RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 81. Tumbuh sehat dan kuat


__ADS_3

Kenyataan tak mungkin bisa untuk di hindari, Soya dengan tekadnya akhirnya memilih untuk menjauh dari Danendra, meskipun tanpa Soya sadari bahwa sang ayah mertua selalu memantaunya dari jauh. Hari berganti waktu terasa cepat berlalu berbagai kejadian dan drama kehamilan membuat Soya semakin kuat. Kini kehamilan Soya sudah menginjak tujuh bulan, pagi ini Soya terus meringis menahan sakit. "Bi, kenapa perut Soya sakit sekali dan bayinya terus menendang." Soya sembari duduk di kursi.


Mendengar ucapan Soya sang bibi tersenyum dan mendekat, mengusap perlahan perut yang terlihat membuncit. "Tumbuh yang sehat dan kuat, jangan buat ibu kesakitan," tutur sang bibi lirih.


"Terima kasih Bi, andaikan tak ada Bibi Soya tak tahu harus berbuat apa," jawab Soya sembari menatap perutnya.


Soya sesaat tersenyum dan menatap kearah sang bibi ada sesuatu yang saat ini membuatnya sadar akan semua yang terjadi dan atas penilaian Soya sendiri. "Kenapa kamu tersenyum apa ada ... sesuatu yang membuat hati kamu senang?" tanya sang bibi.


"Enggak Bi, Soya sekarang paham akan sikap Mas Andra dan Soya bersyukur jika Mas Andra tak mencari Soya," tutur Soya.


"Bi, suatu saat nanti jika anak ini sudah besar tolong jangan pernah menceritakan pada anak saya siapa ayahnya," putus Soya akhirnya.


Setelah mengatakan maksud di hatinya kini Soya hanya terdiam menatap nanar seakan ada sesuatu yang sedang bermain dalam pemikirannya. Angannya seakan tengah mengembara hanya matanya saja yang sesekali mengedip. Soya tak menyadari jika semua yang di lakukan saat ini tak luput dari pantauan sang bibi.


"Non jangan melamun, pamali," tegur sang bibi dan membuat Soya terkejut.


"Enggak Bi, Soya hanya memikirkan sesuatu saja," ucap Soya pelan.


Satu hari ini, Soya hanya duduk dan merasakan tubuhnya mulai pegal dan kakinya yang terlihat mulai bengkak. "Hem ... kita jalan-jalan Non, Non mau?" tanya bibi pelan.


"Mau Bi, kaki Soya mulai bengkak dan apa kita perlu kontrol Bi?" tanya Soya khawatir.


"Non, kita jalan-jalan saja satu putaran atau dua putaran dulu, biar kaki Non berangsur mengempis dan jangan terlalu sering digantung," tutur Bibi.


Soya hanya mengangguk menghiyakan ajakan sang bibi. "Sebentar Bi," jawab Soya sembari masuk kamar dan tak lama keluar.


Melihat Sekar sedang membersihkan toko, Soya datang mendekat dan menjawil bahu Sekar. Gadis yang berusia dua tahun lebih muda darinya, gadis bertubuh tinggi dan manis. Soya tersenyum sesaat seakan melihat dirinya yang dulu.


"Sekar, tolong jaga toko saya mau keluar sebentar," pamit Soya pada pekerja toko yang baru satu bulan bekerja padanya.


"Bi, Soya heran kenapa laki-laki yang mrngantar kue tak pernah datang lagi dan ini hampir satu bulan, coba bibi tanya pada Bu Muji," kata Soya tiba-tiba sebelum melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


"Hiya Non, nanti Bibi tanya. Ayo, mau jalan kemana? Cuaca sore ini begitu cerah." Bibi sembari meraih tangan Soya.


"Bi, kita ke taman saja, tetapi satu putaran saja," ujar Soya memastikan.


Jalan-jalan menuju taman ternyata bukan pilihan yang tepat. Langkah Soya terhenti begitu saja saat melihat begitu banyak anak kecil dan mereka datang bersama orang tua mereka. Melihat ini secara reflek Soya mengusap perutnya, napasnya berembus dengan kasar sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


"Non, Nona baik-baik saja?" tanya Bibi.


"Sudah Bi, Soya baik-baik saja yang penting saat ini anak yang ada dalam kandungan Soya tumbuh sehat dan kuat," jawab Soya sembari tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Soya semakin menikmati sore ini, meskipun dengan perut buncit Soya berusaha menyapa beberapa anak kecil yang sedang bermsin senyum Soya terus terkembang saat langkahnya tiba-tiba terhenti menatap tak percaya sosok yang ada di depannya. "A- Ayah! Ayah ...." Panggil Soya.


Bibir Soya seketika kelu dan tubuhnya gemetar, Soya seketika meringis menahan sakit diperutnya masih berdiri menatap tak percaya dan tangan Soya langsung meraih tangan sang bibi untuk mencari pegangan.


"Bi. A- Ayah, kenapa Ayah Guntur bisa ada di sini?" tanya Soya bingung.


