
Danendra masih berusaha meredam emosinya sesaat, hingga ketukan di pintu mengejutkan Danendra dan Tuan Guntur.
"Tuan .... cepat kejar Nona Soya, Nona pergi sembari menangis," cerita bibi kalut.
Danendra, seketika berdiri sembari memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit, sementara Tuan Guntur langsung memanggil Pak Muin dan menghubungi seseorang. "Bi, tolong jaga Danendra dan saya akan mengejar Soya," titah Tuan Guntur tegas.
"Ayah, biarkan saya ikut," seru Danendra sembari meringis menahan sakit.
"Danendra, sebaiknya kamu tunggu saja!" perintah Tuan Guntur.
"Ayah, Soya adalah istri saya dan satu hal sata tak ingin Soya ragu dengan perasaan Danendra Ayah!" jelas Danendra.
Tuan Guntur dan Danendra langsung memburu langkah Soya, tetapi langkah Soya seakan hilang begitu cepat hingga tak berapa lama ponsel Tuan Guntur berdering, untuk sesaat Tuan Guntur terdiam mendengarkan dan tak lama mematikan ponselnya dengan kasar. "Pak Muin kita bergerak cepat, kita susuri jalan ini karena orang-orang kita sudah mengejar Soya," ujar Tuan Guntur gelisah.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Danendra akhirnya.
"Tenang Danendra, fokus pada kesehatan kamu," kata Tuan Guntur.
Sepanjang perjalanan pencarian, Tuan Guntur maupun Danendra memilih untuk diam hanya netra mereka yang memindai setiap jalan yang di lalui. Hingga netra Danendra menatap jalan yang bercabang. "Pak Muin, itu Soya!" seru Danendra senang.
Tuan Guntur yang melihat Soya tengah duduk sembari menangis tak urung akhirnya mengumpat marah juga. "Argh .... kenapa juga Soya menangis di situ!" omel Tuan Guntur tak sabar.
Pak Muin menghentikan mobilnya tepat di depan Soya, perlahan Danendra keluar dari mobil dan menatap istri yang baru di sahkan kembali. "Soya!" panggil Danendra pelan.
Soya yang terkejut seketika berdiri dan langsung berlari menjauh. "Soya! Jangan bersikap konyol, jangan pergi Soya!" teriak Danendra keras.
__ADS_1
Soya yang mendengar teriakan Danendra akhirnya menghentikan langkahnya, menatap laki-laki yang membuat Soya kembali meragu setelah mendengar cerita Tuan Guntur tanpa sengaja. "Tuan, apa Tuan tak malu memiliki istri seperti saya, anak dari pemabuk dan penjudi, gadis yang tak sederajat dengan Tuan," ujar Soya akhirnya.
Soya kini hanya bisa menangis meratapi kemalangan nasibnya. "Soya, saya akan menjelaskan semuanya dan satu hal saya tak akan pernah malu, kita pulang Soya," tutur Danendra pelan sembari meringis menahan sakit dan langsung menghentikan langkahnya, tangan Danendra terus memegang perutnya dan tak lama Danendra jatuh terduduk.
"Tuan ...."Pekik Soya keras dan berlari menghampiri Danendra.
"Ayah, Pak Muin. Tuan muda!" seru Soya dengan tangisnya.
Pak Muin segera menghampiri mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. "Soya masuklah dalam mobil dan saya akan memapah Tuan muda," ujar Pak Muin lirih.
"Maaf, maafkan Soya, Soya ...."Ucapan Soya terhenti saat Tuan Guntur memeluk untuk menenangkan Soya.
"Pak Muin kita kembali ke rumah sakit!" titah Tuan Guntur tegas.
Soya, kini di liputi penyesalan yang begitu dalam, sikapnya yang kekanak-kanakan akhirnya membuat Soya terus merutuki kebodohannya. Sementara itu, Pak Muin dan Tuan Guntur hanya bisa melihat mereka dengan tatapan sendu dari jok depan.
