RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 21. Menjalankan rencana


__ADS_3

Bu Muji hanya bisa menatap Soya heran, sudah satu minggu ini Soya nampak murung. Bu Muji tak berani bertanya ataupun menegur Soya. Soya seakan tak mempunyai semangat untuk berjualan, kue yang di bawa Soya juga masih tersisa banyak. Hingga di suatu sore, " Bu, Soya minta maaf jika beberapa hari ini dagangan kue Ibu masih tersisa," tutur Soya lirih. Bu Muji yang sangat paham dengan kondisi Soya hanya tersenyum, "Soya, Ibu enggak apa-apa, lagi pula rezeki juga ada yang mengatur Soya," ujar Bu Muji berusaha menenangkan Soya.


Soya hanya terdiam dan menyerahkan hasil uang penjualan siang ini. "Soya pulang Bu," ujar Soya malas. "Hati-hati Soya," ujar bu Muji sembari menatap Soya hingga menghilang dari pandangannya. Bu Muji seketika terkejut saat tiba-tiba di depannya berdiri seorang laki-laki yang tak pernah bu Muji lihat. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya bu Muji pelan.


Laki-laki ini hanya tersenyum sembari menatap bu Muji, "bisa saya bicara dengan Anda?" tanya laki-laki ini sopan.


"Maksud Tuan?" tanya bu Muji tak paham.


"Em ..., boleh kita bicara di dalam?" tanya laki-laki ini sopan.


Bu Muji terdiam sesaat seakan sedang memikirkan sesuatu, "bagaimana Bu?"


"Oh, silahkan," jawab Bu Muji.


Setelah memasuki rumah sederhana milik bu Muji, laki-laki ini tanpa sungkan langsung duduk di sofa yang sudah terlihat berlubang, tanpa ada tatapan jijik. "Kenalkan saya Pak Guntur, maaf! Jika kedatangan saya menganggu kegiatan Ibu," jawab pak Guntur pelan.


"Em ..., memang ada apa, sehingga Pak Guntur datang ke rumah saya?" tanya Bu Muji.


"Maaf, ini tentang Soya," jawab Pak Guntur pada intinya.


"So-Soya ...?" tanya bu Muji terkejut.


"Ya, ini tentang Soya!" jawan Pak Guntur tegas.

__ADS_1


Bu Muji hanya bisa menatap heran, "Bu, sebelumnya saya meminta maaf, tetapi demi kebaikan Soya, saya harap Anda bisa membantu dan mendukung saya," tutur Pak Guntur. "Maksud Tuan apa?" tanya Bu Muji lagi.


"Apa, Anda akan membantu saya dan tak membocorkan rahasia ini?" tanya Pak Guntur memastikan.


"Tuan maksud Anda apa dan bantuan apa yang Tuan kehendaki," ujar Bu Muji.


Pak Guntur terdiam sesaat sebelum memulai ceritanya, pak Guntur dengan detail menceritakan maksud dan tujuannya pada Soya hingga akhirnya, "Bagaimana? Apa Anda akan membantu saya?" tanya Pak Guntur.


"Tuan, jika saya menyetujui saran Anda, saya tak tega melihat Soya dan saya takut Soya akan kehilangan pekerjaan," jawab bu Muji tak tega.


"Terserah Anda, tetapi perlu Anda ingat saya akan melaporkan Anda karena tanah yang Anda bangun ini juga ilegal, bagaimana? Anda pergi dengan sukarela dan dengan uang ganti rugi dari saya atau Anda pergi dengan tangan kosong," ucap Pak Guntur tenang tetapi menekan.


Bu Muji yang berada dalan posisi bersalah akhirnya hanya bisa menunduk takut, "baik Tuan saya akan pergi dan sesuai janji Anda saya akan membantu," ujar Bu Muji akhirnya.


"Siap Tuan," jawab Bu Muji tersenyum puas.


