
Setelah sekitar 30 menit menempuh perjalanan El pun telah sampai ditempat tujuan, yaitu tepatnya dikantor Willy.
Ya dia ingin menenggelamkan rasa canggung diantara mereka, dia ingin kejahilan Willy hadir kembali, dia rindu sosok kakak angkatnya yang seperti dahulu.
Setelah memberi ongkos dia pun menuju kedalam untuk menemui Willy, dia pun ke resepsionis untuk menanyakan Willy terlebih dahulu.
Sebenarnya tidak perlu karna dia juga adik dari Willy Nugraha Abraham, meskipun hanya adik angkat. Tapi dia juga mematuhi peraturan yang ada dikantor.
"Siang mba," sapanya pada mba resepsionis.
"Siang juga nona." Dengan tersenyum manis mba resepsionis membungkukan badannya.
"Kakak di ruangannya?"
"Tidak ada meeting diluar?"
"Saya ingin bertemu dengannya" Tanya nya dengan beruntun pada mba resepsionis.
"Ada nona di ruangannya, apa perlu saya antar?" tawarnya pada El.
El hanya terkekeh geli dengan tawaran mba resepsionis dikantor Willy, selalu saja membuatnya ingin tertawa.
"Eh, diantar?". Menjeda nya dengan cekikikan El didepan meja resepsionis. "Tidak usah mba yaampun gak akan nyasar juga!"
"Yasudah saya keatas dulu ya mba terimakasih," Pamitnya.
"Iya nona sama-sama, tidak usah berterima kasih sudah tugas saya." Dengan membungkukan badannya kearah El, El pun berlalu dari hadapan mba resepsionis.
El pun menuju lift dengan menekan tombol lima karna ruangan Willy berada dilantai lima.
Dia pun berjalan menuju keruangan Willy dengan melewati beberapa ruangan.
Setelah sampai didepan pintu dia bimbang antara harus mengetuk atau tidak perlu, dia hanyut dalam pilihannya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengetuk pintunya. Dia pun membuka pintu dengan perlahan-lahan.
Dia tidak ingin mengganggu pekerjaannya, tapi setelah membuka pintu dia diam mematung melihat suguhan didepan matanya, entah kenapa dengan perasaannya, tetapi dia merasakan sakit hingga keulu hati dan membuatnya tak mampu untuk melanjutkan perjalanannya kedalam ruangan.
Dengan memegang dadanya. Perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan sakit melihatnya begitu dekat dengan kakak. Mengapa? Padahal kedekatan mereka sudah kuketahui bahkan mereka menjalin kasih. Batin El bergumam lirih.
El apakah kau mencintainya? kenapa enggan untuk mengungkapkannya, bahwa sebenarnya cintamu seluruh perasaanmu hanya untuk kakakmu yaitu Willy. Perasaanmu pada Mas Antonio mungkin saja hanya sebatas mengagumi.
Kedua sepasang kekasih itu kini memang tengah bekerja, namun disetiap perbincangannya mereka menyelipkan candaan agar tidak terlalu pusing untuk pembahasannya.
Posisi mereka kini memang bisa dikatakan tidak romantis, tetapi entahlah dimata El kini keduanya sangat romantis, bagaimana tidak dengan Willy duduk dikursi kebesarannya menjadi Presdir dikantornya dan Putri berdiri disampingnya dengan sesakali menepuk bahu Willy sambil tertawa bersama.
__ADS_1
Air mata El pun jatuh berurai, dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya, seketika itu pula Putri menoleh kearah pintu.
"Nona El itu anda? Kenapa tidak masuk?" tanya nya ditujukan pada El, namun hening tidak ada jawaban dari bibir El, dia hanya melamun dengan arah mata menatap Willy dengan tatapan kosong.
Putri hanya menatap keduanya dengan tatapan tidak bisa diartikan dia menatap keduanya bergantian, mereka saling menatap tetapi ... Tatapannya mengisyaratkan bahwa keduanya terlihat sangat saling tersakiti.
Dibalik tatapan mereka berdua tersirat kesedihan yang tidak bisa mereka ungkapkan
Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua? Apa telah terjadi sesuatu dimalam waktu tuan Willy mabuk?. Batin Putri bertanya-tanya.
Dia hanya mampu mengira ngira sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua?
El kenapa kau menangis? Apakah kamu cemburu melihatku bersamanya? Batin Willy pun tak kalah bertanya tanya.
