Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 42 Aku Kali Ini Tidak Ingin Ikut Kalian/Alwi.


__ADS_3

Rintik hujan membuat seisi dunia yang tengah diatas ranjang enggan untuk terbangun dari alam mimpinya. Adzan subuh sudah berkumandang. Dengan mengerjap El mulai membuka mata untuk terbangun.


Menunaikan kewajiban sebagai umat muslim. Ketika dia menengok kearah sebelah ranjang dia bingung sendiri. Antara harus membangunkan atau tidak perlu lagi dibangunkan? Kali ini dia sudah enggan untuk bersentuhan dengan lelaki itu. El pun menghembus nafas dengan kasar. Dia terpaksa harus membangunkannya.


El pun merangkak turun perlahan dari ranjang, supaya tak mengganggu Alwi yang masih terlelap, lalu memutari ranjang dan menggoyang goyangkan tubuh lelaki itu, supaya terbangun dari tidurnya.


"Mas bangun ayo, Sudah subuh." El berbisik tepat ditelinga Antonio. Antonio pun samar-samar mendengarnya. Dan mulai mengerjapkan matanya.


Antonio nampak menyandarkan punggungnya dipunggung ranjang. Mengucek matanya. Nyawanya belum terkumpul saat ini.


El lebih dulu kekamar mandi. Untuk menunaikan kewajibannya. Dan Antonio pun beranjak dari ranjangnya dan mengganti pakaian dengan pakaian koko.


Ketampanannya berkali-kali lipat terpancar ketika dia memakai pakaian itu. Imam yang sangat menjadi idola kaum hawa. Namun sayang itu semua tidak sesuai dengan apa yang dulu dia pernah lontarkan kepada El.


Mereka pun telah selesai dengan kewajibannya menunaikan sholat subuh. Antonio berjalan membuka lemari untuk memakai pakaiannya.


"Mas, pakaianmu sudah ku siapkan diatas ranjang." Antonio hanya menoleh kearah ranjang, mengangguk dan tersenyum manis kearah El.


"Terimakasih," lontar Antonio dengan membawa pakaiannya.


Mulia sekali gadis ini. Dia mengetahui semua yang dilakukan suaminya. Dia sama sekali tidak merubah sikapnya, atau pun melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri, untuk melayani suami.


Mereka telah bersiap. El pun sudah memandikan si jagoan Alwi untuk dibawa bekerja kembali.


El, Antonio dan juga Alwi turun kebawah dia tidak mendapati El-Nuri tak berada dimeja makan. Seperti biasanya Aurelia dan bibi yang akan berperan dalam menghidangkan makanan dirumah itu.


"Kembaranku kemana?" tanya El dengan menghampiri Aurelia.


Aurelia pun menoleh, "Dia baru kekamarnya nona, untuk mandi." jawabnya dengan menggerakkan tubuhnya untuk menyiapkan sarapan pagi ini.


***


Antonio dan El-Nuri sudah berangkat terlebih dahulu. El dan Willy pun akan pergi kekantor untuk membawa Alwi. Entah kenapa kali ini Alwi enggan untuk mengikuti mommy nya kekantor.


"Sayang, ayo nak," ajak El kepada buah hatinya. Alwi hanya menggeleng dan berlindung dibelakang tubuh Aurelia.


"Loh kok gitu sih nak? Yakin gak mau ikut? Tidak akan membuat mommy nya kakak Nuri repot?" lelaki kecil itu pun kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa tumben tidak mau ikut sayang?" timpal Willy ikut menyahuti perdebatan seorang ibu dengan anaknya.


Alwi pun mulai menggerakkan badannya untuk berjalan kearah Willy dan menatap lelaki itu dengan sorot mata yang tak bisa diartikan dan berlari kearah Willy untuk digendongnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu Daddy, aku kali ini tidak ingin ikut kalian. Jadi, jangan paksa aku lagi," pintanya dengan menundukan kepalanya merasa aneh dengan perasaannya.


Tapi anak seusinya tidak memahami dengan rasa tidak enak hati, atau pertanda hal buruk akan terjadi.


"Ok, baik lah tidak apa jika kali ini kamu tidak ingin membantu Daddy," ucap Willy dengan tersenyum hangat kearah Alwi.


Alwi pun menoleh kearah El, dia takut dengan mommy nya. Tetapi El hanya mengulas senyum dengan berjalan kearah Alwi dan mencium keningnya.


"Tidak apa sayang mommy tidak akan memarahi mu ketika kamu tidak mengikuti perintah mommy. Tidak semua hal yang mommy perintahkan harus kamu lakukan. Contohnya seperti ini." El menjawil dagu buah hatinya.


"Ya sudah ayo turun nak, mommy hrus berangkat kerja dulu. Jangan nakal, Jangan merepotkan mommy nya kak Nuri." Nasihat El untuk Alwi.


"Relia maafkan aku, aku merepotkanmu," ucapan permintaan maaf terlontar dari bibir gadis baik itu.