Setelah urusan pak Guntur dan bu Muji selesai, pak Guntur langsung pergi dari rumah Bu Muji, sejenak pak Guntur berhenti dan sesaat tersenyum, "Soya semoga ini jalan yang terbaik untuk kamu," ujar pak Guntur lirih dan kembali melanjutkan langkahnya.


Pak Guntur melangkah tenang menuju area parkir di belakang pertokoan. Para juru parkir langsung menyapa hormat begitu mengetauhi siapa yang datang. "Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu jukir.


Pak Guntur seketika tersenyum saat mendapat sambutan keramahan dari salah satu jukir yang paham akan kedatangannya.


"Hebat kamu, kamu begitu paham dengan kedatangan saya," ujar pak Guntur

__ADS_1


"Ayo, kita bicara di taman saja," ujar pak Guntur sembari melangkah lebih dulu. Setelah tiba di taman pak Guntur langsung berbicara pada intinya, hingga jukir di depannya paham dan mengerti. "Bagaimana kamu bisa membantu?" tanya Pak Guntur memastikan. "Siap Tuan," jawab Jukir paham.


"Terima kasih," jawab Pak Guntur sembari tersenyum. "Maaf, Soya," guman pak Guntur lirih. Pak Guntur hanya bisa tersenyum dan mengambil napas dalam-dalam dan menbuangnya dengan kasar. Namun, tatapan pak Guntur kini terlihat sendu. Pak Guntur seakan sadar jika Soya akan begitu tersakiti dengan rencana ini.


Berbeda dengan pak Guntur, berbeda pula dengan bu Muji, selepas kepergian tuan Guntur tangis bu Muji seketika luruh, begitu banyak penyesalan saat mengambil keputusan ini. "Maafkan ibu Soya, semua ini bukan keinginan ibu tetapi ketegaan sikap ibu demi kebaikan Soya ke depannya," ujar bu Muji tergugu dalam tangisnya. Hingga malam menjelang bu Muji baru menghentikan tangisnya, bu Muji masih belum percaya bahwa wajah cantik Soya akan pergi begitu saja dengan perasaan kecewa dan sakit hati.


Bu Muji hanya bisa menatap uang yang ada di depannya, "andaikan saya tak berjanji dengan Tuan Guntur, ibu pasti akan membagi uang ini dengan kamu Soya," guman bu Muji pelan.


Selamat tinggal Soya dan semoga kamu bisa menjalani hidup ini dengan tenang dan ibu akan pulang kampung dan akan membuka usaha di sana," guman bu Muji lirih.


Bu Muji memilih mengambil buku dan menuliskan sesuatu di dalamnya, bu Muji tak bisa membohongi perasaannya sendiri saat ini, bahwa Soya adalah gadis baik yang selama ini bersamanya. Bu Muji, segera menyimpan uang yang di terimanya dan langsung mengemas barang-barang yang di perlukan dan di anggap penting. Hingga subuh bu Muji berkemas. Setelah semuanya beres bu Muji bergegas mandi. Menunggu pagi menjelang dan kedatangan Soya, Bu Muji menyempatkan diri untuk merebahkan tubuhnya sejenak. Hingga ketukan di pintu yang terdengar berkali-kali.


"Ya. Allah, ternyata udah jam sembilan pagi," ujar bu Muji terkejut.


Bu Muji sekerika sadar jika Soya pagi ini datang mengambil kue, bu Muji berusaha setenang mungkin saat membuka pintu.


"Pagi Bu," sapa Soya dan masuk ke dalam rumah begitu saja.


"Tumben Ibu kesiangan, enggak apa-apa Soya jual siang ini hingga sore Bu," ujar Soya tanpa melihat kondisi rumah bu Muji.


Bu Muji yang masih berdiri di muka pintu sudah berusaha sebisa mungkin menahan air matanya agar tak turun lagi. Hingga Soya tersadar akan tatapan bu Muji. "Bu, kenapa Ibu masih berdiri saja, lalu mana kuenya?" tanya Soya heran. Sementara itu Bu Muji langsung menangis dan mendekap Soya erat.


"Bu, ada apa?" tanya Soya heran.

__ADS_1


__ADS_2