RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 55. Ada sesuatu yang hilang


__ADS_3

Danendra seketika tersenyum saat melihat sikap yang polos ada rasa yang menggelitik hati Danendra. Danendra menatap Soya dengan perasaan berbunga. "Ash, Tuan selalu begitu, Soya takut jika Bibi, Ayah dan Kak Zulhan melihat apalagi Pak Muin," ujar Soya kesal.


"Awas jika Tuan ulang, lagi pula Tuan senang sekali membuat ulah yang tidak-tidak," ujar Soya dan kemudian meninggalkan Danendra.


Melihat Soya pergi menjauh Danedra seakan menemukan istri yang benar-benar bisa membuat hati Danendra tenang. "Tetaplah seperti itu Soya," guman Danendra lirih.


Tatapan Danendra terhenti begitu saja saat ponselnya berulangkali berdering. Danendra mengulir ponsel sesaat. "Agam," guman Danendra lirih dan tak lama Danendra mematikan ponselnya.


"Soya!" panggil Danendra keras.


Tanpa menunggu Soya keluar dari kamar mandi Danendra langsung menerobos masuk. "Ash, Tuan!" ujar Soya kesal dan beruntung Soya sudah berpakaian.


Danendra langsung menarik Soya keluar dari kamar mandi. "Saya akan pergi beberapa hari, kamu tetap di sini menginap di rumah Ayah!" perintah Danendra sembari menarik Soya menuju almari. "Bantu saya berkemas," ujar Danendra sembari menarik tas di dalam almari.


Soya masih terlihat bingung dan hanya melihat Danendra yang sibuk bersiap. "Soya tolong masukkan ini dan ini terus itu juga," ujar Danendra tergesa.


Soya yang melihat Danendra tergesa seketika menghentikan kegiatan Danendra.


"Tuan, Tuan akan pergi berapa hari dan kemana?" tanya Soya berusaha menenangkan.


Danendra seketika menatap Soya dan mengembuskan napas berat. "Soya, saya akan ke kota xxx selama tiga hari dan," ucapan Danendra terhenti saat Soya sudah memasukkan beberapa baju dan yang lainnya.


"Sudah Tuan dan Tuan sekarang ganti baju Tuan," ujar Soya mengingatkan dan kemudian keluar dari kamar.


Soya segera menuju dapur dan tak lama kembali lagi masuk dalam kamar. "Apa tempatnya jauh?" tanya Soya tiba-tiba.


"Mau ikut?" tanya Danendra tiba-tiba.


"Enggak Soya disini saja," jawab Soya sembari menggeleng dan menutup tas yang sudah Soya siapkan.


"Cek! kenapa bisa begini," ujar Soya.


Danendra sedikit terkejut saat Soya dengan sukarela mau membetulkan baju yang di pakainya. Danendra sesaat merasakan debar aneh yang muncul secara tiba-tiba.


"Sudah! Sekarang Tuan terlihat lebih rapi," ujar Soya sembari menepuk-nepuk bagian baju Danendra agar lebih rapi.


"Terima kasih Soya," ujar Danendra sembari tersenyum.


"Oh, hiya Tuan," jawab Soya sadar akan ulahnya.


Danendra dengan perlahan mengusik rambut Soya gemas. "Saya berangkat dengan Zulhan, ingat di rumah saja," ujar Danendra.


Soya sesaat tersenyum dan mengangguk malu. Melihat Danendra melangkah keluar dari kamar Soya sesaat memegang dadanya, ada perasaan tak rela melepas Danendra pergi. "Tuan hati-hati!" ujar Soya lirih tetapi masih bisa di dengar oleh Danendra.


Danendra hanya berbalik dan tersenyum, Soya masih menatap Danendra hingga menghilang menuju ruang tamu dan tak lama terdengar mobil melaju dengan kencang.


"Non!" sapa Bibi dan itu mengejutkan Soya.


Soya yang sadar akan bentuk bibirnya, Soya langsung menutupi bibirnya. "Non, sudah jangan begitu semua pasti juga merasakan, ayo Non makan dulu!" ajak Bibi sembari menarik tangan Soya.


"Bi, apa ...."Ucapan Soya terhenti saat sang bibi menatap heran.


"Kenapa, ada apa?" tanya Bibi sembari mencuci gelas.


