RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 31. Merepotkan


__ADS_3

Soya langsung menghindar saat melihat Danendra muntah dan jatuh tersungkur di lantai, "ah. Tuan, bagaimana bisa saya menolong dan Tuan muntah segala," ujar Soya jijik dan berjalan mendekat.


Soya masih memeriksa kondisi Danendra yang benar-benar tak sadarkan diri.


"Hash, Tuan sepertinya habis minum," tutur Soya lirih sembari menutup pintu mobil.


Soya dengan bingung menoleh dan berjalan menuju pagar, "sepi sekali dan kenapa Kak Zulhan tak datang," guman Soya sembari mengunci pagar.


"Maaf. Tuan, jika saya berbuat kasar, jika saya mengangkat Tuan? Tidak-tidak saya yakin pasti tidak kuat," ujar Soya sendiri.


Soya dengan kekuatan yang dia punya akhirnya menyeret tubuh kekar dan tinggi Danendra. "Hash! Tuan selalu memberi pekerjaan yang berat," ujar Soya dengan terengah menarik tubuh Danendra. Soya menghentikan kegiatannya saat tiba di ruang tamu. Soya menatap sejenak wajah yang kini tertidur pulas karena pengaruh alkohol. Soya mendongak ke lantai atas, "tidak-tidak, saya tak mungkin bisa membawa Tuan ke atas," guman Soya sembari berulang kali menatap Danendra.


"Argh!" umpat Soya marah sembari menuju dapur mencari tempat yang cukup besar untuk menampung air dan masuk dalam kamarnya mencari kaos yang di anggap Soya muat dan mencari handuk.


Mencium bau tak sedap yang menempel di baju Danendra, akhirnya Soya bertekad untuk membersihkan tubuh Tuannya dengan air hangat. "Ah. Biar saja, tadi pagi saya juga sudah melihat tubuh Tuan," ujar Soya yakin.


Soya dengan cekatan membersihkan tubuh Danendra, mengusap wajahnya dengan handuk basah dan mengganti baju Danendra dan menaikkan Danendra ke sofa. "Hufft ..., ternyata berat juga tubuh Anda Tuan," ujar Soya berhenti sejenak dan duduk di sisi Danendra. Hingga beberapa menit kemudian saat Soya hendak berdiri. "Nella jangan pergi!" ujar Danendra sembari meraih tangan Soya.


Soya yang terkejut saat Danendra memegang tangannya dengan erat, sampai waktu yang cukup lama, "kenapa, dada saya tiba-tiba berdesir," ujar soya lirih dan berusaha melepas tangan Danendra.


"Nella, jangan pergi!" racau Danendra ulang dan makin menggenggan tangan Soya erat.


"Tuan, saya Soya," ucap Soya sembari mencoba melepas tangannya.


"Tuan!" panggil Soya tetapi tak mendapat respon dari Danendra.


Menunggu adalah hal yang membosankan bagi Soya, berkali-kali Soya menguap dan berusaha melepas tangan Danendra, hingga akhirnya tanpa sadar Soya tertidur di sisi sofa dengan tangan yang masih dalam genggaman Danendra. "Argh ...!" teriak Danendra keras di pagi hari sembari melepas genggaman tangannya dan menatap Soya tajam. Soya yang langsung menatap Danendra terkejut, "ish! Tuan, berisik," ujar Soya sembari menguap.

__ADS_1


"Kamu-kamu, kenapa tidur di sini dan ini apa?" tanya Danendra marah saat mendapati baju yang di pakainya.


Soya tanpa banyak bicara langsung berdiri merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal.


"Ash! Tanya saja pada diri Tuan, Tuan jangan berteriak mulut Tuan bau dan Tuan juga sudah memberikan banyak pekerjaan untuk saya, lihat ini dan belum lagi muntah Tuan di dekat garasi," tutur Soya panjang lebar dengan amarah.


Danendra seketika sadar akan kejadian semalam, "hai, koya. Apa yang telah kamu lakukan pada saya," ujar Danendra tak terima.


Soya seketika menoleh dan melotot tajam.


"Hah! Apa untungnya buat saya, ingat Tuan jangan terus mengigau memanggil Nella," ujar Soya sembari melangkah ke depan.


