
"Aunty, dedek bayinya punya daddy?" tanyanya dengan menghapus air mata El.
"Aunty kenapa menangis? mommy ku juga menangis?" menggerakan badannya lalu menghapus sisa air mata yang mengalir dipipi Aurelia.
Aurelia langsung memeluk putri kesayangannya, dia mengecup setiap inci bagian dari wajahnya.
"Sayang... dady sudah tenang. Do'akan supaya dady bisa ditempatkan ditempat terindah yang alloh janjikan, kamu tau do'a anak Soleh yang akan mengantarkan daddymu pada tempat terindah itu, yaitu surga." Aurelia memberikan penjelasan pada putrinya.
El kecilpun langsung memeluk mommy nya kembali. Aurelia menatap El dengan tatapan penuh kesedihan, hingga Aurelia memegang jemari-jemari El tanpa sadar untuk meminta kekuatan.
El pun dengan senang hati membalas, El mengelus lembut punggung Aurelia.
***
Pintu ruangan Willy dibuka dengan keras, hingga penghuninya terlonjat dengan rahang wajah mengerang.
Brakkk
"Eh, gue kekencangan ya bukanya." sahut Restu memegangi kepalanya yang tidak gatal dan sudah mendapat tatapan tajam, sinis dari Willy.
"Maksud loe apaan? loe mau buat pintu kantor gue rusak?" sambung Willy dengan mulai meninggi intonasi berbicaranya.
"Gak sengaja Will." jawabnya dengan tersenyum kikuk.
"Itu mata loe kenapa Will? jangan melotot nanti mata loe lompat dari tempatnya." celetuk Restu.
Willy tak menamggapi ocehan Restu, dia masih sibuk dengan berkas-berkas yang berada diatas meja.
"Berisik, lebih baik diam dulu. Kerjaan gue belum selesai," omelnya pada Restu.
Setelah kurang lebih menunggu hampir dua jam, akhirnya pekerjaan Willy selesai. Selang beberapa menit pintu ruangan Willy terbuka kembali, menampilkan sosok yang ditunggunya dua bulan lebih.
Sastra memasuki ruangan Willy dengan khawatir, setiap ucapan yang dilontarkan Willy tidak pernah main-main.
Sastra belum mengetahui masalah apa yang mengakibatkan Willy begitu marah terhadapnya.
"Muncul juga loe," serunya dengan tangan mengepal.
"Bos sabar dulu," lerai Restu pada Willy.
"Apa sih loe," hardik Willy.
"Will, coba loe bicarakan dulu akar dari permasalahan yang membuat loe marah pada Sastra," saran Restu.
"Loe ngasih apa keminuman gue? sampai malam itu nafsu gue gak dapat gue tahan," tanya Willy pada Sastra.
Sastra hanya menatap Willy dengan Restu bergantian, dia tidak bisa menceritakan aib kekasihnya. Bahwa dia berpacaran diatas kewajaran pasangan berpacaran pada umumnya.
__ADS_1
Mulutnya terasa terkunci untuk berucap, badannya bergetar hebat, merasakan ketakutan. Keringat dingin sudah mulai berjatuhan ditubuhnya. Hawa mencekam diruangan itu terasa Sastra rasakan.
Restu dan Willy menautkan satu halisnya, mereka sudah tau dan paham betul gelagat aneh yang menimpa satu sahabatnya itu. Keduanya sudah bisa menebak, bahwa sahabatnya kini tengah merahasiakan sesuatu yang mereka tak pernah ketahui.
"Loe kenapa gemetar? harusnya loe jawab Sastra," hardik Willy kembali.
"Jujur tidak? kalau tidak akan kupastikan loe Sastra Saputra, sepulang dari kantor gue, loe menjadi pasien berat dirumah sakit," ancam Willy.
"G-gue, Will?" Sastra memanggilnya dengan melemah.
"Ta-tapi ka-kalian ti-tidak akan membenciku bukan?" tanya Sastra ragu-ragu.
Willy dan Restu hanya mampu mengerutkan dahinya, dirasa jawabannya terlalu bertele-tele. Sontak membuat Willy akan menyemburkan lava kemarahannya dengan memukul Sastra.
"Eh, sabar bos. Tenangkan dulu, kita harus mendengarkan penjelasannya," saran Restu.
Sastra pun menceritakan aib kekasihnya pada dua sahabatnya meski dengan ragu-ragu untuk mengungkapkannya.
"Sebelumnya gue minta maaf kepada kalian berdua," pinta Sastra untuk kedua sahabatnya.
