RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA

RENTERNIR TAMPAN UNTUK SOYA
Bab 64. Lega


__ADS_3

Zulhan dan Soya akhirnya memilih berhenti di depan kamar, kamar paviliun yang cukup besar. Setelah Suster keluar dari kamar, kini Soya dan Zulhan yang masuk setelah mendapat beberapa arahan dari Suster. Zulhan hanya bisa menatap heran, saat melihat Soya yang berjalan mondar mandir tak jelas. "Duduk Soya! Saya jadi pusing jika melihat kamu mondar mandir seperti itu," ujar Zulhan akhirnya.


Zulhan akhirnya memilih berdiri dan mengulir ponselnya, hingga beberapa menit kemudian Zulhan memutus percakapannya begitu saja lalu berjalan mendekat ke arah Soya.


"Soya, jaga suami kamu! Saya ada sedikit urusan ingat pesan Suster tadi," tutur Zulhan sembari melangkah pergi ke luar.


Sepeninggal Zulhan, Soya menatap lekat tubuh Danendra yang terbaring lemah dan belum sadar dari pasca operasi. Hati Soya tiba-tiba melemah ada beribu rasa bersalah yang seketika menyeruak di dalam hatinya.


"Maafkan saya Tuan, andaikan Tuan tak menyelamatkan saya, mungkin semua ini tak akan terjadi," ucap Soya lirih.


Perlahan Soya meraih tangan Danendra yang tak berdaya. "Maaf Tuan, semua ini salah Soya, cepat bangun Tuan. Saya-saya tak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Tuan," sesal Soya sembari mengusap tangan Danendra dengan gemetar.


Soya menatap lekat Danendra, wajah yang terlihat pucat menutupi ketampanan pria dewasa yang sedang terluka, Soya sadar saat ini dirinya benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah berstatus suaminya.


"Tuan. Saya mohon segera bangun Tuan!" seru Soya sembari memegang tangan Danendra.


Hingga malam hari Danendra belum juga siuman. "Tuan. Kenapa Tuan begitu betah di alam mimpi, bangun Tuan. Apa Tuan marah dengan saya? Hingga enggan untuk bangun.


Saya sudah bosan menunggu dan saya tak ingin menunggu lagi. Tuan tahu jika saat ini saya tak ingin melepas Tuan dan saya tak ingin kehilangan Tuan lagi, saya ...," ucap Soya terputus begitu saja saat Tuan Guntur masuk dalam kamar.


Soya yang melihat kedatangan Tuan Guntur seketika tersenyum dan berusaha untuk berdiri, tetapi Soya tak menyangka jika akan mendapat reaksi yang mengejutkan dari tangan Danendra. Danendra seakan enggan melepas tangan Soya dan makin menggenggam erat. "Tuan, anda sudah sadar dan sudah bangun!" seru Soya terkejut.

__ADS_1


"Ayah! Tuan muda sudah bangun, Ayah!" pekik Soya senang dengan wajah berbinar, seakan ada kelegaan tersendiri yang terlukis jelas di wajahnya.


Tuan Guntur yang mendengar teriakan Soya seketika berjalan mendekat, mengusap kepala Soya dengan kasih. "Alhamdulillah akhirnya Danendra sadar," guman Tuan Guntur pelan.


Perlahan Danendra membuka netranya, memindai ruangan yang nampak asing di depannya untuk beberapa saat. "Ash ..., dimana ini?" tanya Danendra lemah sembari meringis sakit.


Melihat Danendra yang meringis menahan sakit, Soya menjadi bingung. "Ayah, kenapa Tuan muda. Apa ada yang tak beres?" tanya Soya bingung.


Tuan Guntur tersenyum senang saat melihat reaksi Soya yang khawatir. "Soya, semua baik-baik saja, mungkin ini efek dari operasi," jawab Tuan Guntur sembari tersenyum.


