
Waktu bergulir begitu cepat, kebersamaan Soya dan Danendra menjadi hal baru di rumah sang ayah, Danendra yang enggan di tinggal Soya dan Soya yang merasa risih dengan ulah Danendra, hingga teguran sang ayah yang membuat mereka malu. "Hash! Kalian sudah satu rumah, sudah sering bersama tetapi ulah kalian seperti anak abg, benar, 'kan, Bi?" tanya sang Ayah tiba-tiba.
Sang bibi yang berada tak jauh dari ruang tengah seketika menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah Soya dan Danendra sembari tersenyum, tak lama bibi menggeleng. "Benar Tuan, lihat saja tingkah mereka seperti Upin dan Ipin. Coba Tuan lihat sekarang saja berebut satu kue yang masih ada banyak di meja," tutur sang bibi jujur.
Danendra segera melepas tangannya dari kue yang tengah digigit oleh Soya, menatap sang bibi tajam dengan mata melotot. Soya yang melihat sikap sang suami seketika mencubit lengan sang suami. "Enggak sopan sama orang tua, cepat minta maaf!" seru Soya tak suka.
"Ish, kamu!" protes Danendra tak suka.
Soya seketika menatap Danendra dengan cemberut, "lihat Ayah, Mas Andra bersikap enggak sopan sama Bibi," adu Soya.
Tuan Guntur seketika tertawa melihat ulah kedua anak mantunya. Namun, tidak dengan Soya, hatinya sedikit kesal saat melihat Danendra tak segera meminta maaf dan menuruti ucapannya. Tanpa bicara Soya masuk dalam kamar berpura-pura merajuk agar Danendra segera menuruti ucapannya.
"Danendra, segera minta maaf sama Bibi dan segera susul istri kamu," tutur sang ayah sembari memberi kode pada Danendra.
Danendra yang sadar dengan kode sang ayah, langsung mengerjakan seperti apa yang sang ayah perintahkan. Sementara itu, di dalam kamar Soya tersenyum saat mendengar samar-samar ucapan sang ayah. Senyum Soya terus terkembang, ada hal membuatnya yakun akan pernikahan yang di jalaninya, Danendra ternyata begitu menjadikan Soya ratunya semua sikap yang tak pernah Soya bayangkan. "Kenapa melamun?" tanya Danendra tiba-tiba sembari memeluk Soya dari belakang.
Soya yang terkejut seketika menoleh, "Mas Andra," ujar Soya lirih.
Hembusan napas halus yang menerpa lehernya secara tiba-tiba membuat Soya seketika meremang menahan napas untuk sesaat, meskipun Soya sudah memasrahkan hidup dan dirinya untuk Andra tetapi berbeda untuk saat ini. Debaran hati Soya seakan terus terpacu. "Mas .... "Ujar Soya sembari melerai pelukan sang suami.
"Mas, belum sembuh benar," cicit Soya dengan suara serak.
"Soya, ini sudah dua minggu dan Dokter juga sudah mengatakan jika luka saya sudah sembuh," cakap Danendra lirih dan makin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Soya, bolehkan Mas melaksanakan kewajiban Mas, memberi nafkah batin untuk istri Mas?" tanya Danendra sembari bersandar di ceruk leher Soya.
Cukup lama Soya terdiam, bukan untuk menolak keinginan sang suami tetapi Soya bingung harus menjawab dan berbuat apa nantinya. "Soya ...." Panggil Danendra menuntut.
"Tapi, Mas," jawab Soya ragu.
"Hm .... bolehkan?" pinta Danendra ulang.
Soya kini hanya mengangguk pasrah, bagaimana juga ada kewajiban Soya sebagai istri yang harus di laksanakan. Malam masih menunjukkan jam delapan malam saat Danendra turun dari ranjang dan mengunci pintu kamar. Danendra sesaat menghentikan langkahnya saat melihat tubuh Soya berkeringat, "Mas, akan besarkan ac nya, jika kamu merasa gerah Soya," ucap Danendra lirih dan mendekat.
Soya seketika menelan ludahnya, entah mengapa Soya menjadi kikuk sementara setiap malam tidur seranjang dengan sang suami dan tak jarang Danendra mencu****nya. Soya menyeka keringatnya sesaat sebelum sang suami melepas satu persatu kancing bajunya.
Danendra kembali tersenyum saat melihat tubuh Soya menegang, menatap istri polosnya yang terlihat makin cantik malam ini. Tangan lembut kini sudah mengembara menyusuri setiap lekuk tubuh Soya, bibir mereka saling beradu merasakan sensasi kenikmatan yang tak pernah terbayangkan. Danendra perlahan memandu sang istri memperkenalkan sentuhan-sentuhan lembut tetepi mampu menggugah has****t yang semakin lama makin membuncah, des****an lembut keluar dari bibir yang kini tengah di kuasai oleh dua insan yang sedang berada di puncak kenikmatan saling memberi dan menerima. Hingga Danendra dengan tenang menarik tubuh Soya dan mengung****nya.
