
Sementara itu, di tempat lain Danendra sesekali tersenyum puas saat melihat ponselnya, senyum yang jarang terlihat di wajah Danendra hingga Zulhan yang berada di sampingnya sedikit heran. "Tumben mimpi apa semalam, menang undian kah?" tanya Zulhan penasaran.
"Akh, biasa saja," ujar Danrndra sembari mematikan ponsel miliknya dan menyimpan di saku baju yang di gunakannya.
Zulhan kembali tercengang saat Danendra menghentikan mobil di rumah Tuan besar.
"Daned, tumben kamu datang mengunjungi Tuan besar?" tanya Zulhan tetapi tak di jawab oleh Danendra, Danendra hanya tersenyum senang sembari keluar dan tak lama menutup pintu mobil.
"Zulhan jangan banyak bertanya sudah kamu siapkan yang saya minta?" tanya Danendra.
"Sudah dan sepuluh menit lagi mereka datang," jawab Zulhan dan mengekor langkah Danendra masuk dalam rumah.
Tuan Guntur yang tengah duduk santai di ruang tamu langsung menatap heran, hingga tak lama, "wah, tumben kamu datang Danendra, mimpi apa?" tanya sang Ayah terkejut.
Danendra langsung duduk begitu saja dan tersenyum menatap sang Ayah. "Zulhan bagaimana kabar Soya?" tanya Tuan Guntur pada Zulhan dan membuat Danendra tak suka.
"Selamat siang Tuan, Non Soya sehat dan baik hanya saja ..." Zulhan menghentikan ucapannya saat Danendra menatap tak suka.
"Ayah, Danendra ingin membicarakan sesuatu dengan Ayah tetapi tidak di sini," ujar Danendra sembari berdiri dan menuju ruang kerja. Sang Ayah hanya menatap dengan bingung dan tak lama melihat ke arah Zulhan.
Zulhan hanya tersenyum dan menggeleng.
"Ayah. Jangan bertanya pada Zulhan, Zulhan juga enggak tahu!" ujar Danendra
"Zulhan jika tamunya sudah datang, antar ke ruang kerja Ayah dan kamu tak boleh ikut!" teriak Danendra sembari menutup pintu.
Zulhan yang melihat tingkah aneh Danendra hanya menggeleng tak percaya. Hingga tamu yang di tunggu datang, Zulhan langsung mengantar mereka ke ruang kerja Tuan besar.
Hampir satu jam lamanya Danendra dan beberapa tamu berada di ruang kerja dan mereka keluar dengan senyum yang aneh sembari menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Zulhan, kita ke daerah **** ada yang harus kita urus," ujar Danendra sembari keluar dan masuk dalam mobil, sementara sang Ayah hanya tersenyum melihat Danendra yang sedikit berubah.
Selama dalam perjalanan Danendra terlihat begitu serius dan terus menatap ke depan dengan tajam, hingga tak lama Danendra menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang cukup mewah.
"Tolong awasi anak ini," ujar Danendra sembari menyerahkan foto pada Zulhan.
"Danend, bukanya ini ...?" tanya Zulhan ragu.
"Ya, saya hanya ingin memberi hadiah kecil pada Rengga," ujar Danendra lirih.
"Tapi ..., jangan Danend mereka ..." Zulhan tak melanjutkan ucapannya dan memilih diam saat melihat Danendra menatap seorang laki-laki tanpa berkedip.
"Panggil dan bawa masuk ke mari," ujar Danendra memerintah.
Zulhan yang paham akan tugasnya langsung ke luar dan entah, apa yang Zulhan bicarakan Rengga langsung mengikuti Zulhan masuk dalam mobil. Suasana sedikit tegang saat Danendra menatap Rengga dengan tajam namun, beberapa saat kemudian tatapan Danendra sedikit tenang. "Kenalkan saya Danendra dan anda?" tanya Danendra.
Rengga seakan sadar saat mendengar nama yang pernah di dengarnya dari Nella.
"Ya, saya Danendra!"
Rengga seketika berontak dan berusaha kabur, "Zulhan tenangkan dia, jika saya ingin membunuh Rengga itu mudah saja. Saya tak perlu mengotori tangan saya, melalui orang yang saya suruh semuanya akan beres," ujar Danendra memberitahu.
"Sa-saya dan Nella saling mencintai," ujar Rengga tergagap.
