
Tuan Guntur seketika menoleh dirinya tak menyangka jika Danendra akan mengikuti berhenti sejenak menatap ke asal suara. "Kamu! kenapa kamu mengikuti Ayah?" tanya sang ayah terkejut. Danendra tak menjawab tetapi netranya terus menatap ke arah rumah Soya ada rasa penasaran yang begitu besar yang Danendra rasakan.
"Ayah, Ayah tak sedang menyembunyikan sesuatu dari Danendra, 'kan?"
Tuan Guntur tersenyum saat mendengar ucapan Danendra. "Akhirnya semua terungkap," gumam Tuan Guntur.
"Apa yang perlu Ayah sembunyikan dari kamu Danendra, kamulah yang bersembunyi dari kenyataan ini dengan semua ketololan kamu!" sergah Tuan Guntur.
Danendra semakin tak mengerti dengan ucapan sang Ayah, ada perasaan tak suka saat mendengar ucapan sang ayah. Namun, Danendra sangat terkejut saat melihat Diandra keluar dari rumah dan mendekat ke arah mereka.
"Kakek ... ayo, masuk! Ada Ibu dan Nekbi di dalam," ajak Diandra.
Danendra yang sejak tadi merasa curiga langsung memburu melangkah masuk tanpa memperdulikan Diandra yang menatap dengan curiga. Tuan Guntur memilih membiarkan Danendra berbuat seperti apa kemauannya.
"Ayo, sayang kita ke dalam," ajak sang kakek meraih tubuh Diandra dan menggendongnya dengan kasih.
Sementara itu, Danendra yang berada di dalam rumah begitu terkejut saat melihat siapa yang ada di depannya, wanita yang selama ini yang selalu membuatnya menangis dalam penyesalan. Danendra hanya bisa terdiam menatap lekat ke arah Soya.
"So-Soya, ka-kamu .... "Ucap Danendra tak percaya.
__ADS_1
Soya juga sama terkejutnya saat melihat Danendra, bibirnya kelu seketika tubuhnya melemah hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang dirinya tak menyangka jika akhirnya bertemu juga dengan laki-laki yang selama ini berusaha mati-matian dirinya hindari.
"Ibu!" teriak Diandra dalam gendongan sang kakek.
Tuan Guntur langsung menurunkan Diandra dan membiarkan masuk dalam rumah. Danendra semakin terkejut saat Diandra langsung merengkuh tubuh Soya, netranya seketika membola tak percaya bibirnya seketika terkatup tak percaya.
"So-Soya, ka-kalian?"
Diandra yang baru menyadari keberadaan Danendra seketika menatap sembari tersenyum. "Om, ada di sini?" tanya Diandra heran.
Diandra langsung mendekat ke arah Danendra dengan senyum malu-malunya. "Om. Ayo, kenalkan ini Ibu Diandra," ajak Diandra sembari menyeret tangan Danendra.
Melihat sang ibu masih diam terpaku membuat Diandra semakin heran. "Bu, kenapa Ibu diam saja, apa Ibu marah dan tak suka?"
Soya yang menyadari akan sikapnya akhirnya tersenyum juga untuk menutupi kegundahan hatinya menatap Diandra sesaat. "Oh. Ya, kenalkan saya Soya, Ibunya Diandra," jawab Soya sembari mengulurkan tangannya.
Danendra menyambut uluran tangan Soya dengan gemetar, saat ini hatinya benar-benar tak percaya hingga cukup lama Danendra tak melepaskan tangan Soya. Diandra yang melihat dua orang yang berdiri dengan tangan masih berpeganggan membuatnya tertawa meledek. "Om. Ibu, kenapa lama sekali kenalannya dan cepat lepaskan tangannya," ujar Diandra tak suka.
Danendra yang menyadari akan sikapnya akhirnya melepas tangan Soya dengan malu, ada hal yang membuat hatinya tergetar untuk sesaat, tetapi Danendra kembali tersadar jika ada hal yang aneh yang Danendra rasakan.
__ADS_1
Netranya mulai memindai rumah yang tak asing untuknya. "Nona kecil kemana Ayah, Hazal?" tanya Danendra sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.
"Om, Om tidak tahu jika Ayah Hazal dan Ibu cantik tidak tinggal di sini," cicit Diandra polos.
"Maaf, Hazal sedang keluar, jadi sebaiknya Anda pulang!" usir Soya.
Danendra langsung menatap ke arah Diandra, Danendra yang sejak awal merasa aneh akan sikap Hazal. Danendra kini menarik Diandra untuk mendekat dan meletakkan dalam pangkuannya. "Nona kecil apa benar yang Ibu katakan?" tanya Danendra menyelidik sembari menatap ke arah Soya.
Ketegangan seketika terjadi Soya tiba-tiba merasa takut jika semua yang selama ini berusaha di tutup-tutupi harus terbongkar hanya dalam hitungan menit saja. Namum, di balik kegugupan Soya, Tuan Guntur yang memperhatikan sedari tadi akhirnya memutuskan untuk masuk dalam rumah.
"Wah. Ada apa ini, Kakek ketinggalan sesuatu?" tanya Tuan Guntur basa basi.
Melihat kedatangan Tuan Guntur, Soya sedikit merasa lega berdiri menyambut dan memberikan pelukan yang tak pernah Soya lakukan dengan tersenyum. "Ayah, tolong bawa Danendra pulang, sungguh Soya belum siap jika harus mengatakan semuanya sekarang dan Soya sadar semuanya sudah terjadi tetapi tidak untuk saat ini Ayah," bisik Soya sembari melepas pelukannya.
Soya masih menatap lekat Danendra sesaat netranya menatap tak percaya jika Diandra begitu akrab dengan Danendra bergelayut manja di pangkuan Danendra, hal yang tak pernah Diandra lakukan pada siapapun kecuali pada Hazal. Soya segera beringsut masuk dalam kamar tak dapat di pungkiri jika saat ini hatiya benar-benar sakit dan terluka, jujur Soya merasa tak rela jika Danendra dan Diandra akan mudah akrab.
Tuan Guntur hanya bisa membuang napas saat Soya selesai mengucapkan semua isi hatinya, Tuan Guntur sadar jika apa yang dirasakan oleh Soya sangatlah beralasan. Dilema yang saat ini Tuan Guntur rasakan, dirinya juga ingin Diandra merasakan pelukan ayahya.
"Huuff ... apa aku harus mengatakan yang sejujurnya atau membiarkan semua ini berjalan seperti ini?" gumamnya sembari menatap ke arah Danendra dan Diandra.
__ADS_1