
Nella yang gundah memilih pergi dan meninggalkan Soya. Nella semakin takut dan gelisah saat menyadari bahwa Danendra akan mengetauhi keculasannya.
"Argh ..., semoga Danendra tak mengetauhi dan kenapa Clara tiba-tiba menghilang? Atau ..., tidak-tidak," ujar Nella gundah.
Nella melajukan mobilnya, menuju alamat yang tak pernah di kunjungi sama sekali, cukup lama Nella mengemudikan mobilnya hingga Nella menghentikan laju mobil tepat
di depan rumah bercat krem dan di depanya terdapat beberapa pot bunga yang di gantung rapi dengan berbagai ukuran. Nella sejenak tersenyum saat mendapati rumah Clara, sahabatnya yang selalu membantu Nella.
Namun, Nella sedikit terkejut saat melihat seorang wanita ke luar dari rumah tersebut. wanita yang terlihat kurus dan berwajah sedih. Nella masih duduk di dalam mobil menimbang hatinya yang mulai ragu. "Apa harus menemui Clara atau tidak?" tanya Nella pada dirinya sendiri hingga akhirnya Nella memutuskan untuk turun.
Nella menghentikan langkahnya sejenak sebelum menyapa wanita yang berdiri dengan tatapan sendu. "Selamat siang Tante," sapa Nella sopan.
Wanita yang sedari tadi terlihat melamun sesaat terkejut dan menatap Nella dengan pandangan sendu. "Siang Nak!" jawab wanita terkejut.
Nella langsung maju dan mengulurkan tangannya. "Maaf, Bu. Kenalkan saya Nella, apa benar ini rumah Clara?" tanya Nella hati-hati.
Mendengar nama Clara yang keluar dari bibir Nella, wanita langsung menatap lekat seakan ada pengharapan yang tiba-tiba muncul dari sorot matanya. "Ya, benar. Clara anak saya," jawab wanita ini dengan tersenyum.
"Maaf, Bu. Boleh saya bertemu dengan Clara?" tanya Nella basa basi.
Wanita ini tanpa menjawab langsung menarik tangan Nella dan menyeretnya masuk dalam rumah. "Duduk Nak Nella," ujar wanita ini dengan tatapan sendunya.
"Maaf, Bu. Boleh saya berbicara dengan Clara?" tanya Nella penasaran.
"Nak, Nella. Maaf bukannya saya tak mengijinkan Nak Nella untuk bertemu dengan Clara tetapi Clara sudah hampir satu minggu ini tidak pulang dan ponselnya pun tak bisa di hubungi," ujar wanita ini gelisah.
Nella yang mendengar cerita dari sang ibu seketika menyengitkan dahinya heran. "Memang Clara tak berpamitan pada Ibu?" tanya Nella penasaran. Wanita ini hanya menggeleng dan kemudian menunduk sedih.
Nella hanya bisa menatap wanita yang duduk di depannya untuk beberapa saat. "Maaf. Bu, kalau begitu saya pamit pulang," ujar Nella sopan.
Wanita ini sontak menatap Nella dan langsung meraih tangan Nella. "Nak, jika tahu keberadaan Clara tolong kabari Ibu, Ibu sangat khawatir," ujar sang Ibu sembari menitikkan air matanya.
__ADS_1
Nella seketika memeluk sang Ibu erat, untuk beberapa saat Nella membiarkan Ibu ini menangis dalam pelukannya. "Bu, saya akan memberitahu jika bertemu dengan Clara," ujar Nella sembari melepas pelukan sang Ibu dan tak lama berlalu pergi.
Memasuki mobil Nella hanya terdiam ada perasaan aneh yang Nella rasakan. "Clara menghilang apa ..., "ahk! Tidak-tidak Danendra pasti belum mengetauhi ini," ujar Nella memupus prasangka buruknya.
Nella kembali melajukan mobilnya, kini tujuan Nelka bukan rumahnya ataupun rumah Danendra, Nella memilih menuju rumah Rengga, kekasih hati yang hampir satu minggu tak menemuinya dan itu membuat Nella geram. Namun, Nella secara tiba-tiba menghentikan mobil di sisi jalan.
"Clara, Rengga. Mereka menghilang sudah hampir satu minggu, apa mereka?" tanya Nella geram.
Saat ini yang ada dalam pikiran Nella hanya pikiran negatif yang Nella simpulkan sendiri.
"Awas, jika itu benar!" ujar Nella kesal dan melanjutkan laju mobilnya.
Nella terus melaju hingga mobilnya berhenti di rumah Rengga, berulang kali Nella memencet bel tetapi tak ada satu orang pun keluar dari rumah untuk membuka pintu. Cukup lama Nella berdiri di siang yang terik.
"Mbak !" panggil seorang wanita yang terdengar dari seberang jalan.