"Em ..., "enggak jadi Bi," ujar sembari mencicip kuah sayur.


Berdua dengan sang Bibi mengerjakan ini dan itu membuat Soya bersemangat, kegiatan yang kerap Soya lakukan. Tak terasa hari ini waktu bergulir dengan cepat, malam ini Soya merasa ada sesuatu yang membuat hatinya tak nyaman. Terjaga di tengah malam dan sesaat Soya sadar jika ada hal yang membuat Soya merasa ada sesuatu yang hilang.


"Huuff ... "Hanya ini yang terdengar dan tak lama Soya sudah kembali merapatkan selimutnya.


Netra Soya menatap ranjang di sisinya, sesaat senyum Soya tersungging malu dan tangan Soya dengan spontan meraba sisi ranjang yang kosong. "Selamat malam Tuan dan mimpi indah," guman Soya sembari tersenyum.


"Kenapa dengan hati ini, apa karena Tuan suami Soya atau ..., "enggak-enggak, Soya tak akan semudah itu untuk jatuh cinta tetapi ..." Ujar Soya terputus dan meraba dadanya.


Soya kini hanya bisa meringis saat dadanya kembali berdebar saat mengingat ciuman pertamanya dengan Danendra. Perlahan Soya menyentuh bibirnya yang mulai terasa nyaman dan rasa kebas yang mulai menghilang. "Agh. Kenapa wajah Soya menghangat saat mengingat semua ini," guman Soya lirih.


"Hai hati ada apa dengan kamu," ujar Soya berusaha memejamkan matanya kembali hingga Soya kembali terlelap.


Tak terasa ini adalah hari ketiga Danendra pergi, Soya yang sudah merasa terbiasa dengan perasaannya kini hanya tersenyum saat sang bibi terus meledeknya. "Non ikut Bibi yuk!" ajak sang Bibi.

__ADS_1


"Enggak Bi, Tuan sudah berpesan Soya tidak boleh ke mana-mana," ujar Soya patuh.


"Oalah Non, kita hanya ke warung yang ada di ujung jalan," ujar Bibi meyakinkan Soya.


"Enggak Bi," jawab Soya patuh.


"Ya sudah jika Non enggak mau, berarti Non di rumah sendiri Tuan besar juga sedang pergi," ujar sang bibi sembari memasukkan uang dalam dompet.


Sang bibi hanya tersenyum dan kemudian berjalan keluar. Hampir tiga puluh menit sang bibi keluar Soya yang merasa bosan akhirnya memilih duduk di teras, tetapi brlum lims menit Soya duduk datang seorang wanita cantik yang tiba-tiba masuk dan menghampiri Soya di teras. "Maaf, apa ini rumah Tuan Danendra?" tanya wanita ini sopan.


Soya segera berdiri dari duduknya dan tersenyum. "Benar! Anda siapa dan ada keperluan apa?" tanya Soya menelisik mencari tahu.


Wanita cantik ini kemudian tersenyum dan tak lama menyerahkan sesuatu pada Soya, tolong sampaikan ini pada Tuan Danendra saya akan menunggu," ujar wanita ini dan langsung duduk tanpa Soya suruh.


Soya sedikit menyerngit heran melihat sikap wanita cantik ini. "Mm ..., boleh tahu nama Mbak siapa?" tanya Soya lirih.


Soya yang masih menunggu jawaban dari wanita yang ada di depannya seketika tersenyum senang saat melihat mobil masuk di garasi. "Ayah!" panggil Soya saat melihat siapa yang keluar dari mobil.


Sang Ayah mertua langsung mendekat saat melihat siapa yang duduk di teras bersama Soya.


"Kamu!" seru Tuan Guntur keras.


Wanita yang duduk di teras tersenyum sesaat dan memberi hormat. "Siang Om, kebetulan sekali, apa Danendra ada?" tanya wanita ini tanpa sungkan.


Tuan Guntur sesaat menatap ke arah Soya khawatir. "Kamu belum puas sudah menipu dan korupsi di kantor kami?" tanya Tuan Guntur tak suka.


