
Nella semakin mendengus marah, menatap sesaat ke arah balkon menatap sang ayah dengan kesal. Nella langsung masuk dalam mobil kemudian melaju dengan penuh emosi.
Seharian ini Nella seakan menemui jalan buntu pencarian akan Clara dan kekasihnya Rengga serasa membuat Nella merasa sia-sia. "Argh ...!" guman Nella kesal saat mobil yang di kendarainya hampir membentur trotoar.
Nella memilih berhenti sejenak, menghela napasnya dengan kasar. Umpatan tak urung Nella terima saat motor yang di depanya ikut berhenti tiba-tiba. Nella hanya bisa merutuk marah mendengar umpatan kasar dari pengguna motor. "Menyebalkan!" hanya ini yang keluar dari bibir Nella.
Nella hanya diam, pikiran Nella kini tertuju pada ucapan sang ayah dan dengan tega mengusir Nella. "Apa yang Danendra katakan dan apa ayah .... "Nella memutus ucapannya begitu saja. Perasaan tak tenang kembali menghantui Nella mencoba mencerna setiap kata yang di dengarnya.
"Tidak-tidak, Danendra pasti tak akan bersikap seperti itu. Danendra setia, baik dan tololnya saya," ujar Nella baru menyadari semua kesalahannya.
"Argh! Lalu kemana Rengga?" tanya Nella yang tiba-tiba merasa khawatir akan keadaan sang kekasihnya.
"Hampir enam hari Rengga menghilang," guman Nella sembari menatap ke arah jalan.
Nella kembali melajukan mobilnya secara perlahan sebelum memasuki jalur cepat, melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
Nella sesaat terkejut saat menghentikan mobilnya. "Mobil Danendra," ujar Nella terkejut dan segera keluar dari mobil.
Berkali-kali Nella menekan bel hingga akhirnya Soya keluar dengan wajah yang berkeringat. Nella langsung menatap tak suka ke arah Soya. Tanpa berbicara Nella mendorong tubuh Soya dan masuk dalam rumah. "Mana Danendra?" tanya Nella.
"Tuan muda ada di kamar Non!" jawab Soya sembari menuju dapur dan melanjutkan pekerjaannya.
Nella dengan semangat naik ke lantai atas dengan penuh harapan bahwa Danendra akan menyambutnya dengan hangat. Namun, langkah Nella terhenti saat melihat lantai aras sepi. Nella yang tak tahu malu langsung berusaha membuka pintu kamar Danendra.
"Hash!" umpat Nella saat mengetauhi pintu kamar Danendra terkunci.
Nella hanya bisa memandang pintu yang saat ini tertutup rapat. Nella dengan langkah cepat dan kembali turun ke bawah. "Soya!" teriak Nella memanggil.
"Ya, Non," jawab Soya sembari mematikan kompor.
Nella menatap Soya tanpa berkedip seajan mencari sesuatu yang bisa membuktikan praduganya. "Kapan Danendra datang?" tanya Nella gusar dan tak tenang.
__ADS_1
"Oo ..., Tuan muda datang setelah beberapa menit Non Nella pergi," jawab Soya jujur.
Nella seakan tak percaya mendengar ucapan Soya. "Lalu ...!"
"Lalu apa Non, Tuan muda langsung masuk kamar dan enggak turun lagi," ujar Soya memberitahu.
Soya hanya bisa menggeleng heran, ada sedikit perasaan tak nyaman yang Soya rasakan dari tatapan Nella.
"Nona sudah selesai bertanya, saya akan melanjutkan memasak," ujar Soya akhirnya.
Hingga beberapa menit menunggu dan tak mendapat jawaban akhirnya Soya kembali menuju dapur. Nella masih terus menatap langkah Soya dan benar-benar melepas pandangan saat Nella mendengar pintu di buka. senyum Nella langsung tersungging senang saat melihat siapa yang turun dari lantai atas. Namun, Nella langsung menarik senyumnya saat melihat Danendra menatapnya dengan dingin.
"Sayang ..., kamu sudah pulang?" tanya Nella mencoba menyapa.
Danendra tak menjawab hanya melihat Nella dengan tatapan yang aneh. Hingga langkah Danendra tiba di dapur. "Soya, siapkan makan malamnya dan tolong panggil Nella," ujar Danendra pelan dan menatap Soya lekat.
"Baik, Tuan," jawab Soya menghiyakan perintah Danendra.
