RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 74. Kebahagiaan Danendra


__ADS_3

Danendra yang merasa kesal dengan ucapan Soya akhirnya hanya bisa berdiri dan menggerutu kesal. "Bijim-bijim, apa itu bijim kita tak sedang main petak umpet Soya!" gerutu Danendra tak henti. namum, tatapan Danendra terputus saat melihat Soya berbaring di ranjang dengan memakai selimut. Danendra yang menyadari ketolollannya dan mengikuti saja perintah Soya langsung berjalan mendekat. Soya yang mengetahui sang suami mendekat langsung menatap marah. "Jangan lagi Mas, badan Soya sakit, tubuh Soya meriang." Soya sembari menarik selimut.


Danendra yang tak percaya dengan ucapan sang istri kini mendekat dan menyentuh kening Soya. "Badan kamu panas Soya," ujar Danendra menyesal.


"Maaf- maaf." Danendra seketika memeluk Soya dan tak lama melepas pelukannya.


Danendra memilih turun dari ranjang dan hendak berjalan keluar dan tak lama mengurungkan niatnya dan duduk dengan gelisah di tepi ranjang menatap Soya sejenak, lagi-lagi Danendra hanya bisa menggaruk kepalanya. "Huufff .... "Hanya ini yang terdengar dari bibir Danendra.


"Mas, kenapa?"


Mendengar suara Soya, Danendra langsung tersenyum menatap Soya. "Maaf, istirahat saja." Danendra langsung berbaring di sisi Soya dan memeluknya.


Danendra akhirnya menemani Soya, mereka berdua benar-benar terlelap meskipun sehari ini tak melakukan apapun tetapi mereka memilih untuk tak keluar dari kamar.


Sore hari Danendra terbangun hal pertama yang Danendra lakukan adalah menyentuh kening Soya dan memastikan keadaan sang istri tetapi Danendra sedikit heran saat menyentuh kening Soya yang tak kunjung mereda.


"Apa, saya bawa ke Dokter saja atau tanya sama Bibi, tetapi ...."Ucapan Danendra terhenti saat melihat Soya menggeliat.


Wajah yang terlihat pucat memerah dan sesekali meringis menahan sakit. "Mas, Andra," guman Soya lirih sembari tersenyum.

__ADS_1


Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup di hati Danendra, menyesal karena sudah memaksakan kehendaknya. "Sebaiknya kamu istirahat saja Soya, Mas akan ambilkan teh hangat dan makanan." Danendra berdiri dan langsung ke luar dari kamar.


Melihat Tuan mudanya masih bingung dan hanya berdiri di depan kamar. "Tuan ada yang bisa Bibi bantu?"


Danendra seketika terkejut dan menatap ke arah sang Bibi. "Bi, Soya sakit dan badanya panas," ucap Danendra sembari melangkah ke meja makan dan tak lama menuju dapur.


"Bibi bantu Tuan?"


"Enggak Bi, biar saya saja," tolak Danendra sembari menjerang air dan tak lama Danendra keluar dari dapur kembali masuk kamar.


"Soya. Ayo, bangun dan minum tehnya."


"Maaf, jika Soya merepotkan sebenarnya saya malu jika berada di kamar terus tetapi jika saya keluar dari kamar nanti saya lebih malu," tutur Soya pelan.


"Enggak apa, di kamar saja sampai badan kamu sehat," ujar Danendra sembari tersenyum dan tahu alasan soya.


Danendra dan Soya sesaat saling menatap, dua insan yang tengah di liputi perasaan yang berbunga-bunga karena mereka sama-sama merasakan perasaan yang sama, perasaan yang saling mencintai. Berbaring bersama dan hanya saling berpelukan. "Terima kasih untuk semuanya Soya, ini saat yang tak pernah saya duga, berpelukan berdua dan menatap hari bersama, Mas ingin kita akan selalu seperti ini. Mas minta jangan pernah pergi lagi," pinta Danendra sembari memeluk erat tubuh Soya.


Pagi menjelang, suasana rumah pagi ini sedikit ramai, Danendra dan Soya yang masih terlelap di kejutkan oleh suara sang bibi yang tengah berteriak kencang memanggil Pak Muin. Soya segera melerai dekapan Danendra dekapan sang suami. "Mas, bangun. Cepat di depan ada apa? Tak biasanya Bibi berteriak seperti itu." Soya sembari bangkit dari ranjang dan beringsut turun.

__ADS_1


"Hm .... biarkan saja Soya," jawab Danendra sembari menguap dan berusaha untuk meraih Soya dalam pelukannya.


Soya tak menghiraukan keinginan sang suami dengan bergegas Soya melangkah turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Sang bibi yang sedikit terkejut dengan kedatangan Soya seketika menahan tawanya tetapi tatapan matanya terus tertuju pada dirinya.


"Ada apa Bi? Kenapa berteriak?" tanya Soya heran.


"Nona. Maaf, jika menganggu. Bibi tadi melihat tikus," jawab sang bibi.


"Mm .... Soya kira ada apa? Bibi masak apa hari ini?" tanya Soya akhirnya.


Sang bibi langsung memeluk Soya dan menyentuh kening Soya. "Nona sakit? Badan Nona masih hangat?" tanya bibi khawatir.


Mendengar pertanyaan sang bibi Soya hanya tersenyum dan menggaruk kepala. "Hanya deman Bi, Mas Andra juga sudah memberi obat." Soya menjawab dengan menunduk.


Soya masih membantu sang bibi meskipun saat ini Soya merasakan hal yang tak nyaman dengan tubuhnya, hingga beberapa saat kemudian Danendra keluar dari kamar, bibir Danendra sesaat tersenyum saat melihat Soya yang sibuk membantu sang bibi.


Menyadari jika saat ini Tuan mudanya tengah menatap sang istri tanpa berkedip, sang bibi langsung menyentuh tangan Soya.


"Nona duduk saja dengan Tuan muda, lihat suami Non Soya terus melihat ke arah dapur, bawakan kopinya Non," seru sang bibi sembari menyerahkan kopi pada Soya.

__ADS_1


Soya sesaat tersenyum dan melihat ke arah suaminya, "Mas, kemari," panggil Soya.


__ADS_2