RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 16. Dua kali lipat


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu sejak kepergian sang Ibu. Soya pagi ini mulai mengawali pekerjaannya kembali, wajah Soya kini tak seceria beberapa hari sebelum sang Ibu meninggal. Soya lebih banyak diam dan itu juga tak luput dari pengamatan Bu Muji sang penjual kue. "Kasihan kamu Soya," ujar Bu Muji lirih.


"Bu, Soya nanti selepas parkir akan jualan lagi," ucap Soya sembari menghitung kue yang akan di bawa.


"Soya, jangan terlalu keras bekerja," ujar Bu Muji lagi. Mendengar ucapan Bu Muji Soya berhenti sesaat, "lantas Soya harus bagaimana, saat ini Soya harus bekerja lebih keras lagi dan ini cara satu-satunya agar hutang Bapak segera lunas," ujar Soya.


Bu Muji hanya bisa menatap Soya, wajah cantik yang hilang dan tertempa sinar matahari dari pagi hingga siang menjelang. "Bu, Soya berangkat dulu," pamit Soya sembari membawa kue yang akan di jualnya.


Menjelang siang hari Soya baru mangkal di perempatan seperti biasanya, Kue yang di jajakan pun tinggal sedikit hingga tanpa Soya sadari ada mobil yang berhenti tepat di depannya, "Sopir berhenti!" ujar Danendra yang memaksa sang sopir berhenti paksa saat melihat Soya di perempatan. Danendra dengan angkuhnya keluar dari mobil, "Hai, kamu Koya!" panggil Danendra yang tak mendapat tanggapan dari Soya. Danendra seketika kesal dan melangkah lebih mendekat, "Hai Koya!" panggil Danendra ulang. "Hai gadis ingusan!" teriak Danendra bersamaan suara deru mobil yang melaju kencang. "Hai, kamu tuli ya!" ucap Danendra keras di telinga Soya. Soya yang terkejut seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Oh, Tuan Danendra. Anda mau menagih hutang?" tanya Soya tanpa rasa takut seperti hari sebelumnya. "Oh, pasti. Mana angsuran satu minggu, ingat saya tak mau sedikit pun ada kekurangan dan ingat bayar dua kali lipat," ujar Danendra kasar. Soya seketika menatap Danendra tajam, "Hem, uang apa yang akan saya gunakan untuk membayar, saya tak memiliki uang, karena selama satu minggu ini saya masih berkabung," ujar Soya seenaknya.


Danendra seketika meradang dan mengambil beberapa kue yang Soya bawa, "ingat! Hutang kamu masih utuh dua puluh lima juta dan bertambah karena selama satu minggu kamu belum membayar," ujar Danendra sembari menatap Soya dari atas hingga bawah. Soya yang merasa tak suka dengan tatapan Danendra langsung memilih menjauh, "jangan macam-macam atau saya akan berteriak," ujar Soya ketus. "Hem, teriak saja!" ujar Danendra.

__ADS_1


Soya, sedikit meredakan emosinya saat mendengar ucapan Danendra yang ketus.


Soya, kini sedikit mengalah, "Tuan, bagaimana jika hutang Bapak, Soya bayar dengan rumah Soya," ujar Soya. "Rumah! Rumah kamu," ujar Danendra semangat. "Ash! siapa mau membeli rumah yang tanpa surat sertifikat," ujar Danendra. "Kamu ingin menipu saya! Saya tidak setuju dan jangan coba-coba kamu kabur," ujar Danendra sembari tersenyum licik.


"Tuan, jika Anda sabar menunggu, saya akan membayar bunga hutang Bapak secepatnya," ujar Soya. "Baik tetapi ingat dua kali lipat," ujar Danendra kekeh sembari menatap Soya. "Cih! pantas Zulhan pergi, karena berusaha menutupi kesalahan kamu," ujar Danendra.


"Ingat Koya, dua kali lipat," ujar Danendra sembari pergi.


Danendra kini semakin melotot tajam dan melepaskan gigitan kue dari mulutnya. "Pak kue ini buat Bapak saja," ujar Danedra sembari memberikan beberapa kue yang di bawanya. "Ash! Tuan. Bapak enggak mau, buat Tuan saja," ujar Pak sopir menolak. "Ya. Sudah buang saja," ujar Danendra seenaknya.


