RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 96. Siapa Dia


__ADS_3

Langkah Danendra terhenti saat melihat beberapa mainan yang teronggok di sudut ruang tengah. Danendra sedikit menyengitkan dahi tak percaya dan cukup lama Danendra termenung.


"Kamu sudah pulang?" tanya sang ayah mengejutkan.


"Oh, Ayah. Baru saja Danendra masuk," jawabnya sembari duduk dan menatap mainan di sudut ruangan.


"Yah, apa di rumah kita ada anak-anak?"


Tuan Guntur seketika terkejut dan sadar akan pertanyaan Danendra dan kemudian hanya tersenyum. Entah apa yang sedang ada di pikiran Tuan Guntur. Tuan Guntur hanya memeluk Danendra erat dan mengelus bahunya perilaku yang tak pernah Tuan Guntur lakukan.


"Beruntung kamu masih mengingat rumah ini," tukas Tuan Guntur sambil berlalu.


"Ayah, kenapa Ayah bicara seperti itu. Setiap tahun Danendra juga mengunjungi Ayah," protes Danendra tak terima.


"Ya, sudah istirahat saja." Tuan Guntur sembari masuk dalam kamar, tetapi tak urung bibirnya tersenyum.


Sementara itu, Danendra tak kunjung masuk dalam kamar masih menatap sudut ruang tengah hingga beberapa kemudian.


"Ash! Apa Ayah?" tanya Danendra sembari menggeleng tak urung kakinya masuk juga dalam kamar dan memilih segera terlelap.


Pagi hari, masih petang Tuan Guntur sudah pergi dari rumah bersama Pak Muin, Tuan Guntur mendatangi rumah Soya untuk menjemput Diandra. Namun, keinginan Tuan Guntur tertahan saat Soya menolak keinginan Tuan Guntur.


"Maaf, Ayah. Diandra semalam panas dan sepertinya Diandra belum sehat," ujar Soya memastikan.


"Sakit ?" tanya Tuan Guntur dan berdiri menuju kamar Diandra.


"Kakek," sapa Diandra pelan sembari bangkit dari tidurnya.


"Kenapa, apa yang sakit sayang?" tanya Tuan Guntur sembari memeluk Diandra.


"Diandra sehat, coba Kakek sentuh dahi saya, enggak panas, 'kan," ucap Diandra mencoba untuk memastikan.


Tuan Guntur sesaat tersenyum. "Benar Diandra sudah sembuh badanya juga dingin," jawab Tuan Guntur memastikan.


"Istirahat dan jangan banyak bermain dulu," tutur Tuan Guntur.

__ADS_1


Tuan Guntur berdiri dan langsung memanggil bibi yang sedang sibuk di dapur sementara Soya langsung mengekor langkah Tuan Guntur. "Bi, selama beberapa hari ini jangan ke rumah, jika Diandra ingin ke rumah biar di jemput sama Pak Muin," pinta Tuan Guntur.


Soya seketika menatap heran saat mendengar ucapan Tuan Guntur. "Ayah, ada apa. Apa ...."Ucapan Soya terputus begitu saja saat Diandra sudah menarik bajunya.


"Bu, bolehkan Diandra main ke rumah Kakek, Diandra sudah sehat. lihat Bu, badan saya juga sudah dingin," rengek Diandra sembari menarik baju ibunya.


"Diandra, ingat pesan Kakek!" seru Soya mengingatkan.


"Bu, boleh-bolehkan?" tanya Diandra sembari menarik baju ibunya berulang kali.


Sementara itu, Tuan Guntur langsung tersenyum saat semua triknya berjalan mulus.


"Diandra ... betul kata Ibu," jawab Tuan Guntur.


Mendengar jawaban yang seperti itu Diandra semakin merajuk dan kini sudah menangis.


"Ayah, lihat sikap Diandra," kesal Soya sembari membuang napas kasarnya.


"Ya, sudah. Biar Diandra sama Kakek, tetapi kita harus ke Dokter dulu, bagaimana?" tanya Tuan Guntur memastikan.


Diandra langsung mengangguk mengiyakan semua ucapan sang Kakek. Tuan Guntur bergegas menggendong cucunya dan menggoda Diandra.


Soya yang memperhatikan sikap Tuan Guntur semakin bingung dan langsung menatap tajam pada sang bibi. "Bi, apa yang sedang Ayah rencanakan. Bibi tidak sedang mempermainkan saya, 'kan?" tanya Soya menyelidik.


"Ah. Non, saya tidak berbohong Non," jawab bibi tenang dan langsung mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


Sementara itu, selama dalam perjalanan pulang Diandra tampak tak bersemangat dirinya duduk dengan gelisah seakan merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Sang Kakek langsung tersenyum saat menyadari sikap cucunya.


