
Malam hari bertebaran Bintang dilangit menghiasi angkasa. Kilauan lampu pun menambah keindahan malam ini. Kebisingan pun nampak mereda, tidak seperti siang hari.
Kini penghuni rumah itu telah tertidur kealam mimpinya masing-masing. Diranjang yang empuk. Tampak sepasang pasutri dan seorang anak tengah tertidur lelapnya berkelana didalam mimpi.
Dering ponsel nyaring berbunyi diatas nakas. Membangunkan Antonio dari dalam mimpinya. Sebelum mengangkatnya Antonio terlebih dulu mengirim pesan.
π¬ "Bagaimana, sudah berhasil?"
Sebelum menunggu balasan, Antonio pun berjalan menuju balkon untuk menelpon sekretarisnya.
Galih menceritakan semua kejadian-kejadian yang dialaminya. Hingga dia berhasil membawa orang yang telah menjadi Mo**k dalam kehidupan tuan besarnya.
Antonio bernafas lega. Akhirnya dia bisa tenang. Kehidupan mertuanya sebentar lagi akan jauh dari kata ancaman. Ya, ancaman tentang percobaan pembunuhan.
Antonio melamun sejenak melihat keindahan malam yang nampak luar biasa. Dia pun mengingat tadi bahwa dia mengasuh Alwi? Sungguh sangat lah menyenangkan menurutnya. Sesenang ini meskipun bukan darah dagingnya? Apalagi dia mengasuh buah hatinya sendiri.
"Menakjubkan," gumam Antonio dengam tersenyum bahagia melihat Bintang dilangit.
Dia pun memasuki kamar kembali. Menyimpan ponsel nya. Lalu merebahkan tubuhnya. Awalnya dia menatap langit-langit kamarnya. Namun tak berselang lama dia pun. Menatap Alwi dan membelai pipi Alwi. Hingga Alwi bergeliat.
Antonio nampak menahan tawa. Sungguh sangat menyenangkan menurutnya.
***
"Bagaimana?" tanya El.
Antonio telah selesai dengan ritual mandinya. Akan memakai pakaian kantornya. Sebelum menjawab dia pun berjalan untuk memakai pakaiannya. Dia kembali masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai dia menghampiri El.
Ketika El akan berbalik namun El limbung hingga Antonio dengan sigap menahan tubuh El. Hingga keduanya terlihat berpelukan, tatapan mereka mengunci. Mereka terlihat saling memandang satu sama lain. Tatapan yang tak biasa mereka siratkan. Antonio sendu karna menahan sakit. Sakit karna telah menyakiti gadis kecilnya.
Tatapan El menyiratkan sebuah kesedihan. Kesedihan itu karna mereka salah memilih jalan. Willy dan Alwi pun bercanda, Alwi memaksa Willy untuk mengantarkan kekamar Mommy-nya. Willy sempat menolak untuk masuk karna menurutnya, sebuah kamar adalah privasi. Dirinya enggan untuk masuk apalagi kamar itu kamar pasangan suami istri.
Willy langsung menutup mata Alwi dengan jemari-jemari tangannya. Adegan yang tidak pantas untuk Alwi lihat. Meskipun bukan adegan orang dewasa. Willy berbisik ditelinga Alwi.
"Jangan berisik ya tampan. Kita harus keluar dari kamar Mommy dulu. Kamarnya berantakan. Dan tidak enak dipandang," ucap Willy pada Alwi.
Alwi hanya menganggukan kepalanya tanda dia mengerti semua yang diintruksikan Willy. Keduanya pun keluar dari kamar.
Sangat romantis . Gumam Willy meskipun cemburu.
πΌπΌπΌ
__ADS_1
El tersadar dari posisinya hingga dia pun memilih untuk Antonio melepaskan tangannya dari tubuhnya. Kesan pertama saat El tersadar.
Bodoh kok bisa-bisanya seperti ini . Gumam El merutuki kebodohannya.
"Sudah dipertimbangkan?" tanya Antonio memulai percakapan.
"Sudah, bahkan sudah sangat matang," jawab El mantap.
Antonio menghembus nafas dengan perlahan. Sungguh tak menyangka jika gadis kecilnya seberani ini untuk berdiskusi tentang sebuah perpisahan atau perceraian.
"Tapi ... Itu tidak baik El," lontar Antonio.
"Ini memang tidak baik, tapi apakah baik jika sebuah pernikahan hanya sebuah status saja? Bukan ladang pahala yang berlimpah ... Namun hanya akan ada dosa yang tidak terasa di setiap harinya?"
"Lalu apa kamu pikir dengan bersembunyi menemui wanita lain dibelakang istrimu itu tidak berdosa? Apa kamu pikir mencium, memeluk yang bukan istri sah mu itu wajar? APA WAJAR MAS? JAWAB?" cerca El dengan berapi-api.
"Tidak ada toleransi, tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Apa perlu aku jabarkan keseluruhannya? Bukankah kau juga mengerti?"
