
Hampir pukul tiga sore Danendra bangun dengan perut lapar, Danendra bergegas menuju ke bawah dan ke dapur. Danendra sedikit heran saat melihat Soya tengah mengerjakan sesuatu dengan serius. Danendra sedikit mendekat dan melihat apa yang Soya kerjakan. "Soya tolong buatkan saya makan siang," ujar Danendra yang sedikit merubah cara bicaranya.
Soya seketika mendongak menatap wajah sang Tuan. "Tuan, saya tidak bisa memasak, bila perlu Tuan order saja," ujar Soya sembari mengerjakan lembar hitungan di depannya.
"Soya!" teriak Danendra keras saat Soya mengacuhkannya.
Soya yang sempat terkejut akhirnya merapikan lembar yang ada di meja makan, tanpa banyak bicara Soya langsung menuju dapur, menyiapkan bahan yang ada dan memasak yang Soya bisa. Soya dengan segera menyajikan. "Tuan, silahkan hanya ini yang saya bisa semoga Tuan berkenan," tutur Soya sembari meninggalkan dapur dan menuju halaman.
Untuk melampiaskan amarah di hatinya Soya kini membersihkan halaman untuk kedua kalinya. Soya seketika tersenyum saat melihat Zulhan datang. "Sebentar Kak!" ujar Soya sembari masuk ke dalam dan tak lama keluar lagi. "Kemana, Danendra?" tanya Zulhan.
"Ada Kak! Di ruang makan!" jawab Soya sembari mengunci pagar dan memasukkan kunci di sakunya. Soya memilih untuk melanjutkan membersihkan halaman lagi.
Sementara itu, di ruang makan Danendra masih menatap masakan Soya dengan heran.
"Kenapa, kamu tak memakannya Danen, kamu takut ada racun dalam masakan ini?" tanya Zulhan tiba-tiba dan duduk di depan Danendra.
"Entah, hanya saja saya merasa sedikit aneh saat menatap masakan ini!" ujar Danendra sekenanya.
"Beli di mana?" tanya Zulahan.
"Enggak beli, Soya yang memasaknya," jawab Danendra.
Zulhan masih menatap Danendra dengan heran, "jika kamu tidak mau biar untuk saya saja, boleh saya memakannya?" tanya Zulhan senang.
"Makanlah, mulut saya juga merasa tak enak," tutur Danendra sembari melihat Zulhan mengambil nasi dan lauk.
"Yakin kamu tak ingin mencicipi masakan Soya," ujar Zulhan sembari menyuap.
__ADS_1
Zulhan seketika tersenyum saat menyuap ke mulutnya dan terus terulang hingga masakan yang di piringnya tandas.
"Danen, makan saja ini enak," tutur Zulhan.
Danendra tak menjawab tawaran Zulhan melainkan memilih mengulir ponsel miliknya.
"Zulhan bagaimana tentang penyelidikan kamu?" tanya Danendra pelan.
Zulhan hanya tersenyum sembari mendekat,
"semua tentang wanita itu dan kekasih kamu sudah aku kirim ke ponsel kamu, tinggal kamu klik dan semuanya juga tergantung dengan keputusan kamu," ujar Zulhan sembari duduk.
Zulhan seketika melepas tas punggung yang di pakainya dan mengeluarkan isi di dalamnya, "sesuai permintaan kamu dan satu hal tolong bersikap sedikit lunak pada Soya," ujar Zulhan tak tega.
"Urus saja urusan kamu, saya bersikap begini karena saya ingin Soya ingat bahwa hutangnya belum terbayar," ujar Fanendra tak terima bersamaan dengan masuknya Soya sembari membawa paket makanan yang datang.
"Taruh saja di meja makan," ujar Danrndra sembari menatap lamgkah Soya tanpa berkedip.
Zulhan yang melihat sikap Danendra sesaat tersenyum, Danen biarkan Soya menikmati masa mudanya," ujar Zulhan mengejutkan Danendra.
"Apa, maksud kamu!"
Danendra seketika menatap Zulhan dengan tatapan yang penuh tanya. "serahkan lembar itu pada Soya dan ada yang harus kita bicarakan," ujar Danendra sembari berdiri dan naik ke lantai atas.
