RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 103. Kekesalan Soya


__ADS_3

"Kamu! Apa yang kamu lakukan!" pekik Soya kesal.


Mendengar Soya marah Danendra hanya bisa tersenyum kecut, menatap wajah yang menatapnya tajam. Diandra langsung bersembunyi di belakang Danendra bersembunyi di tubuh Danendra dan tangannya memegang ujung baju Danendra.


Sesekali Diandra mengintip ke arah sang ibu dengan takut.


"Ash ... kenapa kamu marah, lihat Diandra jadi takut. Kami hanya bermain dan Diandra tanpa sengaja jatuh, tak ada luka hanya saja saya merasa khawatir, itu saja," terang Danendra pelan.


Soya masih menatap tak suka setelah mendengar jawaban Danendra. "Diandra. Ayo, masuk!" seru Soya akhirnya.


Diandra yang takut hanya menggeleng dan bersembunyi di punggung Danendra. Melihat sikap Diandra, Soya semakin kesal dengan langkah tergesa menghampiri Diandra menatap anak gadisnya dengan kesal. Danendra yang melihat kemarahan Soya, tak ingin Diandra tersakiti. Saat Soya makin mendekat Danendra merentangkan tangannya mencegah agar Soya tak bisa meraih tangan Diandra.


Kemanapun langkah Soya pergi Danendra berusaha untuk tetap menjaga tubuh Diandra agar tak di sentuh oleh Soya. Sementara itu, Diandra terus mengekor langkah Danendra hingga Soya sadar akan kelakuan mantan suamianya. "Dasar kutu kupret!" umpat Soya sembari bersungut-sungut kesal.


Mendengar ucapan mantan istrinya Danendra tersenyum senang, ternyata Soya masih mengingat panggilan untuknya saat dia marah. "Hey, Koya!" teriak Danendra dan teriakan itu membuat Soya menghentikan langkahnya dan kembali menatap marah.


"Kamu!" pekik Soya sembari menatap ke arah Danendra dan bergantian ke arah Diandra.

__ADS_1


"Om, Diandra takut. Om ... Diandra, 'kan, sudah bilang jangan buat Ibu marah," bisik Diandra lirih sembari memengang erat tubuh Danendra.


"Dia ... Ndra, masuk!" teriak Soya kesal.


Diandra yang takut akhirnya melepas juga pegangan tangannya dan melangkah perlahan menuju ke arah sang ibu dengan langkah pelan dan tertunduk. Melihat Diandra yang ketakutan membuat Danendra tak tega karena semua adalah rencananya dan Diandra. "Oh, jadi begini cara kamu memarahi anakmu, Koya!" seru Danendra sembari meraih tangan Diandra.


"Diandra kita ke rumah Kakek, kita adukan Ibu kamu," ujar Danendra mencari masalah baru.


"Tapi, Om. Hanya sekali ini Ibu marah besar," bisik Diandra pelan.


"Husstt ... Diandra diam saja," jawab Danendra.


Sementara itu, Diandra melihat ke arah Danendra dengan tatapan penuh tanya.


"Om, kenapa Ibu memanggil Om, kutu kupret? Lalu kenapa Om, memanggil Ibu Koya?" tanya Diandra penasaran.


Danendra sesaat tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Diandra dan duduk berjongkok menatap wajah Diandra lekat.

__ADS_1


"Itu rahasia, jadi hanya kita bertiga saja yang tahu," jawab Danendra sembari menoel hidung Diandra.


"Ayo, masuk! Nanti Ibu kamu akan semakin marah dan Om akan meminta maaf begitu juga Diandra, tetapi ingat kapan-kapan kita akan melakukan ini lagi. Bagaimana, Diandra mau?" tanya Danendra pelan.


Diandra langsung menggeleng dan segera berlari masuk dalam rumah. Danendra yang menatap Diandra hanya tersenyum sembari mengekor langkah Diandra. Namun, belum satu langkah dirinya bergerak, bibir Danendra seketika berteriak keras saat melihat Diandra jatuh.


Bibi dan Soya yang mendengar teriakan Danendra bergegas keluar masih dengan sorot matanya yang tajam. "Soya, Diandra!" teriak Danendra memburu dan langsung menghampiri Diandra.


"Nona kecil? Apa yang terjadi, Tuan ... tolong Non Diandra!" teriak Nekbi kencang.


Soya langsung mengekor langkah Danendra dan ikut masuk dalam mobil. Danendra yang merasa cemas akan kondisi Diandra langsung melajukan mobil dengan kencang. Selama dalam perjalanan Danendra terus merasa khawatir saat melihat Diandra pingsan dan Soya terus menangis memangku Diandra.


Tak ada percakapan saat ini yang terlihat hanya kecemasan sepasang orang tua pada anaknya. Danendra berulang kali melirik ke arah Soya, dirinya seakan menemukan satu perasaan yang tak pernah bisa ia pahami.


Hingga mobil berhenti di area parkir rumah sakit. Danendra bergegas keluar dan mengambil Diandra, berlari secepat mungkin menuju UGD.


Soya hanya bisa menatap tak percaya, dirinya tak menyangka jika Danendra akan melakukan itu pada Diandra yang nyata memang anaknya. Soya bergegas menuju ruang UGD di mana Danendra terlihat duduk dengan cemas. Soya sedikit terkejut saat seorang suster memanggil, Danendra segera berdiri dan menghampiri. "Ya, saya Ayah dari Diandra," jawab Danendra dan itu membuat Soya langsung terduduk lemas dan tak percaya.

__ADS_1


Soya masih dengan semua pemikirannya saat Danendra mendekat dan menarik tangannya.


"Ayo!" ajak Danendra tiba-tiba.


__ADS_2