"Non. Non Soya sebaiknya duduk dulu!" titah sang bibi lirih.


"Soya, bagaimana kabar kamu Nak?" tanya tuan Guntur dengan suara tercekat.


Soya tak menjawab dan kini Soya memeluk tuan Guntur erat yang terdengar hanya tangisan Soya. "Maafkan Soya Ayah, Soya ...." Soya hanya bisa menangis.


Cukup lama Soya memeluk sang ayah mertua hingga Soya melepas pelukannya dan mengikis air matanya. Soya terkejut saat melihat sang ayah mertua tersenyum dan tak ada kemarahan sedikitpun dari sorot matanya. "Anak bandel, kenapa kamu meninggalkan rumah, maafkan Danendra," ujar sang ayah lirih.


Soya tak menjawab bibirnya terasa kelu hanya senyum di bibirnya yang terlihat. "Ayah senang, keadaan kamu sehat dan bagaimana kabar cucu Ayah?" tanya sang ayah sembari duduk di samping Soya.


"Bi, terima kasih sudah menjaga Soya dan cucu saya," ucap Tuan Guntur.


"Ya, Tuan. Saya akan terus menjaga Non Soya," jawab sang bibi.


Soya semakin menunduk dan memegang perutnya, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul di benaknya. Soya berulangkali menggeleng tak percaya saat dirinya bertemu kembali dengan sang ayah mertua. "Kenapa apa yang membuat kamu risau?" tanya sang ayah mertua.

__ADS_1


"Ayah tidak marah, Ayah menyadari semua sikap kamu dan Ayah di sini yang merasa bersalah karena tak bisa mendidik Danendra dan membiarkan Cintya menguasai Danendra. Maafkan Ayah," sesal Tuan Guntur.


Soya semakin menunduk seakan tak percata dengan semua yang di dengarnya. "Ayah ... jangan merasa seperti itu, Soya tidak menyalahkan Ayah yang bersalah di sini adalah Mas Andra, jika Mas Andra busa mengambil sikap tegas Soya yakin semua tak akan seperti ini. Maaf jika Soya pergi tanpa berpamitan," tutur Soya sembari mengangkat wajahnya.


"Ayah, maafkan."


Soya baik bibi maupun Tuan Guntur sama-sama terdiam mereka seakan sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Soya kembali meringis saat merasakan tendangan dari perutnya sembari mengusap perlahan Soya berusaha untuk berdiri. Menatap sejenak ke arah sang ayah mertua.


"Ayah, Ayah mau mampir ke rumah?" tanya Soya sembari memegang perutnya.


Tuan Guntur tak menjawab hanya tatapan matanya yang berkaca-kaca, beribu-ribu penyesalan terlihat jelas dari sorot matanya.


"Soya, seharusnya di saat seperti ini. Ada Danendra di sisi kamu tetapi ...." Tuan Guntur tak melanjutkan ucapannya, hanya mengikis air mata yang tiba-tiba turun.


"Maafkan Ayah mertua kamu ini dan Danendra." Lagi-lagi sang Ayah mertua mengucapkan kata maaf bukan hanya untuk dirinya tetapi untuk Danendra juga.


"Soya, Ayah akan terus memantau dari jauh, Ayah juga akan menutupi keberadaan kamu di sini. Harapan Ayah jaga cucu Ayah," tutur Tuan Guntur dan berdiri.


Tuan Guntur menatap lekat wanita yang berulangkali tersakiti oleh anaknya, wanita tangguh yang tak ingin harga dirinya di sia-siakan begitu saja. Tuan Guntur paham jika saat ini keputusan yang di ambil Soya adalah keputusan yang paling tepat. Keputusan sepihak yang membuat Soya menjadi pribadi yang kuat.


"Ayah pulang dan simpan ini baik-baik untuk cucu Ayah, kabari Ayah jika cucu Ayah sudah lahir," pamit tuan Guntur, "oh, ya Bi, tolong jaga cucu dan Soya," titah tuan Guntur.


"Baik Tuan," jawab sang bibi.


Setelah mengatakan semua ini Tuan Guntur segera berlalu tanpa menoleh kembali ke arah Soya maupun sang bibi. Pertemuannya dengan Soya semakin membuatnya terpukul dan membuat Tuan Guntur menyesali semuanya. Ada ruang di hatinya yang ikut tersakiti melihat Soya, mantan menantunya dan calin cucu yang tak mengetauhi siapa ayahnya nanti.


"Bodoh, kamu Danendra. Semoga kamu tak menyesal nantinya," gerutu Tuan Guntur kesal.


Sementara itu Soya masih menatap laki-laki tua yang melangkah dengan gontai, laki-laki yang mau memaafkan kesalahannya dengan lapang hati masih menerima Soya. "Maaf Ayah, meskipun sekarang status Soya seperti apa di hadapan Ayah tetapi saya bersyukur jika Ayah masih menganggap Soya sebagai anak," guman Soya sembari meringis.


"Bi, kita pulang," ajak Soya dan meraih tangan sang bibi.

__ADS_1


__ADS_2