
"Bu, ada apa?" tanya Soya heran. Bu Muji tak menjawab pertanyaan Soya, tetapi tangis bu Muji membuat Soya sadar. "Bu, Ibu-ibu akan kemana?" tanya Soya saat melihat tas besar milik bu Muji tergeletak begitu saja di sisi pintu. Bu Muji segera melepas pelukannya dan membimbing Soya untuk duduk.
"Soya. Maafkan Ibu, bukan maksud Ibu untuk pergi tetapi ada hal yang lebih penting saat ini. Ibu akan pulang kampung entah untuk berapa lama dan satu hal lagi, Soya tak perlu datang untuk membersihkan rumah besar karena pemilik yang baru sudah mempunyai asisten jadi ... "Bu Muji tak melanjutkan ucapannya, hanya tangis penyesalan bu Muji saja yang terus terdengar.
Soya masih duduk di tempatnya, wajah Soya kini terlihat begitu putus asa. Soya seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Jadi-jadi ibu akan pergi dan rumah besar itu" ujar Soya pelan dan setelahnya Soya hanya terdiam dan berkali-kali menghembuskan napas berat.
Soya langsung berdiri dan memeluk bu Muji erat, "Bu, Soya minta maaf jika selama ini Soya banyak salah," tutur Soya pelan dan tak lama sudah keluar dari rumah Bu Muji.
Soya dengan langkah lesu berjalan dengan tatapan yang sulit di artikan, tubuhnya yamg semakin kurus dan wajahnya yang tampak tirus membuat Soya semakin lusuh. Langkah Soya terhenti sejenak, duduk di trotoar menghadap rumah Bu Muji, "Apa yang harus saya lakukan, sumber penghasilan Soya sudah lenyap," guman Soya lirih tak urung air mata Soya luruh juga, duduk meringkuk di trotoar dengan berbagai pikiran.
Cukup lama Soya berlaku demikian, hingga teguran dari seorang temannya, "Soya, ada apa?" tanya anak gadis seumuran Soya. "Akh, tak ada apa-apa," jawab Soya sembari berdiri dan berjalan menuju parkiran. Langkah Soya terhenti begitu saja saat melihat teman satu pekerjaanya datang menghampiri Soya dengan wajah yang tak seperti biasanya.
"Hai. Soya!" tegur Remon.
"Kak, Remon.Ada apa?" tanya Soya pelan.
"Yuk, kita bicara di taman. Kamu sudah makan?" tanya Remon menyelidik.
__ADS_1
"Kak, kenapa kita ke taman bukannya ini jadwal kita untuk parkir?" tanya Soya heran sembari mengikuti langkah Remon.
Remon yang mendengar pertanyaan Soya hanya bisa tersenyum miris ada kesedihan hati yang Remon tutupi, "Ah, ayo ada sesuatu yang harus Remon bicarakan dengan Soya," tutur Remon. Remon seketika duduk begitu saja di taman sementara Soya langsung mengambil duduk di sisi Remon dengan tatapan penasaran. Remon menatap Soya sejenak, sesaat lidah Remon membeku tak tega. "Hai! Kenapa diam. Ada apa?" tanya Soya bingung.
"Soya, bagaimana perasaan Soya hari ini?" tanya Remon menyelidik sebelum mengutarakan maksudnya.
"Agh, Soya sedih. Bu Muji pulang kampung untuk selamanya sementara rumah besar itu sudah memiliki asisten baru, Remon tahu? Pagi ini pagi yang begitu menyedihkan," cerita Soya lirih.
Remon yang mendengar cerita Soya, seketika menelan ludahnnya, ada rasa sedih di hatinya antara perasaan tak tega dengan apa yang akan di ucapkan nanti. "Soya, setelah ini apa yang akan kamu lakukan?" tanya Remon pelan. "Entalah, rasanya otak Soya buntu. Soya akan cari kerja saja," ujar Soya lirih.
"Kemana?"
"Jangan. Jangan memulung Soya," ujar Remon tak tega.
"Lalu?" tanya Soya pelan.
