
Perjalanan panjang yang Soya lalui akhirnya menemukan babak baru dalam hidupnya. Menetap dan tinggal di lingkungan baru membuat Soya semakin fokus untuk mendidik Diandra bersama sang bibi. Diandra kini sudah berusia tujuh tahun dang kedekatannya dengan Hazal laki-laki yang sering membantunya membuat Soya semakin khawatir. Diandra terus saja memanggilnya Ayah meskipun Soya selalu melarangnya dan Hazal serta Namira sang istri tak merasa keberatan.
"Ayah ...." Teriak Diandra keras saat melihat kedatangan Hazal.
Hazal dan Namira langsung memburu berlari menyosong Diandra. Ada kesenangan tersendiri saat melihat adegan yang sering terjadi. Soya selalu tersenyum dan menggeleng saat adegan ini kerap terjadi.
"Hem ... gadis cantik," timpal Hazal sembari terus mencium wajah Diandra.
"Ayah, Diandra kangen," cicit Diandra manja dan bergelayut di pelukan Hazal.
"Em ... ibu Namira, geli ..." Diandra sembari berusaha menghindar dari kelitikan Namira.
Langkah mereka terhenti saat tiba di teras.
Soya seketika tersenyum dan meraih tubuh Diandra. "Anak bandel, selalu saja menganggu Om Hazal," tukas Soya.
"Maaf. Namira jika Diandra selalu bersikap manja pada Kak Hazal," ujar Soya malu.
Namira hanya bersikap seperti biasanya tak mempermasalahkan semua sikap Dianandra gadis kecil yang lebih dulu dekat dengan suaminya Hazal. Namira menyadari semua sikap Diandra dan Hazal, ada rasa belas yang coba Namira mengerti. "Kak, Soya saya tak pernah mempermasalahkan ini," tutur Namira.
"Ayah, Ibu. Sini-sini." Diandra menarik tangan dua orang yang begitu di kaguminya.
Namira dan Hazal langsung mengikuti langkah Diandra dan berhenti tepat di bawah pohon mangga. Diandra hanya diam untuk sesaat tetapi sikap Diandra berubah saat melihat sesuatu yang menarik netranya.
"Ayah. Ayah lihat rumah itu, rumah itu ada penghuninya sekarang," terang Diandra pelan sembari melirik ke arah sang ibu.
"Hem, lantas apa yang membuat Diandra resah?" tanya Hazal.
__ADS_1
"Diandra kesal, coba Ayah lihat anak laki-laki itu selalu mengejek Diandra tak punya Ayah dan kemarin Diandra tonjok anak laki-laki itu." Cerita Diandra akhirnya.
"Diandra ... sungguh Diandra melakukan itu?" tanya Namira memastikan.
"Sungguh Ibu cantik, Diandra kesal," jawab Diandra jujur.
Hazal seketika menatap ke arah Namira, entah apa yang ada di benak mereka berdua. Menatap lekat wajah gadis kecil dan mengusapnya perlahan. Hazal tak menyangka jika Diandra kecil harus mengalami hal yang tak menyenangkan.
"Ayah, kenapa anak laki-laki itu selalu mengejek saya, mengatakan jika Ayah Hazal bukan Ayah kandung Diandra?" tanya Diandra sendu.
"Anak cantik, Ayah Hazal adalah Ayah Diandra, sekarang kita tunggu di sini, buktikan bahwa Ayah Hazal adalah Ayah Diandra, benarkan Ibu cantik," tawar Hazal pada Namira sang istri.
"Benar sayang, Ibu cantik jadi penasaran dengan anak laki-laki yang mengejek Diandra," jelas Namira sembari mengusap kepala Diandra.
Netra Diandra seketika berbinar wajahnya yang sendu seketika berubah. Perlahan Diandra beringsut melepas tangan Diandra dan Namira. Langkah kecilnya seketika melesat dan berlari mengejar anak laki-laki yang baru ke luar dari halaman rumah.
Hazal langsung meraih dua anak kecil yang ada di depannya. Mengajaknya duduk dan merangkul mereka berdua. Hazal hanya bisa menggeleng saat melihat dua anak kecil ini bersitegang. "Anak tampan, siapa nama kamu Nak?" tanya Hazal lirih.
