
El mencoba untuk mengungkapkan apa yang ada dibenak, dan isi pikirannya. Dirinya tidak ingin berharap lebih dalam untuk pernikahannya.
Meskipun dahulu Antonio selalu saja mengucapkan kata indah yang sangat melambungkan angan-angannya.
Tentang indahnya ikatan pernikahan, dilandaskan cinta, saling memiliki, mengerti satu sama lain. Untuk membayangkannya saja, sangat membuat hatinya bahagia, apalagi jika semuanya dapat terwujud. Namun kenyataan dan sesungguhnya, bertolak belakang dengan apa yang dia harapkan.
El harus menelan pil pahit untuk hidupnya. Hidup berjauhan dengan Mama-nya, dengan keadan tengah mengandung. Ada janin didalam rahimnya, sosok malaikat kecil yang mungkin masih segumpal darah.
El hanya menatap dengan sendunya lelaki yang sudah berstatus suami sah nya. Bagaimana jika malaikat didalam perutnya mengidam tengah malam? Dan dia tidak bisa meminta kepada suaminya?
Bukan tidak bisa, lebih tepatnya, menyadari bahwa sosok malaikat yang tengah dirahimnya bukan anak kandungnya. Melainkan anak orang lain.
"Iya aku paham kok mas." dengan lirih dan air mata yang terus bercucuran. El menyeka sisa-sisa air matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Bangun mas, lebih baik tidur saja. Tidak usah dibahas lagi, aku sudah mengerti." jawabnya dengan El langsung menggerakkan badannya untuk tertidur.
Antonio pun berdiri, dengan mengecup kening El, memutari ranjang dan mulai memejamkan kedua matanya.
El memegangi kembali dadanya, terasa sangat nyeri sekali rasanya disituasikan dengan kenyataan seperti ini.
Jika dapat memilih El hanya ingin membesarkan anaknya, darah dagingnya, seorang diri saja.
Aku tidak boleh menangis terus, kasihan malaikat kecilku, sabar ya sayang. Batin El bergumam lirih.
Meskipun beberapa hari dirinya menangis, tapi tidak mempengaruhi kehamilannya. Seakan malaikat kecilnya tau jika belum saatnya dia diketahui banyak orang.
Sangat tidak etis, jika baru menikah beberapa hari sudah dinyatakan hamil 2bulan.
El pun sudah terlelap kedalam tidurnya. Matanya mengerjap dan terbangun. Ditengah malam begini dia harus mau keluar kamar untuk mencari makanan.
Inilah yang ditakutkannya, mengidam tengah malam!
El pun sudah dimeja makan, dia sudah mencari makanan namun tidak ada sesuatu yang diinginkannya.
"Ah, sayang... kenapa harus tengah malam? Kenapa tidak tadi saja, waktu selesai solat isya." pekiknya mengajak bicara pada perutnya yang masih datar. Dengan tangan mengelus-ngelus perutnya.
Itu nona El, bicara sama siapa? Apa disini ada penghuninya? Yaampun apa iya nona sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata. Membuatku merinding saja. Batin Putri.
Sekretaris Putri lebih dulu menuju dapur, setelah terdengar suara orang berjalan, dia pun bersembunyi. Konyol untuk apa Putri bersembunyi?
Dia akan menyapa El, gadis yang tengah duduk dikursi, namun diurungkan karna mendengar suara pintu terdengar terbuka dilantai atas.
Wajar saja akan terdengar, jika tengah malam akan sunyi dan keheningan yang tercipta. Bagi yang penakut kesan berada dikuburanpun mungkin akan dipikirannya.
Willy, laki-laki itu menuruni anak tangga. Dia kemudian mematung sejenak.
"Sedang apa El tengah malam sendirian didapur? Sedang berbicara dengan siapa El tengah malam begini?" ketika melihat mulut El komat-kamit. "Tapi disini tidak ada orang," tanya Willy dengan suaranya yang sangat pelan agar tak terdengar oleh orang yang menjadi pusat hidupnya.
Dia pun berjalan menuju arah El. Sedangkan Putri tengah menelisik, mencari tahu hal apa yang akan dilakukan Willy pada gadis itu.
"El... " panggilnya dengan lembut.
El pun menoleh, siapa gerangan yang memanggilnya? Dia mengharapkan sosok suaminya yang memanggilnya. Namun sayang itu bukan suaminya.
"Iya kenapa kak illy?" jawabnya dengan membenarkan posisi duduknya.
"Sedang apa tengah malam duduk sendiri? Lalu ... dengan siapa kamu berbicara? Disini tidak ada orang say ... "
__ADS_1
"Eh, maksud kakak, disini tidak ada orang El!"
"Kakak menguping? Ih kepo banget deh." jawab El ketus.
"Kok sensitif banget sih? Kakak jadi makin gemes El, semakin menyayangimu," gumamnya pelan namun masih terdengar oleh El dan tentunya Putri pun sama.
