
Diandra beringsut turun dari gendongan Danendra. "Terima kasih Om." Diandra sembari duduk dengan tenang di samping sang Kakek.
Diandra seakan sadar dengan laki-laki yang ada di hadapannya secara bergantian Diandra melihat ke arah sang kakek dan laki-laki di depannya. "Om, apa Om .... "Ucapan Diandra terhenti dan netranya melihat ke arah dinding tetapi Diandra seketika memutus tatapannya saat tak melihat foto yang kemarin.
Danendra sesaat tersenyum dan mengusik kepala Diandra, saat terdengar seseorang mengucap salam. Diandra langsung berdiri dari duduknya dan berlari menyongsong suara yang tak asing di telingannya.
"Ayah Hazal ... Ibu cantik!" teriak Diandra melupakan sakitnya.
Danendra yang mendengar teriakan Diandra sedikit merasa tak suka, menengok sesaat ke arah ruang tamu dan memilih duduk dengan tenang di ruang tengah untuk mencuri dengar setiap celoteh Diandra.
"Hazal, Ibu cantik?" tanya Danendra sendiri saat menyadari panggilan Diandra.
Danendra kembali mengintip ke arah ruang tamu, netranya sesaat menatap tak percaya saat mengetahui siapa yang Diandra panggil dengan ibu cantik. Danendra kembali memastikan apa yang dilihatnya. Danendra sesaat menyergit tak percaya saat melihat wajah Hazal dan istrinya.
"Hash! Apa mungkin, bukankah Hazal bersama Soya dan kenapa sekarang? Ah, tidak-tidak," ujar Danendra tak percaya.
"Lalu, kemana Soya?"
Danendra yang tengah asik mengintip dan sibuk dengan pemikirannya sangat terkejut saat mendapat teguran dari Diandra.
"Om Danendra, kenapa Om mengintip? Ayo, Diandra kenalkan dengan Ayah Hazal dan Ibu cantik Diandra," celetuk Diandra dan menarik tangan Danendra.
Danendra dengan malu akhirnya mengikuti langkah Diandra. Danendra saat ini benar-benar yakin jika laki-laki ini adalah Hazal. Laki-laki yang dulu pernah di temui Danendra di rumah sakit.
"Kamu!" pekik Danendra keras.
__ADS_1
Hazal langsung berdiri dan tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Kenalkan saya Hazal dan kenalkan ini istri saya," ucap Hazal memperkenalkan diri.
"Hazal ka-kamu," ujar Danendra tak percaya.
"Apa benar ini istri kamu dan Diandra?" tanyanya tak percaya.
Hazal memilih diam tak menjawab sementara istrinya langsung menarik Diandra dalam pangkuannya.
"Ayah. Ayah kenal dengan Om Danendra?" tanya Diandra tiba-tiba.
"Kenal, memang kenapa?" tanya Hazal menyelidik.
Diandra sejenak menggeleng tetapi netranya terus menatap ke arah Danendra. "Hm ... Ayah, Ibu cantik. Ayo, kita pulang!" ajak Diandra tiba-tiba.
Sementara itu, sang Kakek yang baru keluar dari kamar sedikit heran saat Diandra merajuk ingin pulang. "Ayo, Ayah. Ibu cantik kita pulang, Diandra lebih suka di rumah sama I-imm ... ah, kenapa Ibu menutup mulut Diandra!" protes Diandra tak suka.
Hazal yang mendapat kode dari sang Kakek langsung berdiri dan tersenyum. "Eh ... tumben main ke rumah Kakek pakai acara merajuk?" tanya Hazal pelan.
Diandra kembali menggeleng dan mendekat kemudian berbisik ke telinga Hazal. Hazal seketika melihat ke arah Danendra.
"Kenapa, Diandra takut?" tanya Hazal keras dan seakan di sengaja.
"Ayah ... kenapa Ayah berbicara dengan keras," protes Diandra malu.
"Baik, Diandra pamit pada Kakek dan Om juga, kita pulang," ajak Hazal akhirnya.
__ADS_1
Setelah berpamitan pada sang Kakek dan Danendra, mereka langsung pulang tetapi ada yang berbeda yang Danendra rasakan, ada perasaan sedih yang Danendra rasakan, saat Diandra kecil mengatakan takut padanya.
"Danendra, kenapa kamu melamun?" tanya Sang ayah heran.
"Entah Ayah, hanya saja hati Danendra sedikit sedih saja dan Danendra juga heran kenapa wajah Diandra tak mirip Hazal," ucap Danendra tiba-tiba.
Sang Ayah langsung tersenyum saat Danendra mengatakan isi hatinya.
"Lantas, jika Diandra tak mirip dengan Hazal, lantas kamu ingin anak itu mirip siapa?" tanya sang ayah.
"Ayah, bukannya Hazal suami Soya? Lantas wanita itu?" tanya Danendra menyelidik.
"Istrinya lah, memang kenapa!" tegas sang Ayah sembari masuk kamar dan tak lama ke luar kembali.
Danendra sedikit heran saat melihat ayahnya berjalan sedikit tergesa dan langsung mengeluarkan mobil dari garasi. Danendra yang penasaran langsung memburu laju mobil sang ayah.
"Pak Muin!" teriak Danendra.
"Yah, Tuan. Ada apa?"
"Pinjam motor, cepat Pak Muin!" seru Danendra memaksa.
"Ta-tapi, Tuan," ucap pak Muin ragu.
"Hash, kelamaan!" kesal Danendra sembari meraih kunci di tangan pak Muin.
__ADS_1
Danendra tanpa banyak bertanya kini melajukan motornya dengan cepat mengejar mobil sang ayah yang sudah melaju lebih dulu. Danendra yang sudah mengejar laju mobil sang ayah sedikit heran saat melewati jalan yang tak asing dan jalan ini menuju ke rumah Soya.
"Ayah. Apa yang Ayah lakukan di sini? Bukankah itu rumah Soya?" tanya Danendra tak percaya.