Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 18 Kekhawatiran Part2


__ADS_3

"Nona anda ingin memesan apa?"


"coffe saja ya mba!"


Setelah pesanan datang, dia pun mencoba mencari tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Merekapun sepertinya sudah selesai berbicara. Dengan refleks El berdiri dan akan mengejar mereka, sebelum pergi membayar bill terlebih dulu.


Mau kemana sih mereka? Oh yaampun aku naik apa untuk mengikuti mereka!


Ketika gadis itu tengah mencari taksi seseorang membekap mulutnya hingga ia tak sadarkan diri. Entah apa yang mereka incar dari seorang gadis ini?


***


Disebuah gudang kumuh dan usang nampak dari bangunan yang sudah terlihat tak terurus dan terbengkalai. Ternyata gadis itu El. Gadis yang sedari dulu dirinya incar karna mengetahui aksi kejamnya.


"Haloo, gadis kecil. Rupanya kau sudah tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik." Lontarnya dengan senyum menyeringai.


"P-paman?!" pekiknya dengan tatapan kaget bercampur takut.


"Bukankah kau sering memancingku untuk keluar dari persembunyianku? Aku sudah keluar. Lakukan apa yang akan kau lakukan terhadapku." celetuknya dengan nada mengejek melihat El diikat.


Bagaimana aku bisa memberimu pelajaran jika aku diikat seperti ini. Sungguh benar-benar orang licik kau paman.


"Sebenarnya apa yang kau incar paman?"


Seketika itu dia menoleh dan berjalan menuju El, dia berjongkok dan memegang dagu El.


"Tentu saja untuk mengalihkan harta keluargamu. Menurutmu untuk apa?" teriaknya dengan mulai mengibaskan dagu El.


"Tapi kenapa aku yang disandra seperti ini? Bukankah yang kaya Raya adalah orangtuaku? Bukan aku paman." geram El.


"Terlalu banyak bertanya kau gadis kecil." elaknya dan berlalu pergi meninggalkan gudang.


Dia adalah sekretaris Papah Ananda, dia terlalu serakah. Dia berfikir karna dirinyalah perusahaan itu berkembang. El, tahu masalah ini waktu itu, karna usianya yang belia tentunya dia tidak punya keberanian untuk membongkar tingkah kejahatannya.


Jangan panik, jangan panik. Aha... aku lupa selalu bawa pisau lipat disaku celana. Sungguh sangat membantu untuk keadaan seperti ini.


El pun membawa pisau lipat dan menggerakannya ketali agar terputus. Setelah beberapa menit berjuang akhirnya talipun terlepas.


Oh tidak, belum keluar sudah ada yang masuk lagi.


Dengan berpura-pura tidur El berhasil mengelabui pengawal yang berjaga digudang itu.


"Sepertinya gadis itu sudah tertidur?" ujar pengawal itu.


"Lebih baik diluar saja berjaganya. Mana mungkin juga dia bisa kabur dengan keadaannya yang diikat." sarannya ketika El sudah tertidur, tepatnya berpura-pura tidur.


Huff, selamat.. Ayo semangat El waktunya kabur.


El nampak kesana kemari untuk mencari jalan keluar, hingga akhirnya dirinya dapat menemukan celah untuk keluar.


Diujung sebelah kiri dirinya melihat jendela yang bisa dia naiki untuk kabur. Setelah itu dia melompat dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Tanpa disengaja El menepuk tong yang ada disekitaran gudang.


"Hey siapa itu?" teriak pengawal berbadan besar itu.

__ADS_1


Yaampun, kenapa ceroboh sekali. Saking senangnya bisa kabur sampai menepuk tong sampah sih.


Pengawal itu tampak membuka gudang untuk melihat El, seketika itu pula dia berteriak. "Woy, gadis itu kabur." lapornya dengan panik.


"Sialan, kenapa gadis itu bisa kabur? Cepat cari gadis itu sampai dapat. Jangan sampai bos tahu. Gadis itu pasti belum jauh dari sini."


Ketika itu pula mulutnya dibekap kembali dengan tangan dan diarahkan kedalam hutan.


"L-lepaskan." El melepaskan cengkraman tangan diarea mulutnya dengan nafas tersenggal-senggal.


Seketika itu pula halisnya menaut. "Kau?!"


"Hey, ternyata ada orang yang akan membantu gadis ini." Tunjuknya kearah El.


Pengawal berbadan besar itu ada 5 orang, kini memutari El dengan memberikan lontaran-lontaran mengejek.


"Apa kau bisa bila diri? Jika iya, tolong focus agar kita bisa menghajar mereka." Bisik El pada orang yang akan menolongnya.


"Aku bisa."


Pertarungan pun terjadi, dengan focus kedua gadis itu mulai dapat melumpuhkan para pengawal itu. Dari arah belakang tanpa mereka sadari ada yang masih tersadar dan dengan kasarnya laki-laki itu menendang perut El.