Setibanya di rumah sakit, Danendra langsung mendapat perawatan. Luka di perutnya kembali terbuka dan akhirnya perut Danendra harus di jahit ulang dan harus benar-benar istirahat hingga luka benar-benar di nyatakan sembuh. Soya yang masih merasa bersalah akan sikapnya kini menjadi sedikit pendiam dan semua perubahan sikap Soya membuat Tuan Guntur terusik. "Pak Muin tolong jaga Danendra saya akan mengajak Soya makan," pinta Tuan Guntur pelan dan menepuk bahu Pak Muin tiga kali.
Pak Muin yang paham akan maksud Tuan Guntur akhirnya mengangguk paham dan tersenyum, "baik Tuan," jawab Pak Muin.
"Soya, ikut dengan saya, biarkan Danendra dengan Pak Muin," ujar Tuan Guntur tak ingin di tolak.
Soya sesaat ragu untuk beranjak hingga Danendra menghiyakan. "Pergilah, temani Ayah, ada Pak Muin yang menjaga," ucap Danendra sembari tersenyum.
Berjalan beriringan dengan Sang Ayah mertua membuat Soya semakin merasa bersalah. "Soya kita duduk di sana sebentar ada yang ingin Ayah bicarakan," ajak Tuan Guntur dan mendahului melangkah.
__ADS_1
Soya, hanya mengekor langkah Tuan Guntur hingga langkah mereka berhenti di bangku yang tak jauh dari kamar Danendra. Tuan Guntur tersenyum saat melihat Soya duduk sembari menunduk. "Hash! Sejak kapan anak Ayah jadi pemalu seperti ini?" tanya Tuan Guntur pelan.
"Maaf, Ayah. Soya malu dengan sifat Soya yang kekanak-kanakan dan Soya juga minta maaf, sampai membuat Tuan muda masuk rumah sakit lagi," cicit Soya.
Tuan Guntur yang begitu memahami sifat Soya hanya bisa tersenyum. "Soya, sebenarnya yang harus meminta maaf adalah Ayah, Ayah minta maaf jika tak pernah menceritakan pada Soya, tetapi semua juga demi kebaikan Soya," tutur Tuan Guntur lirih.
"Soya, bagaimana menurut pendapat Soya, andaikan saat itu saya tak membantu Soya dan Ibu Soya, apa yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Tuan Guntur.
Soya seketika mendongak saat mendengar ucapan Tuan Guntur, tatapannya sesaat sendu. "Ayah, Soya paham dan mengerti maksud Ayah. Andaikan Ayah tak menolong Soya dan Ibu, mungkin saat ini Soya sudah berubah mungkin saat ini saya berdiri di tepi jalan dengan dandanan menor dan baju seksi dan nama saya mungkin bukan Soya lagi, mungkin bisa jadi Soyu, Soyi atau yang lainnya. Terima kasih Ayah," ujar Soya lirih.
Mendengar jawaban Soya Tuan Guntur seketika tertawa kecil sembari mengguyar rambut Soya. "Anak baik, untuk selanjutnya jangan pernah pergi lagi, selesaikan semua masalah dengan tenang. Soya! Tolong jaga Danendra untuk Ayah," ujar Tuan Guntur sembari menatap jauh ke depan.
"Soya, mulai sekarang tolong ubah panggilan kamu terhadap Danendra, kesannya tak nyaman," pesan Tuan Guntur.
Setelah mengatakan semua maksudnya, Tuan Guntur kini mengajak Soya kembali ke kamar Danendra. "Pak Muin, kita pulang dan jangan menganggu mereka," seru Tuan Guntur dan di aminkan oleh Pak Muin.
"Ingat Soya pesan Ayah," ujar Tuan Guntur sebelum pergi.
Soya hanya mengangguk sebagai tanda paham. Danendra yang melihat perubahan sikap Soya akhirnya bisa tersenyum lega.
"Kemarilah Soya," titah Danendra.
Soya langsung mendekat dan duduk di sidi bed. "Tuan, maaf jika sikap saya kekanak-kanakan," tutur Soya tiba-tiba.
"Kenapa membahas itu lagi, sekarang jangan pernah pergi dan ada hal yang lebih menyedihkan kenapa malam pertama kita berada di rumah sakit?" tanya Danendra dan itu membuat Soya makin menunduk malu.
__ADS_1