RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 19. Debat


__ADS_3

Laki-laki ini kembali tertawa, saat mendengar ucapan Soya. "Jangan takut, saya datang kemari ingin membeli kue Nona," ujar laki-laki ini.


"Kenalkan saya Guntur," ujar laki-laki ini sembari mengulurkan tangan.


Soya semakin menatap heran dan langsung mengusap tangannya ke baju yang Soya pakai, "Saya Soya, Tuan," ujar Soya dengan tangan gemetar.


"Nona kuenya," ujar Guntur.


"Berapa biji Tuan?" tanya Soya semangat.


"Dua puluh lima biji Nona," jawab Tuan Guntur.


Soya yang mendengar ucapan tuan Guntur, tanpa di minta dua kali menunggu langsung membungkus kue yang di pesan dan menyerahkan pada laki-laki yang berdiri di depannya. "Enam puluh dua lima ratus rupiah Tuan," ujar Soya sembari menyerahkan kue yang di bungkusnya. Tuan Guntur sesaat tersenyum, saat mengetauhi hitungan Soya yang cepat. Laki-laki ini tanpa banyak bertanya langsung memberikan uang pada Soya. "Terima kasih Pak," ujar Soya setelah menerima uang pembayaran kuenya. Soya tak menyadari jika laki-laki yang membeli kue Soya adalah orang yang begitu di segani.


Tuan Guntur langsung masuk dalam mobil dan tersenyum puas, "ayo Muin jalan, saya sudah melihat gadisnya," ujar Pak Guntur.


"Bagaimana Tuan cantik kan?" tanya Pak Muin.


"Cantik, polos dan terlihat pintar," ujar Pak Guntur.


Pak Guntur menghentikan ucapannya sesaat seakan memikirkan sesuatu, "Bagaimana dengan Nella, kenapa Danend begitu bodoh dan percaya dengan Nella," ujar pak Guntur geram.


"Nella, masih seperti dulu Tuan, tetapi Tuan muda sepertinya belum mengetauhi apa-apa tentang Nella Tuan besar," ujar pak Muin.


Mendengar ucapan pak Muin, pak Guntur hanya bisa menghela napas dalam-dalam,


"Muin, di sinilah kelemahan Daned, jika sudah mencintai satu gadis, Danend pasti akan setia," ujar Pak Guntur marah.


"Tuan. Tuan jalankan saja rencana yang sudah Tuan atur," ujar pak Muin.

__ADS_1


Pak Guntur hanya tersenyum sembari sesekali memakan kue yang di belinya. "Tuan nanti pukul tiga sore, Soya akan parkir di belakang toko ini," ujar pak Muin menjelaskan. "Hem!" hanya ini yang pak Muin dengar dan tak lama kemudian.


"Muin, kita pulang dan kita lihat seperti kelanjutannya," ujar pak Guntur.


Selepas kepergian Tuan Guntur Soya langsung berkemas, tetapi belum juga Soya berjalan cukup jauh, "Koya ... !" teriak Danend memanggil. Soya langsung menatap ke arah sumber suara. "Hash. kutu kupret," ujar Soya kesal. Soya hanya tersenyum kecut saat melihat Danendra semakin mendekat.


"Koya, seperti biasa mana," ujar Danendra tak tahu malu.


"Koya-Koya, Soya Tuan dan lain kali jika Tuan memanggil saya seperti itu saya tak akan menjawab," ujar Soya ketus dan memilih duduk di pinggir jalan.


"Tuan, ini setorannya dan tolong Tuan tandatangani ini sebagai bukti," ujar Soya sembari menyerahkan buku dan bolpoint.


"Hash, tiga ratus ribu kurang dua puluh ribu," ujar Danendra melotot.


"Beruntung saya masih mau mengangsur dan cepat tanda tangani," ujar Soya lagi.


"Mana dua puluh ribu dulu!" ujar Danendra tak mau mengalah.


Soya dengan wajah cemberut akhirnya menyerahkan juga uang yang di pegangnya dan senyumnya seketika terkembang.


"Tuan, tanda tangani dulu, lengkapkan tiga ratus ribu," ujar Soya sembari menyerahkan buku yang di pegangnya, Danendra langsung membubuhkan tanda tangannya begitu saja.