Danendra sesaat terdiam dan hanya menatap Soya yang tengah membersihkan halaman dan garasi. "Jadi, semalam dan ini. Semua sepatu dan baju yang membersihkan Soya," guman Danendra lirih sembari menatap Soya.


Danendra segera memutus tatapannya saat melihat Soya masuk. "Kenapa lihat-lihat," ujar Soya kesal dan menuju kamarnya.


Soya seketika menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan Danendra. "Koya, buatkan saya kopi, antar ke atas!" teriak Danendra keras sembari bertelanjang dada.


"Huf, untung saja," ujar Soya sembari membereskan lembar yang di bawanya dari lantai atas.


Tak berapa lama Soya sudah berkutat di dapur, membuat kopi untuk sang Tuan. Soya hanya bisa menaham geram saat melihat kaos yang di pakai Tuannya tergeletak begitu saja di lantai, belum juga barang yang lainnya.


"Dasar kutu kupret," ujar Soya sembari berjalan menuruni tangga serta memungut baju dan merapikan barang lainnya milik Tuan muda, "hueek," seru Soya saat mencium bau tak sedap dari baju yang di pakai Danendra.


"Hah! Lebik baik Soya bekerja saja, dapat uang kerjanya pasti, enggak seperti ini," guman Soya sembariemasukkan baju Danendra ke mesin cuci.


"Soya ...!" teriak Danendra memanggil dari lantai atas.

__ADS_1


"Apa lagi ini? Kenapa mesti berteriak," ujar Soya sembari berjalan mendekat.


"Ya, Tuan!" jawab Soya dari lantai bawah.


"Naik, cepat!" seru Danendra marah.


Soya uang masih bingung dengan sikap Tuannya, kini semakin mempercepat langkahnya. Danendra dengan tatapan melotot menatap tajam ke arah Soya.


"Coba, kamu cicip rasa kopi ini," ujar Danendra berkacak pinggang.


Soya hanya menatap kopi di depannya, "Tuan, memang kenapa?" tanya Soya bingung.


"Kamu! Cicip dulu!" perintah Danendra lagi.


Soya yang tiba-tiba takut dengan tatapan Danendra perlahan mengambil cangkir dan mencicip rasa kopi yang di buatnya. "Enak, pas dan tidak manis," tutur Soya jujur.


Danendra masih menatap Soya tak percaya dan mengambil cangkir dari tangan Soya dan tanpa jijik langsung meminum kopi tadi.


"Argh, ini pahit," ujar Danendra sembari memuntahkan kopi yang di minumnya dan mengenai baju Soya.


"Tuan, jika Tuan tak menyukai kopi buatan saya bilang saja jangan begini caranya," tutur Soya hampir menangis.


Danendra masih menatap Soya dengan tatapan yang sulit di artikan, "Tuan, itu efek dari minum Tuan semalam," ujar Soya sembari membersihkan baju yang di pakainya dan bergegas turun.


Soya segera mengganti baju yang di pakainya, memilih duduk di area mencuci dengan penuh penyesalan. "Andaikan Bapak tak berhutang dan tak meninggal mungkin tak ada yang merendahkan Soya seperti ini," tutur Soya sedih. Namun, Soya tak menyangka jika saat berkeluh kesah ada sepasang telinga yang mendengar. Niat kembali ingin memarahi dan mencaci Soya segera Danendra urungkan.


"Maaf, Soya jika saya terlalu keras," ujar Danendra lirih dan berlalu pergi begitu saja menuju kamarnya.

__ADS_1


Danendra sadar jika selama ini sikapnya terlalu kasar dan tak segan membentak Soya.


Danendra hanya bisa tersenyum saat menyadari semua keusilan dan sikapnya pada Soya. "Gadis yang lucu," ujar Danendra akhirnya. Danendra hanya memilih berbaring, benar ucapan Soya jika rasa pahit di mulutnya efek dari kebanyakan minum semalam dan sekarang kepala Danendra pun masih terasa berat dan pusing. "Nella, terima kasih. Saya tak akan menegur sikapmu tetapi lihat balasan apa yang akan saya berikan," ujar Danendra sembari mengeratkan tangannya marah saat mengingat perlakuan Nella.


__ADS_2