RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 61. Bertemu


__ADS_3

Tuan Guntur hanya menggeleng heran saat melihat Danendra hanya tiduran di rumah dan terus mengulir ponselnya tiada henti. "Apa yang membuat kamu enggan untuk ke kantor Danendra?" tanya Tuan Guntur sembari menatap lekat anak semata wayang.


Danendra masih dengan diamnya dan tak lama meletakkan ponsel miliknya, berjalan mendekat di mana sang ayah duduk. "Ayah. Apa, Ayah tahu di mana Soya tinggal?" tanya Danendra mencoba untuk mengikis rasa curigannya pada sang ayah.


"Lah! Mana Ayah tahu!" jawab Tuan Guntur asal.


Danendra yang kecewa dengan jawaban sang ayah akhirnya hanya bisa mendengus kesal dan memilih pergi masuk dalam kamar. Layaknnya abg yang putus cinta Danendra hanya berguling kekanan dan kekiri dan setiap beberapa menit mengubah posisi tidurnya gelisah. "Cek! Kenapa saya bodoh sekali," ujar Danendra sembari berdiri dan meraih jaket miliknya.


Danendra dengan kesal meraih jaketnya hingga kertas yang di simpan di saku jaketnya jatuh. "Kertas ini!" ujar Danendra sembari memungut kertas yang terjatuh.


Membaca kertas yang di pungutnya Danendra langsung teringat akan ucapan Clara. "Tak ada salahnya mencoba," ujar Danendra sembari menyimpan alamat pada tas yang di pakainya.


"Danendra berangkat Ayah!" pamit Danendra saat melihat sang Ayah masih duduk di ruang tengah.


"Danendra, kamu mau kemana?" tanya Tuan Guntur heran.


Danendra tak menjawab pertanyaan sang ayah, melainkan memilih masuk dalam mobil sembari menutup pintu dengan keras. Pak Muin yang sedari tadi berada di garasi sedikit heran melihat sikap Tuan mudanya yang kembali arogan.


Melaju dengan kecepatan sedang akhirnya Danendra sadar jika semua pasti akan ada jalannya. Setelah melaju cukup jauh Danendra berhenti sesaat untuk melihat kembali alamat yang akan di tujunya. "Jarak yang lumayan jauh," guman Danendra sembari kembali melaju.


Namun, tanpa Danendra sadari dari jarak yang cukup jauh ada yang terus menguntit laju mobilnya. Hampir empat jam perjalanan akhirnya tiba di kota yang di tuju.


"Apa maksud Clara, ini kota kecil dan juga tak ada tempat wisata," guman Danendra sembari menepi dan mengulir ponsel untuk mencari petunjuk. "Hash! Kamu, Clara!" seru Danendra kesal.


Danendra masih terdiam untuk beberapa saat, perjalanan jauh yang di tempuhnya seakan memberi Danendra harapan palsu, kembali Danendra membaca alamat yang akan di tujunya. "Jalan ***," guman Danendra lirih sembari menengok ke kanan dan kekiri dan tak lama Danendra ke luar dari mobil.


Senyum Danendra sesaat terbersit saat ada penduduk setempat lewat. Danendra dengan sopan lalu menanyakan alamat yang akan di tujunya. "Oh, alamat ini. Anda lurus saja, tempatnya juga ada di pinggir jalan," jawab seorang laki-laki paruh baya dan kembali melanjutkan jalannya.

__ADS_1


"Pak, apa benar alamat ini merupakan tempat wisata?" tanya Danendra bingung.


Mendengar pertanyaan Danendra pria ini langsung tertawa sembari menatap Danendra heran. "Tuan, sejak kapan toko kue jadi tempat wisata," ujar pria ini lagi.


"Maaf. Pak, kata teman saya ini tempat wisata?" tanya Danendra ngotot.


"Tuan, Anda lurus saja!" ujar pria ini memberitahu dan langsung pergi begitu saja.


Danendra yang masih belum percaya dengan jawaban yang di dengar akhirnya menurut saja dan kembali melajukan mobilnya. Melaju perlahan hingga mobil Danendra berhenti di toko kue.


"Benar, ini alamat yang di tulis oleh Clara," ujar Danendra sembari terus menatap toko kue di depannya.


Hari sudah mendekati isya saat Danendra tiba, Toko yang masih terlihat ramai. Memilih untuk istirahat sejenak untuk meregangkan otot sejenak, Danendra akhirnya memilih untuk masuk dalam toko kue.


Memilih duduk sedikit ke dalam untuk sekedar menikmati kudapan dan segelas kopi hangat untuk menghilangkan lelah di tubuhnya. Duduk dengan tatapan menuju jalan raya hingga pandangan Danendra terputus saat melihat wanita masuk dalam toko. Danendra seakan terhipnotis dengan wajah yang tak asing dalam pandangannya wajah yang selama berbulan-bulan membuat hatinya remuk redam akan rindu yang terpedam. "Soya!" guman Danendra lirih.


Soya yang melihat siapa yang berdiri di depannya langsung berhenti terdiam tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "Tu-Tuan!" sapa Soya lirih.


Soya masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya. "Apa semua ini mimpi?" tanya Soya sembari mencubit tangannya sendiri.


Namun, sikap Soya seketika berubah saat mengingat perjanjiannya dengan Danendra.


"Tuan, kenapa Tuan kemari. Sebaiknya Tuan pulang saja!" ujar Soya sembari masuk dalam rumah.


Danendra yang terkejut dengan perubahan Soya yang tiba-tiba langsung memburu langkah Soya. "Koya, berhenti!" pekik Danendra tak suka.


Soya akhirnya berhenti juga, tak dapat Soya pungkiri saat ini hatinya juga memburu rindu, semua perasaan itu tumbuh bersama berjalannya waktu. Cinta pertama pada laki-laki yabg terpaut usia yang begitu jauh.

__ADS_1


"Hash! Kenapa Tuan kemari, pulang Tuan kasihan anak dan istri Tuan," ujar Soya akhirnya.


"Soya dengar baik-baik, saya dan Clara sudah selesai dan anak? Anak siapa yang kamu maksud?" tanya Danendra heran.


Mendengar jawaban dari Danendra yang masih sah menjadi suaminya membuat Soya sedikit lega, akhirnya Danendra bisa menyelesaikan masalah yang membuatnya begitu kecewa. Danendra yang tak mendapat jawaban dari Soya kini memilih mendekat, ada senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya yang semakin dewasa, Soya yang tiba-tiba merasa kikuk dengan kehadiran Danendra akhirnya hanya bisa pasrah saat Danendra memeluk erat. Namun, Soya segera mendorong tubuh Danendra saat ada beberapa pegawainya melihat kejadian yang tak biasa ini. "Lepas, Tuan! Anak-anak melihat," ujar Soya sembari mendorong tubuh Danendra menjauh.


"Soya, jangan menolak biarkan saya memeluk untuk sesaat," ujar Danendra lirih.


"Tuan. Tolong jangan seperti ini," ujar Soya kembali mendorong tubuh Danendra.


Merasa mendapat penolakan dari Soya, Danendra langsung merengkuh tubuh Soya.


"Perkenalkan saya suami dari wanita yang ada dalam pelukan saya dan berdiri di samping saya," ujar Danendra tak tahu malu.


Setelah mengatakan itu semua Danendra mengajak Soya untuk duduk. "Tuan sebaiknya Anda menunggu di dalam saja, karena sebentar lagi toko juga akan tutup," ujar Soya sembari melepas pelukan Danendra.


Danendra akhirnya mau tidak mau menurut saja ucapan Soya, memasuki rumah bersih dan duduk dengan tenang di ruang tamu.


Ada kelegaan sendiri di wajah Danendra. Setelah beberapa bulan mencari akhirnya Danendra menemukan tambatan hatinya.


Satu jam, dua jam menunggu akhirnya Danendra terlelap juga di sofa ruang tamu.


Hingga pukul sepuluh malam Soya baru masuk dan sesaat tersenyum saat melihat Danendra tidur meringkuk di atas Sofa.


Soya sengaja tak membangunkan Danendra, tetapi Soya hanya memberi selimut pada tubuh Danendra dan membiarkan tertidur.


Menatap lekat laki-laki yang terlelap di atas sofa. "Selamat malam Tuan," ujar Soya lirih dan tak lama Soya masuk dalam kamar serta menutup pintu kamar rapat.

__ADS_1


Soya masih berdiri di depan pintu kamar, memegang dadanya yang terus terpacu dengan desiran aneh yang acap kali Soya rasakan saat mengingat nama yang selalu membuat tersenyum.


__ADS_2