
POV El-Suci nya End dibab 13 ya, sekarang Pov author😂 jadi orang ketiga, tapi bukan pelakor dihubungan orang wkwk.
 ----------
Willy tampak termenung didepan jendela menatap kearah luar dengan tatapan kosongnya. Pikirannya entah kemana, mungkin pikirannya tengah dilanda rasa penyesalan yang amat sangat ia sesali.
Dirinya tak menyangka kejadian semalam akan membuat gadis berparas cantik itu menangis dan membuat hatinya hancur berkeping-keping seperti cincangan daging.
"El, sungguh itu diluar kesadaran Kakak El," Dengan tangisan dia terus meracau merutuki kebodohannya.
Kebodohan? Ya kebodohan karna kesadarannya ditutupi dinding Libido yang sangat liar.
Dia menendang ranjang berkali-kali, dengan tidak merasakn sakit sedikitpun, dia sibak selimut itu sampai terjatuh kelantai. Dia melihat sprei berwarna putih lekat itu nampak ada bercak darah.
Hatinya semakin sakit dadanya bergemuruh hebat, merasakan guncangan dahsyat menulusuri dada dan hatinya, dia membayangkan betapa kasar dan tidak tahu malunya dirinya memaksa gadis yang teramat dirinya sayangi untuk meny*lurkan n*fsunya.
Dipegang eratnya sprei itu dengan erat didekatkan kedadanya dan memeluknya dengan kuat. Dia mengambil paksa keh*rmatan gadis itu.
Sekarang apa yang harus dia lakukan pikirannya menerawang, sedangkan gadis itu menolak dengan mentah-mentah tanggung jawabnya.
"Aku harus bagaimna El untuk menebus rasa bersalahku," racaunya kembali dengan tak henti hentinya menangis.
"Aku harus berbicara apa pada Paman Anton gadisnya kurusak dengan sangat buruk nya aku merus*k masa depannya."
"Sebenarnya minuman apa yang telah diberikan sibrengs*k itu hingga aku tidak bisa mengontrol diriku."
"Hah, sittt ..." Dia berdiri menghadap tembok dengan memukul-mukul nya berkali-kali hingga tangannya berdarah.
Tubuhnya seketika ambruk jatuh kelantai. Tanpa ia sadari sepasang mata indah dan berparas cantik itu tengah menyaksikan kebodohannya.
Dia refleks membuka pintu kamar dengan lebar lebar dan mulai berlari menghampiri orang yang tengah menangis. Gadis itu memapahnya ketepian ranjang untuk duduk disana.
"Tunggu disini biar kuobati lukamu." Dia beranjak dari tepian ranjang dan berjalan keluar kamar. Mengambil kotak P3K untuk membersihkan dan mengobati lukanya.
"Ini hal bodoh, kau sudah dewasa sudah kepala tiga namun masih bertingkah konyol menyiksa diri sendiri." Dengan mulut komat kamit gadis itu mengomel bagai kerata api yang tak hentinya berhenti sebelum sampai stasion.
"Cobalah untuk berfikir setenang mungkin jangan hanya mengandalkan emosi semata, itu semua akan berdampak buruk pada tubuhmu."
Dia menangkap tangan yang kini tengah mengobati lukanya, dia pegang. Dia beringsut kebawah untuk bersujud dikaki gadis itu, dia menangis seraya meminta maaf atas perlakuannya yang sangat buruk namun gadis itu menutupi kesedihannya.
__ADS_1
Dengan masih memberikan perhatian dan mengurusnya. Sungguh sangat mulia sekali gadis ini, jadi tidak salah jika Willy sangat sangat mengagumi dan mencintai dia meskipun kini dia tengah mempunyai kekasih.
Dan gadis ini pun tidak mencintainya, bisa diartikan perasaannya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia memegang tangan gadis itu menangkupkannya untuk memohon pengampunan nya.
"Aku harus apa El supaya kamu memaafkan Kakak, sungguh kakak tidak bermaksud." dengan suara parau dia tak henti hentinya mengucap kata maaf.
"Maaf kan Kakak El, maaf, maaf ,maaf."
El hanya mampu menjatuh kan butiran air mata dikelopak indah matanya, dia tidak mampu menjawab hatinya kini sakit kilasan kejadian semalam masih terngiang-ngiang didalam pikiran dan memori ingatannya.
"Kak," panggilnya dengan suara melemah.
"Bangun ayo, kamu hanya pantas bersujud dikaki ibumu bukan aku."
"Tapi El aku bersalah padamu dan masa depanmu Kakak ... " Dia menjeda ucapannya beberapa saat lalu melanjutkan perkataannya kembali. "Tidak bisa mengembalikannya lagi pada dirimu."
