RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 100. Rahasia mulai terbongkar


__ADS_3

Danendra tak menyangka jika dirinya akan bertemu dengan Soya kembali, Danendra hanya bisa menghela napas berat saat dia memilih masuk dalam kamar. Danendra sadar jika semua yang telah terjadi begitu menyakiti hati Soya. Tatapan Danendra terputus bersamaan pintu yang di tutup dengan sedikit keras.


Danendra hanya bisa merasakan penyesalan yang tak pernah berujung. Memindahkan tubuh Diandra dan tak lama memutuskan untuk pergi. Danendra tak menyadari jika sang ayah memperhatikan semua sikapnya.


"Ayah, Danendra pulang dulu," pamitnya sembari berjalan ke luar.


Sejenak Danendra berhenti, menatap rumah yang sudah memberinya kehangatan sesaat dan tak urung hatinya sedikit tergetar saat menatap Diandra dan Soya. "Maaf, untuk luka yang pernah aku torehkan dan memang pantas jika kamu membenci diriku, maafkan aku." Hanya ini yang akhirnya ke luar dari bibir Danendra dan kemudian melajukan motornya.


Danendra menghentikan motornya saat tiba di perempatan, senyum terlukis manis dari bibirnya seakan ada hal yang membuatnya tersenyum. Danendra menggeleng untuk membuyarkan lamunannya dia tak menyangka jika ada sepasang mata yang menatapnya dengan iba, mata yang terus mengekor setiap gerakan tubuhnya.


"Hash ... tolol," hanya ini yang terdengar dari gumamman lelaki itu.


Perlahan laki-laki ini melangkah mendekat dan tanpa suara laki-laki ini langsung menepuk bahu Danendra. "Jangan biasakan melamun," ujar laki-laki ini mengejutkan Danendra.


Danendra langsung menoleh dan sesaat bila matanya membola seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Kalian ... Kalian!" seru Danendra sembari mengedarkan pandangannya.


"Hm ... hiya, kami. Lantas kamu mencari siapa?"

__ADS_1


Danendra tak menjawab hanya mengaruk kepalanya untuk beberapa saat. Dirinya tak menyangka jika akan bertemu dengan Hazal dan Zulhan secara bersamaan. "Kenapa kamu melamun di sini dan dari mana?" tanya Zulhan pura-pura tidak tahu.


"Ada! Hanya jalan-jalan saja," jawabnya bohong.


Hazal yang mendengar ucapan Danendra langsung tersenyum sembari menyikut lengan Zulhan. "Agh .... "Panas. Ayo, kita duduk di taman," ajak Zulhan.


Danendra akhirnya mengikuti juga langkah Hazal dan Zulhan. Tiba di taman mereka terdiam untuk sesaat hingga Zulhan menariknya untuk duduk. Percakapan singkat mereka terputus saat Zulhan mengatakan sesuatu dan itu membuat Danendra menatap tak percaya. "Hash! Apa? ternyata kamu masih saja bodoh dan tak memahami atas semua yang terjadi, mungkin ada baiknya Soya tetap memilih hidup sendiri dan membesarkan Diandra tanpa seorang suami," ucap Zulhan sembari melirik ke arah Hazal.


"Apa maksud dari ucapan kamu Zulhan?"


Danendra menatap Zulhan dan Hazal bergantian, "kamu ... kamu, 'kan suaminya Soya dan apa maksud kalian mengatakan semua ini?" tanya Danendra tak percaya.


"Maksud kamu!" pekik Danendra bingung, "lalu, Diandra?"


"Diandra anakku, tetapi dia bukan darah dagingku, kamu tahu Danendra, aku dengan senang hati menganggapnya sebagai anak karena dia membutuhkan figur seorang Ayah dan status agar Diandra bisa sepadan dengan temannya dan dalam pandangan orang," jawab Hazal.


"Mak-maksud, ka-kamu? Bu-bukankah saat aku bertemu waktu itu?"

__ADS_1


Hazal hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. Danendra yang melihat sikap Hazal semakin di buatnya bingung, terlihat berkali-kali Danendra duduk dengan gelisah dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Hazal sadar jika laki-laki yang ada didepannya saat ini tengah bingung dengan apa yang dia dengar.


"Hazal, Zulhan. Katakan apa yang terjadi dan kamu Zulhan!" seru Danendra dengan tatapan tak suka.


"Jika kami mengatakan yang sejujurnya pada kamu, apa bisa menebus semua kesalahan yang kamu perbuat dan dirimu akan percaya dengan apa yang akan kami ceritakan nanti dan nantinya kamu akan percaya siapa Diandra?"


"Argh .... "Teriak Danendra kesal, "jangan membuat aku bingung Zulhan!" seru Danendra kesal.


Siang ini. Di panas yang terik, Danendra seakan mendapat satu pukulan telak dan semua seakan tepat menyerang jantungnya, dadanya terus bergemuruh dengan percakapan yang mereka lakukan. Danendra masih dengan segala kebingungannya dan seakan kini semua sudah berputar dalam otaknya. Memori masa lalu yang membuatnya terus menegang tangan Danendra terlihat mengepal beberapa kali hingga gerahamnya mengeras menahan semua yang tengah bergejolak dalam dadanya.


Danendra seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya sekarang mencoba menelaah setiap ucapan Hazal dan Zulhan.


"Tidak, ini tidak mungkin," jawab Danendra akhirnya.


Mendengar jawaban Danendra, Zulhan dan Hazal akhirnya tersenyum penuh arti. "Sudah kami tebak dan jawaban kamu pasti akan seperti itu Danendra, terserah pada kamu. kami sudah berusaha untuk memberitahu, pikirkan semua dengan tenang terserah jika kamu percaya atau tidak," tutur Hazal akhirnya.


Zulhan dan Hazal menatap Danendra yang bimbang dengan apa yang terjadi. "Tolong jaga sikap kamu, jangan pernah mencoba untuk menyakiti Diandra dan Soya, pikirkanlah secara dewasa!"

__ADS_1


Melihat kepergian Hazal dan Zulhan, Danendra hanya bisa membuang napasnya dengan berat, dirinya tak tahu harus berbuat apa untuk sekarang. "Argh .... "Teriak Danendra kesal seakan ingin meluapkan semua kekesalan dalam hatinya.


"Apa-apa yang harus aku lakukan?"


__ADS_2