RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 95. Tak sengaja bertemu


__ADS_3

Soya sedikit heran saat mendapati Diandra panas, tetapi dirinya segera mengikis semua kekhawatirannya. "Bi, tolong jaga Diandra akan saya ambilkan obat di kamar," tutur Soya sembari berlalu.


Untuk sesaat Doya melirik ke arah jam. 'Sudah cukup malam jika harus ke Apotik,' batin Soya sembari menilik obat yang tinggal sedikit.


"Bi, obatnya tinggal sekali minum saja. Semoga obat ini mujarab dan Diandra lekas dingin." Soya duduk di sisi ranjang.


Melihat Diandra merengek Soya sesaat melihat ke arah sang bibi.


"Ada apa Non?" bibi bertanya.


"Agh. Enggak Bi, tolong bantu Soya untuk membangunkan Diandra biar lekas minum obat," ujar Soya untuk menutupi perasaannya.


"Bi, setelah Diandra minum obat tolong jaga dia, saya akan ke Apotik beli obat dan untuk berjaga-jaga," pinta Soya lirih.


"Non, sudah malam dan ini juga hampir jam sembilan malam," tukas bibi khawatir.


Soya tak menjawab ucapan sang bibi karena saat ini tangannya tengah sibuk menuang obat di sendok. "Benar, 'kan, Bi. Obatnya habis dan ini juga tak sampai satu sendok teh," jawab Soya sembari meminumkan obat pada Diandra.

__ADS_1


Mencium pucuk kepala Diandra untuk sesaat dan kemudian menidurkan kembali.


"Diandra tidur kembali dan Ibu akan ke Apotik sebentar," titah Soya.


"Bi, saya pergi sebentar dan tolong jaga Diandra, Bi," pamit Soya sembari memakai jaket.


Jarak Apotok yang tak begitu jauh membuat Soya bertekad. Jalanan masih ramai sesaat Soya tersenyum saat mengingat dirinya yang dulu, hidup di jalanan demi mencari uang. Udara malam yang dingin membuat Soya semakin mengeratkan jaketnya dan memakai penutup kepala. Berjalan sedikit tergesa hingga Soya tiba di Apotik menatap sejenak kemudian kembali melangkah masuk.


Setelah mendapatkan obat yang di maksud Soya kembali berjalan dengan tergesa dan sibuk memasukkan uang kembalian ke saku jaketnya. Namun, langkah Soya sedikit terhenti saat ada laki-laki yang menyenggol tubuhnya hingga sedikit oleng. Soya tak menghiraukan kejadian ini karena pikirannya kini fokus pada Diandra.


"Hash ...." Umpatnya sembari mengusap bahunya yang terasa ngilu dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Enggak mungkin atau mata saya saja yang keliru," guman laki-laki ini dan melanjutkan langkahnya. Namun, laki-laki ini kembsli berhenti seakan yakin dengan apa yang dilihatnya.


"Benar! Mata saya tak salah!" seru laki-laki ini berbalik dan sedikit berlari untuk mengjar Soya.


"Terlambat, wanita tadi sudah menghilang," gumamnya saat tak menemukan Soya dimanapun.

__ADS_1


"Argh ... andaikan jika itu Soya, kenapa dia tak mengenali saya?"


Laki-laki ini hanya bisa mengguyar rambutnya kasar dan kembali melangkah menuju mobil yang di parkir di ujung jalan.


Memasuki mobil Danendra langsung tersenyum kecut, ada penyesalan di hatinya saat ini. Danendra tak menyangka jika semua keputusan yang di buatnya membuat hidupnya berantakan. Malam ini adalah kunjungannya setahun sekali seperti tahun-tahun sebelumnya, mengunjungi tempat yang bisa membuatnya sedikit tenang. Tempat di mana dirinya bisa melihat Soya sepuasnya, tetapi saat ini semua tinggal kenangan yang tak berujung.


Danendra sekali lagi menggeleng dan melajukan mobilnya, tetapi rasa penasaran yang Danendra rasakan membuat Danendra ingin memastikan sesuatu dan merubah arah laju mobilnya. Berhenti di rumah yang tak pernah Danendra kunjungi.


"Apa mungkin Soya kembali ke rumah ini dan Hazal?" tanya Danendra ragu.


Danendra masih menatap tak percaya jika rumah Soya kembali di tempati, menghembuskan napas berat untuk sesaat sebelum kembali melajukan mobilnya.


Saat ini pikiran Danendra benar-benar kusut dan semua pemikirannya tertuju pada Soya dan Hazal. Memakirkan mobil dengan sembarang dan memasuki rumah dengan wajah aneh.


"Eh ... Tuan muda pulang?" tanya Pak Muin.


Danendra hanya tersenyum kecut dan masuk begitu saja ke dakam rumah, tetapi netra Danendra langsung tertuju pada sudut ruang tengah.

__ADS_1


"Mainan, lantas mainan ini milik siapa?" tanya Danendra heran.


__ADS_2