
Waktu berjalan begitu cepat rumah sederhana milik bu Muji akhirnya bisa berpindah tangan menjadi milik Soya dengan uang mas kawin pemberian Danendra. Soya akhirnya kembali merintis usaha kecil-kecilan yang lebih praktis karena kondisinya saat ini yang tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih berat. Kehamilan yang membuatnya sedikit manja pada sang bibi dan bu Muji, membuka toko kecil-kecilan untuk menyambung hidup nantinya.
"Bi, tolong bantu Soya, kenapa siang ini perut Soya mual sekali," ujar Soya sembari duduk dengan keringat dingin.
"Non Soya tidur saja," sahut sang bibi sembari menatap ke arah Soya.
"Enggak mengantuk Bi, tetapi di kehamilan di bulan keempat rasanya sangat tak nyaman, kenapa Soya teringat terus dengan Mas Ardan?" tanya Soya malu.
"Non, apa Non kangen sama Tuan muda?" tanya sang bibi bersemangat.
"Enggak Bi, hanya saja beberapa hari ini sering teringat saja," kelit Soya.
"Non ... apa sebaiknya?" tanya bibi ragu.
"Enggak Bi, saya sudah memutuskan untuk tidak kembali dan bibi jangan salah paham," tegas Soya sembari menatap ke luar halaman.
"Sudah Bi, Soya akan ke kamar dulu." Pamit Soya dan berlalu masuk kamar.
Sepeninggal Soya sang bibi hanya menggeleng ada rasa iba yang tiba-tiba membuatnya menangis, rasa kasihan yang tak pernah sang bibi ungkapkan. Tatapan sang bibi terputus dan segera mengikis air matanya saat bu Muji datang dengan membawa beberapa makanan. Sang bibi kini menatap dengan bingung saat melihat begitu banyak kue yang di bawanya.
"Bu Muji, kenapa banyak membawa kue, di sini juga sudah tersedia?" tanya bibi heran.
Bu Muji tak segera menjawab setelah meletakkan kue yang di bawanya, bu Muji melirik ke arah kamar Soya dan beberapa saat menarik tangan sang bibi. "Mana Soya?" tanya bu Muji tiba-tiba.
"Ada di kamar, perutnya terasa mual, kasihan seharusnya dalam keadaan hamil ini Soya di dampingi oleh Tuan muda," keluh sang bibi sembari mengikis air matanya.
"Apa, Soya sakit?" tanya bu Muji.
__ADS_1
"Enggak hanya saja dia bilang teringat akan Tuan muda," jawab sang bibi.
Mendengar jawaban sang bibi, bu Muji kembali melirik ke arah rumah untuk memastikan. "Bi, Bibi tahu. Saya dari kota dan melihat Tuan muda, tetapi ... Tuan Muda sudah menikah dan lihat ini foto yang saya dapat," cerita bu Muji sembari menunjukkan ponsel yang di bawanya.
"Astafirullah, ternyata benar dan sekarang saya paham mengapa Soya memilih menjauh dan membiarkan mereka berdua, tetapi apa ini benar atau ... kamu hanya melihatnya sekilas?" tanya sang bibi tak percaya.
"Lalu makanan dan kue ini?" tanya sang bibi heran.
"Sssttt ... jangan keras-keras." Bu Muji menyuruh bibi untuk mengecilkan suaranya.
"Ini dari Tuan besar," jawab Bu Muji pelan.
"Apa? Kamu!" seru bibi tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Sssttt ... ceritanya panjang, saat ini yang terpenting Tuan besar tak akan datang kemari tetapi akan menantau Soya dan bibi tahu laki-laki muda yang sering membawa makanan itu adalah anak buah Tuan besar.
"Muji, apa maksud kamu dan bagaimana jika Soya tahu!" pekik bibi keras.