"Itu pemberian dan kekuasaan dari yang maha pencipta El kau telah menjaga nya untuk tidak dijamah orang namun aku dengan tidak tahu dirinya merenggut paksa darimu."
"H*rg* dirimu keh*rmat*nmu hanya hadir satu kali didalam hidupmu, maafkan aku El." Dia tidak henti hentinya meminta maaf dan mencium tangan gadis cantik itu.
[Aku yang ngarang aku ngetik aku juga yang mewek huhuhu Willy kau dasar memang lelaki brengs*k benci juga aku kepadamu]
"Jangan seperti ini, aku belum bisa memaafkanmu Kak." Ucapnya dengan menundukan kepala.
"Aku belum bisa, tolong beri aku waktu untuk menenangkan pikiranku!" El terisak mengingat nya kembali.
"Iya Kakak mengerti." Willy berdiri dan duduk disebelah El.
El menangis histeris memegang dadanya, raut wajah Willy hanya bisa melukiskan bahwa dirinya pun teramat sakit atas kejadian ini.
Willy berinisiatif untuk memeluknya, apapun reaksi dari gadis itu dia akan menerimanya. Namun tidak ada perlawanan dari gadis itu dia hanya menumpahkan kesedihan yang teramat sangat mendalam.
"Maaf kan Kakak ya El." Sembari mencium pucuk kepala El.
"Menangislah untuk meringankan semua beban mu, meskipun bebanmu bersumber dari pria brengsek ini." Sungutnya mencibir memaki diri sendiri karna kebodohannya yang telah membuat hati sang pujaan sakit, hancur berkeping-keping.
***
Senja mulai nampak, itu artinya siang akan menjadi sore hari dan sore hari akan berganti menjadi malam hari. Setelah solat magrib ia memutuskan untuk mencari dan menghirup udara segar.
__ADS_1
Malam ini nampak El tengah melamun dihalaman belakang rumah. Bukan tanpa alasan dirinya datang kesana, El ingin mencairkan pikirannya yang tengah membeku menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
Kini baginya rumah ini terasa pengap dan menyesakkan dada, kejadian itu tidak bisa dia lupakan secepat itu.
Dengan air mata mengalir ia mencoba untuk ikhlas menghadapi ini semua. Ada hati yang tengah berjuang untuknya namun harus ia urungkan untuk menjadi makmumnya.
Dia merasa bahwa dirinya tak pantas untuk lelaki sebaik dia, dia kini hanya gadis yang kotor. Lamunannya terbuyar ketika ponselnya berbunyi nyaring didalam saku celananya.
"Haduh mas Tino aku harus bicara apa ya mataku sembab begini, apa jangan diangkat saja ya, kekamar dulu deh." El berlari kedalam rumah dengan membuat dirinya berakting jika sudah tertidur jadi laki-laki pujaannya tidak mengira bahwa dirinya telah menangis.
Drttt.. Drtt..
Ponselnya berbunyi nyaring kembali, diambilnya ponsel itu dan diangkatnya untuk berbicara, hal apa yang membuat pujaan hatinya menelfon beberapa kali.
(Video call)
"Assalamu'alaikum cantik, calon ibu dari anakku, selamat malam," sambutan hangat ketika ia mengangkat telfon itu.
Mata nya nampak mulai berkaca-kaca, tapi harus El tahan supaya pria yang tengah menelfonnya tidak curiga bahwa dirinya mengalami kesedihan.
"Wa'alaikumsalam, selamat malam mas Tino." El menjawab salamnya dengan menampilkan senyuman manis namun palsu.
"Kenapa menangis? Apa Willy tidak menjagamu dengan baik?" Tanya nya pada El.
Apakah terlihat wajahnya tengah habis menangis? Apakah senyumannya yang merekah manis bagaikan gula itu tidak bisa membuatnya tenang? Kenapa lelaki satu ini sungguh peka dengan mimik wajahnya El?
"Apa wajahku terlihat kesal Mas? Atau apa yang membuatmu bertanya begitu?" tanyanya dengan melayangkan pertanyaan.
"Kau terlihat habis menangis cantik? Apakah tebakan ku benar?" Bukannya dia menjawab malah melayangkan pertanyaan lagi.
"Salah besar ah Mas Tino, aku sudah tertidur. Tetapi terganggu karna kau menelfonku." Jawabnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Sungguh luar biasa sekali drama nya, dia bisa menyembunyikan nya dia bisa mengelak untuk tak berkata jujur tentang keadaannya.
"Maaf ya mengganggu rasanya mas tidak enak hati dari kemarin El! Mas takut kamu kenapa kenapa! Tapi syukurlah Willy menjagamu dengan baik dan kau pun tidak apa apa." Cicitnya dengan wajah tampannya yang tengah tersenyum manis dilayar ponsel.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1