
💦
Dia tidak merasakan setiap untaian kata yang kuucapkan.
Dia tidak bisa membedakan kasih sayang saudara atau kasih sayang seseorang yang ingin memiliki.
Aku hanya bisa mencintai dalam diam.
Cinta yang Terpendam membuatku merasakan sesak di dada.
Aku ikhlas kau bahagia bersama orang lain meski bahagiamu bukan bersamaku.
(Willy Nugraha Abraham)
💦
----------
Yang satu misterius tidak tertebak dengan sikapnya yang kadang memberi harapan yang melambung tinggi hingga ke bulan. Kadang juga menjatuhkan harapan. Pamannya sering membuatku baper tapi tidak bertanggung jawab atas perasaanku.
Sang keponakan super jahil yang selalu saja membuatku ingin memakan nya hidup-hidup. Apalagi pembicaraannya tadi yang mengatakan bahwa dia mencintaiku! Apakah iya seperti itu?
Dua bersaudara yang tak bisa dipisahkan seperti saudara kembar itu adalah paman dan keponakan!! Ya itu sepasang saudara yang membuatku pusing tujuh keliling. Kuhempaskan dan ku rebahkan tubuhku keatas ranjang sebelum aku membersihkan diri.
Memori-memori ingatan masa silam memutar berbentuk tayangan video memutar diotakku, memaksaku untuk mengingat kisah pilu, mengharukan, trauma yang tak bisa ku ceritakan pada orang lain.
Meskipun ingin sekali aku membagi ini semua. Ini kadang menyesakkan dada ku. Orang tua ku katanya masih hidup tapi aku tak bisa mengunjunginya.
Aku tidak bisa melihatnya meskipun batang hidungnya. Ah sudah lah percuma diingat terus yang terpenting sekarang aku harus membuat orang yang telah mencelakai keluargaku muncul.
"Mandi dulu deh supaya bisa cepat-cepat belajar menjadi istri idaman." Aku beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri. Aku bermaksud keluar untuk membantu bibi memasak. Katanya sih masakan seorang istri yang ditunggu suami. Eh tapi aku kan belum menikah. Aku cekikikan sendiri merutuki kebodohanku sendiri.
Bisa-bisanya berfikiran seperti itu. Bodo amat deh yang penting hatiku senang hanya dengan membayangkan nya saja.
Ketika aku turun dari anak tangga, seseorang merangkul pundakku.
"Eh kak illy,"
"Lepasin ini, aku masih ngambek tahu." celotehku dengan tangan melipat didepan dada.
Dia hanya memasukan tangannya kesaku celananya dengan gaya cool nya tanpa sadar aku memujinya dalam hati.
Kak illy tampan jika tanpa menjahiliku, auranya terlihat jelas disetiap inci wajahnyaa.
"Kenapa bengong? Bukankah mau kedapur? belajar masak anak gadis harus pintar masak." Ucapnya dengan segera dia berjalan kearah meja makan.
Aku tidak menjawabnya aku langsung membantu bibi untuk memasak. Setelah selesai akhirnya sampai tahap menghidangkan. Dan semuanya telah berkumpul kini tiba saatnya untuk makan malam bersama.
Setelah makan malam selesai kami berjalan kembali keruang kerja. Untuk apa datang kemari lagi, ada hal apa lagi yang harus dibahas? Berbagai pertanyaan muncul dibenakku.
Setelah kami duduk dengan tenang paman Imam memulai percakapan.
"El, kamu membohongi kami?" tanya nya padaku.
Aku hanya menatap lekat penuh kebingungan atas pertanyaannya yang terucap dari mulut pria paruh baya itu. Ketiga pria tampan itu menatapku dengan intens.
__ADS_1
"Kau sudah kuliah, berarti keinginanmu waktu itu berbohong pada kami? Alasan apa yang membuatmu berbohong?" Dia bertanya seraya memicingkan matanya.
"Mmm... Anu ini loh paman, mas, kak illy," Ujarku ragu-ragu.