Bu Muji flashback on
Pagi, itu ponsel saya terus berdering. Sesaat saya merasa heran saat melihat nomor yang tertera. Tuan besar menelpon saya dan mengatakan bahwa Soya turun di terminal di mana desa saya tinggal. Kepergian kalian ternyata ada yang selalu membuntuti kalian tanpa kalian sadar. Tuan besar membiarkan Soya pergi karena Cintya terus mengancam Danendra bahwa dirinya akan terus bunuh diri jika Danendra mengabaikannya. Tuan besar sangat memaklumi kemarahan Soya yang cemburu tetapi semua ancaman Cintya membuat Tuan besar membiarkan semua keadaan ini. Tuan besar menginginkan Tuan muda benar-benar bisa mengatasi masalah ini sendiri tanpa campur tangannya lagi. Maaf, kepergian saya ke kota beberapa hari ini memang untuk membicarakan ini. Kedatangan Tuan besar hanya ingin memastikan jika Soya baik-baik saja. Tuan besar juga bersyukur saat mendengar bibi mengikuti Soya.
Bu Muji flashback end
Sang bibi kini hanya bisa terdiam, seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tangis sang bibi seketika luruh, menangisi keadaan Soya yang begitu tragis.
"Bu Muji, terima kasih untuk semuanya. Saya mewakili Soya mengucapkan semua ini." Sang bibi memeluk erat Bu Muji.
__ADS_1
"Ah, sudah-sudah. Saat ini yang terpenting kita menjaga Soya dan tolong jangan cerita pada Soya dan Tuan besar juga mematuhi ini. Tuan besar tak bisa berbuat apa-apa, karena Danendra sudah ...," ucapan Bu Muji terputus begitu saja, "tolong kita jaga rahasia ini dan semoga Soya bisa mengambil keputusan juga," ujar bu Muji dan bibi begitu memahami ucapan bu Muji.
Sang bibi kini hanya bisa menangis dan memeluk bu Muji erat, sang bibi tak menyangka jika akan seperti ini keadaannya.
"Bi, yang pasti sekarang kita harus menjaga Soya, bagaimanapun juga yang di kandung Soya adalah darah daging Tuan muda dan Tuan besar berpesan untuk menjaga Soya dan Tuan besar akan memantau Soya terus." Cerita bu Muji.
"Bi, Bu Muji," panggil Soya mengejutkan mereka berdua.
Sang bibi langsung berdiri dan tersenyum sementara bu Muji langsung menyimpan ponsel miliknya. "Eh, Soya bagaimana keadaan kamu Nak," sapa bu Muji sembari berjalan mendekat.
"Bi, ini kue dari mana? Kenapa begitu banyak sekali?" tanya Soya curiga.
"Eh, itu. Saya yang bawa oleh-oleh, lagipula siapa tahu bayinya ngidam makanan ini," seloroh bu Muji sembari tersenyum.
Mendengar jawaban dari bu Muji sesaat Soya tersenyum dan duduk dengan nyaman di ruang tamu. "Bu, kenapa begitu banyak membawa kue. Sebagian bagikan saja ke tetangga dan Ibu bawa saja sebagian. Soya tak akan habis memakan ini semua," kata Soya sembari melihat kue-kue dalam kotak.
Setelah melihat isi kue yang ada di depannya Soya terdiam dan sesekali mengusap perutnya yang mulai terlihat membesar. "Bi, kenapa sehari ini perut Soya merasa tak nyaman, rasanya mual Bi," cerita Soya berusaha untuk tenang.
"Non. Kita ke Klinik saja, biar dapat penanganan yang tepat," ujar sang bibi sembari memeluk Soya.
Bu Muji dan bibi begitu terkejut saat melihat Soya menangis sembari mengusap perutnya.
"Non, kenapa menangis, ada apa Non?" tanya bibi sembari menatap Soya.
"Entahlah Bi. Soya juga enggak tahu, hanya saja kenapa hari ini saya selalu teringat akan Mas Andra," ucap Soya jujur dan terus menangis.
"Apa, Nona merindukan Tuan muda?" tanya sang bibi ulang.
__ADS_1
"Enggak. Bi," jawab Soya.
Mendengar jawaban dari bibir Soya bu Muji dan sang bibi hanya menatap sendu ke arah Soya. Hingga bu Muji mendekat dan mencium kening Soya untuk memberikan ketenangan untuk sesaat. "Sekarang jangan menangis, kasihan anaknya. Ayo banyak beristifar Nak," tutur bu Muji.