Ampun dah tuan Willy bucin, gombal banget, pengen aku lari menghampirinya dan menonyor kepalanya. Batin Putri.
Sedangkan dilantai atas ada seseorang yang tengah memperhatikan istri beserta keponakannya.
Maafkan Paman Willy, paman bersalah padamu telah menikahinya. Paman pun sama mencintai gadis yang kau cintai. Namun perasaan ini lebih besar untuk orang dimasa laluku. Batin Antonio.
Dia pun kembali kekamar, untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu, karna El terbangun ditengah malam.
"Bicara apa sih kak? Mungkin ini bawaan an ... ?"
El pun tak mampu melanjutkan ucapannya, "Kenapa El? An? An itu apa?" tanya Willy penuh selidik.
"M-maksudku ... Anu, itu aku lapar loh kak." dengan mengelus perut El. Willy hanya menautkan halisnya dirasa sangat aneh.
"Lalu mau apa? Kan dikulkas banyak makanan?" tanya Willy pada El.
"Memangnya mau mencarikan kak?" jawabnya dengan malu-malu.
Mungkin begini penampakan El yang malu-malu.
No ... No ... Protes ... Protes ... reader wkwkwk
Meskipun gak ada yang baca, PD aja ada yang nungguin ceritaku haha.
"Hmmm, aku mau nasi goreng tapi yang spesial. Spesial seperti mas Tino yang spesial dihatiku."
Aduh, yaampun nona El, polosnya. Jangan berbicara seperti itu tidak bisa kali ya? itu tuan Willy sudah cemburu level 1000 kayanya. Batin Putri dengan menahan tawa.
"Hmmm,"
"Yasudah kakak cari dulu." pamit Willy yang akan segera melangkah pergi, namun langkahnya terhenti.
"Kakak tunggu." panggil El dengan setengah berteriak.
Willy pun menoleh. "Kenapa El? Ada sesuatu lagi yang kamu mau?" tanya Willy.
"Sebelum pergi, elus dulu dong perut aku." Dengan El menunjuk ke perutnya.
"Satu lagi kak, harus yang di abang-abang pinggir jalan membelinya." rengek El seperti anak kecil.
"Loh kok kamu kaya lagi ngidam El," tertawa kecil.
"Gak biasanya juga, mau nasi goreng tengah malam, tapi harus membeli, biasanya masak sendiri." sahut Willy dengan berjalan dan mengelus perut El.
"Sudah yah, kakak mau mencari dulu yang kamu inginkan," pamitnya lagi.
Haduh, kayaknya benar saja yang harusnya jadi suami nona El itu tuan Willy. Buktinya perhatian begitu. Batin Putri.
Setelah berpamitan, Willy pun memasuki mobil, dan melajukan kendaraannya.
__ADS_1
Aneh El kok seperti mengidam? Pengen dielus-elus perutnya? Padahal dia paling anti kalo dipegang perut. Batin Willy berkecamuk.
Willy hanya mampu bertanya-tanya dan bermonolog dengan dirinya sendiri. Hingga mobilnya pun terparkir cantik ketika dia telah menemukan pedagang nasi goreng.
"Bang masih ada?" tanya Willy pada abang tukang nasi goreng.
"Masih ada mas, mau dibuatkan berapa porsi?"
"2 saja bang,"
"Baik, tunggu sebentar ya mas. Sambil menunggu duduk dulu." pinta abangnya.
Willy pun menuruti permintaan abang nya, setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pesanan pun selesai. Willy pun memberikan lembar uang dan memberikannya.
"Loh kok mas, ini kebanyakan." sahutnya dengan melambaikan uang pemberian Willy.
"Tidak apa-apa bang, untukmu. Untuk membelikan pulsa kekasihmu."
"Tahu saja aku belum nikah mas," sambungnya dengan tertawa.
"Keliatan masih muda bang."
"Aku tebak ya, mas nya ini baru jadi papah muda ya?" tanyanya dengan menggoda.
Keduanya pun hanya mampu tersenyum tipis, tanpa Willy menjawab.
"Saya permisi dulu ya bang," pamit Willy pada abangnya.
"Iya, hati-hati mas." jawabnya dengan antusias sembari menempelkan uang kejidatnya dengan kegirangan.
Willy pun menoleh sekilas sebelum melajukan kendaraanya.
Apa sebegitu berarti dan senangnya? Ketika uang senilai itu tak berarti untukku? namun sangat berarti untuknya. dengan tingkahnya yang terlihat kegirangan.
"Haduh kakiku pegal sekali," gumam Putri pelan.
Dengan nada berbisik. "Lama banget sih itu siWilly," gerutu Putri.
Namun seketika wajahnya berbinar ketika terdengar pintu depan utama terbuka.
"El,"
***
Kasian nona El ini lagi sedih hatinya, rangkul online dong diphpin mas Tino ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Ini sikakak Willy yang sangat perhatian pada El
Dan ini mas Tino si egois itu
***
__ADS_1
BERSAMBUNG