
Perdebatan terjadi diantara mereka, El tidak ingin perjodohan ini terjadi. Namun semua mendukung Ananda, tapi akhirnya dinding pertahanannya roboh, ia pun menerima perjodohan ini meskipun dengan perasaan tidak senang.
"Ya sudah aku terima perjodohan ini," ucapnya dengan lemah.
"Mau jadi pengantin kok malah sedih," seru papa Ananda.
"Iya mom, yeee daddy Wil sama mommy bakal bersama," potong Alwi dengan tertawa girang.
El tertunduk dengan perasaan sedih, sedih karena ia menjadi penghalang didalam hubungan Willy dan Putri. Ia juga mengingat bagaimana kebersamaan mereka selama kurang lebih 6 tahun menuju 7 tahun.
Tapi apa sekarang, hubungan mereka harus kandas karena keegoisan kedua orang tua El yang mengingankan El dan Willy bersatu. Mata El berembun, sampai akhirnya air matanya terjatuh tanpa bisa ia tahan.
"Sayang, kita pindah tempat ya," seru Ananda pada Alwi.
Alwi mengangguk, merekapun pergi. Ima juga mengikuti suaminya untuk membiarkan Putri dan El berbincang-bincang berdua.
Putri memegang pundak El, El menoleh. Dengan senyuman penuh ketulusan dan kebahagian Putri menyambutnya. El semakin terisak. Tidak sampai hati ia melukai orang yang telah ia anggap sebagai kakaknya.
"Maafkan El kak," seru El. Terlihat matanya yang sudah beranak sungai.
"Tidak apa nona, mungkin aku tidak berjodoh dengan tuan Willy. Percayalah nona aku lebih bahagia jika Willy nikahnya sama nona. Bukan orang lain," jawab Putri.
Isakan tangis El seketika terhenti tatkala ia mendengar lontaran Putri. Pikiran El berkelana entah kemana. Mana mungkin bisa mengikhlaskan dalam sekejap. El menatap dalam netra penglihatan Putri.
Tapi semuanya benar, tidak ada kebohongan dimatanya, semuanya terlihat begitu dengan tulus terucap dari bibir Putri. El mengangguk, Putri pun memeluk El dengan erat. Sampai El kembali lagi terisak.
***
"Cie, yang mau jadi pengantin. Ahemmm, bakak uwu uwuan," seloroh Antonio.
Willy tidak menghiraukan lontaran Antonio. Dia masih sibuk dengan makanan yang tengah ia makan. Setelah makan malam selesai Imam memilih lebih dulu beristirahat.
Kini tinggalah kedua saudara itu berada dimeja makan. Antonio selalu membuat candaan dengan bertema perjodohan. Tapi Willy masih enggan untuk menimpali. Seketika Willy langsung tersedak.
"Uhuukk... Uhukk...." Antonio langsung mengambilkan air minum untuk Willy.
"Siapa yang mau nikah sih paman?" tanya Willy.
Antonio pun menceritakan semua. Dimana Imam berkunjung dan meminta mereka berdua untuk dijodohkan. Willy terlihat sedih dan juga bahagia. Sedih karna pernikahan akan berlangsung namun, karena pernikahan itu terjadi tidak lantas murni keinginan keduanya.
__ADS_1
Kata perjodohan diartikan kata paksaan. Hanya itu yang terlintas dibenak Willy. Tetapi bagaimana juga ia tidak bisa menolak karena ini memang keinginannya. Bahagia akhirnya bisa bersama dengan El. Wanita yang sangat ia kagumi.
"Kamu serius paman?" tanya Willy penasaran.
"Seriusan lah, masa bohongan. Emang mau nikahnya bohongan?" cerca Antonio.
"Tapi papa kok belum bicara apa-apa sama Willy, perihal perjodohan ini. Lihat kan tadi juga santai-santai saja. Seolah tidak ada apa-apa," jawab Willy panjang lebar.
"Mungkin nanti kalau waktunya udah tepat baru dia mau cerita padamu,"
"Iya mungkin,"
"Eh paman," seru Willy.
Antonio pun kembali duduk di kursinya ketika Willy berseru. Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa Willy akan berucap. Antonio pun pergi dari ruangan itu.
Willy pun beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya ia tadi ingin menanyakan apakah Antonio sudah bisa mendapatkan hati wanita yang ia kejar. Saat Antonio terduduk kembali tapi Willy enggan untuk bertanya.