Wanita ini hanya tersenyum sinis. "Ternyata Om, tak melupakan itu. Namun, ada satu hal yang lebih penting dari itu Om, saya juga tak akan meninggalkan kota ini karena ada hal yang harus Om ketauhi dan juga Danendra, ternyata hukuman yang di berikan pada saya memberi dampak yang lain," ujar wanita ini.


Tuan Guntur akhirnya paham kemana arah bicara wanita ini. Namun tidak untuk Soya.


Soya masih dengan polosnya mendengarkan semua percakapan ini.


"Saya tak akan pergi hingga Danendra menemui saya," ujar Wanita ini tak peduli dan duduk dengan tenang.


"Clara! Apa kamu sudah gila! Danendra tak ada di rumah dan untuk apa kamu menunggu Danendra dan saya yakin Danendra sudah memberi lebih," ujar Tuan Guntur marah.


Clara kembali tersenyum sinis dan kemudian menatap ke arah Soya.


"Apa! Ka-kamu hamil?" tanya Tuan Guntur terkejut.


"Benar Tuan saya hamil," ujar wanita ini tegas.


Soya yang sedari tadi mendengarkan percakapan ini hanya bisa menatap heran, mencoba menelaah satu persatu apa yang di dengarnya. Soya kini hanya bisa memegang dadanya saat tiba-tiba Soya merasakan dadanya yang berdesir sakit. Namun, netra Soya tertuju pada Tuang Guntur sang ayah mertua. "Ayah ...!" teriak Soya keras saat melihat sang ayah mertua sedikit terhuyung dan hampir terjatuh.


Soya dengan cepat menghampiri dan membantu sang ayah mertua. "Pak Min ...!" teriak Soya keras dengan bersamaan datangnya bibi dan Pak Min.


"Tuan ...!" teriak mereka hampir bersamaan dan mennghampiri Tuan Guntur.


Soya dan Pak Min langsung memapah Tuan Guntur dan membawanya masuk dan mendudukkanya di ruang tamu.


"Pak Min, tolong telfon Danend dan suruh lekas pulang," ujar Tuan Guntur.


Sementara itu, Clara langsung tersenyum senang jelas terlihat dari raut wajahnya yang begitu puas. Soya yang begitu paham akan kondisi saat ini perlahan sudah mengambil sikap tetapi tetap Soya akan menunggu hingga Danendra datang. "Tuan, Tuan istirahat saja di kamar," ujar Soya berusaha bersikap sebaik mungkin.


Tuan Guntur tak menjawab dan langsung menatap ke arah Soya lekat. "Soya!" panggil Tuan Guntur lirih.


"Saya baik-baik saja Tuan dan sebaiknya Tuan segera beristirahat," ujar Soya ulang.


"Tuan, biarkan Non Clara istirahat di kamar kasihan dia lagi hamil," ujar Soya lirih sembari melirik ke arah Clara.


Tuan Guntur sekerika menunduk, Tuan Guntur tak menyangka jika gadis polos seperti Soya siap menghadapi apa yang sedang terjadi.


"Bagaimana Tuan?" tanya Soya ulang.


"Bi. Tolong bawa masuk Non Clara, biarkan dia istirahat," ujar Soya pelan.


Sang bibi hanya diam dan seakan enggan untuk melakukan tugas yang di berikan.


"Bi, ayolah. Kasihan dia," ujar Soya ulang.

__ADS_1


Clara langsung tersenyum dan menatap ke arah Soya. "Oh, jadi ini yang namanya Soya. Gadis perebut pacar orang," ujar Clara tanpa filter.


Soya yang mendengar ucapan Clara langsung tertunduk malu. "Non, silhakan istirahat sembari menunggu Tuan Danendra," ujar Soya sembari berlalu. "Pak Min tolong antar Ayah ke kamar," ujar Soya lirih.


Memasuki kamar Soya langsung tertunduk lesu, ada beribu penyesalan yang saat ini Soya rasakan beribu kekecewaan yang tiba-tiba mencuat di hatinya. "Huufff ..., apa ini kenapa di hati Soya ada perasaan yang aneh. Ingat Soya jangan hanya di peluk dan di cium kamu akan menyerahkan hati kamu, jangan tolol Soya," guman Soya sedih.


Semua seakan menjadi suatu dilema, kedatangan Clara adalah suatu hal baru untuk Soya melihat kenyataan betapa brengseknya Danendra. "Benar, harus ada yang mengalah," guman Soya lirih.


