tuan muda tak boleh datang mengunjungi saya," ujar Soya tegas.
Tuan Guntur yang mendengar ucapan Soya hanya bisa menggeleng heran tetapi akhirnya Tuan Guntur hanya bisa mengikuti rencana Soya. "Soya, kamu!" teriak Danendra tak terima.
__ADS_1
"Hash, Tuan! Kenapa selalu emosi dengarkan saya dulu! Karena saya tak ingin menganggu kehamilan Nona Clara dan Tuan muda harus bisa menjadi Ayah siaga," ujar Soya sekenanya.
"Kamu! Kamu, hanya berusaha menghindar dari saya Soya," ujar Danendra tak terima.
"Terserah Tuan muda!" ujar Soya enggan berdebat lagi.
Mendengar ucapan Soya Danendra sedikit meredam emosinya. Tatapan penuh kemarahan seakan meredup dengan sendirinya. "Ya, saya setuju tetapi dengan satu syarat kamu harus ada yang mengawasi," ujar Danendra akhirnya.
"Baik, tak masalah tetapi ingat tepati janji Tuan dan sebagai saksi adalah Tuan besar," ujar Soya.
Suasana ruang kerja sedikit mendingin dan kembali tenang. "Kapan kamu akan berangkat?" tanya Danendra tiba-tiba.
Mendengar ucapan Danendra Soya hanya bisa menahan senyumnya. "Sekaranglah, saya tak ingin menganggu Nona Clara," ujar Soya seenaknya.
"Hash! Betul kan kamu ingin menghindari saya," ujar Danendra lesu.
Namun, suasana tenang yang baru tercipta harus kembali bising saat Clara berteriak keras memanggil Danendra. "Tuan segera datang temui Nona Clara," ujar Soya penuh semangat.
"Hash, ada apa lagi!" ujar Danendra kesal dan menuruti saran Soya.
Kepergian Danendra menemui Clara membuat Soya tersenyum senang, Soya mengambil kesempatan ini untuk berbicara dengan Tuan besar secara serius hingga Tuan Guntur paham dan menyetujui maksud Soya. "Terima kasih Tuan saya akan merawat rumah Tuan sebaik-baiknya dan harapan saya Tuan senang dengan kehadiran cucu Tuan.
Jaga kesehatan Tuan," ujar Soya sembari memeluk erat Tuan Guntur, laki-laki yang selalu menganggap Soya baik.
Soya sedikit tersenyum saat mendengar suara Clara dan Danendra yang meledak memenuhi kamar secara bergantian.
Soya memilih menuju kamar sang bibi dan mengganti baju miliknya. "Bi, ijinkan Soya membawa baju Tuan yang bekas Soya pakai, Soya sudah meminta ijin pada Tuan besar," ujar Soya pelan.
Sang bibi seketika terkejut saat mendengar ucapan Soya. "Non Soya mau kemana?" tanya bibi heran.
"Bi, tak baik saya ada di sini dan saya tak ingin membuat ibu hamil terus berselisih tak jelas nantinya," ujar Soya pelan.
Mendengar ucapan Soya sang bibi langsung memeluk Soya erat ada tangis yang tiba-tiba luruh tangis yang tak pernah bisa Soya jelaskan akan perasaannya saat ini.
Sang bibi semakin mengeratkan pelukannya.
"Soya, kamu boleh meminta dari Bibi apapun
datanglah kemari Soya," ujar bibi sembari memeluk Soya erat.
"Agh, Bibi. Bibi sudah membuat Soya menangis, Soya tak akan datang kemari lagi Bi," ujar Soya sembari melepas pelukannya dan mengikis air matanya.
"Soya pamit Bi, jaga kesehatan Bibi," ujar Soya keluar dari rumah dengan tenang, Soya sadar mungkin ini lebih baik dari pada harus menabuh genderang perang dengan tujuan tak jelas. "Kamu benar-benar akan pergi Soya," ujar Danendra mengejutkan.
"Ya, ingat janji Tuan. Tuan harus menepati dan harapan Soya Tuan paham akan keputusan Soya, besarkan anak Tuan dengan baik," ujar Soya lirih.
"Soya kenapa kamu tega," ujar Danendra terputus begitu saja.
Soya memilih untuk diam. "Saya pamit Tuan," ujar Soya sembari menunduk karena kini Clara sudah berjalan menghampiri Danendra.
Clara langsung menatap sinis pada Soya.
"Oh.Bagus kamu pergi, pelakor seperti kamu memang tak pantas untuk tinggal di rumah ini," ujar Clara menghina.
Danendra yang mendengar ucapan Clara langsung menatap tajam ke arah Clara.
"Tuan saya permisi dan terima kasih," ujar Soya sembari memegang tangan Danendra agar menghentikan amarahnya yang mudah tersulut.
Danendra hanya bisa menahan amarahnya hingga Soya menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Danendra hanya bisa terdiam tak bisa mencegah kepergian Soya, istri yang begitu di cintainya. 'Maaf, Soya. Jika kejadian ini harus memisahkan kita sesaat tetapi saya berjanji jika semua ini bohong adanya,' guman hati Danendra.
