Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 72. Ima mencurigai suaminya.


__ADS_3

Tanpa Ananda sadari, seseorang telah membuntutinya. Ia mengendap-ngendap bagai maling yang takut ketahuan. Kecurigaannya terjadi, ketika sang suami tidak mengajaknya pergi.


"Eh itu lihat, ada orang masuk tidak dikenal," ucap security baru. Ketika Ima membuka pagar besi menjulang itu.


"Itu mantan mertua tuan Antonio, biarkan saja," jawab security lama.


Security pun tidak menegur Ima, mereka seolah buta tidak melihat keberadaan wanita cantik yang sudah separuh baya itu.


Lantas security memberi tahukan pada pengawal dipintu utama. Mereka pun bersembunyi, supaya wanita separuh baya itu tidak melihat penjagaan ketat dirumah itu.


Ima pun memasuki rumah, ia pun mendengar kebisingan yang berada didalam. Itulah, yang menjadi pemicu agar ia dapat tahu, dimana orang-orang yang ia cari.


Ananda selalu mengajak istrinya kemanapun ia pergi. Tetapi kali ini lelaki paruh itu tidak mengajaknya. Ia hanya bermapitan akan keluar, bersama Galih.


"Kapan kamu akan menikahinya?" tanya Ananda.


Sedangkan wanita paruh baya itu, semakin dibuat penasaran dengan gelagat ketiganya.


'Menikahi? Mengapa secepat itu Antonio mendapat pengganti anakku,' batin Ima.


"Aku sedang memperjuangkannya tuan Ananda. Tapi mohon ampuni saya, karna telah membuat anda kecewa," ucap Antonio dengan ketir.


Seorang pengawal, memberi pesan melalui ponselnya. Ia memberitahu bahwa nyonya besar didalam rumah itu. Mereka telat mengabari hingga kata menikahi sudah terlontar dari mulut Ananda.


Galih membisikan pada Ananda. Ia terkejut, dan langsung meminta salah satu pengawal untuk menguntit sang istri.


"Nyonya besar, berada disini tuan," ucap Galih berbisik ditelinga Ananda.


"Jangan bergurau kau Galih. Tapi tolong suruh pengawal menguntit istriku. Aku takut terjadi apa-apa,"


Seketika Ima merosot, ia merasa tidak bisa lagi menopang bobot tubuhnya. Dengan langkah gontai, dan terseok-seok, Ima keluar dari rumah itu. Ia terlalu syok, mendengar kenyataan bahwa sang anak disakiti oleh mantan suaminya.


Ia tertatih-tatih berjalan menyusuri jalan, ia juga menengok kiri dan kanan. Mencari taksi, ia melambaikan tangan ketika taksi melintas.


Ia memasuki taksi, dan memegangi dadanya. Air matanya berjatuhan tak terbendung bagai air bendungan yang jebol. Supir taksi pun bertanya.


"Bu, maaf alamat rumahnya kemana?" ucap supir taksi.


Hening... Tidak ada jawaban, akhirnya sang supir menepikan dahulu mobilnya. Ia lantas menengok kearah penumpang.


'Pantas, susah ditanya. Keadaannya kacau... Seperti sedang syok. Aku harus mengantarkannya kemana? Sedangkan aku tidak mengetahui alamat rumahnya,' batin sisupir.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, ponsel Ima berbunyi, "Bu, ada telpon diangkat saja," ucap supir taksi.


Tapi lagi-lagi tidak ada sahutan, "Maaf ya bu, bukan saya tidak sopan. Tapi ibu tidak menjawab pertanyaan saya dari tadi,"


"Papa...." Eja sang supir ketika ia melihat siapa sang penelpon.


Supir taksi lantas mengangkat telpon itu.


📞 "Mama, mau dibelikan apa. Nanti pas papa pulang?" tanya Ananda.


Ia berbasa-basi agar sang istri tidak mengetahui bahwa dia dikuntit.


"Mmm, a-anu pak---,"


"Ini siapa! Jangan-jangan kamu merampok istriku!"


"Jangan memfitnah tuan, saya bekerja ha-halal. Saya yang akan mengantarkan ibu pulang kerumah. Tapi ibu tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan saya. Ia hanya menangis, dan melamun dengan tatapan kosongnya. Saya jadi khawatir, dan takut," penjelasan sang supir panjang lebar.