"Tidak apa nona, aku senang tuan Alwi tidak ikut kekantor jadi Nuri ada temannya," jawab Aurelia dengan tersenyum.


Willy dan El pun berlalu pergi. Seperti biasanya mereka berdua pergi dengan memakai satu mobil berdua. Willy terkadang gugup dan tak bisa bertanya, atau pun hanya sekedar berbasa-basi.


El juga enggan untuk membuka percakapan. Selagi Willy tak bertanya, dia akan menjadi seseorang yang menjadi pendiam.


"El?" panggil Willy masih dengan focus menyetir.


"Iya, kenapa kak?" jawab El dengan menoleh kearah Willy.


"Hmmm, begitu yah! Ok aku tidak apa." El dengan memiringkan kepalanya dan tersenyum kearah Willy.


"Asal gaji ku di naikan dua kali lipat bagaimana?" tanya El memberi pilihan. Dengan mengangkat dua jari-jemarinya berbentuk 'V' dan menaik turunkan satu halisnya.


Willy hanya tertawa mendengar lontaran nya. Tak menyangka jika gadis di sampingnya bisa berkata seperti itu. Meminta naik gaji. Sungguh membuat dirinya menggelitik hingga tak henti-hentinya tertawa.


Seketika itu pula getaran ponsel El mengalihkan pembicaraan mereka. El membuka pesan yang masuk.


💬 "Nona berhati-hatilah. Sepertinya dia sudah menyusun rencana untuk mencelakai kalian berdua," isi pesan dari Galih.


Kalian pikir bisa membuatku celaka. Batin El.


Ketika mereka tadi bercanda gurau kini hanya keheningan tercipta kembali didalam mobil tersebut. Keduanya berkutat dengan pemikiran masing-masing.


"Awas kak," El histeris ketika mobil dari arah berlawanan menabrakan mobilnya dan mobil yang ditumpangi El dan Willy.


Kalian pikir aku bodoh. Batin Willy.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan El dan Galih Willy sudah mengetahui rencana klien nya yang akan menjebaknya.


"El, jangan keluar dulu. Jika keadaan belum aman." Willy menggemgam tangan El dan berpesan pada El. El pun hanya menganggukan kepalanya. Dan membalas genggaman Willy.


"Hati-hati kak,"


Willy keluar dari mobil untuk menghajar orang-orang yang tengah menghalangi perjalannya. Willy pun sudah bersiap untuk menghajar ke empat penjahat itu.


"Rilex saja tuan Presdir. Tidak usah terburu-buru," ucap penjahat 1 dengan tertawa mengejek.


Willy hanya menatap ke empatnya dengan tajam. Seperti singa yang akan menerkam mangsa nya Willy terlihat garang. Kesan ramah tak nampak kembali diraut wajahnya.


"Wow, lihat lah kawan-kawan. Presdir ini seperti ingin melahap kita," ucap penjahat 2.


"Dan coba lihat. Auranya garang sekali seperti ingin memangsa," ucap penjahat 3.


"Sepertinya si bos salah berspekulasi. Dia tidak terlihat polos atau pun ramah." ucap penjahat 4.


Ejekan-ejekan yang terlontar dari bibir para penjahat membuat Willy semakin memanas. Rahang wajahnya mengeras. Gigi nya bergemurutuk. Menandakan emosinya yang kian sangat menggebu.


Dengan sekali pukulan penjahat pertama telah tumbang. Ketiga penjahat itu hanya saling beradu pandang tak percaya.


"Ayo, ada yang mau lagi kuhajar?" tanya Willy kepada 3 penjahat yang masih diam mematung.


"Tentu saja tuan Presdir, lihatlah anda hanya seorang diri saja. Sedangkan kami berempat," ucap penjahat 2 dengan percaya diri.


Tanpa aba-aba bugghhh.


Penjahat itu berhasil menghajar Willy yang nampak lengah meladeni ejekan mereka.


"Kurang ajar," ujar Willy.


Hingga terjadilah perkelahian sengit diantara mereka. Willy nampak kelelahan dan nampak bercak darah disudut bibirnya.


"Untung saja mereka tidak membawa senjata api," kelegaan nampak dirasa oleh Willy.


Dan pertarungan itu dimenangkan oleh Willy. Ketiga penjahat itu terkapar dijalan. Dengan tergopoh-gopoh para penjahat itu pun berlalu pergi dari tempat terjadinya perkelahian. Willy pun berjalan mendekat kearah mobil. Setelah dibukanya pintu mobil dia nampak syok karna El tak berada didalam mobil.


"El, kamu dimana?" Willy berteriak frustasi dengan menggeledah mobilnya.


***

__ADS_1


Aku pikir aku bisa up setiap hari seperti kemarin. Tapi nyatanya tidak bisa. Maafkan aku ya🙏🏻


Semoga tetap menunggu cerita recehku ini... !!!


__ADS_2