"Mas, akan melakukan dengan pelan dan lembut," bisik Danendra pelan dengan suara memburu dan serak.
Malam ini serasa panjang, tubuh lelah Soya dan rasa sakit yang tak pernah di rasakan hanya bisa membuat Soya meringis di balik selimut, Danendra yang sadar akan kondisi Soya sesaat tersenyum dan memeluk Soya erat, "maaf!" hanya ini yang keluar dari bibir Danendra dan makin memeluk Soya erat.
"Tidurlah," tutur Danendra sembari berkali-kali mencium pucuk kepala Soya.
Hingga tengah malam Danendra tak mampu terpejam, netranya terus menatap sang istri, "cantik, manis," guman sembari mengecup lembut bibir sang istri, kecupan lembut yang dilakukan Danendra akhirnya berujung pada jiwa kelaki-lakian yang kembali bergelora.
Soya yang terkejut dengan kecupan sang suami akhirnya terbangun dari tidurnya, menatap sang suami untuk beberapa saat hingga Soya sadar akan maksud sang suami.
__ADS_1
Soya seakan tak mampu menahan keinginan sang suami yang terus menc***nya berulang kali. "Mas, bagaimana saya bisa tidur jika Mas terus seperti ini," ujar Soya sembari meringis menahan sakit.
"Mas jangan lagi, Soya ...."Tangis Soya tiba-tiba luruh saat sang suami kembali ingin melaju.
"Maaf, Soya bukan maksud Mas untuk menyakiti tetapi si kutu kupret ini terus saja bangun," ujar Danendra akhirnya.
"Hiya, tetapi Soya lelah Mas, besok pagi lagi dan rasanya tubuh Soya sudah rontok dan mungkin patah tulang, lagipula .... "Kini Soya lebih berani dan berbisik ke telinga sang suami.
Danendra yang mendengar bisikan Soya langsung menatap Soya, seakan ada penyesalan yang seketika itu terlihat di wajahnya. "Maaf," bisik Danendra.
Nalar Danendra seakan tak sejalan dengan ha***tnya, malam pertama yang tertunda beberapa waktu membuat Danendra melepaskan apa yang dipendamnya selama ini. Menjelang subuh kembali Danendra men***bu Soya, Soya akhirnya bisa pasrah dan melayani has***t sang suami yang begitu besar. Soya akhirnya paham akan rasa sakit yang di rasakan sesaat ternyata bisa membuatnya ikut melayang, seakan melihat kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya saat semua selesai. Tidur karena kelelahan dari ulah mereka semalam dan hingga menjelang subuh membuat pasangan yang baru bisa melaksanakan malam pertama membuat mereka bangun kesiangan.
Menjelang siang Danendra terbangun, menatap wajah lelah yang semalam membara bersama dirinya, sesaat Danendra tersenyum mengusap lembut wajah yang kini tertidur pulas. Danendra memilih turun dari ranjang menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sesaat sebelum menuju kamar mandi untuk melakukan mandi besarnya keluar dari kanar mandi bibir Danendra tersungging saat melihat Soya masih terlelap.
Ketukan pelan di pintu membuat Danendra terkejut dan bergegas membukanya, "sssttt ...jangan keras-keras Bi, Soya masih tidur," tutur Danendra sembari menutup pintu dan menuju ke meja makan.
"Bi, saya sarapan di kamar saja," ujar Danendra sembari menyiapkan beberapa makanan dan minum serta beberapa kue.
Sang bibi hanya tersenyum saat mendengar ucapan Danendra faham akan maksud Tuan mudanya. Danendra segera kembali masuk kamar dan Danendra tak ingin jika semua orang rumah melihat Soya keluar dari kamar dengan cara jalan yang aneh nantinya.
Masuk dalam kamar Danendra tersenyum saat melihat Soya sudah tak ada di ranjang, Danendra segera meletakkan nampan yang di bawanya dan menarik kain sprei dan menggantinya yang baru, sesaat Danendra merasa lega tetapi ada hal yang tak bisa Danendra hindari saat netranya menatap sang istri keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Danendra dengan sejuta maksud dalam hatinya mendekat ke arah Soya tetapi belum juga sang suami mendekat.
"Mas, stop, berhenti, Kat dan diam berdiri di situ, bijim," ujar Soya tegas dan membuat Danendra menghentikan langkahnya dan menatap Soya heran.
__ADS_1
"Ada apa? Kita tidak sedang bermain Soya, apa itu bijim?" tanya Danendra kesal tak urung menuruti juga ucapan sang istri.
"Lantas, bijim-bijim apa maksudnya?" tanya Danendra dan terus menggerutu tak suka.