Apa aku harus meninggalkan Putri? Tapi kamu kenapa menolak tanggung jawabku El? Dengan alasan tak masuk akal kau tak mencintaiku? Cinta bisa tumbuh karna seringnya berinteraksi El. Batin Willy berdialog dengan dirinya sendiri.
Dia tidak merasakan sakit seperti diriku. Bahkan dia masih menyempatkan berpacaran diwaktu jam kerja tanpa memperdulikanku. Batin El, air matanya jatuh dengan derasnya mengalir dari mata indahnya.
Mereka hanya mampu melemparkan pertanyaan pada diri sendiri dan bermonolog dengan pertanyaan masing-masing yang enggan untuk mereka ungkapkan.
"Eh, tuan tangkap nona El mau jatuh itu," Putri histeris melihat El limbung dengan kesadarannya yang mulai tidak bisa menopang tubuhnya.
Putri berlari untuk menahan tubuh El, Willy pun dengan refleks berlari menuju arah El, namun sayang keduanya tak mampu menangkap tubuh gadis cantik itu.
Willy dengan lantangnya. "Sialan siapa yang mendekor ruangan kerjaku, menaruh meja disamping pintu?" murkanya Willy ketika El terluka.
"Tuan sudah sekarang gendong dulu nona El, simpan dulu amarahnya, aku akan kembali setelah membawa kotak P3K." Willy hanya mengangguk dan menggendong tubuh El untuk direbahkan disofa.
"El." Dengan berjongkok dibawah sofa dan menyibak-nyibakan rambutnya dan diselipkan didaun telinga El, tak lupa juga dia menghapus sisa air mata dikedua pipi El.
"Kenapa menangis?" tanyanya dengan mencium berulang ulang kali punggung tangan El, yang diajak berbicara masih tidak bergeming dengan tatapan kosongnya.
Dari arah pintu Putri yang melihatnya hanya dibuat kaget dengan perlakuan Willy pada El, dia urungkan untuk masuk saat ini kedalam ruangan.
Dia tidak berniat untuk menguping namun jiwa keponya terlalu tinggi hingga dia urungkan untuk kedalam sekarang.
"Sebernya apa sih yang terjadi? Nona El sepertinya syok melihatku dengan tuan Willy!"
Setelah beberapa menit namun Willy tak kunjung berbicara pada El, hingga akhirnya Putri memutuskan untuk masuk.
"Kenapa lama?" tanya Willy pada Putri.
"Maaf tuan, biar saya obati sekarang." Pintanya untuk mengobati El.
__ADS_1
Setelah selesai diobati, kesadaran El pun nampak kembali, dia tidak lagi melamun, dengan memegang kepalanya.
"Kak Putri kenapa membawa kotak P3K siapa yang terluka?" tanya nya dengan polos.
"Siapa?" Putri hanya mengulang kata siapa.
"Lalu apa nona El tidak merasa sakit didahi anda?" Putri berbalik bertanya.
El memegang kepalanya dengan meringis "Awww, ini lumayan sakit sih kak," Jawabnya lagi dengan polos.
Kedua pasangan kekasih itu hanya saling bersitatap dengan bingung, dia terjatuh namun tidak mengingatnya.
"El." Panggil Willy dengan memegang tangan El lalu menyentuh dahi El, "Apa kamu amnesia karna terjatuh?" tanya Willy pada El.
"Kalian berdua kenapa sih?" El kebingungan menanggapinya.
Haduh kenapa aku lepas kendali dengan diriku! tapi kenapa aku sakit melihat kebersamaan mereka? Apa karna kak iily telah ... Batin El.
"Aaahhhhhh ... "
"Nona kenapa?"
"El kau kenapa?" tanya keduanya dengan khawatir.
"Eh, aku kenapa yah?" Tanya nya dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri. Putri dan Willy beradu pandang kembali. Penuh kebingungan atas sikap El hari ini.
Dengan berdiri Willy menyambar jemari tangan El untuk mengikutinya berdiri. "Tidurlah sebentar, istirahat, nanti makan siang aku antarkan." lontar willy dengan memapah El.
"Sudah seperti perhatian suami kepada istri saja" sungut Putri terkekeh geli melihat perhatian Willy kepada El.
***
Memberi vote terlalu berat ya ๐
Tinggalkan like beserta kritikan nya untuk ceritaku๐
sangat membantu untuk mood menulis ku hihi
Yang sudah mampir terimakasih jempol dan masukannya ๐
***
BERSAMBUNG
__ADS_1