
Zulhan tak mampu mengatakan apapun, Zulhan tahu bahwa ini kenyataan pahit untuk Soya, Zulhan hanya bisa menatap Soya, Zulhan sadar jika saat ini Soya tak percaya
dengan apa yang di bacanya, terlihat dari tatapan Soya yang nanar menatap penuh amarah.
"Kak, semua ini tak benar kan?" tanya Soya tiba-tiba.
"Ya. Soya, semua yang Soya baca itu benar dan maaf, Soya. Maaf, semua memang benar adanya, surat perjanjian itu, kwitansi semua ada tanda tangan Pak Kadir dan sebenarnya Kak Zulhan juga tak meyangka jika jumlah yang di pinjam juga begitu besar dan perlu Soya ketauhi bunga pinjaman ini berjalan setiap hari, jika sehari tak membayar bunganya akan menjadi dua kali lipat," ujar Zulhan mencoba menjelaskan.
Soya yang sedari tadi sudah berusaha menahan tangisnya kini dengan mata berkaca-kaca Soya menatap ke arah Zulhan.
"Soya harus bagaimana Kak, begitu banyak pinjaman Bapak yang belum bisa Soya kembalikan dan apa ini Kak! Bapak, Argh," ujar Soya bingung dan menangis.
Soya tak tahu hsrus bicara dan berbust apa, Zulhan hanya membiarkan Soya menangis dengan dilema yang sedang Soya hadapi.
Hingga tak berapa lama tangis Soya terhenti dan tinggla isakan.
"Soya, sebaiknya Soya pelajari dulu surat perjanjiannya, beruntungnya selama satu bulan Kak Zulhan sudah bisa membujuk Bos Kakak untuk menangguhkan penambahan bunga harian, sungguh! Soya Kakak akan membantu Soya sebisa mungkin," ujar Zulhan pelan.
"Kak, tetapi bagaimana cara Soya untuk melunasi semua hutang Bapak," ujar Zoya putus asa.
Zulhan dan Soya hanya bisa terdiam, Soya hanya menatap kertas yang di pegangnya dengan tangan gemetar, sore menjelang magrib Soya masih duduk termenung di taman. Zulhan yang sedari tadi hanya bisa melirik ke arah Soya. "Soya. Ayo, kita pulang! Kasihan Ibu Warti dan jangan membuat khawatir menunggu kepulangan Soya," ujar Zulhan pelan.
Sota seketika menggeleng, "Kak. Kakak, pulang saja! Soya akan menenangkan diri dulu di taman," ujar Soya lirih.
__ADS_1
Zulhan seketika mendengus saat mendengar jawaban Soya. "Soya yakin?" tanya Zulhan khawatir.
"Ya. Kak, Kak Zulhan pulang saja dan terima kasih Kak!" ujar Soya lirih sembari mengikis air matanya.
Zulhan dengan berat hati meninggalkan Soya sendiri di taman. Soya masih dengan diamnya dan duduk di taman sembari mengikis air matanya berulangkali, saat ini Soya benar-benar hancur, tanpa di minta air mata Soya sudah turun dengan sendirinya Soya tergugu dalam tangis.
"Bapak, kenapa Bapak begitu jahat pada Soya dan Ibu, lantas uang sebanyak ini Bapak gunakan untuk apa?" guman Soya sembari berlinang air mata dan menepuk dada sesekali.
Namun, di balik kesedihan Soya ada satu orang Ibu yang begitu terpukul saat mendengar semua percakapan Soya dan Zulhan, Bu Warti tak menyangka jika pak Kadir almarhum suaminya begitu tega pada Soya dan dirinya, Bu Warti yang tak sengaja mendengar percakapan Soya dan Zulhan memutuskan pulang lebih awal sebelum Zulhan meniggalkan taman.
Bu Warti kini hanya bisa menangis, menatap nanar ke seluruh rumah. 'Apa harus, saya menjual rumah atau ... ' Bu Warti tak melanjutkan bisikan hatinya. "Ya, Allah! Apa yang harus saya lakukan," ujar Bu Warti pelan.