Namun, kegembiraan Tuan Guntur terhenti saat mendengar suara kaki yang berjalan sedikit tergesa memasuki ruangan kamar. Soya dan Tuan Guntur seketika menoleh secara bersamaan dan tersenyum lega. Soya sedikit beringsut menepi saat ada seorang Suster masuk dalam ruangan. Suster dengan cekatan memeriksa Danendra dan tak lama menatap ke arah Soya dan Tuan Guntur bergantian. "Tuan, semuanya baik-baik saja, meskipun operasinya sukses tetapi harus tetap di rawat agar lekas sembuh dan besok pagi Anda bisa mengurus administrasinya," jelas Suster sebelum ke luar dari ruangan.


Mendengar titah dari Tuan Guntur Soya langsung mengangguk setuju, hingga membuat Danendra menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "Soya, apa benar yang saya lihat," ujar Danendra pelan mencoba untuk meyakinkan.


"Baiklah, Soya. Saya akan pulang untuk mengurus toko kamu dan besok pagi saya akan datang dan sekalian pulang," tutur Tuan Guntur tegas.


"Sa-saya, setuju Tuan," jawab Soya malu.


Mendengar ucapan Soya, sepanjang malam Danendra terus tersenyum, perasaan bahagia yang tak dapat Danendra lukiskan dan itu terlihat dari perubahan wajahnya yang putih pucat kini sudah terlihat semakin membaik. "Soya, terima kasih sudah mau menunggu dan tak ingin melepas saya," ujar Danendra sembari meraih tangan Soya.


Mendengar ucapan Danendra, Soya langsung menunduk malu dengan wajah merona hingga untuk beberapa lama. "Tu-Tuan, Anda mendengar ucapan saya?" tanya Soya malu dengan wajah merah.

__ADS_1


"Hem! Akhirnya saya bisa tenang karena kamu bersedia untuk menjadi istri saya seutuhnya," tutur Danendra sembari sesekali meringis menahan sakit.


Soya yang melihat reaksi Danendra akhirnya mengangguk menghiyakan ucapan Danendra.


"Tuan, sekarang istirahat jangan banyak bicara dulu, nanti jika Tuan sudah sembuh kita bicarakan lagi semuanya," timpal Soya sembari melepas tangannya dan membetulkan selimut Danendra.


"Istirahat, Tuan!" titah Soya.


Danendra menurut saja, Danendra sadar jika malam ini merupakan malam yang terindah untuk dirinya, meskipun dalam keadaan sakit Danendra tak menyangka saat ini hatinya benar-benar merasa lega dan itu lebih penting untuk Danendra.


Sementara itu, Soya yang tak menyangka jika semua perkataannya di dengar oleh Danendra dengan malu Soya menatap ke arah Danendra. "Tuan, apa Tuan mendengar ucapan saya?" tanya Soya akhirnya.


"Soya, saya benar-benar merasa lega akhirnya kamu mengatakan juga isi hati kamu," ujar Danendra sembari menguap karena reaksi obat yang di minumnya.


Hingga beberapa saat perlahan netra Danendra terlelap, sementara Soya masih duduk di sisi ranjang sembari menatap lekat Danendra. "Selamat malam Tuan," bisik Soya lirih.


Soya tak hennti- hentinya menatap wajah yang kini terpejam sesaat Soya tersenyum sendiri, entah apa yang saat ini ada dalam benaknya. Senyum Soya tak kunjung surut sembari sesekali menggeleng tak percaya.


Perlahan namun pasti Soya sudah mulai menguap, kejadian tadi pagi seakan membuat energinya terkuras habis dan membuat Soya begitu ketakutan. "Terima kasih Tuan," guman Soya sembari meraih tangan Danendra dan memegang erat. Soya tak menyadari jika saat ini dirinya juga ikut terlelap dan kepalanya berada di sisi ranjang, tertidur dengan lelap sembari menegang tangan Danendra.


Hingga tengah malam, Danendra yang terjaga akhirnya hanya bisa menatap Soya dengan iba. "Hash!" seru Danendra lirih sembari memegang perutnya yang terasa nyeri. Danendra yang merasa kesulitan saat menggerakkan tubuhnya kini memilih menikmati wajah cantik yang terlelap di sisi ranjang. 'Semoga, semua perasaan kamu benar dan jujur Soya," batin Danendra.

__ADS_1


__ADS_2