RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 54. Danendra yang aneh


__ADS_3

Suasana pagi yang tak seperti biasanya, rumah yang biasanya sepi kini sedikit ramai dengan suara Soya dan bibi di dapur.


Danendra yang sedari tadi melihat sesekali tersenyum. Ada gurat bahagia yang tiba-tiba tersirat dari sorot mata Danendra.


"Pagi Danendra," sapa sang ayah membuyarkan pandangannya.


"Pagi Ayah," jawab Danendra sambil tersenyum.


Sang ayah yang sejak tadi memperhatikan tingkah Danendra akhirnya tersenyum.


"Wah! Rupanya pagi ini ada yang sedang berbahagia," ujar sang ikut memperhatikan Soya dari ruang makan.


Percakapan singkat terjadi antara Danendra dan sang ayah terputus dengan sapaan Soya. "Pagi Ayah, Tuan. Saya siapkan dulu sarapan paginya," ujar Soya tiba-tiba.


Sesaat Tuan Guntur menatap Soya aneh kemudia menatap Danendra. "Kenapa juga dengan pakaian Soya?" tanya Tuan Guntur aneh.


Danendra yang mendengar ucapan sang ayah hanya melihat sekilas ke arah Soya. "Biar Ayah dengan begitu Soya akan menginap lebih lama," ujar Danendra sembari tersenyum.


Tuan Guntur yang menyadari maksud Danendra akhirnya hanya bisa menggeleng, hingga Soya datang bersama bibi untuk menyiapkan sarapan pagi. Mereka sarapan pagi dengan tenang hingga terdengar suara yang tak asing di telinga Soya. "Kak Zulhan," ujar Soya sembari meletakkan sendok dan melangkah menuju ruang tamu.


"Ayo, Kak. Sarapan sekalian, ada Ayah dan Tuan muda," ujar Soya dengan senang.


Zulhan yang baru datang hanya mengekor langkah Soya hingga sampai di meja makan bersamaan dengan tatapan tajam Danendra.


Danendra seketika menghentikan makan saat Soya berbicara dengan Zulhan sangat akrab.


Danendra langsung berdiri dan memanggil Zulhan. "Zulhan ikut saya ke ruang kerja," ujar Danendra tak suka.


Soya yang masih belum paham dengan situasi pagi ini. "Tuan, biarkan Kak Zulhan ikut sarapan juga, bolehkan Tuan?" tanya Soya pada sang ayah mertua.


"Boleh, silahkan!" jawab Tuan besar.


Mendengar jawaban sang ayah Danendra makin melotot tajam dengan kesal Danendra menatap ke arah Soya. "Tuan muda, bolehkan Kak Zulhan ikut sarapan?" tanya Soya ulang.


Zulhan yang menyadari tatapan Danendra langsung menunduk. "Soya, ikut saya!" ajak Danendra sembari meninggalkan meja makan.


Soya yang masih bingung dengan ajakan Danendra menatap ke arah sang mertua dan Zulhan sesaat. "Soya, segera susul suami kamu," ujar Sang ayah mertua.


Soya sesaat menatap ke arah sang suami yang masih menatap dengan tajam. "Maaf, Kak Zulhan. Soya tinggal dulu," ujar Soya pelan sembari berdiri dan langsung mengekor langkah Danendra.


Soya seketika terkejut saat Danendra langsung memeluk pinggang Soya. "Tuan, lepaskan," ujar Soya kesal.


Danendra tak menjawab melainkan makin erat memeluk pinggang Soya. "Tuan. Malu, lepaskan!" ujar Soya geram.


Hingga mereka memasuki kamar Danendra baru melepaskan tangannya. Danendra seketika menutup pintu kamar rapat.


"Soya, sudah saya bilang panggil saya dengan panggilan yang khas dan kenapa kamu begitu baik dengan Zulhan," ujar Danendra marah.


"Tu-Tuan, saya sudah mengenal Kak Zulhan lama sebelum mengenal Tuan. Lalu apa salahnya jika saya baik dengan Kak Zulhan?" tanya Soya pelan.


Danendra yang berusaha menahan amarahnya sejak tadi kini menarik Soya makin mendekat. "Tapi, kamu sudah menikah Soya, kamu istri saya dan itu tak pantas jika di lihat oleh orang," ujar Danendra tak suka.