Bu Warti seketika menghentikan tangisnya, Bu Warti memilih untuk menyudahi kesedihan di hati, memilih menuju dapur dan meminum air putih untuk meredakan emosi di dalam hati. Bu Warti masih berdiri di dapur saat mendengar suara Soya.
Bu Warti yang sedari tadi menunggu ke datangan Soya langsung masuk dalam kamar Soya, Bu Warti kini sudah membaca surat perjanjian yang sedari tadi membuat Bu Warti penasaran. "Astafirullah," ujar Bu Warti tak percaya. Namun, rasa terkejut Bu Warti langsung sirna begitu saja saat mendengar air di kamar mandi berhenti mengalir.
Bu Warti kini masuk dalam kamar, Bu warti memilih duduk sembari sesekali menepuk dadanya yang terasa begitu sesak.
"Hash. Kenapa, saya harus terus mengumpat marah, sementara orang yang membuat ulah kini sudah melepas tanggung jawab dan hanya meninggalkan sakit dan menimbulkan luka baru untuk Soya dan dirinya," guman Bu Warti lirih.
Bu Warti memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang, tak ada kenyamanan saat ini. "Soya, kenapa kamu memilih menyembunyikan semua masalah yang begini besar, apa kamu merasa begitu khawatir dengan keadaan Ibu," ujar Bu Warti lirih sembari meringis menahan sakit yang tiba-tiba datang.
Semalaman Bu Wati hanya berbaring menatap langit-langit kamar, semua angan Bu Warti seakan menari dan terus membuat bibir Bu Warti mengumpat lirih.
__ADS_1
Hingga pagi menjelang Bu Warti segera menuju dapur dan menyiapkan sarapan, tatapan Bu Warti kini tertuju pada Soya yang baru keluar dari kamar, sekilas Bu Warti menatap wajah Soya yang sembab karena terlihat habis menangis semalaman. "Soya, sarapan dan lekas berangkat sekolah," ujar Bu Warti berusaha bersikap sewajarnya.
Soya, seketika menghentikan langkahnya dan duduk di dapur dan merebahkan kepalanya di meja, "Soya, enggak ingin sarapan Bu, Soya ingin membolos sekolah hari ini," ujar Soya pelan.
Bu Warti langsung menatap tak suka pada Soya. "Soya, apa ada yang menganggu pikiran Soya," ujar Bu Warti berusaha memancing percakapan dengan Soya.
"Bu," panggil Soya pelan.
"Ya, Soya," jawab Ibu sembari mengusap tangannya dengan kain.
"Bu, ada yang mau Soya bicarakan dengan Ibu," ujar Soya pada akhirnya.
Setelah mengatakan maksudnya Soya kini melangkah ke kamar dan tak lama sudah keluar lagi. Soya menyerahkan map bersampul coklat pada sang Ibu. "Maaf, jika Soya terlambat memberitahu Ibu," tutur Soya pelan.
"Ada apa Soya?" tanya sang Ibu.
"Bu, tolong baca surat yang ada di map coklat," ujar Soya sembari memberikan map yang di pegangnya pada sang Ibu.
Bu Warti dengan perlahan membuka map berwarna coklat untuk kedua kalinya, perlahan Bu Warti menarik lembar perjanjian yang Pak Kadir buat, membaca ulang setiap lembar yang tertulis di surat perjanjian. Bu Warti seketika menatap Soya lekat. "Soya jika seperti ini apa yang harus kita lakukan uang dua puluh juta yang Bapak pinjam belum satu pun Bapak angsur dan uang sebanyak ini ... "ujar Bu Warti terputus begitu saja.
Bu Warti kini tak menangis, hanya menatap lembar perjanjian dengan bingung. "Soya, apa sebaiknya kita jual saja rumah ini," ujar Bu Warti putus asa.
Soya yang mendengar ucapan sang Ibu seketika mendongak, "Bu, jika kita menjual rumah ini, lalu kita akan tinggal di mana Bu!" ujar Soya pelan. "Apa surat rumah ini juga aman dan apa yang memberi hutang Bapak percaya begitu saja melepaskan uang begitu besar tanpa jaminan?" tanya Soya pada akhirnya.
__ADS_1