
Waktu terus berjalan Danendra masih saja dengan sikapnya yang terus menindas Soya dan tak segan-segan Danendra mengaku sebagai pacar Soya. Danendra akan terus mengatakan itu jika Danendra dan Soya menjadi pusat perhatian di tengah-tengah perdebatan mereka. Zulhan yang terus mengawasi Soya dan Danendra hanya bisa menggeleng heran. Namun, tidak untuk sore ini, Zulhan sedikit heran saat melihat Soya duduk termenung menatap jalanan sembari memangku kue yang di bawanya belum habis. Soya berkali-kali mengembuskan napas kesal. "Jangan melamun," ujar Zulhan sembari duduk di sisi Soya.
"Eh, Kak Zulhan," jawab Soya masih dengan tatapan kosongnya.
"Ada apa? Apa Danen menindas atau jahat pada Soya?" tanya Zulhan pelan.
"Hem, kutu kupret selalu jahat pada Soya," jawab Soya lirih.
"Kak!" panggil Soya tanpa menatap wajah Zulhan.
"Ya. Soya, ada apa?" tanya Zulhan.
"Soya lelah, Soya merasa bosan Kak," jawab Soya dingin.
"Maksud Soya?" tanya Zulhan tak paham.
"Soya jenuh dengan kemiskinan Soya, hutang yang tak kunjumg habis dan ..., Soya ingin pergi jauh dan menghilang saja dari muka bumi ini," tutur Soya tiba-tiba.
Zulhan yang paham akan kondisi Soya hanya bisa menatap gadis yang duduk di sisinya, gadis cantik tetapi nampak lusuh dan tak terawat. "Apa maksud ucapan Soya?" tanya Zulhan lagi. Sesaat Zulhan melihat mata Soya yang mengembun dan berkaca-kaca. Soya mendongak sesaat untuk menahan air matanya agar tak jatuh dan sesekali mengembuskan napasnya kasar. "Apa ini tentang hutang Bapak Soya?" tanya Zulhan pada intinya.
Soya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Soya sebenarnya ikhlas Kak, walau sebagain hutang Bapak sudah lunas, tetapi ..., Soya sangat keberatan dan akhirnya merasa tak ikhlas menjalani hidup ini."
"Soya merasa putus asa Kak! Hutang yang masih banyak dan si kutu kupret itu masih saja tak mau menurunkan bunga hariannya," ujar Soya pada akhirnya.
Zulhan seketika menepuk bahu Soya untuk menenangkan hati Soya. Soya yang sedang rapuh dan berada di titik terendah putaran kehidupannya. "Soya, coba Kak Zulhan lihat catatan milik Soya." Soya seketika menoleh dan jelas terlihat dari sorot matanya jika Soya begitu putus asa. "Untuk apa Kak?" tanya Soya ragu.
"Kakak akan lihat dan menghitung," ujar Zulhan sembari tersenyum.
__ADS_1
Soya seketika mengeluarkan buku yang tersimpan di tas punggungnya yang terlihat lusuh, "ini Kak," ujar Soya sembari menyerahkan pada Zulhan. Zulhan tanpa banyak bicara langsung meraih buku Soya dan memeriksanya, Zulhan langsung menyerngit dan menatap Soya heran.
"Soya, apa Danen belum menurunkan bungannya juga?" tanya Zulhan heran.
Soya langsung menggeleng saat mendengar pertanyaan Zulhan, "Dasar!" umpat Zulhan tak jelas. "Apa maksud Danen bersikap seperti ini," ujar Zulhan dalam hatinya. Zulhan terdiam menatap buku yang di pegangnya, Zulhan seketika tersenyum, "Soya, boleh Kakak pinjam buku Soya?" tanya Zulhan pelan.
"Em ..., tetapi untuk apa?" tanya Soya ragu.
"Soya, Kak Zulhan akan bicara dengan Danen, siapa tahu Danend mau menurunkan bunganya," jawab Zulhan bohong.
"Em ..., jangan sampai hilang Kak, hanya itu bukti yang Soya punya," jawab Soya akhirnya.
"Janji, Kakak akan menjaga buku ini?" tanya Soya ulang dan memastikan.
"Janji, Kakak akan menjaganya Soya," ujar Zulhan sembari berdiri.