Nella langsung menoleh dan melihat ke arah suara berasal. "Mbak. Orang tua Mas Rengga pergi sudah tiga hari lalu," ujar wanita itu sembari mendekat.
"Apa, Mbak tahu kemana mereka pergi?" tanya Nella penasaran.
"Aneh," guman Nella sendiri sembari mengulir ponsel miliknya.
Nella masih berdiri dan menghubungi seseorang tetapi semua usahanya seakan tak memberi hasil. "Sial!" umpat Nella kesal dan masuk dalam mobilnya. Menuju perjalanan pulang Nella terus mengumpat kesal.
"Akh! Lalu kemana saya mencari Rengga," ujar Nella putus asa.
Nella kembali melaju dengan kencang ada sedikit perasaan yang mengusik hatinya, perasaan gundah akan kecurangan yang di lakukan membuat hati Nella makin menciut.
Keinginan untuk menghindar dari Danendra langsung melintas begitu saja di benak Nella.
Hingga berulangkali Nella memukul kemudi untuk melampiaskan semua amarah di hatinya. "Soya, andaikan kamu tak menemukan kecurangan di laporan Clara, pasti saya tak akan bingung," ujar Nella geram dan kemudian memutar haluan laju mobilnya.
__ADS_1
Senyum Nella terkembang sempurna seakan menemukan alasan yang tepat untuk semua perasaan gundah yang di rasakannya. Nella berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah, Nella menatap sejenak rumah yang hampir satu tahun tak Nella kunjungi
"Huuff ..., semoga Ayah mau membantu," ujar Nella pada akhirnya.
Memasuki halaman rumah, Nella langsung menghentikan laju mobilnya begitu saja, rumah yang nampak sepi dan lengang.
"Non, Nella!" sapa Pak Satpam terkejut.
"Ayah ada?" tanya Nella sembari menutup pintu.
Pak Satpam tak menjawab kini memilih pergi meninggalkan Nella. Nella hanya mendengus kesal saat melihat tingkah Pak Satpam. Memasuki rumah yang megah Nella sekilas tersenyum. "Ternyata rumah ini tempat yang paling aman," guman Nella.
"Akhirnya kamu ingat untuk pulang dan datang ke rumah. Apa Danendra sudah membuang kamu," ujar suara laki-laki yang terdengar berat.
Nella hanya diam ada perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul dan mengabaikan semua ucapan sang ayah. Nella begitu terkejut saat sang ayah menatap dengan tatapan marah.
"Saya lebih suka jika kamu tak pulang, sebaiknya kamu pergi dari rumah ini. Ayah tak ingin melihat kamu lagi," ujar sang Ayah marah.
Sesaat Nella terkejut saat mendengar semua ucapan sang Ayah. "Ayah, maafkan Nella," ujar Nella.
"Maaf, apa yang harus Ayah maafkan. Ayah ingin selesaikan masalah yang kamu timbulkan dan Ayah tak ingin ikut campur. Ingat apapun yang terjadi jangan menyangkut pautkan masalah kamu dengan Ayah," ujar sang Ayah murka.
Nella yang belum juga menyadari kesalahannya kini masih berdiri terpaku menatap sang Ayah. "Ayah, tolong jelaskan pada Nella apa salah Nell, hiya Nella salah sudah pergi dari rumah," ujar Nella sedikit tercekat.
"Pergi ...! Pulang jika kamu sudah mengetauhi di mana letak kesalahan yang kamu buat dan sekarang sebelum semua masalah kamu selesai jangan pulang. Nella, kamu ..., Argh!" pekik sang Ayah marah.
Nella masih berdiri di ruang tengah, Nella hanya bisa menatap langkah sang ayah yang meninggalkan dirinya begitu saja. Namun, langkah sang ayah terhenti. "Pergi dari rumah ini Nella!" usir sang ayah tanpa menoleh ke arah Nella.
Nella dengan penuh penyesalan akhirnya memilih pergi dan meninggalkan rumah yang di anggapnya rumah yang tepat untuk dirinya berlindung. Nella kini hanya bisa mendengus kesal saat keluar dari rumah, rasa sakit atas penolakan yang di lakukan sang ayah membuat Nella semakin membenci sang ayah.
Sementara itu, di atas balkon sang atah menatap Nella sang anak gadisnya pergi begitu saja, ada perasaan iba yang selalu datang di hati sang ayah tetapi mengingat ucapan Danendra sang ayah hanya bisa menahan perasaan sebagai orang tua.
__ADS_1
"Kamu harus bisa bertanggung jawab akan apa yang telah kamu perbuat selama ini," ujar sang Ayah sembari membuang napas kasarnya.
"Maafkan Ayah, jika Ayah berlaku kasar. Ayah harap Nella tak mendendam," guman sang ayah sembari mengikis air matanya.