Hampir pukul tujuh malam Danendra baru datang bersama Zulhan. Wajah Danendra yang menegang langsung masuk dakam rumah, langkah Danendra terhenti saat melihat Clara yang kini duduk dengan tenang.


Namun, netra Danendra kini melihat di sudut lain, senyum Danendra langsung terkembang saat melihat Soya duduk dengan tatapan tenang dan sendu.


"Danend!" panggil Tuan Guntur mengejutkan.


Danendra seketika menoleh dan tersenyum.


"Ya, Ayah!" jawab Danendra.


"Duduk dan tolong dengarkan baik-baik."


Tuan Guntur sesaat memindai satu persatu dengan wajah yang belum pernah Soya lihat, wajah seram dan tegas.


"Kamu, kenal Clara?" tanya Tuan Guntur.


Danendra langsung menghiyakan pertanyaan sang Ayah. "Ya. Ayah!"


"Lalu apa kalian pacaran dan melakukan kontak fisik?" tanya Tuan Guntur.


Danendra langsung menghela napas dan menatap ke arah Soya, jelas terlihat dari sorot mata Danendra bahwa saat ini Danendra tengah berusaha untuk meyakinkan Soya.


"Saya kenal Clara karena dia bekerja di kantor dan satu hal saya juga pernah kontrak fisik dengan Clara hanya sekali saja dan memang apa yang terjadi?" tanya Danendra ingin memastikan.


"Kamu yakin?" tanya Tuan Guntur.


"Saya yakin," jawab Guntur.


Tuan Guntur langsung melihat ke arah Soya dan bergantian dengan Clara.


"Danendra saya hamil dan menuntut tanggung jawab kamu!" ujar Clara.


Mendengar penuturan Clara, Danendra langsung menatap tak percaya. "Apa kamu yakin itu anakku?" tanya Danendra menyelidik.


Clara langsung berdiri dan menyerahkan sesuatu pada Danendra. "Baca saja sendiri," ujar Clara.


Perlahan Danendra membuka amplop dan membacanya untuk berapa lama Danendra menatap Clara tak suka.


"Bagaiman Dabendra, kamu harus bertanggung jawab," ujar Tuan Guntur pada akhirnya.


"Ayah! Danendra tak mau," ujar Danend protes.


Sementara itu Soya langsung menghela napas berat dan masuk dalam kamar.


Danendra langsung mengekor langkah Soya dan membiarkan Clara begitu saja.


"Danend, ingat kamu harus bertanggung jawab ada darah daging kamu di tubuh wanita itu," ujar Sang Ayah.


Danendra hanya terdiam menghentikan langkahnya sesaat dan tak lama kembali memburu langkah Soya. Danendra sedikit tersenyum senang saat melihat Soya duduk dengan tenang di sisi ranjang.


"Soya!" panggil Danendra dengan suara tercekat dan bergetar.


Soya yang mendengar panggilan Danendra langsung menoleh. "Tuan!" jawab Soya tak percaya dan langsung berdiri menghindar menjauhi Danendra.


"Tuan, Anda sudah datang dan bereskan urusan Tuan. Benar kata Tuan Besar jika ada darah daging Anda dan calon anak Anda, penerus serta cucu dari Tuan Besar," ujar Soya berubah seketika.


"Soya, apa yang kamu ucapkan, semuanya itu tak benar," tutur Danendra mencoba untuk menjelaskan.


Soya kini sadar akan siapa dirinya, gadis penebus hutang yang kapan saja siap untuk di lempar kembali. "Soya! Apa kamu meragukan semuanya?" tanya Danendra.


"Tuan, tolong jaga sikap Tuan," ujar Soya sembari menepis tangan Danendra.

__ADS_1


Soya kembali menjauh dan memilih keluar dari kamar. Langkah Soya terhenti saat Bibi datang dengan tatapan kecewa. "Maaf, Non Soya, sesuai perintah Tuan Besar. Non Clara yang akan menempati kamar ini," ujar sang Bibi sembari mengantar Clara masuk dalam kamar Danendra.


Soya sedikit terhenyak tak percaya saat mendengar ucapan sang Bibi. "Oh, silahkan Bi," ujar Soya.


__ADS_2