
Getaran ponsel ditangannya membuatnya tersadar dan teralihkan dari objek tatapannya. Ia menghembus nafas sejenak. Lalu mengangkatnya.
📞 "Apa?" tanya Putri ketika dia mengangkat telpon.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
"Assalamualaikum," ulang Putri.
"Ada apa?" Putri.
"Kemari saja, ada yang ingin aku sampaikan, ditempat biasa," pinta penelpon diseberang sana.
📞 "Iya, aku kesana."
***
Putri kini tengah ditempat yang sudah biasa mereka bertemu. Lama Putri menunggu, sampai beberapa kali ia melihat pergelangan tangannya, melihat berapa menit dia sudah menunggu. Ternyata, dia sudah menunggu sampai setengah jam.
Selalu saja, lelaki pujaannya telat datang. Nomor berapa jika dia diurutkna dalam daftar agenda kehidupannya. Mungkin hanya akan diurutkan, diurutan paling bawah. Sampai-sampai dia harus menunggu lama. Padahal dia yang membutuhkan Putri.
Putri beranjak dari duduknya, ia akan pergi karna terlalu lama menunggu. Setelah Putri berbalik, ia menubruk tubuh lelaki kekar itu. Hingga Putri hampir terjantuh. Ia masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, hingga ia masih berdiri ditempatnya.
Putri melipatkan kedua tangannya, dengan tatapan tajam ia menatap lelaki itu.
"Ngambek lagi, aku telat ya," ucapnya masih bersikap santai.
"Bukan telat lagi, mungkin bahkan kamu melupakan janjimu itu. Sudah janji tidak akan terlambat, tetapi nyatanya ... kamu yang membutuhkan aku. Tapi kamu sendiri yang tidak tepat waktu," gerutu Putri. Ia mengerucutkan bibirnya.
Putri duduk kembali dikursinya. Begitupun dengan lelaki itu. Ia pun sama juga mendudukan bokongnya dikursi. Lelaki itu memanggil waiters cafe. Dan kejutan datang untuk Putri.
Dengan romantisnya lelaki itu membawakan sebuket bunga Indah bunga Mawar putih, seputih Cinta mereka yang sedang mereka jalin.
Putri menatap cincin dan lelaki itu secara bergantian. Benci, bahagia. Sukacita menyelimuti hatinya. Penantiannya tidak sia-sia selama ini. Lelaki itu menyematkan cincin itu dijari manis Putri.
Dengan berkaca-kaca Putri hanya mampu mamandang lelaki itu dengan haru.
"Tunggu aku ya?! Sampai tuan Willy dan nona bisa bersatu. Bersabarlah, aku pasti akan menikahimu." lelaki itu pun mencium kening Putri.
Putri semakin terisak dengan lontaran beserta perlakuan yang sangat romantis itu.
"Iya, aku akan selalu menunggumu," sahut Putri.
Setelah suasana sudah mencair dan perdebatan tidak dilanjutkan. Karna kekesalan Putri berganti dengan sebuah kebahagiaan. Statusnya yang dulu tidak jelas. Kini telah diperjelas oleh kekasih hatinya.
Dengan hati-hati lelaki itupun menceritakan niatnya, mengapa ia meminta Putri untuk bertemu dengannya.
"Bagaimana? Apa kamu punya ide sayang?" tanya lelaki itu.
"Ada," jawabnya irit.
__ADS_1
"Apa?" tanya lelaki itu lagi.
"Nanti aku minta cuti lagi, dan tuan Alwi pasti senang, karna setiap hari bisa bertemu dengan tuan Willy,"
"Kamu yakin semua bisa berjalan sesuai rencanamu?!" tanya lelaki itu.
"Sebentar aku pikir dulu," jawab Putri.
Dia masih tidak bisa berkonsentrasi karna kebahagiaannya sungguh mengalihkan dunianya. Rasanya dia ingin segera dinikahi lelaki yang ia cintai. Ia masih mengelus, mencium cincin yang dipakaikan lelaki itu.
"Ayolah, berfikir. Kalo begitu terus kita tidak akan menemukan titik terangnya sayang," ujar lelaki itu.
Putri malah santai, dan senyum-senyum sendiri. Membuat lelaki itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Tringg
Bunyi ponsel lelaki itu Pertanda pesan masuk, dia lantas segera membuka pesannya.
💬 "Segeralah datang kerumahku!"
Ada apa, tumben tuan memanggilku. Batin lelaki itu.
"Apa kamu tidak akan pulang? Aku dipanggil tuan besar. Aku harus segera kesana!" ucap lelaki itu.
Putri menoleh, "Ya, sudah kesana saja. Aku pulang pakai taxi online," jawab Putri.
