
Pagi hari, suasana kamar yang sepi di kejutkan oleh suara Danendra yang berteriak kesakitan. Soya yang mendengar teriakan Danendra seketika terbangun. "Tuan, ada apa? Apa yang terjadi Tuan?" tanya Soya bingung.
"Soya, tangan kamu!" ujar Danendra sembari meringis kesakitan.
Soya yang masih belum paham tak kunjung mengangkat tangannya. "Koya! Tangan kamu!" seru Danendra sedikit keras.
Soya seketika melihat ke arah tangannya.
"Aduh! Maaf, Tuan. Saya, tak sengaja dan kenapa juga tangan saya berada di situ?" tanya Soya heran.
Soya, langsung memukul-mukul tangannya pelan sembari menahan malu dan langsung menuju kamar mandi. "Argh ....! Tangan kenapa kamu malah mendarat di tempat itu," guman Soya sembari mencuci tangan dan membasuh wajahnya. Cukup lama Soya berada di kamar mandi berusaha untuk tenang. "Hash ..., apa nanti yang di pikirkan kutu kupret itu. Bodoh-bodoh," umpat Soya kesal.
Sementara itu di kamar Danendra, berusaha untuk menahan tawa terlihat sekali wajah yang terlihat senang dan puas. "Mimpi apa saya semalam," tutur Danendra lirih sembari tersenyum.
Namun, kesenangan Danendra lenyap begitu saja saat tak melihat Soya keluar dari kamar mandi. "Soya!" panggil Danendra sedikit keras sembari meringis menahan sakit.
Sekali, dua kali Danendra memanggil tetapi Soya tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Soya, apa yang kamu lakukan di kamar mandi, tolong bantu saya. Saya ingin turun dan ingin ke kamar mandi," seru Danendra akhirnya, karena hajat kecilnya ingin tersalurkan.
Mendengar teriakan Danendra untuk yang kesekian kalinya, Soya akhirnya ke luar dari kamar mandi dengan menunduk dan menghampiri Danendra. "Maaf, Tuan sa-saya tak sengaja," jawab Soya lirih.
"Hash! Semua itu nanti kita bahas, sekarang bantu saya ke kamar mandi!" titah Danendra tak sabar.
"Tuan. Hati-hati, luka Tuan masih basah," ujar Soya khawatir saat melihat Danendra beringsut turun dengan cepat.
__ADS_1
Soya yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mau tidak mau merengkuh tubuh Danendra dan memapahnya perlahan. "Tuan, saya antar sampai sini, saya tunggu di sini. Tuan bisa, 'kan melakukan sendiri?" tanya Soya pelan.
Mendengar ucapan Soya sesaat Danendra menatap Soya lekat dan tersenyum licik.
"Agh, bagaimana mungkin saya bisa melakukannya sendiri bantu saya," ujar Danendra sembari melangkah pelan masuk dalam kamar mandi.
Soya akhirnya mau tak mau mengekor juga langkah Danendra masuk dalam kamar mandi. "Tuan, saya akan berbalik," ujar Soya akhirnya.
"Hash! Kamu, bagaimana saya bisa melakukan hajat saya jika kamu di sini. Keluar saja," kelit Danendra sembari tersenyum.
Soya yang mendengar ucapan Danendra langsung mengambil napas lega dan langsung ke luar dari kamar mandi. "Dasar kutu kupret, senang sekali membuat saya malu," omel Soya kesal.
Setelah ke luar dari kamar mandi, Danendra menatap Soya dengan senyum puas. Namun, langkah Danendra tiba-tiba sedikit terhuyung dan itu membuat Soya langsung menangkap tubuh Danendra cepat. "Tuan, hati-hati," ujar Soya cemas.
"Soya, tolong jangan memeluk terlalu erat, perut saya sakit," keluh Danendra asal.
"Tuan ini aneh, sekarang Tuan jalan dan sini tangan Tuan," ujar Soya kesal dan meraih tangan Danendra.
Alibi Danendra akhirnya bisa mencairkan kekauan Soya akibat kejadian tadi pagi.