Soya hanya diam dan menunduk hanya terdengar napas saja yang berembus dengan berat. "Kamu paham!" seru Danendra keras hingga membuat Soya terkejut.


"Ya Tuan, saya Paham," ujar Soya lagi.


"Tuan-Tuan, panggil yang benar," ujar Danendra kesal.


Soya yang sedari tadi merasa tak nyaman saat berdekatan dengan Danendra hanya bisa mendengus kesal. "Ya, kutu kupret mulai sekarang saya akan memanggil Tuan kutu kupret," ujar Soya tanpa merasa bersalah.


Danendra seketika melotot dan menarik Soya makin mendekat hingga tubuh mereka saling menempel, dua wajah yang nyaris menempel dan hanya terpisah dengan embusan napas mereka yang saling menerpa wajah untuk beberapa saat mereka saling menatap.


"Tuan, jangan begini," ujar Soya dengan tubuh menengang.


Danendra tak bergeming sedikit pun dan semakin merapatkan tubuh Soya. "Tuan, lepas," ujar Soya dengan suara tercekat.

__ADS_1


"Saya suami kamu Soya dan saya berhak atas apapun itu tentang kamu," ujar Danendra sembari menatap manik coklat yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Jangan menolak, biarkan begini beberapa menit," ujar Danendra dengan suara serak.


Tubuh Soya makin menegang dalam dekapan Danendra dan ada perasaan yang begitu aneh saat Danendra menatapnya penuh arti.


"Tuan, tolong lepas saya tak bisa bernapas," ujar Soya lirih.


"Hem ..., lima menit lagi Soya," ujar Danendra acuh.


Mendapat perlakuan yang seperti itu tubuh Soya kini menghangat. Soya akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan Danendra memeluknya. "Panggil dengan benar," ujar Danendra sembari mencium bibir Soya sekilas dan melepas pelukannya.


Soya yang mendapat ciuman dari Danendra langsung melotot tajam dan marah. "Tuan ...! Apa yang Tuan lakukan," ujar Soya tak terima.


Danendra hanya tersenyum sembari merebahkan tubuhnya ke rajang dan terus tersenyum sendiri sementara Soya masih saja terus mengusap bibirnya berusaha meninggalkan jejak bibir Danendra.


"Kenapa, sudah saya bilang saya berhak atas apapun tentang kamu Soya. Kemari cepat!" ujar Danendra tak ingin di tolak.


"Enggak mau Tuan!" jawab Soya.


Danendra langsung bangun dan berdiri. "Kemari atau ...."Danendra tak melanjutkan ucapannya saat Soya datang mendekat.


"Tidurlah di sisi saya," ujar Danendra sembari berbaring.


Soya yang takut akhirnya ikut berbaring di sisi Danendra. Danendra langsung mengubah posisi tidurnya menatap Soya sesaat. "Soya, belajarlah untuk menerima saya dan belajarlah untuk tidak memanggil Tuan, saya suami kamu," ujar Danendra mengulang ucapannya.


"Soya mendekatlah jangan menjauh," ujar Danendra pelan.


Entalah apa yang ada di pikiran Soya saat ini. Soya hanya berusaha menuruti perintah Danendra dengan pasrah. Soya sadar bagaimana pun dirinya menolak, Danendra pasti akan melakukan hal yang lebih menakutkan bukan hanya mencium bahkan lebih dari itu dan semuanya pernah Soya lihat dengan nyata. Perlahan Soya beringsut mendekat.


Danendra yang sejak tadi memperhatikan Soya langsung tersenyum. "Lebih mendekat Soya, temani saya tidur dan belajar untuk menerima saya," ujar Danendra semakin menarik tubuh Soya mendekat dan memeluknya.


"Tuan, jangan terlalu erat saya tak bisa bernapas," tutur Soya lirih.


Danendra langsung merenganggkan pelukannya. "Terima kasih Tuan," ujar Soya lagi.


"Tuan adalah panggilan khusus dari saya untuk Tuan dan jika di depan orang saya akan memanggil Tuan, Kakak," ujar Soya pelan.


Danendra yang mendengar ucapan Soya seketika tertawa sembari menatap Soya.