"Soya, bawakan makanan tadi ke atas, dua kopi!" seru Danendra keras.
Soya yang mendengar perintah dadakan dari Danendra akhirnya hanya bisa mendengus kesal tetapi tangannya melakukan juga tugas dari Danendra. Kembali terdengar teriakan keras dari lantai atas. "Soya ...!" teriak Danendra.
__ADS_1
Zulhan yang melihat sikap Danendra hanya bisa menggeleng, "sini biar Kakak yang bantu bawa ke atas," ujar Zulhan.
"Soya, masakan kamu enak dan ini lembar yang harus kamu kerjakan," ujar Zulhan sembari tersenyum.
"Terima kasih Kak," jawab Soya lirih.
Zulhan yang masih menuggu kembali terkejut saat mendengar suara benda terjatuh dan Danendra berteriak dengan kesal. "Soya, cepat dan kamu Zulhan jangan membantu," suara Danendra keras dan langsung terdengar ke seluruh ruangan.
Zulhan segera naik ke atas dan tak lama Soya mengikuti Zulhan. Tiba di lantai atas Soya segera meletakkan apa yang di minta Danendra. Menuruni anak tangga hati Soya serasa tercubit sakit saat melihat lantai atas yang kembali berantakan. "Hufftt ..., kapan selesainya pekerjaan ini, apa hutang Bapak harus saya bayar dengan pekerjaan ini dan tenaga serta harga diri yang berkali-kali di redahkan," tutur Soya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Soya segera merapikan meja makan dan menyimpan makanan sisa di kulkas. Pandangan Soya kini tertuju pada berkas yang bertumpuk di meja makan. Cukup lama Soya menatap dengan rasa senang, hanya berkas ini yang mampu membuat semangat Soya kembali. Soya dengan diam mengerjakan lembar yang ada di depannya. Soya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Argh ..., kenapa hitungannya begini? Apa ilmu yang saya terima salah atau ... "Soya seketika membereskan hitungannya.
"Sebaiknya saya mandi dulu," ujar Soya sembari berdiri dan menyimpan berkas ke tempat yang lebih aman.
"Soya, bereskan lantai atas kami akan pergi," ujar Danendra seperti biasanya.
Soya segera menuju halaman dan membuka pagar dan menutupnya kembali setelah mobil melaju. Soya seketika tersenyum ada perasaan tenang yang saat ini Soya rasakan, kepergian Danendra adalah waktu yang paling menyenangkan untuk Soya. Naik ke lantai atas Soya sedikit heran dengan bebrapa pecahan yang berserak di lantai, amarah macam apa hingga membuat porselen ini hancur berantakan. "Dasar kutu kupret," ujar Soya sembari membersihkan lantai atas.
Rasa penasaran yang begitu tinggi membuat Soya berpikiran untuk melihat seluruh ruang lantai atas, dua kamar kosong dan satu ruangan yang terkunci rapat serta, balkon yang menghadap ke jalan raya. " Besar sekali, lalu ruangan yang terkunci apa itu kamar kutu kupret," ujar Soya penasaran.
Setelah di rasa semuanya bersih Soya bergegas turun dan melaksanakan hajatnya untuk ke kamar mandi. Keluar dari kanar mandi Soya sedikit terkejut saat mendengar suara sepatu yang menggema di seluruh rumah.
Tak, tok, tak, tok ...
"Siapa?" tanya Soya heran sembari memasukkan tangan saku bajunya, perasan Soya sedikit lega saat menemukan kunci pagar masih tersimpan rapi di sakunya.
Soya segera mengintip melalui dapur, tatapan Soya terhenti pada sosok wanita yang berdiri di tengah ruangan, tubuh tinggi, seksi, cantik dan menatap nanar ke seluruh rumah lalu berjalan naik ke lantai atas. "Siapa dia dan bagaimana dia bisa masuk!" ujar Soya lirih dan terus melihat gerak wanita ini.
__ADS_1
Soya tak bergeming, masih berdiri terpaku dengan rasa terkejut dan takut yang tiba-tiba muncul, hingga suara pintu kamar lantai atas terdengar terbuka, 'astaga, ini bisa menjadi masalah,' guman hati Soya tak percaya.