RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 58. Menjebak Clara


__ADS_3

Danendra dengan sengaja memuji Clara dan mencoba untuk mendekati Clara dengan maksud tertentu. "Bagaimana kamu sudah siap?" tanya Danendra sembari tersenyum licik.


"Saya sudah siap," ujar Clara tanpa curiga.


"Apa, kamu siap untuk jalan-jalan?" tanya Danendra menyelidik dan berusaha untuk berbaik hati.


Melihat Clara tersenyum sesaat Danendra menyadari bahwa ada sesuatu di balik senyum Clara, senyum penuh dendam dan kebencian. "Apa kamu sakit?" tanya Danendra.


Clara hanya menggeleng dan berusaha untuk menutupi sorot matanya yang penuh amarah.


"Saya siap," jawab Clara tersenyum.


"Oke, sekarang waktunya memanjakan bumil," ujar Danendra sembari mengusap perut Clara sesaat dan melajukan mobil.


"Hm ..., apa kamu tak menginginkan sesuatu?" tanya Danendra mencoba untuk membuka pembicaraan.


Clara hanya menggeleng dan masih sibuk dengan ponselnya. "Kamu yakin tak menginginkan sesuatu, ngidam mungkin?" tanya Danendra menelisik.


Clara yang mendengar ucapan Danendra langsung menyimpan ponselnya, hanya menatap Danendra sejenak sembari tersenyum. "Saya tak menginginkan sesuatu dan tak menginginkan apa-apa," jawab Clara biasa.


"Hm ..., beruntunglah paling tidak saya tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli keinginan calon anakku," jawab Danendra asal.


Clara hanya diam tak menjawab balik ucapan laki-laki yang duduk di sebelahnya.


"Hem, apa Anda begitu mencintai Soya?" tanya Clara tiba-tiba.


Danendra hanya melirik ke arah Clara sembari tersenyum tipis. "Tak ada yang perlu di ceritakan tentang Soya dan apa juga untungnya bagi kamu," jawab Danendra tak suka.


Clara langsung terdiam saat mendengar ucapan Danendra ada rasa tak suka laki-laki ini saat Clara menyebut nama Soya. "Clara, sore ini saya ingin mengajak kamu ke suatu tempat dan kamu tak boleh menolaknya," ujar Danendra tiba-tiba dan kemudian melajukan mobilnya sedikit pelan dan berhenti di sebuah rumah yang besar.

__ADS_1


"Kenapa kita kemari?" tanya Clara curiga.


Danendra langsung menatap Clara. "Kita akan bersenang-senang Clara," jawab Danendra.


"Ta-tapi, saya tidak bisa," jawab Clara kikuk.


Danendra langsung menatap Clara bingung.


"Sudahlah, kita masuk dan bersenang-senang," kata Danendra sembari meraih tangan Clara.


Clara akhirnya menurut saja dan tak menolak sedikitpun ajakan Danendra, meski di dalam hati muncul berbagai pertanyaan yang membuatnya sedikit ragu. Kami memilih berhenti sejenak di depan pintu saat melihat dua orang tengah berbicara dengan serius.


Dua orang laki-laki yang memakai baju rapi dan terkesan berkelas. "Hai, Danendra masuklah!" sapa salah satu dari mereka saat melihat kedatangan kami.


Mereka langsung menatap Clara lekat tanpa berkedip dan kemudian tersenyum aneh.


"Oh, jadi ini istri kamu?" tanya satu dari mereka.


Sementara itu, Clara langsung menunduk dalam saat salah satu dari mereka seakan menyadari siapa yang berdiri di hadapan mereka. "Danendra, kamu yakin dengan istri kamu?" tanya laki-laki yang berkulit coklat.


Danendra langsung tersenyum sembari meraih tangan Clara. "Memang kenapa? Apa kalian saling kenal?" tanya Danendra tenang.


Laki-laki berkulit Coklat langsung menarik Danendra sedikit menjauh dari Clara dan terlihat Danendra terlibat pembicaraan yang cukup serius dengan laki-laki itu.


"Kamu jangan ngawur!" ujar Danendra keras dan itu membuat Clara dan satu laki-laki yang berdiri di depannya menoleh.


Danendra sedikit melirik ke arah Clara, jelas terlihat di wajah Clara ada kecemasan yang di sembunyikan. "Apa, kita bisa pergi dari sini?" tanya Clara tiba-tiba dan itu membuat Danendra heran.


Laki-laki berkulit coklat masih menatap Clara lekat hingga beberapa saat dia tersenyum.

__ADS_1


"Ah ..., sekarang saya baru ingat! Benar, kamu Clara, Clara yang tempo hari kita bertemu bersama ..., "ash! siapa itu Juan, gadis yang datang bersama ...."Laki-laki ini langsung menghentikan ucapannya saat Danendra mengerling untuk memberi isyarat.


Sementara itu, Clara makin menunduk takut.


"Apa, kita bisa pulang?" tanya Clara pelan.


"Ash! Kalian ini membuat Ibu dari calon anak saya ketakutan saja," ujar Danendra pura-pura.


Juan dan laki-laki berkulit coklat langsung menatap Danendra tak percaya. "Hamil ...?" tanya mereka serentak.


"Kalian! Lihat Ibu dari calon anak saya semakin takut," ujar Danedra tenang.


"Wah, hebat kamu Danendra," ujar Juan sembari tersenyum.


Namun, berbeda dengan Danendra, berbeda pula dengan Clara, ada perasaan tak nyaman yang tiba-tiba Clara rasakan ada perasaan was-was jika semua akan terbongkar.


"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Clara gemetar.


Danendra hanya mengangguk dan mengajak Clara pergi. "Danendra, benar dia Clara gadis yang pernah terlihat bersama Rengga dan Nella," ujar Juan akhirnya.


Danendra yang sudah mengetauhi semua cerita ini dari para pegawainya seketika tersenyum dan menghentikan langkahnya.


"Sssttt, kalian jangan membuat saya meragukan Clara," ujar Danendra sembari tersenyum.


"Tanyakan saja pada istri kamu, dua hari yang lalu dari mana? Saya melihat dengan mata dan kepala saya sendiri," ujar Juan yakin.


Duam ....


Ucapan Juan seakan sebuah bom yang langsung, membuat semakin takut dan seakan menampar wajah Clara hingga memerah.

__ADS_1


Danendra yang sedari tadi berusaha untuk tidak bertanya kini semakin menatap Clara lekat, menatap netra yang ketakutan. "Apa benar kata Juan?" tanya Danendra dan masih berusaha untuk tenang.


__ADS_2