Lelaki itu sebenarnya ingin pulang bersama. Tapi karna keadaan tidak memungkinkan untuk pulang bersama. Akhirnya mereka pulang sendiri-sendiri.
***
Ia lantas melihat arloji yang tersemat di pergelangan tangannya. Pantas saja sudah merasa gelap ternyata waktu sudah petang.
"Ayo, semuanya kedalam. Kalo kata orang zaman dulu pamali,"
Mereka masuk kedalam. Ananda berpamitan, dan Ima mengekorinya. Sedangkan Willy, El, dan Alwi mereka masih bercanda seperti keluarga harmonis.
Cocok!!
Itu yang ia ucapkan ketika melihat ketiganya. Ima menatap ketiganya dari lantai atas, bahagia menyelimuti hatinya.
"Pah,"
Panggil Ima, ia lantas kekamarnya, tetapi tidak ada orang disana. Ia pun pergi keruang kerjanya, dan ternyata ada orang yang sedang ia cari.
Ima tidak masuk dulu keruang kerjanya. Dia sedang mendengarkan percakapan suami dan orang kepercayaan Ananda.
"Sudah melamar pacarmu?" tanya Ananda.
"Jangan kalah gercep, nanti kamu merana dia digebet laki-laki lain."
__ADS_1
Sungguh perhatian sekali tuan Ananda pada lelaki itu. Ia mengangguk pelan. Dan mengacungkan jempolnya, sekarang pembahasan masuk ketitik pusat pembicaraan.
"Apa kamu sudah mempunyai rencana?" tanya Ananda.
"Saya masih bingung tuan kalo urusan begini. Kalo disuruh nangkap penjahat sangat gampang saya mengatur strategi," jawab lelaki itu.
"Ya, kamu jadi mak comblang. Untuk putriku. Katamu kan sebelum nonamu bahagia kamu tidak akan menikah?!" sahut Ananda.
"Kalo kata Putri, dia akan meminta cuti lagi seperti dulu. Mungkin tuan masih ingat, waktu kami kekampung tuan,"
"Hmm, kurasa itu bagus. Tapi harus dalam waktu jangka lama. Masalah hati tidak segampang itu bisa mencintai,"
Akhirnya Ima membuka pintu itu dan masuk kedalam. Tuan Ananda, dan lelaki itu terkejut. Apakah Ima sudah mendengarkannya sejak awal.
"Jadi dia itu pacarnya kamu?! Bukan pacar...,"
"Bukan Mah," jawab Ananda.
"Bagaimana kalo Mama pura-pura sakit saja. Dan Mama mau Putri yang merawat Mama. Ya, untuk sekedar memberi saran,"
"Kita bujuk, El supaya mau lagi untuk bekerja jadi sekretarisnya kan. Dia pasti tidak akan membantah jika menyangkut dengan kesehatan Mama,"
"Kenapa kalian tidak memberitahu aku. Aku juga ingin El dan Willy bersatu. Mereka terlihat serasi, aku bahagia ketika melihat mereka berdua bersama,"
"Alwi dengan Willy seperti seorang ayah dan anak,"
Mendadak keduanya terdiam menanggapi celotehan Ima yang terakhir. Ima mengernyit heran, setelah ia mengucapkan kata itu.
"Kenapa sih?" tanya Ima penasaran.
"Mmm, tidak Mah," jawab Ananda.
Ananda mencoba menetralkan rasa gugup dihadapan Ima, ia tidak ingin sampai semuanya tahu bahwa El...
Apakah Ima akan masih merestui, jika keduanya bersatu. Apa Ima akan mendukung keduanya bersama. Cukup lah beberapa orang yang tahu. Sang istri tidak perlu tahu.
Tinggal Putri yang harus diberi tahu. Supaya rencana mereka berjalan dengan lancar. Sampai akhirnya Ananda meminta lelaki itu untuk Putri kelantai atas.
Tibalah dia diruang kerja Ananda, ia mnegetuk pintu terlebih dulu. Lalu dia masuk kedalam. Setelah, Ananda mempersilahkannya masuk.
"Ada apa tuan memanggil saya?" tanya Putri.
"Sini duduk disamping saya, nak Putri!" titah Ima.
Putri mendudukan bokongnya dikursi dan duduk bersebelahan dengan Ima. Hatinya berdebar ada apa sampai tuan, dan nyonya memanggilnya? Apakah Putri melakukan kesalahan.
Ima pun menjelaskan semuanya secara detail pada Putri. Putri hanya mengangguk, dan mengerti akhirnya semuanya bernafas lega karna rencana akan segera dijalankan.
Setelah mereka keluar bersamaan...
__ADS_1
***