El sejenak terdiam, lalu dia membawa beberapa map dilacinya lalu memberikannya pada Antonio. Antonio masih belum menjawab semua pertanyaan yang El lontarkan. Dia masih terpaku ternyata El setegas ini. Dia baru tahu sisi cuek dari sikap istrinya.
Tentu saja Antonio tidak akan tahu bahwa El sangat tegas, dia tidak pernah menganggap El istrinya namun selalu menganggapnya gadis kecil. Seperti dulu, kasih sayang kakak kepada adiknya.
"Kamu baca! cermati dengan seksama! Lika-liku rumah tangga memang pasti ada ... Tapi bukan begini caranya jika kamu tidak bisa menerima pernikahan ini, atau pun kamu terpaksa karna pernikahan ini,"
"Kita sama-sama terluka, meminta maaf lah pada wanita tegar itu."
Antonio pun melihat semua map ditangannya. Setelah El berlalu dan berhenti mencurahkan isi hatinya. Tidak menyangka bahwa dia mengetahui semua lika-liku cinta masa lalunya.
Antonio terlihat berkaca-kaca. Dia mengacak rambutnya dengan brutal. Tatapannya kabur, badannya limbung. Hingga dia jatuh pingsan tak sadarkan diri.
***
"Mas, kamu sudah memberi tahukan pada bosmu?" ucapnya.
Saat ini dia sedang berada dikantor kedua orang tuanya. Karna Antonio di Rumah sakit, jadi ia yang menghandle perusahaan orang tuanya. Meskipun tetap yang berperan penting adalah Sekretaris Antonio.
"Sudah nona! Sebenarnya dia akan dibawa kekantor polisi untuk se-segera mungkin. Supaya dia secepatnya masuk jeruji. Namun tuan ternyata sakit. Jadi ditunda dahulu."
"Dia lemah ternyata, menyangkut wanitanya,"
"Hmm, apakah nona sudah menggugat-nya?"
__ADS_1
"Aku tidak menggugat, aku hanya berdiskusi untuk perpisahan kami. Dan memang seharusnya kami berpisah bukan bersama," ungkapnya.
"Nona yakin? Nona kan sangat mencintai tuan Antonio?"
"Mencintai ya?" ucapnya dengan tertawa.
Ia hanya tertawa ketir dengan pertanyaan Galih. Dilihatnya Galih sekilas lalu melamun, entah apa yang dia pikirkan. Pikirannya terbang menembus awan. Angan-angan yang indah jika memang Antonio benar mencintainya.
Namun rasanya itu hanya halusinasi. Bahwasannya Antonio sama sekali tidak mencintainya. Cinta yang telah bersemayam di dalam hatinya ternyata hanya bagaikan debu yang tertiup angin lalu menghilang.
Lalu apa alasannya selama ini dia malah bertahan dengan pernikahan tanpa cinta ini? Peran apa yang sedang dia mainkan? Apakah sama hal nya seperti dia yang akan membawa kabur hartanya? Galih masih Setia menunggu jawaban dari nonanya.
"Kenapa berdiri terus mas, duduk saja," pinta nya.
Galih pun hanya mengangguk dan mendudukan bokongnya. Dia sudah tidak sabar apa jawaban dari nona cantiknya.
"Aku sangat mencintainya ... Tapi aku juga tidak bisa menahannya. Pernikahan itu bukan ajang saling menjaga. Jika dia ingin menjagaku, jaga saja tidak perlu mempermainkan pernikahan,"
"Dia tidak bisa berkutik lagi, mungkin dia terlalu syok karna kisah masa lalu yang dia kubur dalam-dalam seorang diri, aku ketahui mas. Makanya dia jatuh pingsan,"
"Aku seperti istri yang tersakiti, karna orang ketiga. Namun aku juga tidak bisa menyalahkan dia. Dia sudah berusaha menghindar, tapi ... Mas Tino mengejarnya disaat statusnya masih berstatus suamiku mas,"
"Terkadang, apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Yang harus nona lakukan sekarang adalah bersabar. Jika menurut nona keputusan nona benar dan sudah mantap dalam segala hal. Mencobalah untuk menerima kenyataan, diluar sana masih ada orang yang mencintai nona. Meskipun nona belum menyadari." Galih menasihati nonanya.
Ia hanya mendengarkan tanpa menyahut. Hingga akhirnya Galih berpamitan dan berlalu dari ruangan.
***
Bolehkah aku merasa sakit ?
Luka yang tersemat begitu dalam .
Hingga aku merasa menjadi bodoh
Bodoh karna mengira dirimu mencintaiku .
***
Apresiasi kalian dengan menyukai karyaku hanya me-like, berkomentar dan mem-vote.
Semoga tetap menunggu ceritaku ini.πΌπ
__ADS_1
Salam sayang dariku.
Folow ig ku yu asrinurfitrii