Sementara itu, Soya yang masih berdiri di halaman menatap sejenak rumah yang memberinya cinta. "Terima kasih Tuan besar, Bibi, Pak Muin dan Tuan Danendra," ujar Soya lirih.
Soya melangkah pelan sembari mengingat percakapannya dengan Tuan besar ada sedikit penyesalan yang Soya rasakan. "Maaf!" hanya ini yang akhirnya keluar dari bibir Soya.
"Non. Masuk, mari saya antar ini perintah Tuan besar," ujar Pak Muin tiba-tiba menyalakan mobil.
"Non, Tuan besar menitipkan sesuatu untuk Non Soya dan semoga berguna, ayo. Non," ujar Pak Muin.
Hingga sampai di pertigaan Pak Muin berhenti. "Non, sesuai permintaan Nona dan persetujuan Tuan besar saya akan mengantar Nona sampai tujuan dan Tuan besar tak ingin Non Soya kenapa-kenapa," ujar Pak Muin pelan.
"Terima kasih Pak, tetapi tempatnya sangat jauh dan terpencil, apa Bapak mau?" tanya Soya akhirnya.
"Siap Non, saya akan pastikan Nona datang dengan selamat dan saya juga akan menyimpan rahasia ini," ujar Pak Muin.
Soya sedikit merasa lega ternyata Tuan besar begitu mengkhawatirkan keadaannya, perjalanan yang jauh harus di tempuh hampir empat jam. "Pak turunkan Soya di sini saja," ujar Soya pelan.
"Sudah Non, ayo. Apalagi ini hampir malam," ujar Pak Muin.
Berhenti di rumah yang cukup besar dan berada tepat di tepi jalan. "Ayo, pak masuk," ujar Soya sembari tersenyum.
"Non, ini?" tanya Pak Muin tanpa sengaja.
"Pak, Pak Muin menginap saja. Lagi pula jalanan sudah sepi," ujar Soya sembari membuka pintu.
Soya menghentikan langkahnya sejenak, mencari tombol lampu dan tak lama lampu sudah menyala. "Jangan kaget Pak Muin ini rumah Tuan besar dan hanya Tuan besar yang tahu rumah ini," ujar Soya menjelaskan.
Pak Muin menatap Soya dengan iba dan perasaan yang membuat Pak Muin tak tega.
"Non, apa Nona baik-baik saja?" tanya pak Muin sembari duduk.
"Saya baik-baik saja Pak! Meskipun pernikahan kami masih bisa di hitung dengan jari, apapun bentuknya pernikahan tetap pernikahan yang harus di hormati," ujar Soya sembari tersenyum.
Pak Muin yang masih bingung dengan ucapan Soya akhirnya kembali bertanya.
"Apa yang terjadi Non?" tanya Pak Muin.
"Ini hukuman yang harus di jalani Tuan muda, agar Tuan muda lebih bijak dan tentang Nona Clara itu memang benar adanya dan Tuan besar hanya ingin agar Tuan muda bertanggung jawab dengan ulahnya," ujar Soya lirih.
"Non. Jika harus mengorbankan pernikahan Non Soya, saya tak rela karena saya dan bibi begitu menyayangi Non Soya."
Mendengar ucapan Pak Muin Soya tersenyum tetapi tatapan mata Soya tak bisa membohongi kegundahan di hatinya.
"Saya ikhlas Pak, biarkan Tuan Muda mendapat pelajaran, Tuan besar juga tak mungkin menelantarkan cucunya sendiri," ujar Soya pelan.
"Jadi?" tanya Pak Muin akhirnya.
"Pak, yang kita hadapi adalah orang besar, berduit dan punya pengaruh. Sudah Pak sebenarnya ini juga rahasia yang hanya saya dan Tuan besar yang tahu dan harapan Tuan besar, Tuan muda bisa berubah dan tak arogan," ujar Soya sembari menguap.
Pak Muin masih saja duduk di Sofa menatap jalanan yang mulai sepi, sementara Soya sudah masuk dalam kamarnya ada begitu banyak pertanyaan yang menganggu tetapi Pak Muin sadar jika semuanya tak perlu di tanyakan dan biarkan waktu yang menjawab.
"Kamu benar-benar baik Soya, rela mengalah dan mengikhlaskan apa yang harus kamu miliki," guman Pak Muin sembari berdiri dan menutup pintu.
Sementara itu, di dalam kamar Soya hanya duduk termenung, ada perasaan tak nyaman yang Soya rasakan. Menatap baju yang di bawanya. "Apa saya benar-benar menyukai Tuan Muda atau hanya obsesi sesaat saja," guman Soya lirih dan memilih tidur sembari memeluk baju yang di bawanya.
Soya sesaat tersenyum saat mengingat bagaimana Danendra merengkuhnya hangat.
"Huuff ..., Kenapa hati ini terus berdebar?"
__ADS_1
"Tuan, semoga Tuan bisa melalui semua dengan baik, saya ikhlas melepas pernikahan ini jika memang itu harus," ujar Soya pelan.
Rasa capek yang sedari tadi Soya rasakan akhirnya terbayar lunas saat Soya sudah terbang di alam mimpi