
Zulhan yang sejak tadi melihat Soya kini hanya bisa diam, menatap netra Soya yang berembun dan Zulhan tahu Soya berusaha menahan agar air matanya tak jatuh di hadapan Zulhan. "Soya, istirahat saja, kunci pintu dan yang perlu Soya ingat, jaga Ibu," ujar Zulhan sembari berlalu.
Selepas kepergian Zulhan Soya langsung mengunci pintu, tangis yang sedari tadi berusaha Soya tahan akhirnya turun juga, "Bu, apa yang harus Soya lakukan," ujar Soya tergugu di balik pintu, tubuh Soya yang lelah kini sudah duduk meringkuk di balik pintu dengan tangisnya. Berkali-kali Soya berusaha mengatur hati, berusaha menguasai keadaan yang kenyatanya benar-benar menyudutkan Soya. "Huuff ... "hanya ini yang terus keluar dari bibir Soya hingga beberapa lama Soya masih duduk dengan gusar.
Hingga batuk kecil sang Ibu Soya memilih berdiri menuju kamar sang Ibu, Soya saat ini hanya membutuhkan ketenangan, Soya memilih menyusup dan memeluk tubuh sang Ibu, Soya menatap lekat wajah cantik yang kini terlihat kurus dan tak terawat. "Bu, hanya satu keinginan Soya, temani Soya hingga Soya mampu dan bisa melewati semua ini Bu," tutur Soya lirih dan memejamkan mata.
Hingga pagi menjelang Soya terbangun saat merasakan genggaman tangan sang Ibu yang di rasakan Soya begitu erat, Soya dengan mengercap berusaha menetralkan pandangannya, sesaat Soya terkejut saat menatap wajah sang Ibu yang terlihat pucat.
Soya, perlahan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman sang Ibu, "Bu, Soya tak akan pergi kemana pun, kenapa Ibu memegang tangan Soya erat sekali," tutur Soya yang masih belum sadar akan kondisi sang Ibu.
"Bu!" panggil Soya sembari bangun dari tidurnya. Soya merasa heran saat tangannya begitu sulit untuk di lepas dan Ibu tak merespon panggilan Soya dan gerakan tangan Soya. "Bu, jangan membuat Soya takut. Bu, bangun," ujar Soya pelan.
Berulang kali Soya mengguncang tubuh sang Ibu. "Bu. Tidak-tidak, jangan begini Bu," ujar Soya tak percaya saat menyadari kondisi sang Ibu. "Bu, kenapa Ibu tega pada Soya, kenapa Ibu tak meluluskan keinginan Soya, kenapa Ibu ... ucapan Soya terhenti dan memeriksa nadi sang Ibu. Bu ..." tangis Soya kini sudah memenuhi kamar, Soya tak percaya jika saat ini sang Ibu sudah berpulang, Soya kini hanya bisa memeluk tubuh sang Ibu yang tengah terbujur tak bernyawa.
__ADS_1
Penyesalan Soya kian menyeruak di hati, "Bu, kenapa Ibu memilih meninggalkan Soya dan membiarkan Soya menghadapi semuanya sendiri, Soya tak mampu jika harus menanggung beban ini sendiri Bu, lalu kemana dan pada siapa Soya akan mencari tempat untuk menenangkan hati Soya," tutur Soya di sela-sela tangisnya.
Berulangkali Soya merancau marah dan terus menyesal pada jasad sang Ibu yang ada di depannya. Hingga tengah hari Soya baru menyadari semua keadaan yang terjadi, perlahan Soya berdiri dan melangkah keluar, membuka pintu lebar-lebar masih dengan tergugu Soya berusaha meminta bantuan pada tetangga terdekat.
Soya hanya bisa terduduk diam di depan jasad sang Ibu yang tengah di kafani, genap tiga bulan kematian sang Bapak ternyata sang Ibu memilih menemani sang Bapak. Air mata Soya kini tak luruh lagi, saat ini yang terlihat hanya tatapan tersakiti, Soya begitu patah hati dengan kepergian sang Ibu. Hingga pemakaman yang dengan cepat di selesaikan.
