
Kebahagian Soya akhirnya hilang begitu saja saat suara Danendra memanggil dan mengetuk pintu berulang kali, "Soya!" panggil Danendra pelan. Soya yang mendengar suara Danendra memanggil seketika menyembunyikan surat yang di pegangnya.
"Soya ..., kembali Danendra memanggil."
"Ya, Tuan," jawab Soya dengan segera.
"Soya ...!" teriak Danendra tak sabar.
Soya dengan takut akhirnya membuka pintu, "Ya Tuan. Maaf, Soya ketiduran," jawab Soya asal.
"Kamu ...!" ujar Danendra marah dan langsung duduk di meja makan.
"Tolong buatkan kopi dan masak sesuatu," ujar Danendra memulai aksinya.
Soya segera menutup pintu kamarnya dan menuju dapur, "Tuan, tadi pagi saya sudah bilang jika bahan di kulkas sudah habis," ujar Soya mengingatkan.
"Ash ..., kenapa bisa lupa," ujar Danendra sembari menerima kopi dari Soya.
Belum juga Danendra menyesap kopi miliknya Nella sudah menyusul dan duduk di pangkuan Danendra. "Buatkan saya kopi!" perintah Nella seenaknya.
"Yang sopan Nella," tegur Danendra berubah.
Nella tak menjawab teguran Danendra, malah kini sudah mencium Danendra di depan Soya.
"Ini, Nona," ujar Soya sembari menatap Nella lekat.
"Apa yang kamu lihat!" seru Soya tak terima.
"Oh. Maaf, jika Nona tersinggung. Soya tak heran dengan sikap Tuan dan Nona seperti yang ada di drama-drama roman yang saya lihat di televisi tetapi kenapa leher Nona merah-merah?" tanya Soya dengan polosnya.
Nella seketika melotot tak terima dan Danendra langsung tersenyum puas.
"Sebentar Nona sepertinya di kotak obat ada obat gosok memang binatang apa yang mengigit Nona," ujar Soya polos dan berjalan menuju kotak obat.
"Sayang! Dengar ucapan pembantu kamu!" tutur Nella tak terima.
Danendra hanya tersenyum dan meminta Nella untuk turun dari pangkuannya.
"Nella, kami akan ke Mall untuk membeli bahan makanan dan kamu Soya bersiap," ujar Danendra sembari melirik Nella sembari menyesap kopi miliknya.
Mendengar ucapan Danendra seketika Nella melotot marah, "Sayang, kenapa kamu mengajak pembantu itu, harusnya saya," ujar Nella tak terima.
"Boleh, kamu juga bersiap tetapi apa kamu tidak malu jika banyak orang melihat ke arah leher kamu," ujar Danendra mengingatkan.
Nella sesaat terkejut mendengar ucapan Danendra, Nella kemudian tersenyum, "enggaklah! ini sebagai bukti bahwa saya adalah milik kamu," ujar Nella sembari mengecup bibir Danendra.
Soya yang sejak tadi sudah gerah melihat sepasang insan yang gila kini hanya bisa menggeleng, "kutu kupret dan Mbak kunti yang tidak tahu malu," tutur Soya sembari berjalan masuk dalam kamar.
__ADS_1
Danendra yang mendengar ucapan Soya tak urung jengkel dan marah. "Koya ...! Buka pintu apa yang kamu ucapkan tadi!" seru Danendra marah tak terima.
Soya memilih membiarkan Tuannya terus berteriak hingga beberapa saat kemudian, "Ayo, sayang! Saya sudah siap," tutur Nella manja.
Danendra sesaat tersenyum tetapi tanganya masih terus mengedor pintu kamar Soya, "oke. Saya hitung tiga kali jika kamu tak keluar. satu, dua, ti ... "Danendra tak melanjutkan ucapannya saat Soya sudah membuka pintu dengan wajah menunduk.
"Maaf Tuan, tetapi saya betul kan?" tanya Soya takut.
"Bagus, jika kamu sadar akan kesalahan kamu tetapi ingat ada denda untuk kesalahan kamu, bunga hutang kamu naik lima persen," bisik Danendra tanpa memperdulikan tatapan tak suka dari Nella.
"Sayang, ayo!" ajak Nella sembari meraih tangan Danendra erat.
Danendra kembali tersenyum, 'tunggu Nella kamu pasti hancur,' ujar hati Danendra.
Soya yang sedari tadi diam melihat tingkah Nella akhirnya tersentak kaget saat Danendra menyentil dahinya keras. "Buat apa kamu berdiri di situ, ayo kamu yang harus belanja," ujar Danendra.
"Oh, iya. Tuan," jawab Soya sembari mengusap dahinya yang terasa panas dan mengekor langkah Tuan serta Nona yang tak tahu malu.
Soya hanya bisa menunduk malu saat melihat tingkah Nella yang begitu agresif, berkali-kali Soya hanya bisa menggeleng heran. Hingga tak berapa lama Danendra berhenti sejenak dan mengulir ponsel miliknya dan tak lama meletakkan ponsel dan kembali melaju, hingga mobil yang di kendarai Danendra berhenti di salah satu Mall yang cukup ternama. Nella yang keluar lebih dulu seketika mengurungkan niatnya dan kembali masuk dalam mobil hingga panggilan sedikit keras dari Danendra membuat Nella ketakutan dan menarik Danendra mendekat kemudian membisikkan sesuatu. "Oh ...!" hanya ini yang keluar dari bibir Danendra dan tersenyum puas.
