RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 79. Mengejutkan


__ADS_3

Sang bibi langsung memburu tubuh Soya, tubuh yang tiba-tiba limbung dan jatuh ke lantai. "Bu Muji, bagaimana ini. Kenapa dengan Non Soya!" panggil bibi bingung.


Bu Muji dengan tergesa menghampiri Soya, langkahnya terhenti saat melihat wajah Soya yang pucat. "Bi, kita bawa Soya ke sofa dan tolong jaga sebentar," tutur Bu Muji dan tak lama keluar dari rumah. Namun, tak lama Bu Muji sudah kembali bersama seorang wanita paruh baya.


"Tolong, Ibu periksa karena tiba-tiba anak saya jatuh pingsan," ujar Bu Muji pelan.


Tanpa banyak bicara wanita ini segera memeriksa Soya hingga beberapa saat kemudian wanita ini tersenyum bahagia menatap kami bergantian. "Selamat Muji sepertinya anak kamu hamil dan untuk pastinya besok bawa anak kamu ke klinik," tutur wanita ini senang.


Mendengar kabar bahagia ini bibi dan bu Muji hanya saling menatap dan tak lama mereka tersenyum senang. "Bi, kita akan jadi Nenek," ujar bu Wati senang.


Namun, sesaat sang bibi terdiam dan menatap Soya lekat ada perasaan sedih yang membuat sang bibi terdiam untuk beberapa saat. Bu Muji sadar jika saat ini Soya dalam keadaan tak baik-baik saja ada haru sesaat di hati Bu Muji. Perasaan senang kini berubah saat melihat Soya bangun dari pingsannya.


"Bi, ada apa dan kenapa Bibi dan Bu Muji bersedih, ada apa?" tanya Soya lirih dan berusaha untuk bangkit.


"Ash ... kenapa kepala saya pusing." Soya sembari bersandar di kursi.


"Soya, kamu istirahat saja dan sekarang Ibu akan mencari makanan dulu dan Bi, tolong buatkan teh hangat. Bibi jalan lurus saja dapurnya di situ," jelas Bu Muji dan tak lama keluar sementara bibi langsung menjalankan arahan dari Bu Muji.


Hingga beberapa menit kemudian bu Muji dan bibi datang hampir bersamaan membawa apa yang di perlukan oleh Soya. Namun, belum juga bu Muji mendekat Soya langsung menutup mulutnya. "Bi, kenapa kepala sata tambah pusing dan letakkan saja makanannya di situ." tegas Soya sembari berbaring di sofa setelah menghabiskan satu gelas teh hangat.


"Non, setelah kamar Bibi bersihkan tolong Nona istirahat di kamar saja agar lebih nyaman," titah sang bibi sebelum benar-bebar masuk kamar.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian bibi sudah kembali keluar dari kamar, melihat Soya tidur meringkuk di sofa sang bibi hanya bisa menghela napas. "Andaikan Tuan besar ada mungkin kejadian ini tak sampai terjadi, maafkan Tuan muda, Nona," guman bibi lirih sembari mengusap kepala Soya.


"Bi, tolong jaga Soya, bagaimana juga Soya sudah seperti anak saya sendiri," pinta bu Muji sembari berdiri dan tak lama menyerahkan kunci pada bibi.


"Saya pulang Bi, tolong sampaikan pada Soya jika nanti dia terbangun," ujar bu Muji sambil berdiri dan tak lama keluar.


Bu Muji menghentikan langkahnya sesaat kembali menoleh ke arah Soya dan tak lama hanya menggeleng. "Kasihan kau Soya, bagaimanapun juga Ibu mendukung sikap kamu dan sudah selayaknya kamu berbuat seperti itu," guman Bu Muji dan kini benar-benar pergi.