Dia rasa itu bukan urusannya. Biarlah pamannya berjuang sendirian. Meskipun mereka telah akur kembali, tapi Willy masih tidak bisa menerima Antonio yang telah menyakiti El.
Willy melihat kamar papanya masih terbuka. Ia lantas mengetuk pintu dan masuk kedalam kamar Imam.
"Ada apa nak?" tanya Imam.
Imam masih sibuk dengan pekerjaannya. Willy sampai merebahkan tubuhnya diranjang sang papa. Sampai ia menunggu jawaban dari Imam. Ia juga memainkan ponselnya.
Ia melihat status whatsApp diponselnya. Ia tersenyum melihat status El. Bahagia itulah yang ia kini rasakan. Sebentar lagi mereka akan bersama.
Imam pun merebahkan tubuhnya disamping Willy, dilihatnya sang anak masih tersenyum-senyum sendiri. Akhirnya Imam berpura-pura tertidur.
"Pah, jangan tidur dulu dong. Belum diJawab." Willy mengguncangkan tubuh Imam.
Imam pun membuka mata, "Kenapa memang? Kalo nunggu kamu meminang El, akan lama. Sampai kapan kamu menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat disaat dia dipinang lelaki lain?"
"Jadi cowok kok lembek, nunggu sampai dia jatuh cinta sama kamu? Kamu tidak akan tahu dia mau atau tidak sama kamu, kamu tidak pernah mengutarakan isi hatimu,"
Willy merasa tertohok, hatinya merasa terlepas dari raganya. Ia juga mencerna setiap kata-kata yang papanya ucapkan. Willy juga berpikir memang benar adanya sampai kapan dia dan El akan bisa bersatu.
Willy tidak pernah mengutarakan isi hatinya. Ia hanya menjalaninya dengan senang hati. Sampai tiba waktunya ia akan meminta El untuk menjadi istrinya.
__ADS_1
"Memang benar yang papa bilang barusan. Tapi aku enggak bisa pah kalo sampai perjodohan ini terjadi. Luka El begitu dalam yang ditorehkan paman Antonio,"
"Iya jalani saja sekarang, seperti air sungai yang mengalir. Cinta akan tumbuh seringnya kalian bersama-sama. Sudah mau pergi dari kamar papa, atau mau menginap disini?" seloroh Imam.
"Aku tidur disini saja ya pah," pinta Willy.
Imam hanya menganggukan kepalanya. Ada seseorang dibalik pintu yang mendengarkan perbincangan mereka. Yap, dia adalah Antonio. Semakin besar rasa penyesalan yang tumbuh dalam dirinya.
Ia berjalan kembali untuk kekamarnya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk menguping, tetapi setelah samar-samar mendengar suara Willy ia pun jadi tertarik untuk mendengarkannya.
'Ya ini memang salahku, seharusnya aku tidak menikahinya. Dan membiarkan Willy untuk menikahi El. Tapi semua telah terjadi aku tidak bisa mengulang cerita ini kembali,' batin Antonio.
Ponsel Antonio nyaring berbunyi, panggilan video call dari Aurelia, hatinya senang. Meskipun ia tahu yang menelpon bukan Aurelia tetapi Nuri.
📞 "Assalamu'alaikum daddy," salam Nuri.
"Wa'alaikumsalam sayang," jawab Antonio.
"Daddy bisa jemput aku? Aku rindu sama tuan Alwi," pinta Nuri.
"Boleh, kapan?" tanya Antonio.
"Besok saja dad," seru Nuri.
"Ok, besok pulang kerja daddy jemput ya!"
"Makasih dad, yasudah sampai ketemu besok. Aku tunggu daddy, Assalamu'alaikum,"
📞 "Iya sayang, Wa'alaikumsalam,"
Setelah telpon dimatikan, Antonio pun pergi kedalam mimpinya.
***
Setelah Antonio pulang dari kantornya, ia langsung bergegas pergi untuk menjemput Nuri. Galih memberitahukan sesuatu yang penting pun tidak Antonio dengarkan.
"Mau kemana tuan Antonio. Buru-buru sekali, padahal ini berita penting," gumam Galih.
Galih hanya mampu mendengus kesal ketika dia memberi tahukan pada Antonio tapi Antonio tidak menggubrisnya.
__ADS_1
"Nanti kalo telat tahu, saya disalahkan," gerutu Galih.
***