Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 97. El merasa kehilangan.


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu kini Willy tidak pulang kerumah. Alasannya sudah ia berikan pada Ananda, tetapi tidak menjelaskan secara rinci pada El. Willy merasa tidak penting jika dia menceritakan segalanya pada El.


El hanya cukup tahu saja bahwa Willy lembur bekerja. Namun nyatanya ia mencari tukang pijat untuk mengurut seluruh badannya. Willy merasa semua tulang ditubuhnya terasa patah diberbagai sendinya.


"Mommy, daddy masih lama kah?" tanya Alwi dikala ia tidur ditemani El.


"Enggak tahu nak, jangan rewel yah. Kan daddy sudah bilang secepat mungkin dia akan pulang, ok," ucap El memberi pengertian pada Alwi.


"Mmm, mom tapi aku mau ke kantornya daddy," rengek Alwi.


"Sudah malam sayang, besok saja bagaimana? Sekarang Al-nya bobo dulu." El menepuk-nepuk punggung Alwi, meniru apa yang dilakukan Willy. Sembari menyanyikan sholawat.


Tidak lama berlalu Alwi sudah tertidur pulas dipelukan El. El kecup dahi anak tampannya. Ia pandangi kala ia kini merasa rindu sosok Willy. Wajahnya begitu dominan mirip Willy, sangat tampan.


"Sabar ya, aku sedang memperjuangkanmu. Menunggu untuk direstui mama mu,"


Lontaran Willy terngiang-ngiang diindera pendengarannya. Sungguh syahdu menyentuh kalbu. Lautan seakan El akan bisa kuras mengingat kata-kata itu. Gunung tinggi menjulang seakan bisa El daki sekejap mata.


Memikirkannya sungguh membuatnya berbunga-bunga. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta. Rasanya berbeda kala ia mengingat perasaannya pada mantan suaminya. El terus saja memandangi Alwi tanpa berdekip.


Ada rasa kehilangan ketika ia mengingat Willy sudah tidak pulang kerumahnya. Padahal mereka terpisah jarak, karena berbeda kamar. Hanya mendengar suara mobilnya saja sudah membuatnya sangat bahagia. Tapi suara mobil itu bukan berasal dari mobil Willy.


"Kak Willy sedang apa yah disana? Sama perempuan enggak sih?! Aku gelisah sekali. Pengen ngirim pesan singkat gengsi. Apalagi menelponnya, mau ditaroh dimana harga diriku. Eh salah mau taroh dimana mukaku. Kemarin aku jual mahal. Masa sekarang banting harga sih," gumam El.


Ia pun beranjak dari pembaringan dan berjalan mondar-mandir seperti setrika. Gelisah sungguh hatinya tidak bisa diajak bernegosiasi.


Ia pun keluar kamar dan kembali berjalan ketaman, berharap Willy akan keluar lagi ketika dirinya berada diluar. El pandangi kamar Willy, dengan refleks kakinya melangkah menuju kamar Willy yang telah Willy tempati selama beberapa bulan ini.


Ia buka pintu itu, aahhh, benar saja sosok Willy tidak berada dikamarnya. El pun berbalik dan berjalan masuk menuju kamar Alwi. Kecewa karena ia tidak bisa melihat wajah Willy disana.


"Kenapa gelisah, ciehhh yang rindu. Mmm, makanya jangan jual mahal. Berat kan nahan rindu. Tapi gengsi menanyakan kabar."


"Jujur saja lah kalo cinta. Biar enggak lama lagi bisa menikah," sahut Ananda dibalik pintu dengan menaik turunkan halisnya.


Suara bariton itu mengejek El habis-habisan. Ia menyembulkan kepalanya untuk melihat anak dan cucu nya. Setelah berbicara seperti itu ia pun menutup pintu dan ke kamarnya lagi.


"Ihhh papa, datang kesini cuma ngejek aku. Kasih solusi kek sama anaknya,"


"Ayolah mata tidur sudah larut ini,"


El pun memejamkan matanya dan berbaring di sebelah Alwi ia juga memeluknya dengan sayang.

__ADS_1


***


Setelah adzan shubuh berkumandang ia langsung menjalankan kewajibannya, dan tidak lupa membangunkan sikecil. Agar terbiasa sampai ia dewasa.


Setelah mengurus Alwi ia langsung turun kebawah, berniat untuk membantu bibi. Siapa tahu Willy sudah ada dirumah dan ikut mereka untuk sarapan pagi seperti biasanya.