"Nella, kamu tak apa 'kan, saya tinggal di area parkir sendiri?" tanya Danendra memastikan.
Nella hanya mengangguk menghiyakan saja semua ucapan Danendra dengan menahan amarah.
"Nella, saya belanja dulu dengan Soya," ujar Danendra keras.
Soya yang sedari tadi melihat dengan bingung dan tak paham akan sikap Nella hanya bisa berdecak heran berulangkali.
"Maksud Tuan?" tanya Soya bingung.
"Dasar! kamu, masih saja tak paham maksud saya. Argh ...! selama Nella ada di rumah kamu harus bisa membuat Nella cemburu pada kamu!" ujar Danendra.
"Maksud Tuan?" tanya Soya masih belum paham.
"Argh ..., kamu!"
"Kamu, harus pura-pura menjadi calon istri saya," ujar Danendra lagi.
"Agh, enggak mau! Nanti Tuan akan memperlakukan saya seperti Nona, mencium di mana saja," jawab Soya jujur.
"Harus mau!"
"Enggak, mau!"
"Kamu, ingat hutang Bapak kamu apa yang jadi jaminannya," ucap Danendra lirih dan membuat Soya terdiam.
"Tuan, andaikan saya menolak!"
__ADS_1
"Tidak, bisa!"
"Tuan menikah saja dengan Non Nella Tuan," bujuk Soya.
"Saya tidak mau dan mulai besok kamu harus menjalankan peran kamu. ingat itu!"
"Tidak mau Tuan saya harus tahu alasannya dulu dan saya tidak mau membantu jika tak tahu alasannya," jawab Soya mencoba untuk mengulur waktu.
Danendra seketika diam, "Ayo Tuan, kita segera belanja keburu malam Tuan," ujar Soya sembari berdiri dan menuju Swalayan.
"Soya, kamu harus mau membantu," ujar
Danendra memaksa.
"Tuan, saya harus tahu alasannya dulu, lantas untuk membantu Tuan saya di bayar berapa?" tanya Soya pelan dan menghentikan langkahnya.
"Oke, jika kamu ingin di bayar. Saya hapus bunga dari hutang Bapak kamu dan saya anggap lunas," ujar Danendra lirih sembari menarik Soya masuk dalam Swalayan.
"Cek! Bunga dari hutang Bapak memang sudah lunas," jawab Soya lirih.
"Belum Koya, masih ada lima persen," jawab Danendra sembari memasukkan tomat.
"Soya, enggak mau!" jawab Soya tegas.
"Oke, bunga lima persen berkurang dan lunas," jawab Danendra sembari berbisik.
"Hm ..., akan Soya pikirkan tetapi ada syarat dari Soya dan satu hal yang harus Tuan tepati," jawab Soya sembari tersenyum dan itu membuat Danendra senang.
"Ayo Tuan, sudah selesai kasihan pacar Tuan, nanti banyak binatang yang mengigit leher Non Nella," ujar Soya sembari berjalan menuju kasir.
Danendra seketika tersenyum saat mendengar ocehan Soya yang membuat Danendra senang, "kamu memang beda," ujar Danendra akhirnya.
"Bagaimana mau kan?" tanya Danendra lagi.
"Enggak mau," jawab Soya sedikit keras hingga kasir dan beberapa pengunjung langsung menatap Soya dan Danendra secara bersamaan. Mbak Kasir yang sedari tadi melihat perdebatan Soya dan Danendra seketika menatap tajam, "Maaf, Tuan dan Mbak, tolong Anda mundur ke belakang," ujar Mbak Kasir tegas.
Danendra seketika menatap Mbak Kasir tak terima, Soya menyadari kesalahan yang mereka buat. "Maaf, Mbak!" jawab Soya segera menyerahkan troli untuk di hitung oleh Mbak Kasir.
"Maaf, jika teguran saya membuat Anda tak suka dan ada baiknya Anda jangan berdebat di depan kasir lihat, antrian juga panjang," ujar Mbak Kasir sebelum memulai menghitung.
Soya semakin menunduk malu, sementara Danendra terus menatap tajam pada Mbak Kasir. "Maaf, Tuan. Tolong bayar tagihannya," panggil Soya mengejutkan Danendra.
"Ash ..., semua gara-gara Tuan," ujar Soya sembari meraih dua tas belanjaan.
"Hah! Kenapa saya?" tanya Danendra bingung.
Soya terus saja melangkah tak menghiraukan Tuannya yang tertinggal di belakang, "Soya, bagaimana?" tanya Danendra sebelum masuk area parkir.
__ADS_1
"Beri saya waktu satu bulan Tuan dan alasan Tuan juga harus jelas titik!" ujar Soya tak mau kalah.
"Kelamaan, satu minggu deal !" ujar Danedra akhirnya.