"Kakak, apa saya tak salah dengar," ujar Danendra sembari kembali mengeratkan pelukannya.


Danendra seakan cukup puas dengan panggilan baru untuknya tetapi tak lama kemudian. "Tidak-tidak, jangan Kakak nanti kamu salah panggil dengan Zulhan, cari yang lainnya," protes Danendra tak suka.


Soya seakan tak percaya jika Danendra begitu tak menyukai panggilan yang di berikan. "Tuan, lalu saya harus memanggil apa?" tanya Soya kesal.


"Soya tak punya banyak cadangan nama panggilan. Hem ..., bagaimana jika Soya panggil dengan ...." Belum selesai Soya bicara, "panggil ayang titik," ujar Danendra pelan.


Soya hanya mengangguk menghiyakan saja


tak lagi mengusik panggilan yang membuatnya berkali-kali terkena amarah. 'Benar ujar Kak Zulhan menurut mungkin akan lebih baik toh sekarang status Soya sudah sah menjadi istri Tuan Danendra," ujar batin Soya.


Menatap lekat wajah kini mulai terlelap, wajah tampan, bersih, wajah yang sering menatapnya tajam dan kadang penuh amarah. Cukup lama Soya menatap wajah yang tengah memeluknya sesaat senyum Soya tersungging saat sadar jika pagi ini laki-laki yang terlelap di depannya begitu tidak suka saat Soya berlaku baik pada Kak Zulhan. "Aneh," guman Soya lirih.


"Jangan menatap seperti itu Soya, mau saya cium lagi," ujar Danendra sembari terpejam.


Mendengar ancaman yang selalu bisa membuat tubuhhnya menegang Soya seketika menunduk takut. "Jangan menunduk, lihat saja sepuasmu Soya," ujar Danendra lirih dan makin merengkuh tubuh Soya.


"Jangan pernah pergi seperti semalam tidur saja seperti ini," pinta Danendra sembari terpejam dan tak lama tak terdengar suara Danendra.


Saat ini Soya tengah di hadapkan dengan perasaan yang begitu aneh, suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat sepuluh kali lipat, dada Soya terus berdesir bersamaan dengan jantung yang seakan berlari kencang. "Huuuff ...." Berkali-kali Soya menghela napas untuk meredakan debaran yang terus di rasakan. Tubuh Soya makin menegang saat tangan Danendra bergerak halus di pinggangnya gerakan yang di lakukan Danendra secara tiba-tiba dalam tidurnya.


"Apa yang terjadi dengan jantung saya," guman Soya sembari memegang dadanya.


Pagi menuju siang yang panas, Soya masih berusaha untuk tetap terjaga meskipun sudah sedari tadi Soya menguap. "Huuff, masih pukul sebelas siang," guman Soya lirih.

__ADS_1


Perlahan Soya berusaha untuk melepas tangan Danendra dari pinggangnya, tetapi belum juga Soya beringsut menjauh. "Jangan pernah meninggalkan kamar," ujar Danendra sembari meraih tubuh Soya lagi.


"Tuan, jangan begini saya tak leluasa bergerak Tuan," ujar Soya pelan.


Danendra tak menghiraukan ucapan Soya. "Tidurlah Soya," ujar Danendra.


Danendra hanya melirik Soya, saat ini Danendra hanya ingin menjauhkan Soya dari Zulhan sesaat, entah apa yang Danendra rasakan, ada perasaan tak suka saat melihat Soya begitu akrab dengan Zulhan dan hukuman yang tepat adalah mengurung Soya dalam kamar hingga urusan Zulhan selesai.


Danendra masih terus memeluk Soya hingga tanpa Danendra sadari Soya sudah terlelap dan saat inilah yang Danendra suka, Soya akan memeluk dirinya tanpa paksaan.


Danendra sesaat tersenyum, mengecup kening Soya sesaat. Akhirnya tanpa di paksa kamu akan memeluk juga ini yang membuat hati saya tenang Soya," guman Danendra lirih.


"Kamu harus belajar Soya dan saya akan membuat kamu mencintai saya," ujar Danendra sembari memeluk Soya erat dan kembali terpejam.


Siang makin terik saat Soya terbangun dengan tubuh berkeringat, Soya tak menyangka jika dirinya tidur dan memeluk Danendra serta menaikkan kakinya pada tubuh Danendra. "Hash. Kenapa saya memeluk Tuan dan argh ...! Semua ini tidak benar," ujar Soya malu.