"Ramon," jawab anak ini ketus.
"Ramon ... nama yang bagus."
"Boleh Om berkenalan? Kenalkan saya Ayah Diandra dan ini Ibu cantik, Ibunya Diandra," tutur Hazal pelan.
"Ayo, sekarang saling memaafkan," tegas Hazal pada dua anak kecil yang saling menatap tak suka.
Hazal hanya bisa tersenyum saat melihat dua anak ini kembali bermain. Hazal menarik Namira makin mendekat mencium pucuk kepala sang istri. "Kasihan Diandra karena kesalahan kedua orang tuanya dan Diandra tak sepatutnya mendapatkan ini," tutur Hazal lirih.
__ADS_1
Percakapan mereka terhenti saat Soya memanggil mereka agar mereka masuk. Diandra yang mendengar suara sang ibu seketika berlari mendekat. Diandra kecil yang begitu patuh. "Ayah dan Ibu cantik menginaplah," rengek Diandra.
Hazal hanya bisa menghela napas berat, menatap lekat netra yang mengembun didepannya. "Anak cantik, Ayah dan Ibu cantik tak bisa menginap. Soya, ajak Diandra main ke rumah biar dia mengenal suasana baru," papar Hazal.
"Tapi Kak," jawab Soya enggan.
"Datang saja ajak juga Bibi Soya, mungkin Bibi juga merindukan suasana baru," ujar Hazal ulang.
Soya hanya bisa mengambil napas panjang seakan ada beban terberat dalam hidupnya. Soya hanya tak ingin semua yang di jalani dengan tenang akan membuat hidupnya terasa berat. Soya makin menunduk dan hanya bisa memainkan jari jemarinya untuk beberapa saat.
"Soya, kamu harus melihat rumah kamu dan toko yang kamu tinggal begitu saja. Soya di sana ada seorang Kakek yang setiap bulannya datang hanya untuk mendengar kabar kamu. Akankah kamu juga akan menghukum Kakek tua itu? Demi keegoisan kamu, lihat Diandra Soya, Diandra butuh status, status yang bisa menghargai dirinya. Tolong pikirkan semua ini," terang Hazal.
Soya makin tidak berkutik benar apa yang diucapkan oleh Hazal. Soya begitu banyak meninggalkan semua yang dimilikinya dan tanpa ingin memperjuangkan lebih dulu.
Soya berkali-kali membuang napas berat seakan mengiyakan semua perkataan Hazal.
"Soya pikirkan semua ini baik-baik, Diandra adalah keturunan yang orang besar, saya pribadi tak ingin melihat Diandra di ejek paling tidak Diandra memiliki bergron yang kuat untuk dirinya. Saya tunggu kedatangan kamu, jangan sembunyikan lagi Diandra. Saya akan menjadi orang pertama yang mendukung kamu," ungkap Hazal.
Setelah mengatakan semua ini Hazal langsung meraih tangan Namira. "Soya, kami hanya ingin melihat Diandra bahagia hanya itu saja benar, 'kan sayang?" tanya Hazal pada Namira sang istri.
"Kami pulang dan sengaja tak ingin berpamitan pada Diandra, biarkan dia tidur," kata Hazal sambil berlalu pergi.
Selepas kepergian Hazal, Soya begitu seketika sadar dan memahami semua perkataan laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya. Tangis Soya seketika luruh menangis dalam beribu penyesalan, penyesalan yang begitu terlambat.
"Non, kenapa Nona menangis, apa yang terjadi?" tanya sang bibi lirih.
Soya kini langsung memeluk sang bibi erat dengan keegoisannya, tanpa pernah bertanya apa pun apa yang sang bibi inginkan. Soya semakin merasa bersalah pada sang bibi yang begitu setia padanya. "Bi ... tolong maafkan Soya, maafkan saya yang begitu egois. Maafkan Soya Bi." Tangis Soya kian menjadi dalam pelukan sang bibi yang bingung dengan sikap Soya.
__ADS_1