Mendengar ucapan Rengga, Danendra sekilas menatap Rengga tajam. "Nikmati dan menikahilah dengan Nella, bagaimanapun saya membenci Nella saya tak akan bisa menyakitinya. Sebagai gantinya kamu yang harus menerima hadiah ini dan kamu yang membuat Nella berpaling dari saya. Zulhan sekap dia selama dua bulan dan bawa Nella ke rumah *** selama dua bulan, itu hukuman bagi kalian karena sudah membohongi saya dan menghamburkan uang saya."
Rengga seketika terkejut saat Danendra mengatakan semua yang telah di lakukan oleh Nella, "Tolong jangan Nella, jangan hukum Nella," ujar Rengga memohon.
Danendra hanya tertawa sinis dan menatap Rengga lekat. "Saya tahu kamu begitu mencintai Nella lalu, apa yang akan kamu buat untuk membayar kerugian yang saya terima, kamu!"
__ADS_1
Rengga langsung tertunduk Rengga sadar jika selama ini Nella telah berlaku curang pada Danendra. "Kenapa diam, rumah kamu atau adik kamu yang cantik itu saja sebagai ganti kerugian saya," ujar Danendra sembari tersenyum.
"Saya mohon, jangan sangkut pautkan keluarga saya, semua yang terjadi karena saya mencintai Nella," ujar Rengga tiba-tiba.
"Baik, jadi kamu yang akan membayar kerugian saya dan Nella kamu biarkan saya kirim ke rumah****?" tanya Danendra.
Rengga kini memilih untuk diam, lidahnya serasa kelu hanya tatapannya saja yang menunjukkan bahwa Rengga tak merelekan apapun yang terjadi pada dirinya ataupun Nella dan juga keluargannya. Danendra menyadari semua ini. Namun, hukuman tetap berlaku. "Baik, jika kamu tak merelakan siapapun yang kamu sayangi tersakiti tetapi saya akan tetap memberi hukuman pada Nella dan kamu harus dengan sukarela saya sekap selama satu bulan demi lancarnya rencana saya dan setelah itu terserah pada kamu," ujar Danendra sembari melajukan mobil yang di kendarainya.
Hingga hampir malam Danendra menghentikan laju mobilnya di perkampungan yang cukup ramai, hingga mobil Danendra berhenti di sebuah rumah sederhana, "Zulhan tinggalkan dia di sini dan periksa dulu di dalam apa semua sudah di siapkan?" tanya Danendra.
Mendengar ucapan Danendra Zulhan hanya mengangguk dan tersenyum, "bawa dan biarkan dia di sana selama satu bulan," ujar Danendra.
"Saya mohon, jangan perlakukan saya demikian, kasihan Nella," ujar Rengga keras.
Danendra hanya menatap Rengga dan melangkah masuk lebih dulu dan tak lama Zulhan dan Rengga masuk.
Zulhan langsung melepaskan Rengga begitu saja dan meninggalkan Rengga dan Danendra di dalam rumah. Zulhan hanya bisa menggeleng, "jika kamu bukan pacar Nella pasti kamu sudah meninggal," ujar Zulhan.
Sementara itu, Zulhan berkali-kali bergidik ngeri saat mendengar teriakan Rengga dan akhirnya Zulhan tak mendengar suara apapun. "Danend, kamu begitu tega," ujar Zulhan lirih dan memilih bersandar di dinding.
Suara derit pintu yang terbuka membuat Zulhan sedikit tenang, "Zulhan panggil orang untuk merawat Rengga dan suruh beberapa orang menjaga hingga satu bulan lamanya," ujar Danendra sembari mengusap tangannya yang terpecik darah.
"Danend!" panggil Zulhan khawatir.
"Akh. sudahlah, saya hanya memberinya sedikit hadiah, paling-paling hidungnya yang patah dan beberapa tulangnya yang patah," ujar Danendra sembari melepas bajunya dan membuangnya ke sampah begitu saja.
Danendra beberapa saat hanya terdiam dan menatap lurus, "Zulhan, tolong ambilkan kaos di bagasi," ujar Danendra sembari menatap rumah yang terlihat sepi.
Danendra hanya tersenyum saat melihat beberapa orang datang berjaga dan dua orang yang datang untuk merawat Rengga.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!" ajak Danendra sembari melajukan mobil.
"Danendra, kita akan ke mana?" tanya Zulhan heran saat laju mobil keluar dari jalur dan menuju tempat yang berbeda.