"Dari mana mereka tau? Ini pasti dari mas Galih" Gumamku dalam hati.
Flashback💦
Aku mengambil ponsel untuk menelfon seseorang, kucari nama itu dan kuketik nama mas Galih setelah muncul nama itu, aku menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, mas Galih," Salamkuu kepada orang yang kuhubungi.
"Wa'alaikumsalam .. Hmm, iya Nyonya Antonio Nugraha?" Jawabnya membuatku membelalakan mataku.
Sungguh jika dia berhadapan denganku ingin kujitak kepalanya.
"Apa sih belum jadi, baru calon." selorohkuku dengan diiringi gelak tawa.
"Aku ingin kuliah tapi jangan memberi tahu pada ketiga pria tampan harimau dirumah ku ya mas? Cepat urus pendaftarannya mas,"
"Alasan apa yang membuat Nona meminta saya untuk menyembunyikan ini semua?" Bukannya mengiyakan malah berbalik bertanya paling sebal dengan asistenku ini.
Sebenarnya dia bekerja untuk siapa sih, untuk mas Antonio memang juga sih sebagai Sekretarisnya, tapi dia bekerja juga padaku sebagai asisten.
"Alasannya hanya ingin, ingin apa yah? Cuma ingin tidak diikuti saja oleh orang-orang mas Tino,aku seperti tahanan diintai terus," Jawabku dengan ketusnya.
"Ok, nanti saya urus pendaftarannya Nona." Aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Iya sip mas."
Flashback💦
Mereka bertiga membelalakan mata, menatapku dengan selidik. Aku keceplosan lagi ternyata. Jika tidak ada mereka ingin sekali menjedotkan dahi ku ketembok, untuk merutuki kebodohanku ini.
"Kau tau bahwa selama ini kamu diikuti, dikawal? Ternyata kamu tak sepolos yang kami kira," terang ketiga pria tampan dihadapanku ini.
"Ok jika itu alasannya kamu tidak akan lagi kami awasi tapi kamu harus berhati-hati cantik, apalagi rencana kita akan segera dimulai lakukanlah drama ini dengan profesional, seperti dirimu menyembunyikan rahasia besar terhadap kami bertiga selama ini," cerca paman Imam kepadaku.
Aku tersentak mendengar ucapannya, aku rasa dia selama ini selalu mengawasiku, kecolongan lagi nih aku. Tapi tidak apa yang terpenting tidak dengan kedua pria bersaudara itu.
"Ya sudah mulai besok kita mulai rencana kita," saran paman Imam.
"Baik pah/paman," jawab kami bersamaan.
"Kalian berdua boleh pergi, aku ingin berbicara empat mata dengan Nona Cantik ini" Perintah paman pada kedua saudara itu.
Mereka pun berlalu pergi tanpa sepatah kata pun.
"El." Panggil paman Imam padaku.
"Iya paman," Jawabku dengan santai aku tidak ingin dia mencurigai aku.
"Paman tau semuanya, terimakasih sayang untuk semuanya, aku salah menganggapmu gadis polos," Dia berkata seperti itu apa dia tau semuanya.
Aku masih mencerna semua perkataan yang dilontarkannya, aku menatapnya lekat-lekat, tetapi yang ku tatap hanya tersenyum menyeringai.
"Sebelum paman pergi, paman ingin kau peluk El. hu" Dia meminta aku untuk memeluknya sebelum ia pergi.
__ADS_1
Sungguh aku merasa hatiku diremas,hatiku pun sangat sakit sekali ketika aku harus berpisah dengannya. Beliau sudah kuanggap sebagai sosok seorang ayah. Hanya saja aku enggan untuk memanggil nya papah selama keluargaku masih ada. Namun terhalang waktu dan tempat yang memisahkan kita.
Kupeluk tubuh pria paruh baya itu dengan tetesan air mata yang menetes secara perlahan, lama-kelamaan aku terisak, aku merasakan pisau mengiris relung hatiku.