"Pelan Tuan, jangan naik ke bed dengan kasar, saya juga enggak mau kalau Tuan terus merasa sakit dan saya akan makin merasa bersalah," tutur Soya sedih sembari membantu Danendra naik ke bed.
Tanpa banyak bicara lagi Soya segera membasuh wajah Danendra menggunakan tissu basah yang di ruangan kamar. "Maaf, Tuan saya tidak membawa sikat gigi dan pasta jadi nanti setiba di rumah Tuan segera menggosok gigi dan maaf, saya rapikan rambut Tuan tetapi pakai jari Tuan," seru Soya dengan cekatan membersihkan wajah dan rambut Danendra dan tak lama Soya tersenyum seakan puas dengan hasil kerjanya.
"Beres! Sekarang Tuan sudah terlihat segar dan siap untuk pulang," ucap Soya sembari merapikan rambutnya sendiri dan di kuncir asal. "Tuan, saya keluar sebentar cari sesuatu untuk sarapan," ujar Soya sembari melangkah.
__ADS_1
Mendengar ucapan Soya, Danendra seketika menatap tak suka. "Soya!" panggil Danendra keras.
Merasa dirinya di panggil Soya seketika menghentikan langkah dan dirinya begitu tekejut saat melihat Danendra meringis kesakitan. "Tuan. Tuan Kenapa?" tanya Soya takut.
Danendra semakin melancarkan aksinya, perasaan tak rela di tinggal sendiri di kamar oleh Soya, akhirnya membuat Danendra memainkan aksinya. "Hash! Sakit Soya, nyeri. Kamu di sini saja," ujar Danendra sembari meringis sakit dan meraih tangan Soya dan memegang erat.
Melihat kondisi Danendra akhirnya Soya mengurungkan niat untuk keluar, Soya hanya menurut saja saat Danendra meminta untuk menemani. Hingga siang menjelang kedatangan Zulhan laksana angin surga yang menyejukkan hati Soya dengan cepat Soya melepas tangan Danendra.
"Kak Zulhan!" sapa Soya sembari tersenyum senang.
"Siang, Soya. Sekarang Danendra sudah bisa pulang, semua administrasi sudah lunas dan Soya tolong jaga suami kamu," ujar Zulhan sembari keluar dan tak lama kembali lagi dengan membawa kursi roda.
Soya sedikit bisa bernapas lega, setelah melewati drama kecil akhirnya mereka pulang juga. Danendra sesaat mendengus kesal saat dirinya harus duduk di kursi roda. "Tuan, sebaiknya Tuan menurut, jalan menuju area parkir juga jauh. Tuan sanggup jika harus berjalan kaki, ingat luka Tuan masih basah," tutur Soya pelan sembari mendorong kursi roda.
Soya akhirnya tersenyum lega saat melhat Danendra sedikit tenang. Namun, Soya seketika menghentikan langkahnya saat Danendra kembali gusar. "Tuan, kenapa dan apa yang membuat Tuan marah," ujar Soya sembari berjalan ke depan menatap wajah Danendra yang kesal.
"Aneh!" guman Soya saat Danendra tak mau mengatakan apa yang membuatnya kesal hingga beberapa saat kemudian.
"Hash! Soya, pegang tangan saya," ujar Danendra aneh dan itu membuat Soya langsung tertawa kecil.
"Permintaan yang aneh. Jika saya memegang tangan Tuan, lalu siapa yang akan mendorong kursi roda ini, Tuan. Lagi pula ini tempat umum dan area parkir juga sudah terlihat," tutur Soya sembari tersenyum.
Danendra semakin menunjukkan rasa kesalnya, saat Soya tak menanggapi keinginan anehnya.
Zulhan yang berjalan lebih dulu kini sudah menunggu di depan rumah sakit dan memudahkan Danendra untuk masuk. "Soya, kamu duduk di belakang," seru Danendra kesal saat Soya duduk di depan dengan Zulhan.
__ADS_1
Zulhan yang mendapati sikap aneh Danendra hanya tersenyum. "Danendra kamu salah besar jika kamu cemburu dengan saya," ujar Zulhan sembari menatap Danendra dan Soya lewat spion tengah mobil.