Aduh sakit.


"Kau berlindung dibelakang tubuhku, tinggal dia yang menendangmu yang masih sadar. Aku akan memberinya pelajaran." El hanya mengaduh kesakitan.


Disebrang sana ada 2 laki-laki yang tengah menyaksikan perkelahian mereka, dia bukan tidak ingin membantu. Namun melihat kelihaian mereka berdua dia urungkan.


Keduanya sujud syukur karna telah berhasil untuk mengalahkan mereka. Jika Aurelia bahagia dengan mengalahkan mereka, tetapi tidak dengan El dia menyembunyikan wajah pucat pasinya karna perutnya yang semakin sakit. Disela-sela kelegaan mereka. Aurelia pun menoleh dan mengulurkan tangannya.


"Haii, sekarang kau harus menjadikanku sahabat karna aku telah menolongmu," syaratnya ketika dia telah membantu El kabur.


"Kenapa membantu saja perhitungan," sungut El menyahut.


"Ini bukan perhitungan, tapi balasan." ungkapnya dengan mengedipkan matanya.


"Ok, baiklah," jawab El dengan lemas.


"Lalu kita pulang pakai apa? Sepertinya aku lemas Rely," keluhnya dengan memegangi perut, hingga El pingsan.


"Haduh kenapa harus ada pingsan disuasana yang tidak tepat seperti ini. Ayolah cepat datang," gerutu Aurelia mulai tak tenang dia mengkhawitkan El.


"Alhamdullah akhirnya datang,"


Mereka pun membopong El untuk masuk kedalam mobil, hingga beberapa menit mobilpun akhirnya keluar dari hutan. Perasaan lega bercampur tenang, dirasakan keduanya.


Galih pun menoleh sekilas dari kaca spion, kepada gadis itu.


Aku tidak asing melihat wajahnya.


Keheningan yang tercipta seketika teralihkan dengan ponsel Aurelia yang menyala entah itu panggilan ataupun pesak masuk.


๐Ÿ“ฒ

__ADS_1


"Apa sayang?" Tanyanya ketika mengangkat telfon.


"Kenapa belum tidur sudah malam? Bobo ya nanti mommy pulang sebentar lagi," pintanya kepada orang yang menelfonnya.


๐Ÿ“ฒ


Dia sudah mempunyai seorang anak? Dia seorang ibu? Jika memang benar berarti tebakanku benar? Aku harus mengetahui semua tentang dirinya.


Galih hanya bertanya kepada dirinya sendiri tanpa bertanya kepada orangnya. Beberapa jam pun terlewati hingga akhirnya mereka telah sampai di kediaman rumah keluarga Imam.


"Nona, terimakasih telah membantu Nona muda kami." ucapnya seraya mengbungkukan badan.


"Tidak apa-apa. Sepertinya Tuan harus secepatnya memanggil dokter Nona El tadi ditendang diarea perut."


"Aku harus segera pergi. Maafkan aku karna tidak bisa merawat Nona El. Anakku sudah menunggu dirumah." Pamit Aurelia.


"Baiklah terima kasih Nona. Saya tidak bisa mengantar anda, untuk ucapan terimakasih kami biarkan supir yang akan mengantarmu. Karna hari sudah larut malam, tidak akan ada taxi juga jika anda menunggupun," lontar Galih memberi saran, dan hanya diberi anggukan oleh Aurelia.


"Baiklah terimakasih Tuan untuk tumpangannya."


***


Lalu dimanakah Willy saat ini?


Jangan pernah ditanya Willy berada dimana! yang jelas laki-laki itu orang pertama yang mengetahui El diculik.


Ketika dia dan Galih akan memberikan pelajaran namun niatnya diurungkan, karna melihat ke2 gadis tangguh itu sedang mengahajar mereka dengan garangnya.


Menyangkut El, Willy pasti akan menjadi orang urutan pertama yang akan menjadi penolong bagi El. Willy tidak akan membiarkan gadisnya disakiti orang.


"Cepat beri tahu saya dimana bos kalian?" teriakan Willy menggema diruangan gudang itu memaksa para penculik untuk membuka suara.


Namun hening!


Hening!!


Hening!!


Ke5 nya masih diam membisu, dan enggan untuk menjawab, membuat Willy mengerang hingga amarahnya memuncak. Julukan Harimau dari El memang benar adanya jika mereka adalah pria tampan harimau.


๐Ÿ“ฒ


"Iya kenapa?" sahut Willy menjawab.


"Apa???"


***


Tinggalkam like dan kritikannya dong๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š supaya aku semangat menulis. kalo dikritik juga gak apa,asal jangan pedas-pedas kaya omongan tetangga๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Semoga suka dan tetap setia dengan kisah babang Willy๐Ÿ˜๐Ÿ˜


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2