Langkah pelan Soya dengan tatapan kosong membuat Zulhan selalu mengekor langkah Soya dari belakang. "Soya," panggil Zulhan akhirnya. Soya hanya menoleh sekilas dan kembali berjalan tanpa menjawab dan bersuara dan mengabaikan Zulhan begitu saja. Langkah Soya terhenti saat memasuki rumah, "Kak Zulhan pulang saja, saat ini Soya ingin sendiri," ujar Soya pelan dan tak lama menutup pintu dan menguncinya.
Soya hanya duduk meringkuk menatap kosong, kesedihan yang Soya rasakan semakin menjadi saat kejadian semalam kini sudah tergambar jelas dalam ingatannya.
Entah, apa yang saat ini terlintas dalam benak Soya, rasa sakit dan kecewa kini jelas terlihat dari wajah Soya, tetapi tatapan mata Soya menatap tajam dan penuh amarah sedangkan bibir Soya tersenyum sinis. Soya kini memilih berdiri, membersihkan tubuh hingga tak lama kemudian Soya sudah keluar dengan wajah yang lebih segar. Sesaat Soya menatap rumah yang Soya tinggali, tetapi Soya hanya bisa tersenyum getir. Duduk termenung di dalam kamar, hingga lamunan Soya terberai saat mendengar suara ketukan di pintu berulang kali, tanpa suara Soya dengan malas menuju ruang tamu dan mengintip melalui tirai yang tertutup rapat. Soya hanya melihat sekilas dan memilih membiarkan ketukan pintu terus berulang dan berhenti dengan sendirinya.
Soya memilih duduk dan mengambil mukena, perlahan Soya memanjatkan doa untuk sang Ibu, hingga malam menjelang Soya baru menyelesaikan doanya. "Maaf. Bu, jika hanya doa ini yang bisa Soya kirimkan, Soya ikhlas Bu dan semoga Ibu tenang," ujar Soya pelan.
__ADS_1
Soya masih enggan pergi dari tempatnya, saat ini tempat ternyaman dan membuat Soya tenang adalah kamar. Soya hanya bisa mengikis air mata yang tiba-tiba turun kembali, "semoga ada rezeki yang bisa menutup semua hutang Bapak, jika tidak apa rumah ini saja yang Soya jual, tetapi ..." ucapan Soya terhenti begitu saja, kini Soya memilih tidur meringkuk di atas sajadah.
Keadaan rumah yang sepi dan dalam kesendiriannya Soya sadar banyak beban dan tanggung jawab yang akan Soya pikul. "Soya kamu harus bisa dan kuat," guman Soya sembari terlelap pada akhirnya.
Pagi menjelang, Soya sadar ini pagi pertama untuk Soya tanpa sang Ibu, tetapi Soya kini tak ingin terus larut dalam kesedihan, cukup banyak kesedihan yang harus Soya rasakan, saat ini yang ada dalam pikiran Soya, Soya harus bangkit dan bekerja keras. Mengawali pagi ini Soya hanya ingin membersihkan rumah, membereskan semua barang yang lama tak tersentuh tangan untuk di bersihkan.
Ketukan di pintu kembali terdengar, Soya dengan malas mengintip melalui tirai, Soya hanya berdiam beberapa saat mengetauhi siapa yang datang. "Kak Zulhan," guman Soya pelan dan membuka pintu rumah.
"Ada apa?" tanya Soya sembari berdiri di depan pintu. "Soya, ini dari Ibu, makanlah untuk sarapan," ujar Zulhan sembari menyerahkan satu kantong kresek makanan yang terbungkus rapi.
"Soya, setelah ini kunci pintu dan jangan hiraukan siapapun yang mengetuk pintu rumah Soya, jangan bekerja dulu, Soya masih dalam masa berkabung," ujar Zulhan pelan.
"Kak Zulhan pergi dan ingat pesan Kak Zulhan."
__ADS_1
Soya langsung mengangguk dan kemudian menutup pintu dan menguncinya, "terima kasih Kak Zulhan," ujar Soya pelan.