Tapi lagi-lagi El harus menelan kekecewaan. Padahal ia tahu Willy tidak pulang, Tapi menunggu keajaiban bahwa Willy datang memeluknya dari belakang, tepislah semua khayalanmu, kamu belum berstatus istri, tetapi calon istri.


'Apa begini rasanya rindu?! Yaalloh andai aku enggak jual mahal kemarin,' batin El.


Selesai sarapan El mengantarkan Alwi untuk sekolah. Disana El hanya melamun. Sampai para guru disekolah Alwi mengira bahwa mommy Alwi tengah sakit.


"Nak Al, mommy-mu sakit?" tanya guru Alwi.


"Nggak tahu bu guru," jawab Alwi.


"Ya sudah, langsung pulang saja. Enggak usah les. Kasihan mommy-mu," titah bu guru.


"Baik bu,"


Alwi mengajak El untuk segera pulang. Ia juga khawatir akan kesehatan mommy-nya. Setelah sampai Alwi langsung bergegas turun dan terus menuntun El untuk ikut bersamanya.


"Kenapa Al?" tanya El. Ia memegangi handuk itu agar tidak terjatuh dari dahinya.


"Mommy sakit kan, ayo berbaring mom tidur." Alwi menepuk-nepuk ranjang itu agar El segera membaringkan tubuhnya.


"Mommy enggak sakit sayang," sahut El.


"Tapi kata bu guru mommy sakit, tadi disekolah bengong mulu," timpal Alwi.


'Yaalloh, ini pasti gara-gara kak Willy deh. Nongkrong terus dipikiranku,' batin El.


Alwi pun bersedekap menghadap El. Ia merasa ditipu olehnya karena El baik-baik saja. Tatapannya tajam mengintimidasi El. Sedangkan El hanya tersenyum karena gemas dengan kelakuan anaknya.


"Atau mommy melamunkan daddy, karena belum pulang juga, ya ampun mom aku juga sangat merindunya. Kayak soundtrack lagu ikatan Cinta itu loh mom yang lagi booming,"


"Aku merindu kuyakin kau tahu,


Tanpa batas waktu, kuterpaku


Aku meminta walau tanpa kata

__ADS_1


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata


Tapi dekat di doa


Aku merindukanmu,"


"Eh anak kecil tahu apa," ucap El. Ia pun mengalihkan pembicaraan.


"Enggak sakit kok sayang, sekarang Al ganti baju dulu. Ada PR enggak? Kalo ada, ayo langsung kerjakan." Alwi menggelengkan kepala.


***


Malam telah datang lagi, namun Willy belum kunjung menampakan batang hidungnya. Apakah ia tidak akan lagi datang. Hanya itu yang bisa El pikirkan. Ia enggan untuk bertanya.


"Lihat bintang malam-malam begini selalu teringat kamu," gumam El.


Kini memikirkan Willy bagai candu untuk El. Ada rasa tidak biasa yang sudah terukir.


Sedangkan Willy dirumahnya pun sedang memandangi malam seperti malam kemarin saat dirinya bersama El keluar bersama. Tersenyum sendiri kala mengingat waktu kemarin.


"Meskipun badanku sakit, kalau responmu begitu aku semakin bersemangat El," gumam Willy.


"Iya kakak, kamu harus semangat aku juga mencintaimu," suara tiruan seperti wanita yang Antonio lontarkan.


Willy pun menoleh pada Antonio, "Tidak lucu hmm,"


"Cepat sembuh dong, kasihan El juga pasti rindu kamu," ucap Antonio.


Sudah mau satu minggu Willy tidak pulang kerumah El. Badannya sungguh hancur, pegal-pegal karena Ima mengerjainya. Tapi karena rasa ingin bersama anaknya sangat besar jadi ia tetap akan kesana kembali.


"Iya kan makanya ini juga tinggal disini biar cepat sembuh," protes Willy.


Antonio tertawa begitu renyah, sedangkan Willy ingin sekali menonyor kepala Antonio.


'Bisa-bisanya tertawa diatas penderitaan orang. Pamam macam apa kau ini. Bukannya nyari solusi supaya ponakannya enggak dikerjai terus,' batin Willy.


"Kenapa Wil, pasti kamu sedang mengumpatku ya? Aku tidak bisa mencari solusinya. Jalani saja dulu. Jangan dibalas nanti luluh juga. Asalkan kamu sabar dan bersabar. Tetap semangat ya Wil,"


***

__ADS_1


__ADS_2