Remon tak menjawab toh apapun usaha yang akan Soya lakukan pastinya akan menemui jalan buntu, karena Remon sadar siapa yang Soya hadapi sekarang. "Remon, ada apa?" tanya Soya gusar. Remon, diam dan menatap lekat Soya, "maaf. Soya," ujar Remon pelan.
__ADS_1
"Soya, maaf. Semalam pimpinan meminta saya untuk menyampaikan pada Soya dan pimpinan berpesan supaya Soya berhenti menjadi jukir dengan alasan pimpinan tak menerima jukir wanita," ujar Remon pelan sembari melirik ke arah Soya.
Soya kini hanya diam mendengar ucapan Remon, tatapan Soya seketika menatap jauh tanpa tujuan, tatapan sedih, kecewa dan putus asa yang menjadi satu antara percaya dan tidak dengan apa yang di dengarnya.
"Soya ..." panggil Remon lirih. Remon tak lagi memanggil tetapi memilih diam menunggu Soya, hingga Soya sadar dari lamunannya.
Hingga beberspa saat Soya menatap Remon dengan tatapan tak percaya, "Remon, terima kasih," tutur Soya tercekat dan kemudian berdiri meninggalkan Remon. Remon masih mengekor langkah Soya, hingga Soya memasuki rumah Remon baru meninggalkan Soya.
Di dalam rumah Soya hanya bisa terduduk lemas Soya tak menyangka jika pagi ini Soya harus kehilangan tiga pekerjaan sekaligus. Soya masih dengan rasa tak percaya duduk terdiam, "Bodoh-bodoh! Andaikan Soya melanjutkan sekolah pasti Soya bisa bekerja di tempat yang lebih baik," tutur Soya penuh penyesalan. Berkali-kali Soya merutuk dan memutar otak mencari jawab atas tanyanya sendiri. "Jika seperti ini bagaimana Soya bisa melunasi hutang dan kutu kupret itu. Ash ..., apa Soya pergi saja," tutur Soya sendiri.
Soya seketika melihat ke arah jam saat menyebut kutu kupret, "Ash ini juga waktunya kutu kupret menagih," tutur Soya sembari berdiri dan menutup tirai serta mengunci pintu rapat-rapat dan Soya masuk dalam kamar sang ibu. "Huffftt ..., jika terus begini," tutur Soya terhenti saat mendengar ketukan di pintu berulang kali, "masa bodoh," tutur Soya sembari menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Hampir satu jam ketukan di pintu baru terhenti dengan teriakan- teriakan yang memekakkan telinga. "Ini baru sehari," guman Soya pelan.
Setelah situasi mereda Soya turun dari ranjang, mengambil tas punggung andalan. Soya seketika sadar jika buku catatan hutang miliknya masih di Kak Zulhan. "Haduh, bagaimana ini? Uang persediaan Soya tinggal seratus ribu," ujar Soya bingung.
Soya kembali terdiam, menatap uang dalam genggamannya, "Hash! jika begini bunga pinjaman akan terus bertambah," ujar Soya bingung dan putus asa. Soya kembali terdiam saat mendengar Suara Danendra keras memanggil dan mengetuk pintu dengan kasar. Beberapa warga yang menegur Danendra seketika terdiam dan membiarkan Danendra melakukan aksinya. "Kamu kenapa tak pergi saja Soya?" tanya Soya akhirnya.
Danendra seakan tak pernah berhenti sehar ini sudah empat kali Danendra menagih dan selalu marah dam mengancam, Soya semskin menutup mulutnya rapat dan tak berani bergerak. Soya hanya menatap uang serstus ribu yang di pegangnya. "Lantas Saya akan pergi kemana dengsn uang seratus ribu ini?" tutur Soya lemas pada akhirnya.
__ADS_1
Merasa tak menemukan jalan keluar akhirnya Soya memilih untuk pasrah dan berdiam, Soya akhirnya tertidur juga dalam kekalutan hatinya. Hingga tengah malam, suara ketukan pelan Soya dengar dan itu membuat Soya bertanya-tanya, "mungkin Kak Zulhan," guman Soya lirih sembari membuka selimut dan perlahan turun dari ranjang dan tak lama Soya mengurungkan niatnya. "Agh ..., tak mungkin jika Kak Zulhan ini tengah malam," guman Soya lirih.