"Soya, kamu istirahat saja. Jangan memaksakan diri, pulang Soya," ujar Zulhan sembari naik ke motornya.
"Terima kasih Kak," jawab Soya sembari berdiri dan berjalan ke arah rumah bu Muji.
Soya siang ini benar-benar menuruti saran Zulhan. Setelah menyelesaikan hirungannya dengan bu Muji, Soya memilih untuk pulang dan beristirahat.
Sementara itu di tempat lain, Zulhan yang baru sampai di rumah besar langsung memakirkan motornya begitu saja di halaman dengan langkah tergesa Zulhan menghampiri seorang laki-laki yang tengah duduk di tepi taman. "Siang menjelang sore Om," sapa Zulhan aneh. "Hah! kamu, ada apa Zulhan. Ayo duduk," jawab laki-laki ini sembari tersenyum.
"Hash! Kenapa perasaan Om jadi enggak enak pasti kamu membawa berita buruk," tebak Om Guntur akhirnya.
Zulhan yang mendengar ucapan Om Guntur hanya tersenyum sembari menggaruk kepala.
"Wah. Sejak kapan Om jadi paranormal dan memang tebakan Om benar," ujar Zulhan tak menutupi.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Om Badrun tiba-tiba serius.
Zulhan langsung mengeluarkan buku milik Soya dan menyerahkan pada om Guntur.
Om Guntur seketika membuka buku Soya dan sesaat melihat dengan serius. "Apa maksud Danendra," ujar om Guntur marah.
Zulhan hanya bisa menunduk dan tak berani menatap Om Guntur, "Zulhan!" panggil om Guntur akhirnya. "Zulhan apa hukuman yang tepat untuk Danendra," ujar om Guntur lagi.
"Om. maaf, maksud kedatangan saya kemari murni keinginan saya sendiri, saya enggak tega saat melihat Soya terbebani," ujar Zulhan pelan. "Soya hanya ingin bunga pinjamannya bisa di kurangi," ujar Zulhan lirih.
"Zulhan, sebenarnya bunga itu sudah melampui batas dan Om sendiri juga enggak paham akan maksud Denand," ujar Om Guntur lirih dan tak lama om Guntur mengembuskan
napas kesal.
"Awasi saja Soya, maaf saya tak bisa membantu Zulhan, Zulhan apa sebaiknya kita jalanksn saja rencana itu," ujar om Guntur pelan. "Om ..., bagaimana jika rencana ini gagal," ujar Zulhan ragu.
"Zulhan rencana ini pasti berhasil dan semua juga demi kebaikan Soya," ujar om Guntur lirih.
"Apa rencana ini tak menyulitkan Soya Om?" tanya Zulhan.
"Zulhan saya yakin Danendra akan menyetujui rencana ini tanpa Danendra sadari, biar saya yang mengurus Soya dan kamu fokus pada Danendra dan Nella, kita akan jalankan rencana kita," ujar Om Badrun akhirnya.
Zulhan hanya bisa mengembuskan napasnya, sesaat Zulhan merasa berat untuk menjalankan rencana yang sudah di atur jauh-jauh hari. Namun, berbeda dengan om Guntur, om Guntur nampak tersenyum lega meskipun om Guntur tahu bahwa rencana ini akan begitu berat untuk Soya. "Zulhan pulang dan bilang pada Soya dan entah alasan kamu mengenai bunga pinjaman itu, Om juga heran kenapa Danendra bersikap seperti itu," ujar Om Guntur pelan.
"Om.Zulhan pulang," pamit Zulhan pada akhirnya.
Zulhan dengan berbagai pikiran kini hanya bisa melajukan motornya dengan penuh sesal dan niat baik yang akan Zulhan lakukan tak ayal akan berimbas juga pada Soya.
"Soya maaf, bukan maksud Kak Zulhan untuk menyulitkan Soya tetapi semua ini demi kebaikan Soya," guman Zulhan lirih.
__ADS_1
Zulhan menghentika laju motornya saat melihat sosok yang begitu Zulhan kenal. Zulhan masih menatap dan kemudian mengambil gambar wanita yang sedang tertawa. "Kerja bagus Zulhan," puji Zulhan pada dirinya sendiri.