"Maafkan saya, antarkan istri saya ke kompleks perumahan mawar residence, blok cinta no.17,"


📞 "Iya tuan,"


Telponpun dimatikan. Supir taksi langsung mengantarkan Ima ketempat tujuan. Setelah didepan rumah, ia pun meminta securty untuk memanggil penghuni rumah.


"Maaf pak, saya tidak tahu menahu. Tolong panggilkan juga anaknya. Supaya mereka dapat membawa ibu kerumah sakit," pinta sang supir.


Security langsung memanggil El. El pun langsung keluar kamar.


"Kenapa pak?" tanya El, ia terlihat heran. Melihat securty rumahnya yang terlihat cemas.


"Nona cepatlah kedepan, keadaan nyonya menghawatirkan,"


"Mama...." teriak El, ia langsung berlari keteras depan.


Ia meminta bantuan pada supir taksi, dan security rumahnya. Merekapun membopong tubuh Ima kekamarnya. Ia juga menanyakan kepada sang supir mengapa mamanya bisa begitu.


Sang supir menceritakan semuanya secara rinci. Dari mulai Ima memasuki taksi dan sang papa yang memberi tahu alamat rumahnya. El berterimakasih pada supir taxi, ia lantas membayar argo yang tertera.


'Papa kok belum pulang. Padahal tahu mama kondisinya mengkhawatirkan,' batin El.


"Mama, kenapa... El panggi dokter ya," ucap El yang akan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Ima pun mencekal pergelangan tangan, ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah sayang. Mama baik-baik saja. Cuma mama tadi melihat kecelakaan yang membuat mama syok," dusta Ima berkata.


"Oh syukurlah, El lega mah," El mendekap sang mama lalu menghadiahi mamanya kecupan bertubi-tubi.


***


"Bagaimana istriku Galih, sudah samapai dirumah?"


"Sudah tuan,"


Ananda menatap tajam Antonio, ada rasa marah menjalari rongga hatinya. Tapi semua sudah terjadi, apa boleh dibuat. Semua tidak bisa ia hindari. Kalau Ananda tahu bahwa sang istri akan mengikutinya ia tidak ingin menemui Antonio.


Ananda menghembus nafas secara perlahan. Ia memijat pelipisnya memutar, ia pun mengalihkan tatapannya kepada Galih. Lalu berbisik pada Galih.


"Aku tidak tahu jika istriku sudah tahu segalanya. Entah akan apa yang dia lakukan," resah Ananda.


Antonio tidak menerka apa yang sedang dibicarakan majikan dan orang kepercayaannya. Ia hanya berfikir pasti ia sedang membicarakan dirinya.


"Apakah wanitamu akan pulang kerumahku?" tanya Ananda.


"Sa-saya tidak tahu tuan," jawab Antonio.


"Benarkah keponakan Dian Kusuma, yang kamu noda* adalah wanita itu. Yang kini kamu perjuangankan?" tanya Ananda meminta penjelasan.


"Kamu jangan mengelak. Tidak ada pembelaan, saya sudah mengetahui segalanya. Bahkan rumah rahasiamu ini, menjadi saksi bisu, kamu menjebak gadis yang kamu cintai,"


"Meskipun itu semua telah berlalu. Memang tidak ada urusannya denganku. Tetapi karena dirimu telah menoreh luka pada putriku, makanya aku ingin kamu. Menjelaskannya pada saya secara rinci," cerca Ananda.


"Ingat! Jangan ada kebohongan. Sedikitpun!" tegas Ananda.


"Sa-saya tidak tahu, harus berkata apa lagi. Selain saya mengatakan ba-bahwa semua benar, tuan Ananda," jawab Antonio.


Ananda tersenyum kearah Antonio. Ia langsung mengisyaratkan tatapannya pada Galih. Seolah Galih mengerti, ia lantas pergi. Ananda pun berdiri.


"Kamu lelaki sejati. Padahal jika kamu berpikir kamu tidak bermoral, kamu akan menyanggah semua tudinganku,"


"Tetapi kamu mengakui itu, tanpa mengelak. Sebenarnya, aku bukan siapa-siapamu. Tetapi aku akan merestui kalian.  Seperti anakku yang mendukung Cinta kalian bersatu,"


"Besok pulang kerja, kau harus ikut dengan saya. Kita akan menjenguk Dian. Dia yang menjadi gila karna obsesinya. Ingat kau bertanggung jawab penuh atas kesembuhannya. Sebab dia adalah paman dari wanita yang kamu cintai,"

__ADS_1


***


__ADS_2