
Danendra masih belum paham akan pembicaraan sang sopir. Danendra hanya memilih diam sembari menatap ke luar jendela. Hingga panggilan sang sopir membuat Danendra terkejut. "Tuan, kita ke rumah Tuan besar lebih dulu dan Tuan besar berharap agar Tuan Danendra bisa ikut," ujar pak sopir sembari melirik ke arah spion.
Danendra yang mendengar ucapan Pak Muin hanya mendengus tak suka dan kesal. "Agh! Bapak pergi sendiri. Danen turun di sini Pak!" ujar Danendra tiba-tiba.
"Terserah Tuan Danen," ujar Pak sopir sembari menghentikan laju mobilnya.
Danendra langsung keluar dari mobil dan menunggu di halte sesaat, menatap jalan raya yang begitu ramai dan terik yang menyengat.
Udara siang yang panas membuat Danendra tak nyaman untuk duduk berkali-kali Danendra mondar mandir. Hingga mobil online yang Danendra pesan datang. Namun, sebelum Danendra naik, sekilas Danendra teringat ucapan sang sopir, "Hash! Kenapa juga jadi kepikiran," ujar Danendra tiba-tiba.
Pikiran Danendra langsung tertuju pada Nella, kekasih yang hanya di temuinya satu bulan sekali dan itu juga atas permintaan Nella. "Apa, Nella bisa di percaya!" guman Danendra yang tiba-tiba ragu akan kesetiaan Nella.
"Argh, mungkin ini hanya akal-akalan Pak Muin untuk menghasut hubungan kami," ujar Danendra yang tak mau berburuk sangka.
Danendra hanya memerlukan waktu sepuluh menit untuk tiba di rumah. Jarak yang begitu dekat tak urung membuat Danendra enggan berjalan karena terik yang begitu panas. Keluar dari mobil langkah Danendra terhenti begitu saja saat melihat kemunculan Zulhan yang tiba-tiba. Danendra dengan tatapan tak suka langsung menatap Zulhan. "Oh. Akhirnya kamu muncul juga, kemana kamu selama satu minggu ini. Jangan bilang, kamu pergi untuk menghindari tugas kamu," tegas Danendra.
Zulhan yang baru datang langsung menyerngit tak suka, "Hash. Kamu saja yang lupa, apa kamu lupa jika kamu menugaskan saya ke luar kota, Danendra!" seru Zulhan tak terima.
"Masuk! Gara-gara kamu, jadi saya yang berurusan dengan gadis ingusan itu," ujar Danendra geram.
Mendengar ucapan Danendra, Zulhan seketika tersenyum, "pasti kamu sudah berlaku galak pada Soya, bisa saya pastikan suatu saat kegalakan kamu akan menjadi bumerang untuk kamu," ujar Zulhan sembari duduk.
__ADS_1
Danendra yang merasa tak terima dengan ucapan Zulhan kini makin meradang. "Zulhan ingat, minggu depan saya meminta pembayaran dua kali lipat dari bunga sebelumnya dan itu sudah saya katakan pada Soya," ujar Danendra sembari mengulir ponsel miliknya. Zulhan langsung menatap Danendra tak percaya, "Danendra kamu benar-benar lintah darat, sungguh kamu sangat tega pada Soya, bahkan nasabah yang lainnya tidak kamu perlakukan sejahat Soya," gerutu Zulhan sembari berdiri. "Oh. Ya, Ayah kamu mengharap kedatangan kamu," ujar Zulhan sembari melangkah dan meninggalkan Danendra sendiri.
Danendra semakin menunjukkan rasa tak suka pada Zulhan, "kenapa juga kamu menyebut Ayah di rumah ini Zulhan, pasti kamu mengadu yang tidak-tidak," ujar Danendra tak terima.
"Hash! Kamu, andaikan bukan teman dan Ayah kamu yang baik pada saya, mungkin saya sudah meninggalkan kamu sejak dulu Danendra," ujar Zulhan sembari menghentikan langkahnya sejenak.
"Apa gunanya saya mengadu, tak akan ada untungnya juga buat saya," ujar Zulhan berbohong.
