
"Ayah ..."
"Dengar ini keputusan Ayah dan kamu tak bisa menolaknya Soya atau ...." Ucapan Tuan Guntur terhenti saat Zulhan datang mendekat.
"Zulhan bilang pada istri kamu untuk berkemas dan sekarang siapkan mobil dan bilang pada Pak Muin untuk bersiap."
"Siap Tuan," jawab Zulhan sembari melirik ke arah Soya.
"Ayah, tolong jangan buat Diandra terluka, saya Ibunya sudah cukup banyak membuatnya bersedih," ujar Soya lirih.
"Bersiaplah saja, aku Kakeknya tahu apa yang pantas untuk Diandra juga diri kamu dan semua ini juga hukuman untuk Danendra setibanya di sana saya ingin berbicara dengan Hazal dan yang lainnya. Keputusan yang kamu ambil saya juga akan menghargai itu Soya," putus Tuan Guntur.
Soya tak menyangka jika dirinya akan terjebak dengan keputusannya sendiri. Memilih kembali bertemu dengan kenangan lama dan harus kembali bertemu dengan semua yang lama dilupakannya.
Namun, Soya tak menyangka jika perjalanan ini membuka babak baru dalam hidupnya. Perlahan dan pasti Soya pasti akan menyadari itu. Perjalanan yang cukup jauh dan sesekali harus berhenti karena Diandra yang merasa tak nyaman atau Sekar yang merasa gerah dengan kondisinya sekarang.
Hampir pukul 8.00 pagi mereka tiba dan beruntung perjalanan di malam hari di lalui dengan nyaman baik Diandra maupun Sekar sedikit merasa nyaman. "Kak Zulhan turunkan kami di rumah Ibu, setelah Diandra siap saya akan menghubungi Ayah," pesan Soya pelan.
"Bi, Bibi boleh ikut debgan Tuan dan tolong jaga Diandra untuk saya," ujar Soya lirih.
__ADS_1
"Non, saya akan ke rumah Tuan Guntur bersama Diandra, kasihan Non," tutur sang bibi.
Soya menatap lekat rumah yang lama di tinggal, rumah yang kini telah di renovasi sedemikian indah. Tatapan Soya seakan enggan putus, tak terasa air matanya menitik. Ada rasa tak percaya yang saat ini dirasakan.
"Bi, bawa Diandra masuk dan ini kunci rumahnya," ujar Soya lirih, tetapi langkahnya tak kunjung masuk.
"Wah ... Nekbi, rumah ini sangat bagus," beo Diandra dan melangkah masuk dengan tatapan kagum.
"Bi ... boleh Diandra lari mengelilingi taman ini?" tanya Diandra senang.
"Boleh, sayang," jawab Soya.
"Non, cepat masuk dan jangan melamun," tegur sang bibi.
Sementara itu di kediaman Tuan Guntur ada rapat meja kotak, rapat rahasia yang di lakukan oleh Hazal, Zulhan dan Tuan Guntur.
Tuan Guntur akhirnya percaya dengan cerita Hazal dan hatinya sedikit melunak.
"Maaf, Tuan jika saya sudah masuk begitu dalam ke ranah yang tak seharusnya saya datangi, tetapi semua demi Diandra dan harapan saya Diandra bisa bertemu dengan Ayah kandungnya," jelas Hazal akhirnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita atur rencana agar Soya bisa bertemu dengan Ayahnya Diandra," ujar Hazal dan di aminkan oleh Zulhan.
"Jadi ini rencana kalian?" tanya Tuan Guntur memastikan.
"Benar, Tuan dan maafkan saya. Jujur saya hanya ingin melihat Soya bahagia dan saya juga harus fokus dengan keluarga saya, Sekar sebentar lagi juga akan melahirkan," jelas Zulhan jujur.
"Tuan pendapat saya sama dengan Zulhan," celetuk Hazal.
Rapat meja kotak yang hanya dihadiri oleh tiga orang laki-laki yang begitu memperhatikan nasib Soya dan masa depan Diandra. percakapan rahasia yang hanya mereka saja yang mengerti dan paham akan rencana yang mereka atur.
"Baik, terima kasih. Saya harap rencana ini akan berjalan dengan baik," tukas Tuan Guntur menutup rapat mereka.
"Semangat," ucap mereka serentak dan setelahnya saling bersalaman.
Tuan Guntur akhirnya tersenyum saat semua rencana mereka sudah dipastikan dan keberhasilan semua rencana yang mereka buat berakhir pada keputusan Soya dan Danendra.
"Tuan ...." Panggil Pak Muin mengejutkan.
"Ya, Pak Muin ada apa?" tanya Tuan Guntur.
__ADS_1
Pak Muin tak menjawab hanya netranya saja yang melirik ke arah pintu sembari tersenyum seakan ada hal yang harus Tuan Guntur lihat sendiri.