Namun belum hilang rasa malu Soya, Danendra juga terbangun dan menatap Soya lekat. "Terima kasih Soya," ujar Danendra sembari mencium kening Soya dan beringsut turun dari ranjang.


"Tuan, maaf jika saya tak sopan," ujar Soya pelan.


Danendra seketika menghentikan langkahnya dan berhenti tepat di depan pintu kamar mandi.


"Sering-seringlah berlaku seperti itu, saya sangat menyukainya," ujar Danendra sembari tersenyum senang.


Soya yang mendapat jawaban aneh dari Danendra hanya bisa menatap heran. "Kenapa Tuan bilang senang, apa ada ..., "ah. aneh," guman Soya bingung.


Soya yang masih duduk di ranjang seketika terkejut saat melihat Danendra keluar dari kamar hanya dengan menggunakan handuk.


"Jangan menunduk Soya, lihat saja toh ini juga halal," ujar Danendra tak malu.


"Ash! Tuan tak tahu malu," ujar Soya semakin menunduk.


Danendra hanya tersenyum melihat kepolosan Soya. Danendra dengan senyum curang kini mendekat ke arah ranjang.


"Sudah Soya, saya sudah berpakaian," ujar Danendra bohong.


Soya yang percaya begitu saja langsung mendongak tetapi kini Soya hanya bisa diam saat Danendra tiba-tiba kembali mencium.


Hingga beberapa detik kemudian Danendra melepas ciumannya. "Pelajaran pertama, ini hukuman jika kamu berani berpaling dari saya," ujar Danendra sembari turun dari ranjang.


Soya yang masih berusaha mengatur irama jantungnya kini hanya bisa menatap Danendra diam. "Tuan, kenapa Tuan melakukan ini pada Soya?" tanya Soya lirih dengan suara tercekat dan memegang bibirnya yang terasa kebas.


Danendra makin merasa tertantang, menghadapi gadis polos seperti Soya membuat Danendra semakin semangat untuk mengajari istrinya tentang banyak hal.


"Soya jangan keluar jika masih ada Zulhan dan sebaiknya kamu tetap di kamar," ujar Danendra tak suka.


Soya hanya mengangguk dan tak bergeming mendengar ucapan Danendra. Saat ini yang Soya rasakan dari pelajaran pertama Danendra adalah perasaan yang tak pernah bisa Soya bayangkan, perasaan aneh yang membuatnya ingin terbang.


Hingga ketukan di pintu membuat Soya sadar dari lamunannya.


"Non, Tuan muda meminta anda untuk keluar," ujar sang bibi memberitahu.


"Ya, Bi sebentar," jawab Soya.


Soya tak langsung keluar dari kamar melainkan Soya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi Soya sedikit terkejut saat mematut diri di depan kaca. "Astaga kenapa ini, Soya kan malu kalau keluar dari kamar," ujar Soya saat melihat bibirnya sedikit berubah menjadi sedikit tebal dan serasa kebas.


"Huuff ..., "apa ini karena ciuman Tuan?" tanya Soya pada dirinya sendiri sembari memegang bibirnya.


Keluar dari kamar mandi Soya sedikit terkejut saat melihat Danendra sudah duduk di ranjang. "Kenapa enggak keluar?" tanya Danendra sembari menatap Soya.


Soya hanya menggeleng dan menunduk malu. "Tuan, saya di dalam kamar saja, saya malu untuk keluar," ujar Soya makin tertunduk.


Danendra sesaat sadar saat Soya mengatakan malu untuk keluar dari kamar tetapi Danendra masih juga ingin mengerjai Soya. "Saya tak suka jika kamu berbicara dengan menunduk, angkat wajah kamu Soya," ujar Danendra sembari tersenyum.


"Akh. Enggak mauTuan, Soya malu."

__ADS_1


"Malu kenapa?" tanya Danendra.


Soya perlahan mendongak dan berjalan mendekat ke arah Danendra. "Tuan lihat, kenapa Tuan melakukan ini pada saya?" tanya Soya sembari menunjukkan bibirnya pada Danendra dengan wajah malu.


__ADS_2