Pak sopir yang sedari tadi diam, makin menatap Danendra, "Tuan, dulu Tuan besar tidak bersikap seperti Tuan muda, Tuan besar tidak menambah bunga yang sudah di sepakati antara Tuan besar dan peminjam dan maaf, apa Tuan tak merasa kasihan dengan gadis kecil itu. Jika gadis itu mengikhlaskan rumahnya sebagai jaminan terima saja, agar gadis itu juga tenang. Saya tahu jika gadis itu gadis yang pandai," ujar Pak sopir tiba-tiba.


"Ash! Bapak ini tahu apa?" jawab Danendra marah. Pak sopir kini melajukan mobil dengan pelan dan berhenti di belakang toko.

__ADS_1


"Coba Tuan muda lihat gadis itu, benar ucapan Zulhan berbelas kasihan sedikit Tuan.


Apa perlu Bapak menceritakan siapa Ibu Tuan sebenarnya!" ujar Pak sopir pelan.


"Argh! Bapak selalu mengungkit masalah itu," ujar Danendra kesal. "Tuan, jangan terlalu arogan Tuan, apalagi dengan gadis yatim piatu seperti Soya, jika Tuan tak menginginkan rumah Soya, nikahi saja gadis itu dan masalah selesai," ujar Pak sopir dengan ide gilanya. Danendra seketika tertawa, "Pak! jika saya menikahi gadis itu apa uang dua puluh lima juta saya kembali dan apa untungnya saya menikahi gadis itu, saya punya pacar Pak," ujar Danendra kesal.


"Ya, sudah! Tuan ringankan saja bunga pinjaman gadis itu. Lagi pula Tuan yakin, jika pacar Tuan setia dan selama ini apa Tuan pernah menyelidiki kegiatan pacar Tuan," ujar Pak Sopir pelan sembari menatap ke arah area parkir. "Hash! Bapak terlalu banyak bicara seperti Zulhan dan Ayah," ujar Danendra kesal. Pak sopir hanya menggeleng saat mendengar jawaban yang begitu egois dari Danendra, sesaat pak sopir menghela napas dan kemudian melajukan mobilnya, 'maaf, Tuan besar jika saya belum bisa menyadarkan Tuan muda,' ujar Pak sopir dalam hati.


Sepanjang perjalanan pulang Danendra kini banyak diam, setiap ucapan sopir pribadi dan Zulhan seakan mempunyai kesamaan dan arti yang sama, tetapi Danendra seakan belum sadar jika semua ucapan orang terdekat Danendra adalah peringatan untuk Danendra yang di kirim sang Ayah. "Tuan, kita berhenti di sini sebentar," ujar Pak sopir tiba-tiba. "Maaf, Tuan. Saya harus membeli sesuatu untuk Tuan besar dan saat ini Tuan besar mengharap kehadiran Anda," ujar Pak sopir tiba-tiba.


Danendra hanya diam saja tak merespon ucapan pak sopir, tetapi netra Danendra tertuju pada siluet yang sedang duduk di sebuah Kafe dan sedang tertawa dan sesekali saling berpelukan dan ... "****," umpat Danendra tiba-tiba bersamaan dengan Pak sopir datang. "Maaf, Tuan jika menunggu terlalu lama," ujar Pak sopir sembari meletakkan buah tangan yang di belinya. "Pak, jalannya cepat sedikit" ujar Danendra tak bersemangat dan meraih ponselnya. cukup lama Danendra mengulir ponsel miliknya, hingga panggilan yang Danendra lakukan beberapa kali terputus secara sepihak.


"Pak, kenapa tiba-tiba Bapak meragukan Nella?" tanya Danendra tiba-tiba sembari menyimpan ponselnya kembali. "Agh, Tuan. Tuan ini sudah berapa lama pacaran dengan Nella, jika Nella benar-benar mencintai Tuan, pasti Nella akan langsung menerima pinangan Tuan," ujar Pak sopir sembari tersenyum aneh.

__ADS_1


__ADS_2