"Danen, satu hal yang harus kamu pahami dan tolong kamu ingat, saya tak akan menagih Soya mulai detik ini. Ayah kamu sudah memberi tugas baru untuk saya, tetapi akan saya sampaikan pesan kamu dan mulai sekarang urus Soya," ujar Zulhan sembari berlalu pergi.
Sejenak, Denendra hanya menatap kepergian Zulhan dengan bingung, "Hash, Ayah. Kenapa Ayah menarik Zulhan kembali," guman Danendra heran.
"Hash. Jika saya yang menagih Soya, pasti kami akan terus berdebat dan agh! Bisa-bisa kesabaran saya habis," guman Danendra lirih.
"Tunggu Soya, demi dua puluh lima juta saya kembali, saya akan terus membayangi dan menakuti gadis ingusan seperti kamu, Soya," ujar Danendra optimis.
Sementara itu, Zulhan yang sudah tiba di rumah Soya hanya bisa tersenyum getir, sudah pukul delapan malam rumah Soya masih terlihat gelap dan jelas jika Soya belum pulang. Zulhan yang menunggu sejak pukul tujuh malam akhirnya memutuskan untuk menunggu hingga Soya pulang. "Kasihan kamu Soya, tetapi saya gagal menolong, karena Tuan besar ingin menguji sampai di mana kesabaran kamu menghadapi Danendra.
Zulhan flashback on
Zulhan tak menyangka jika kedatangannya menemui Tuan besar mengalami jalan buntu, keinginan Zulhan untuk membantu Soya dan menceritakan semua yang Soya alami seakan membuat Tuan besar mempunyai ide gila untuk Danendra. Tawa keras Tuan besar seketika memenuhi ruang kerjanya. "Zulhan, sepertinya cerita kamu menarik dan saya ingin melihat bagaimana Zulhan menghadapi Soya," ujar Tuan besar saat itu.
__ADS_1
Namun, Tuan besar masih menolak mentah- mentah keinginan Zulhan, hingga Tuan besar memberi isyarat pada Zulhan dan mengatur siasat baru untuk Danendra, agar Danendra sadar akan perbuatannya. Zulhan sadar jika keadaan Soya sedang tak baik-baik saja dan saat ini Soya benar-benar tengah terpuruk.
"Zulhan biarkan waktu yang menjawab dan awasi Soya untuk saya," ujar Tuan besar lagi.
Tawa Tuan besar makin, kencang saat Pak Muin menceritakan kejadian suang tadi dan membuat Zulhan bisa tersenyum.
Zulhan sedikit lega saat mendengar cerita Pak Muin sopir pribadi Danendra. Demi melancarkan rencana dan siasat yang Tuan besar atur, akhirnya Zulhan di tarik kembali oleh Tuan besar dan bertugas mengawasi Soya.
Zulhan flashback off
Zulhan hanya bisa tersenyum saat melihat Soya berjalan gontai melangkah dengan tubuh lelahnya, "Kak, Zulhan!" sapa Soya semangat. Zulhan tak menjawab sapaan Soya tetapi hanya melihat jam yang melingkar di tangannya. "Kenapa malam sekali Soya," ujar Zulhan.
"Soya, lekas istirahat dan ingat besok pulang jangan terlalu malam," ujar Zulhan mengingatkan. "Oh, ya. Besok pagi jangan berangkat dulu ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," ujar Zulhan lagi.
Soya hanya menatap heran ke arah Zulhan, mencoba menebak apa yang akan Zulhan sampaikan esok hari. Namun, bibir Soya hanya terdiam dan berkali-kali menguap.
"Huam ..., Kak Zulham pulang saja, Soya sudah mengantuk," ujar Soya akhirnya.
Zulhan langsung tersenyum mendrngar ucapan Soya, "masuk Soya dan lekas istirahat," ujar Zulhan sembari melangkah pulang dan berjalan dengan sedikit tergesa.
Soya yang merasakan lelah hanya mengangguk menghiyakan semua ucapan Zulhan. Soya memasuki rumah dengan perasaan heran. "Hufff ..., "apalagi yang akan Kak Zulhan katakan, dasar maling, kutu kupret kamu Tuan," umpat Soya kesal dan langsung merebahkan tubuhnya begitu saja di ranjang
__ADS_1
tanpa peduli dengan tubuhnya yang kotor dan belum mandi.