Soya kembali tersenyum dan menarik lengan Danendra, "Kembalikan uang yang dua puluh ribu, untuk membayar kue yang pernah Tuan ambil, kalau tidak saya akan berteriak dan mengatai Tuan copet," ujar Soya sembari memainkan alisnya naik turun.


"Tidak mau," ujar Danendra menolak.


"Oke, di sini adalah wilayah saya. Kita lihat apa yang akan terjadi jika saya berteriak dengan kencang. satu, dua, ti-ti ... "ucapan Soya terhenti saat Danendra tiba-tba membekap mulut Soya. "Baik-baik," ujar Danendra mengalah karena saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian.


"Mana!" pinta Soya sembari mengulurkan tangan meminta dengan suara tak jelas karena Danendra masih membekap mulutnya.

__ADS_1


"Argh ... "ujar Danendra tiba-tiba sembari melepas tangannya dari mulut Soya.


"Cepat Tuan!" pinta Soya ulang.


Danendra seketika memberikan uang yang di pinta Soya dengan mata melotot. "Terima kasih Tuan kutu kupret," ujar Soya sembari pergi begitu saja.


Danendra hanya menatap kepergian Soya dengan marah. "Ash. awas kamu koya, tunggu saja waktunya," ujar Danendra sembari mengibas-ibaskan tangannya yang sakit.


"Dasar gadis ingusan," ujar Danendra sembari masuk dalam mobil dan kepergian Danendra akhirnya membuat Soya tenang dan duduk di pinggir trotoar. Soya hanya bisa tersenyum miris, karena hutangnya masih begitu banyak.


"Kapan hutang ini akan selesai," guman Soya putus asa.


"Masih utuh dan bunganya juga masih berkurang beberapa ratus ribu, huufftt, apa yang harus Soya lakukan," guman Soya sembari menatap buku yang di pegangnya.


Soya seketika terkejut saat mendengar suara klakson yang berbunyi dengan keras saat lewat di depannya. Soya yang terkejut seketika berdiri dan melotot marah. "Hai, yang sopan," ujar Soya ketus.


Danendra seketika tertawa puas saat berhasil membalas Soya dan melihat Soya terkejut, "Koya, ini belum seberapa, tunggu saja," ujar Danendra tak mau kalah.


Soya akhirnya memilih berjalan ke rumah bu Muji, menyetorkan sisa hasil penjualan siang ini.


Bu Muji hanya tersenyum saat melihat Soya datang dengan wajah cemberut dan tubuhnya yang lelah. "Istirahat saja Soya, lihat tubuh kamu terlihat begitu lelah," ujar bu Muji sembari duduk mendekat. Soya yang mendengar ucapan bu Muji hanya bisa tersenyum kecut.


"Soya baik-baik saja Bu!" jawab Soya pelan sembari menyodorkan uang hasil penjualan.


"Soya, sebaiknya jangan berangkat parkir langit juga mulai mendung, gunakan saja tenaga Soya untuk esok, ingat besok Soya akan membersihkan rumah besar juga," ujar bu Muji mengingatkan.


"Soya sehat Bu dan Soya akan datang untuk membersihkan rumah, lumayan untuk membayar hutang Bapak Bu," jawab Soya lirih.


Bu Muji saat ini tak bisa mengatakan apapun tanpa di sangka-sangka bu Muji langsung memeluk Soya erat, "jaga kesehatan Soya, Soya hanya sendiri, ibu merasa bangga melihat semangat dan perjuangan kamu tetapi kamu juga harus memikirkan diri kamu sendiri, lihat tubuh kamu semakin kurus Soya," ujar bu Muji yang tiba-tiba menangis sedih menatap gadis belia di depannya.

__ADS_1


"Bu, jangan menangis, Soya akan tetap berusaha menjaga diri Soya, Soya juga sadar diri jika Soya kini sebatangkara, Soya rela dan ikhlas menjalani semua ini Bu," jawab Soya sedikit tercekat.


"Terima kasih atas perhatian Ibu dan harapan Soya, Ibu masih mau membantu Soya," tutur Soya lirih sembari memeluk bu Muji dan tak urung air mata Soya luruh juga. "Terima kasih Bu," ujar Soya ulang.


__ADS_2