"Jaga kedua orang tuaku paman." Sembari dengan terisak tubuhku bergetar, dia hanya mengelus punggungku dengan lembut seraya menenangkanku.
"Dan jagalah kesehatanmu, kau pun sangat berarti untuk ku paman," Dia hanya terdiam tanpa menjawab perkataanku.
Kulepaskan pelukan dan sandaranku untuk beberapa tahun ini, akan aku kurindukan dia ketika dia tidak berada dirumah mewah ini. Iya rumah mewah menurutku meskipun lebih mewah dari rumah keluargaku.
Kehangatan yang aku rasakan dirumah ini ketika aku masih kecil dan sekarang beranjak dewasa. Sungguh waktu terasa begitu cepat berlalu saja. Andai dapat kuputar kembali ingin sekali aku menjadi gadis kecilnya seperti dahulu, agar ketika aku menangis beliau menggendongku untuk menenangkan ku.
***
Waktu malam pun berlalu kini bumi menerangi penerangannya dengan cahaya matahari, aku bergeliat namun enggan untuk terbangun. Aku masih tetap ingin Setia kepada ranjangku ini. Ranjang yang sudah kusinggahi selama beberapa tahun ini, ketika aku mulai mengerjapkan mataku, kudapati sosok lelaki tampan yang tengah duduk disofa memandangiku. Entah dari kapan pria menyebalkan itu berada disofa kamarku.
"Kak illy." Aku berteriak sekencang mungkin ketika aku membuka mataku dan beranjak dari ranjangku untuk mengusirnya dari kamarku.
"Tidak sopan masuk kamar gadis." Hardikku dengan berkacak pinggang dihadapannya.
"Cepat bangun ikut kakak kekantor." Dengan wajah polos dan datarnya dia hanya mengatakan hal itu.
Ada apa tumben sekali.
Akupun berlalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi akupun turun kebawah dengan bibi memberikan wadah bekal untukku.
"Ini apa bi?" Aku dibuat bingung saja.
"Ini untuk Nona kata Tuan, Nona sarapan nya dibekal saja, sekarang Tuan sudah dimobil beliau menunggu Nona, dan berpesan agar segera pergi," Jawabnya padaku.
"Apa-apaan sih kak illy. Ini padahal masih pagi juga." Aku hanya mampu menghentakkan kakiku dan kemarahanku yang tak bisa kubantah perintahnya.
Tak bisa kubantah memang untuk perintah laki-laki ini, seperti ada sesuatu yang harus kubantu namun tidak mengatakannya! Kenapa tidak berbicara dulu secara detail apa permintaannya sungguh membingungkan saja.
Aku pun sarapan didalam mobil dengan menikmati makanan yang tak seenak ketika memakan dimeja makan, setelah selesai kak illy pun memulai pembicaraan.
"Kakak ingin kamu membantu kakak, untuk memberi kejutan pada Putri dan mengatakan bahwa aku ingin memintanya jadi kekasihku." Aku hanya menatapnya dengan penuh tanya, apakah benar pria yang terlihat seperti tidak ingin dekat dengan gadis dapat dengan mudahnya mengungkapkan perasaannya.
"Ya baiklah aku akan membantumu"
"Semua terserah mauku ya, tema nya apa pun yang penting bertema akan menyatakan perasaan pada seseorang," usulku dengan bergelayut ditangan pria berparas tampan itu.
"Tapi kak bukan kah hari ini rencana itu akan dijalankan?" Dengan melepaskan gelayutan ditangannya aku mulai bertanya, bagaimana bisa dengan rencana yang dibuat ini dia malah menyatakan perasaannya pada seseorang.
Sungguh aku tak mengerti dengan jalan pemikirannya.
"Ya supaya mereka tidak curiga Gadis dengan penuh misteri." Dia berkata dengan datar dan dinginnya aku hanya mendelik tanpa kutahu dengan maksudnya .
"Maksudmu apa sih kak?" Aku bertanya seraya menyipitkan kedua kelopak mataku.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG