Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 46 Bantulah Tuan Willy Nona.


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 13:00 Wib. Sholat berjamaah pun sudah dilaksanakan. Tibalah mereka kini untuk menyantap makan siangnya.


"Hallo semuanya," sapa Putri kepada keluarga besar Ananda.


Willy hanya mengernyit heran mengapa kekasihnya bisa sampai keperkampungan ini dan disini adalah keluarga besar El. Banyak sekali kecurigaan yang ada dibenak Willy.


Semuanya menatap dengan tatapan bertanya. Putri yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa kearah mereka. Dia sama sekali tidak merasa malu menjadi tatapan objek penglihatan semuanya.


"Kak Putri?" El menautkan halisnya kebingungan.


"Iya nona," jawab Putri santai.


El pun mengalihkan tatapannya kepada sang Mama. Hanya wanita paruh baya itu yang bisa menjelaskan kebingungannya. Mama Ima pun tersenyum.


"Makan dulu yah, nanti dijelaskan. Ayo semuanya kita makan dulu." titah Ima kepada semuanya.


Setelah mereka selesai menyantap makanannya. Papa Ananda, Paman Imam, Antonio dan juga Willy pergi dahulu karna tidak ingin mendengarkan gosipan para wanita. Setelah keempatnya berlalu El pun berseru.


"Mama, bisa jelaskan padaku?" tanya El meminta penjelasan. Mama ima hanya tersenyum menanggapi pertanyaan El. Tetapi bukan Mama Ima yang menjelaskan melainkan Putri.


"Biar aku saja nona!" seru Putri menimpali.


"Sebenarnya ... Jika dijelaskan secara rinci tentu akan memakan waktu. Aku akan menjabarkan secara garis besarnya saja!" jawab Putri pada El.


"Hmm, terserah yang terpenting sekarang coba jelaskan!" seloroh El memberikan perintah.


"Nona tentu masih ingat waktu aku meminta cuti? Sewaktu dua minggu berlalu sebenarnya aku sudah berada di ibu kota. Namun diperjalanan aku bertemu dengan tuan Galih," tutur Putri.


"Iya, lalu?" tanya El lagi.


"Tuan Galih terlihat kebingungan. Dan ternyata orang tua nona sedang dalam kondisi tidak baik. Akhirnya saya diperintahkan menjadi asisten keluarga anda nona. Apa anda bisa mempercayai saya? Dan maafkan karna merepotkan anda. Anda jadi harus bekerja dengan tuan Willy," ungkap Putri panjang lebar.


El menghembus nafas secara kasar. "Jadi, maksudmu sekarang kamu bekerja dengan orang tuaku? Lalu kakakku bagaimana?"


"Bantulah tuan Willy nona sampai dia mendapatkan sekretaris baru," saran Putri.


"Mama senang kalo Mama ditemani Kak Putri? Tapi harusnya aku Mah." El menatap Ima dengan berbicara lirih. El tidak menjawab lontaran Putri lagi. Dia hanya memeluk Mama Ima.


"Mommy," keluh Alwi ketika dia tidak memahami pembicaraan orang dewasa.


Mungkin balita itu sudah mulai bosan dengan adegan yang dilihatnya. Mommy-nya sangat cengeng menurut Alwi.


"Iya sayang, kau boleh bermain sama Teteh Nuri," titah El pada Alwi dia mengerti maksud dari pangeran kecilnya.


"Teteh?" tanya Alwi kebingungan.


"Seperti teh manis Mommy? Tapi nama kakak Nuri disebut?" jawabnya polos sambil menggaruk kepalanya.


"Teteh itu sama seperti panggilan Kakak nak. Bahasa Indonesia Kakak, dan di bahasa sunda Teteh sayang," jawab El menjelaskan.


"Ohh, ok aku panggil Teteh deh sekarang tidak apa kak Nuri?" tanya Alwi pada Nuri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa tuan Alwi," jawab Nuri.


Alwi pun berpamitan kepada El dan berlalu pergi bersama Nuri dan Aurelia.


"Sayang ayo ikut Mama. Mama sono dengan kamu," ungkap Mama Ima lirih.


Hati ibu mana yang merasa tidak rindu dengan anak semata wayang yang berjauhan dengannya. Apalagi mengetahui bahwa sang anak sudah mempunyai seoarang anak.


Rasa sakit semakin mendalam jika dia mengingat masa-masa sulit yang di lalui anaknya tanpa bantuan dan arahan darinya.


"Tapi Mah ... " seru El sembari ujung matanya menatap Putri.


Mama Ima pun memberikan ultimatum. Tentang masalah sepele ini supaya tidak diperpanjang. Bukan El jika dia tidak menaruh curiga pada orang kepercayaan orang tuanya. Siapa lagi kalau bukan Galih.


Perdebatan, penolakan nampak dilakukan oleh El. Keinginannya sederhana, dia hanya ingin tahu apa hubungan Galih dan Putri?


Putri sang kekasih dari Willy, yang tak lain adalah kakak angkatnya. Perempuan itulah yang membuatnya mau tidak mau harus menikah dengan Antonio. Dan menjalani pusaran badai rumah tangga tanpa kebahagiaan.


"Pergilah nona, nanti aku akan menjelaskannya padamu," titah Putri memberi saran.


"Iya, baiklah. Ingat kau berhutang penjelasan padaku!" Tegas El dan berlalu pergi.


Ya, tentu saja aku akan menjelaskan. Tapi tidak dengan kenyataan yang sebenarnya. Batin Putri.


FlashbackšŸ’¦


"Aib? Tapikan kamu hanya memberi tahukan padaku, bukan dengan orang lain. Memangnya kau pikir aku akan mengumamkannya pada semua orang?" sanggah Putri dengan ketus.


"Ya, sudah kalau begitu aku tidak mau lagi bekerja dengan tuan Willy." ancam Putri lagi.


"Cih, sama-sama menjadi pembantu lagi!" ketus Putri.


"Bersabarlah dulu. Sepertinya nona El sedang mengumpulkan bukti-bukti. Jika sudah lengkap mungkin dia akan menggugat Presdir," ungkap lelaki itu.


Putri hanya melongo dan menganga. Tidak percaya dengan fakta yang dia dengar dari kekasihnya.


"Benarkah? Bukankah nona sangat mencintainya?" lelaki itu hanya mengulas senyum mendengar pertanyaan Putri.


"Cinta bisa hilang jika seringnya diabaikan dan disakiti. Jadi ... Kamu pun jangan selalu menyakitiku sebelum cintaku hilang." ungkapnya dengan menaik turunkan halisnya.


"Terbalik, dasar alay!" omelnya dengan menggebrak meja.


"Wow, dia ngambek. Aku takut." ungkap lelaki itu dan tertawa meledek Putri.


"Oke! Aku terima tawarannya." jawab Putri mantap.


"Sip, terbaik sayangku! Sini aku peluk,"


"Ogah," jawab Putri. Lelaki itu hanya tertawa karna berhasil membuat Putri kesal.


"Aku jelaskan. Kamu hanya perlu berbicara pada nona jika kita hanya berpapasan dan bertemu dijalan---,"

__ADS_1


"Haduh, sudah macam cabe-cabean ketemuan dijalan," protes Putri.


"Belum selesai sudah protes dengarkan dulu baru ngoceh." geram lelaki itu.


"Jelaskan pada nona kita hanya berpapasan dijalan. Dan bilang aku terlihat kebingungan. Dan rangkai lah kata-kata yang menurutmu bagus untuk dilontarkan." perintah lelaki itu.


FlashBackšŸ’¦


Ketika Ima dan El sudah memasuki kamar. Ima pun terduduk diranjang. Dia memberikan arahan agar Putrinya berbaring dipaha sang Mama.


Ima mengusap pucuk kepala El dengan lembut. Kilatan memory sewaktu masih dalam satu rumah sungguh membuatnya bersedih. Hingga tidak sadar Ima menjatuhkan air matanya dan menetes dipipi El.


"Mama, menangis?" tanya El dan beringsut untuk terduduk.


"Mama jangan nangis El sedih melihat air mata Mama terjatuh." ungkap El dengan lirih dan mengusap lembut pipi Ima.


Ima semakin terisak. Dia tidak bisa lagi berbicara. Bibirnya terasa terkunci. Entah dia harus bahagia atau bersedih?


"Mama, aku tidak mau lagi memperjuangkan perusahaan kita. Biarlah orang serakah itu memilikinya. Aku ingin selalu bersamamu setiap detik," ungkap El lirih.


Sebelum Ima menjawab, suara pria paruh baya itu ikut menimpali. "Jadi maksudmu kamu tidak mau mempertahankan hak kedua orang tuamu? Kamu hanya memantau tanpa perlu turun tangan. Ada suamimu yang menjalankannya." seloroh pria paruh baya itu.


"Tapi, Pah... " rengek El.


"Kamu ingin cucu-ku menderita karna kekurangan ekonomi? Kamu tidak bisa menghargai jerih payah keluargamu untuk membangun perusahaan itu?" cerca Papa Ananda.


"Baik Pah..." El menjawab lesu. Mengecup pipi sang Mama lalu keluar dari kamar itu.


Huff kenapa harus serumit ini sih keluargaku? Aku juga ingin berkumpul dengan kedua orang tuaku. Batin El.


El pun berjalan menuju taman belakang. Dia hanya memantau suami Dan sahabatnya itu.


Sepertinya tidak perlu dipantau? Hmm, kan ada anak-anak masa mau hmm-hmman ya! Batin El.


El pun memutuskan pergi dan memilih beristirahat dikamarnya. Tanpa menghiraukan suami dan sahabatnya.


***


Jika waktu dapat berputar kembali


Ijinkan aku untuk memilih


Aku tidak mau hidup berumah tangga denganmu


Bukan kebahagian Yang kudapat


Namun kesakitan Yang melingkar didalam kehidupanku . (El-Suci Nanda Maharani)


***


Like Dan vote seiklasnya ya pembaca setiaku.

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk dukungan kalian.😘


Bersambung


__ADS_2