"Pak Muin, lihat ternyata Diandra merasa gelisah dan .... " Tuan Guntur seketika terkejut saat merasakan tubuh Diandra kembali panas, "Pak Muin kita bawa Diandra ke Dokter yang ada di dekat rumah!" titah Tuan Guntur tiba-tiba.


Pak Muin yang melihat Diandra hanya bisa menatap iba, pak Muin tak menyangka jika Diandra cucu orang terpandang akan mengalami hal yang seperti ini.


"Tuan, apa sebaiknya Anda berbicara jujur pada Tuan muda bagaimana keadaan Non sesungguhnya dan siapa Non kecil," tutur Pak Muin.


"Pak Muin, apa anak saya akan percaya dengan semua yang terjadi, meskipun saya tahu Danendra bersalah dengan mengkhianati menantu saya, tetapi saya ingin anak saya merasa menyesal agar semua ini bisa menjadi pelajaran untuknya," jawab Tuan Guntur pasrah.

__ADS_1


Tuan Guntur hanya bisa menghela napas beratnya sembari tangannya terus mengusap kepala Diandra yang kini tertidur di pangkuannya. Perjalanan yang tak begitu jauh membawa mereka cepat sampai di Dokter praktek langganan mereka. Tuan Guntur langsung menggendong cucunya dan membawa masuk ke Dokter langganan mereka. Setelah beberapa menit kemudian Tuan Guntur tersenyum sembari menggendong Diandra keluar dan kembali mengajaknya masuk dalam mobil.


"Cucu Kakek pasti kuat. Diandra dengarkan apa yang Dokter bilang," tutur Tuan Guntur.


"Kek, apa nanti Diandra boleh bermain?" tanyanya sembari tersenyum.


"Boleh, asal cucu Kakek nanti mau istirahat jika Kakek pinta," ujar Tuan Guntur.


"Terima kasih Kek," jawab Diandra sembari memeluk sang Kakek.


Turun dari mobil Diandra sedikit terkejut saat melihat orang asing yang menatapnya tanpa berkedip. "Kek, Diandra takut," cicitnya sembari menarik baju dan bersembunyi di balik tubuh sang Kakek.


Tuan Guntur yang menyadari tatapan Danendra langsung menggendong sang cucu dan tersenyum. "Jangan takut. Ayo, Kakek gendong." Tuan Guntur sembari meraih tubuh kecil di belakangnya.


"Jaga tatapanmu, kamu membuatnya takut Danendra dan tumben kamu sudah terbangun?" tanya Tuan Guntur tak suka dengan tatapan Danendra.


Danendra seakan tak sadar jika dirinya menatap lekat gadis kecil yang sekarang dalam gendongan sang Ayah.


"Pak Muin, tolong tas dan obat Diandra bawa masuk!" seru Tuan Guntur dan itu mengagetkan Danendra.


Pak Muin tanpa di minta dua kali langsung melaksanakan perintah Tuan Guntur dan langkahnya terhenti saat Danendra menarik tangannya dan menatap curiga.


"Pak, katakan siapa gadis kecil yang di gendong Ayah dan kenapa namanya mirip dengan nama saya?" tanya Danendra menelisik.


"Oh, Diandra? Pak Muin juga enggak tahu Tuan, kadang Tuan besar sering membawanya ke rumah agar rumah tak sepi," jawab pak Muin bohong.


Danendra yang mendengar jawaban Pak Muin segera melepaskan tangannya dan menatap heran ke arah ruang tengah. "Tuan saya masuk dulu," ijin Pak Muin sembari tersenyum.


Danendra yang masih penasaran dengan Diandra kini memilih masuk dan mendekat ke arah sang ayah sementara Diandra memilih bersembunyi di balik tubuh sang Kakek dan memeluk erat tubuh sang kakek.


"Kek, Diandra takut," bisiknya lirih dan enggan melepas pelukannya.


Danendra masih menatap lekat gadis yang bersembunyi di balik tubuh sang ayah yang lama kelamaan membuat dirinya tersenyum dan entah kenapa Danendra merasa jika dirinya merasa ada hal yang membuatnya menghangat saat menatap gadis kecil ini.


Danendra menghentikan tatapannya sesaat saat sang ayah menarik telingannya.

__ADS_1


"Hah, apa yabg ada dipikiran kamu, lihat cucu Ayah jadi takut," jelas sang ayah membuat Danendra terkejut.


"Cucu, apa Ayah ... dan siapa dia Ayah?" tanya Danendra tak percaya.


__ADS_2