Nella yang masih berdiri tak jauh dari Danendra langsung melangkah mendekat dan duduk di dekat Danendra. "Sayang, apa kamu marah?" tanya Nella yang bingung akan sikap Danendra yang menjadi dingin.
Soya langsung duduk sedikit jauh dari Nella dan Danendra. Danendra langsung menatap Soya dan terlihat tak suka. "Pindah dan jangan duduk di situ, duduk di depan saya cepat!" ujar Danendra yang tak ingin di tolak.
Soya yang terkejut memilih beringsut perlahan dan berpindah tempat dan kini Soya benar-benar duduk berhadapan dengan Danendra. "Sayang, kenapa meminta Soya duduk dengan kita?" tanya Nella seperti biasanya.
Danendra seakan tak menghiraukan pertanyaan Nella, Danendra hanya melihat sekilas dan tersenyum sembari menghela napas dalam-dalam seakan berusaha menenangkan hatinya. "Temani saya makan Nella dan setelahnya ada yang ingin saya bicarakan," ujar Danendra sembari tersenyum dan sesaat netranya tertuju pada Soya yang hanya diam mendengarkan sembari menunduk.
"Soya, tolong ambilkan nasi dan lauknya," ujar Danendra memerintah.
Nella yang mendengar ucapan Danendra langsung melotot ke arah Soya. "Sayang biar Nella saja yang menyendokkan nasi dan mengambilkan lauknya," ujar Nella menawarkan diri.
"Nella kamu duduk saja, nikmati saja makan malam ini dan saya meminta pada Soya," ujar Danendra datar.
__ADS_1
Menghadapi dua makhluk yang bersitegang secara dingin Soya hanya bisa mendengarkan dengan bingung. "Soya, cepat apa kamu akan membiarkan saya mati kelaparan," ujar Danendra tanpa emosi.
"Ba-baik Tuan," jawab Soya cepat dan segera melakukan tugas yang di perintahkan.
Sementara itu, Nella hanya bisa menahan rasa kesal dan emosinya yang tiba-tiba tersulut begitu saja. Nella hanya bisa memandang Danendra yang dengan lahap menyantap masakan dan tak henti-henti menatap Soya dengan terang-terangan.
Hingga Danendra menghentikan makannya dan menatap Nella datar.
Cukup lama Danendra menatap Nella dan beralih menatap Soya, Soya yang merasa kikuk dengan tatapan Danendra akhirnya memilih untuk berdiri. "Maaf Tuan, saya ajan membereskan yang di dapur," ujar Soya pelan.
"Soya, duduk dan jangan ke mana-mana!" perintah Danendra aneh.
"Tapi, Tuan!"
"Duduk!" perintah Danendra lagi.
Mendapat perintah berulangkali Soya akhirnya duduk dengan takut dan menunduk.
"Jangan menunduk Soya, tegakkan wajah kamu," ujar Danendra sembari tersenyum.
Nella yang sedari tadi memperhatikan sikap Danendra akhirnya hanya bisa menahan geram di hati, meremas gelas yang di pegangnya dengan penuh emosi. "Nella," panggil Danendra.
Nella hanya tersenyum dan menatap ke arah Danendra. "Bagaimana, apa kamu sudah membuat keputusan?" tanya Danendra tetapi pandangan Danendra tertuju pada Soya dengan penuh pengharapan.
Nella yang mendapat pertanyaan membuat Nella terdiam. "Bagaimana Nella, usia saya juga sudah tak mudah lagi, saya butuh tempat untuk berpulang," ujar Danendra dengan tatapan tertuju pada Soya.
"Sa-sayang, kenapa mendadak sekali, Nella sudah bilang butuh waktu satu bulan," jawab Nella untuk mengulur kembali keputusan yang akan di buatnya.
Mendengar jawaban Nella Danendra langsung menatap Nella dingin. "Lantas apa yang membuat kamu mengulur jawaban yang akan kamu berikan," ujar Danendra datar.
"Bagaimana saya hanya butuh jawabannya sekarang atau saya yang akan mengambil keputusan," ujar Danendra kesal dan menggebrak meja.
__ADS_1
"Hah! Saya tunggu jawaban kamu!" ujar Danendra sembari naik ke lantai atas.
"Ingat, saya beri waktu satu jam untuk memikirkan," ujar Danendra tanpa kompromi.