"Sebenarnya sewaktu SMA gu-gue dengan caca sudah melakukan hubungan badan." menghela nafas, dirasa kedua sahabatnya tidak berkomentar diapun melanjutkan kembali perkataannya.
"Maaf karna gue sudah melanggar. Dan waktu diclub gue memberikan perangsang kesalah satu minuman, dan ditujukan untuk caca kekasihku,"
"Gue tidak tau jika minuman itu tertukar untukmu Will. Mungkin kalian bertanya kenapa aku sampai melakukan itu? jawabannya karna beberapa bulan caca tidak ingin kusentuh, gue takut jika dia mempunyai kekasih lagi,"
"Gue sudah terlanjur sayang pada caca,"
"Bisa-bisanya loe merusak masa depan gadis loe? loe sayang? loe nikahin! bukan hanya dijadikan pelepasan untuk nafsu sesaat loe tra-la-la," tegur Restu pada Sastra.
"Aku sudah menikahinya kemarin." jawab Sastra dengan tertunduk.
"Wah parah gila loe tra-la-la, emang pantes loe disebut beruang yang sama Marsha, sama-sama gak bisa berfikir," geram Restu dengan pada Sastra.
"Diem deh loe tutung." melempar bantal sofa kearah Restu, dengan sigap Restu menangkapnya.
"Dan untuk loe Will maksud loe apa marah kegue? salah gue dimana? apa karna kejadian itu loe dirugikan oleh tingkah gue?" tanya Sastra beruntun.
Dengan dua pukulan Sastra langsung terjatuh dari tempat duduknya.
Bughhh
Bughhh
Dengan Amarah yang sudah memuncak, dadanya sudah naik turun dengan cepatnya, Willy pun mencekal kerah bajunya dan mendorongnya hingga ketembok.
"Loe tau? tingkah loe yang konyol itu membuat seorang gadis hancur karna gue, hah," hardik Willy dengan amarah menggelora.
__ADS_1
"Ma-maksud loe, i-itu gadis yang satu rumah denganmu Will?" tanya Sastra dengan mulai melepaskan cekalan dari Willy.
Willy tidak dapat menjawab pertanyaan Sastra, dia sudah ambruk kelantai menjatuhkan dirinya sendiri. Sastra sudah mengetahui jawabannya, tanpa Willy bersuara.
"Maaf ya Will, gara-gara gue." sesalnya dengan menepuk pundak Willy.
"Loe boleh hukum gue apapun itu supaya bisa menebus kesalahn gue terhadapmu Will," saran Sastra membuat Willy terisak.
Restu hanya dapat membulatkam matanya, mulutnya menganga, bisa dibilang dia terlalu terhenyak atas kebenaran yang membuat sahabat yang selalu dipanggilnya bos mengalami kejadian menyedihkan itu.
Apalagi sekarang mereka tau bahwa gadis itu, telah menikah dengan pamannya. Sastra dan Restu sudah mengerti dengan perasaan Willy mereka tau betul sebesar apa perasaan Willy kepada gadis itu.
Sangat-sangat melekat direlung hatinya yang terdalam.
"Malang bener nasibmu bos galak." gumam Restu, sontak membuat Willy dan Sastra menatap tajam kearah Restu.
"Lah salah lagi gue, padahal gue mau mengucapkan berbela sungkawa Will," lontarnya dengan memegangi tengkuk kepalanya. Sastra pun menonyor Restu dengan penuh kekesalan.
Sastra berfikir bisa-bisanya si Restu salah ngomong disituasi darurat seperti ini. Sastra masih saja bingung dengan pikiran Restu yang tak pernah pintar dalam hal apapun.
Willy hanya memandang kedua sahabatnya dengan datar, yang ada dalam pikirannya kenapa bisa Willy mendapatkan dua kurcaci yang tak pernah serius untuk membicarakan hal yang penting seperti ini.
"Dia sudah bersuami," lirih Willy dengan menatap lurus kedepan.
Restu dan Sastra bisa merasakan sakit yang dirasakan Willy. Untuk sahabatnya, Restu dan Sastra pun menghimpit Willy untuk memeluknya, setidaknya mungkin bisa sedikit membuat hatinya sedikit lega.
Mereka bertiga berpelukan seperti teletabis, mencurahkan isi hati tanpa sepatah katapun terucap.
Karna terlalu mendalami dalam pemikiran masing-masing, ketika pintu ruangan diketukpun tidak mereka sadari, dan akhirnya merekapun terciduk tengah berpelukan dan terisak.
Ceklek
Beberapa map yang sedari tadi dipegangnya langsung terjatuh kelantai, tatapannya tertuju pada ketiga orang yang tengah berpelukan.
"Kalian," pekiknya dengan histeris.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG
.