Perjalanan hidup Soya baru di mulai, Soya tak menyangka jika saat ini dirinya tengah hamil sesaat Soya tertegun saat mendengar berita ini dan hasil yang Soya terima dari klinik. Ada gurat kesedihan yang tampak terlihat dari wajah Soya yang memucat tetapi kesedihan Soya sesaat berubah dan menjadi senyuman saat tangannya yang tanpa sadar selalu mengusap perutnya. Sang bibi yang memperhatikan sejak tadi menjadi sedikit lega dan menandakan bahwa Soya senang dengan kabar yang diterimanya.


"Non, kita pulang!" ajak sang bibi mengejutkan Soya.


"Eh ... Bibi, mengejutkan saja," guman Soya lirih tetapi mengikuti langkah sang bibi.


"Bi, jika bibi ingin pulang, silahkan tetapi saya akan tetap di sini, Soya sudah memutuskan semuanya, Soya hanya tak ingin kekesalan Soya dan perasaan kecewa Soya akan membuat anak tak bersalah ini ikut merasakannya belum lagi sikap Cintya yang seperti itu," ujar Soya lirih.


Mendengar jawaban Soya sang bibi seketika tersenyum dan hanya menggeleng saat bibi menyadari sifat keras kepala Soya. "Non, jika itu sudah menjadi keputusan Non Soya, Bibi akan mengikuti Nona dan biarkan Bibi bersama Non Soya." Bibi sembari memeluk Soya.


"Terima kasih Bi, saya juga senang jika Bibi bersama saya tetapi ada satu hal yang harus kita jaga, jangan sampai si kutu kupret itu mengetauhi tempat kita sekarang," ucap Soya kesal.


"Non ... kenapa memanggil Tuan si kutu kupret." Bibi sembari tersenyum.

__ADS_1


"Sudahlah Bi, jangan membela terus. Andaikan Bibi sampai membocorkan tempat ini. Sungguh saya akan pergi semakin jauh," ancam Soya akhirnya.


Sang bibi kembali menggeleng sesaat sang bibi tak percaya saat mendengar ucapan Soya, tekad yang begitu kuat dan itu membuat sang bibi hanya bisa mengusap dadanya.


Hari ini semua seakan berlalu begitu cepat Soya seakan tak bosan-bosannya mengusap perutnya yang masih datar. Perilaku baru yang sering Soya lakukan tanpa sengaja hingga membuat sang bibi tersenyum saat melihat ulah Soya. "Bi ...," panggil Soya saat tak mendapati sang bibi di dalam rumah.


Perlahan Soya mengitari rumah tetapi langkahnya terhenti saat melihat sang bibi tengah berbicara dengan seseorang yang terlihat muda. Cukup lama Soya memperhatikan sang bibi hingga tak lama sang bibi mengakhiri ucapannya dan memilih masuk dalam rumah. "Siapa Bi?" tanya Soya mengejutkan.


"Eh. Nona, anu Non itu orang suruhan Bu Muji mengirim ini. Siapa tahu Non Soya ingin," jawab sang bibi sembari menunjukkan tas kresek yang di bawanya.


"Apa itu Bi, sini coba lihat," pinta Soya antusias.


"Pelan-pelan Non, aduh! Kenapa terburu seperti itu," ujar bibi cemas.


Soya seakan tak menghiraukan perkataan sang bibi, kini Soya sibuk mencium bungkusan yang masih hangat dan baunya yang gurih membuat Soya penasaran. Soya seketika netranya membola besar saat melihat isi dari bungkusan yang dipegangnya.


"Bi, ini makanan kesukaan saya dan ini masih hangat!" seru Soya senang.


"Bi, sini. Ayo kita makan," ajak Soya sudah mencomot satu potong dan memakannya dengan lahap.


Sang bibi kini tertawa melihat Soya dan sikapnya yang berubah seratus persen.

__ADS_1


"Non, pelan-pelan makannya, boleh bibi minta satu martabak telurnya?" tanya sang bibi sembari duduk di sisi Soya.


"Em ... boleh-boleh Bi, lagipula saya juga enggak akan habis jika makan sebanyak ini," sahut Soya sembari mengunyah martabak dengan semangat.


__ADS_2