
"Sekar ...."
Soya merasa tubuhnya langsung melemah dirinya juga tak bisa berbohong jika sampai detik ini Soya masih sangat mencintai Danendra laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta, laki-laki yang sudah memberinya satu anak. Soya rela menolak pinangan Hazal lelaki yang dengan ikhlas membantunya dan rela di panggil ayah oleh Diandra. Laki-laki yang tanpa pamrih selalu menolongnya. Soya tak bisa menutup perasaaannya begitu saja akan perasaannya pada mantan suaminya.
"Bu ...." Panggil Sekar membuyarkan lamunannya.
"Apa ... Ibu bersedia mendengar cerita saya?"
Soya seakan kehabisan kata-kata bibirnya begitu kelu dan dadanya juga masih bergetar saat mendengar nama Danendra. Mengangguk dan menghiyakan begitu saja tawaran Sekar.
Sekar flashback on
Siang itu tepatnya satu tahun setelah kepergian Ibu, saya begitu terkejut saat melihat kedatangan seorang laki-laki yang masih memakai perban di kepalanya.
Lelaki itu langsung tersenyum dan masuk begitu saja dalam rumah dan terus memanggil nama Ibu. Saya tak mengira jika lelaki itu mantan suami ibu, saya masih membiarkan lelaki itu terus berteriak memanggil hingga laki-laki mendatangi saya dan bertanya tentang Ibu dan Bibi. Saat itu saya hanya bisa takut dan tak berani mengatakan apa pun tentang Ibu pada lelaki yang mengaku bernama Danendra.
Saya begitu mematuhi setiap pesan yang Ibu sampaikan. Namun, lelaki itu terus memaksa hingga saya memberitahu jika Ibu dan Bibi tinggal di kota *** saya sengaja memberi alamat yang salah agar Anda dan Bibi tak bisa di temukan. Kota yang tak jauh dari kota di mana Ibu tinggal tetapi sebelum lelaki itu pergi dia berpesan agar menyerahkan sepucuk surat untuk Ibu dan saya masih menyimpannya sampai kini. Surat dan satu map yang masih saya sembunyikan dan Kak Zulhan tak mengetauhi ini.
__ADS_1
Sekar flashback off
Sekar kemudian berdiri dan menuju kamarnya dan tak lama Sekar sudah kembali membawa sepucuk surat dan map yang masih terlihat rapi.
"Bu, maaf jika saya baru bisa menyerahkan amanat Pak Danendra sekarang." Sekar mengulurkan surat dan map yang di pegangnya.
Soya masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, tangan gemetar dan bibir kelu menerima surat dari Sekar. Entah saat ini dirinya begitu rapuh, kenangan perasaan akan cintanya kembali hingga netranya menatap tulisan tangan yang begitu rapi tercetak namanya.
"Huuffff ...." Membuang napasnya dengan berat dan berkali-kali.
"Bu. Maaf, jika Sekar lalai memberikan amanat ini," tukasnya lirih.
Tanpa bicara lagi Soya langsung berdiri dan masuk kamar, saat ini hanya debaran hatinya saja yang terasa rasa sakit hati dan benci yang dirasakan selama ini serasa menghilang begitu saja. "Enggak. Soya, kamu harus bisa bertahan dan jangan lemah," gumannya sendiri.
Duduk di ranjang dengan berusaha tenang meletakkan map dan memilih membuka surat dari Danendra mantan suaminya. Namun, sesaat tangan Soya terhenti menatap sejenak surat yang dipegangnya. Entah, apa saat ini yang dirasakan ada hal yang tak bisa Soya pungkiri hatinya terus berdesir.
Menatap sampul berwana biru dan tulisan tangan yang rapi, bibirnya seketika tersenyum perlahan tangannya membuka tutup amplop mengeluarkan lembar berwarna putih dengan tinta yang mulai memudar.
__ADS_1
"Maaf."
Duniaku serasa runtuh, hatiku membeku dan jiwaku melara. penyesalan yang terlambat datang, kebodohan yang tak pernah bisa di maafkan. Sadar akan ketololan yang terus di lakukan.
Maaf, jika telah mengabaikan perasaan kamu, ketegasan yang tak pernah bisa saya lakukan demi kenangan-kenangan usang dan menutup masa depan.
Soya, jika kamu membaca surat ini tolong maafkan semua ketololan saya dan jika surat ini sudah berada di tangan kamu berarti saya sudah pergi jauh, untuk menghukum semua kebodohan yang saya lakukan pada kamu.
Maaf untuk cinta yang terlambat aku sadari pada gadis polos berseragam abu-abu yang sering saya lihat di pinggir jalan. Maaf jika membuat luka yang begitu dalam, membuat kamu tersakiti berulangkali .
tak ada yang pantas untuk aku ucapkan padamu, Soya saya kembalikan apa yang menjadi hak kamu dan sepenuhnya milik kamu.
"Maaf."
Soya seketika menangis tergugu memeluk surat yang dipegangnya. Perasaannya kini tengah melara menyesal dengan semua apa yang terjadi. Soya seketika mengikis air matanya saat menyadari semua yang terjadi.
Tak ada penyesalan hanya perasaan kecewa dengan apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Melihat map di sampingnya menatap tak percaya. "Bu ... akhirnya rumah kita kembali," ujar Soya dengan derai air mata.
"Maafkan saya juga Mas Adran," tutur Soya lirih.